Senin, 07 Desember 2015

PERTUMBUHAN GEREJA DAN NEGARA Henry Presly Silalahi, ST., MPdK





Abstraksi, Pertumbuhan Gereja harus menjadi penentu arah dalam kebijakan pembangunan nasional pada masa kini, sebab gereja tidak bias terlepas dari Negara. Gereja juga harus bertranformasi pada wujud yang lebih real sesuai apa yang dikehendaki oleh Alkitab dan keterkaitannya dengan Negara, jangan hanya mengejar pembangunan Fisik tetapi terlebih kepada pembangunan manusianya. Agar gereja jangan dianggap sebagai kekuatan yang akan merongrong hegemoni mayoritas yang ada, hidup berkualitas lebih baik dari pada kuantitas, jadilah pohon ara yang berguna bagi kehidupan
           
Kata kunci : Pertumbuhan, Gereja, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pendahuluan
Gereja pada masa kini khususnya di Indonesia sedang mengalami cobaan yang berat, sebab gereja banyak mengalami penentangan dan penolakan yang kadang sangat keras dari orang –orang diluar Kristen. Jika kita menilik sesaat mengenai persoalan ini maka ada hal yang mengelitik nurani kita dengan berjuta pertanyaan. Bukankah dalam konstitusi Negara kita sudah jelas bahwa kebebasan memeluk dan menjalankan ibadah dijamin dan dilindungi oleh Negara. Namun dalam tataran kerakyatan hal ini tidak terjadi, segar diingatan kita bagaimana dengan dalih tidak memiliki ijin puluhan Gereja di Aceh Singkil dibakar, dari keadaan ini dapat diambil kesimpulan sementara bahwa pertumbuhan gereja telah menggetarkan sekelompok agama dinegeri ini.
Gereja dalam konteks kekristenan dipahami bukan sebagai badan politik atau badan agama melainkan sebagai lembaga yang dipahami sebagai alat Tuhan dalam menyebarkan/ menaburkan terang Firman di dalam dunia yang diliputi oleh kegelapan ini. Jadi kebaktian dalam gereja adalah suatu tindakan yang dilakukan sebagai pengucapan syukur kepada Bapa (Yahwe) dan kepada Tuhan Yesus

Kristus atas hidup ini. Dari pengertian diatas kita akan melihat peranan orang Kristen sebagai anggota gereja melaksanakan Tugas Panggilanya di tengah pembengunan nasional sebagai pengamalan menuju tinggal landas
1.      Gereja Dalam Terang Kesaksian Alkitab
Dalam perjanjian Lama, kata Qahal, menunjuk pada kumpulan orang –orang yang dipanggil Yahwe, Allah Israel, untuk berkumpul disekitar Dia dan untuk mendengar perintah-perintahNya atau kehendakNya. Kumpulan orang ini bukanlah kerumunan massa yangv hendak digunakan begitu saja oleh Yahwe untuk mencapai tujuanNya. Mereka adalah umatNya, yakni orang – orang yang khusus mempunyai hubungan kasih setia denganNya. Yahwe adalah Bapa dan mereka adalah anak-anakNya. Yahwe adalah sumber hidup yang memanggil mereka dari kehidupan sesehari untuk mendengar kehendak-kehendakNya. Setelah itu dikembalikan ke kehidupan mereka sesehari untuk melakukan kehendak Yahwe tersebut. Jadi disini tidak ada unsur pemujaan atau agama.Namun tidak ada pula unsur social politik.  Dalam peristiwa Yahwe membebaskan umat Israel dari perbudakan mesir. Sambil membawa Israel keluar dari Mesir, Yahwe membebaskan mereka dari perbudakan, serta menjadikan mereka umat milikNya sendiri. Dengan perbuatan ini Ia bukan hanya memperlakukan mereka sebagai “anakNya yang sulung” sekaligus juga Ia membangkitkan puji-pujian dan kepercayaan mereka sebagai umat yang dengan sukarela beribadat kepadanya. Sebagai “hamba” Tuhan, Israel justeru menjadi merdeka; bukan hanya dari perbudakan oleh manusia, tetapi juga dari perbudakan oleh segala kuasa-kuasa yang menjadi sesembahan bangsa-bangsa. Untuk melindungi kemerdekaan umat dan tiap-tiap anggotaNya itulah maksud sebagian besar dari hukum-hukum Tuhan yang diterima oleh Israel[1]
Dalam perjanjian baru kata Qahal ini diterjemahkan sebagai Eklesia, kata gereja berasal dari kata ini. Kedua kata ini mengandung arti yang sama. Dalam perjanjian baru Eklesia ini terbentuk sebagai hasil pertemuan mereka yang dipanggil dari kehidupan sesehari oleh Kristus, Tuhan yang bangkit. Jadi yang membangun Gereja atau membentuk gereja (eklesia) adalah Kristus yang bangkit. Ini berarti gereja berlandaskan kemenangan atas kuasa maut, seperti yang telah dilakukan Yahwe membangkitkan Kristus dari dunia Maut. Gereja adalah gereja kebangkitan bukan gereja kematian atau gereja salib; gereja yang beribadah dalam kesukaciataan bukan gereja yang mengidealisasikan penderitaan. Sehingga teologia gereja adalah teologia kebangkitan bukan teologia salib; teologia perajaan bukan teologia penderitaan; teologia kelimpahan bukan teologia kemiskinan. Memang kuasa salib, penderitaan dan kemiskinan itu masih terasa dan nyata dalam dunia. Namun dalam Kristus semuanya itu telah dikalahkan. Sehingga saat ini kita tidak lagi miskin tapi kaya, tidak lagi menderita tapi bersukaria, tidak lagi mati tapi hidup. Paulus juga memiliki beberapa pengertian megenai Ekklesia yang kerap dia gunakan dalam surat-suratnya. Pandangan Paulus itu adalah (1) Gereja adalah kelanjutan dan penggenapan umat Yahwe yang didalam Abraham telah Yahwe pilih bagi diri-Nya dari seluruh umat manusia dan yang dengannya Dia mengikat diri dengan mengadakan kovenan dan janji-janji. Dalam hal ini Paulus mengikuti konsep gereja yang umumnya muncul diseluruh Perjanjian Baru meski ia juga memperluasnya. (2) Ia memberikan istilah baru untuk menyebut keberadaan dan karakter Gereja, yaitu gereja sebagai tubuh Kristus.[2] Selain Eklesia, ada beberapa istilah yang kerap Paulus pakai untuk menyebut gereja dan yang seperti ekklesia, juga menyatakan kesadaran diri gereja Kristen dan penilaian rasuli. Pertama akan kita lihat istilah “orang kudus” (hagioi). Sebutan ini khusus muncul diawal dan disalam penutup surat-suratnya (bdk Rm 1:7, 1 Kor 1:2; 2 Kor 1:1; Ef. 1:1; Flp 1 : 1; Kol 1 : 2; Rm 16:15; 2Kor. 13 : 12; Flp 4:21-22) dan sebagian dipakai bersama ekklesia (1Kor. 1:2)
            Dari penjelasan diatas maka gereja adalah sebuah lembaga yang mengatur dan mengikat hubungan manusia dengan Yahwe sebagai pencipta dan hidup dalam kelimpahan kasih karunia didalam Kristus sebgai Juruselamat.



2.      Dunia Masa Kini Indonesia
A.     Landasan Ideal Bangsa
Membicarakan situasi Indonesia masa kini, mau tidak mau harus berbicara tentang usaha bangsa Indonesia untuk melaksanakan pembangunan nasional yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas. Pembangunan manusia Indonesia pada masa kini adalah menjadikan manusia Indonesia berbudi pekerti luhur, yang berketuhanan. Dalam konteks masa kini Indonesia pembangunan mempunyai arti yang jauh lebih luas dari pada pembangunan materi dan fisik saja. Malah factor ekonomi/material sama sekali tidak dijelaskan secara eksplisit, hanya tersirat dalam Pancasila sebagai pandangan dan Falsafah hidup bangsa. Dalam sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya pembangunan nasional yang usahanya mensejahterakan rakyatnya harus berhubungan dengan peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan. Sila Kedua, pembangunan harus dilaksanakan untuk menopang terjadinya proses kemanusiaan yang penuh bagi setiap warga Negara tanpa membeda-bedakan agama, suku dan pendidikan. Dalam sila ketiga pembangunan harus dilaksanakan agar mempunyai watak strategis yang menjamin persatuan dan kesatuan bangsa. Sila Ke empat, maka pembangunan harus mendorong terbentuknya pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat, sedangkan dalam kaitan sila ke lima, pembangunan haruslah bermuara pada adanya pembentukan suatu masyarakat yang didalamnya terdapat kesamaan dalam kesempatan berpartisipasi dan kedudukan dihadapanhukum. Dapat juga dikatakan dengan dilandasi pokok pengertian diatas, tujuan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila adalah pendayagunaan kekayaan alam dan mengubah lingkungan alam untuk pembangunan manusia Indonesia seutuhnya[3].
Atas pandangan-pandangan diatas apakah yang dapat dilakukan agama-agama di Indonesia, dalam hal ini iman Kristiani yang berupa basis pertumbuhan gereja? Jadi jelas bahwa dalam alam pembangunan seperti tadi, maka peranan iman Kristiani itu tidak hanya sumber motivasi dan inspirasi tapi lebih merupakan pemberian arah yang pasti sehingga pembangunan manusia yang seutuhnya yakni sebagai manusia yang berkenan dipakai oleh Yahwe dan berguna bagi sesamanya dalam suatu kebersamaan
Unsur kegunaan dan kebersamaan merupakan dua unsur penting sebagai yang menentukan tinggi rendahnya tingkat kualitas kehidupan manusia. Pembangunan manusia seutuhnya akan menghasilkan manusia yang mandiri, yang melalui hidup dan karyanya berusaha menyumbangkan yang terbaik bagi kehidupan sesamanya, manusia sebagai tanda nyata daripada ketaqwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, pembangunan seperti ini bersangkut paut dengan pengukuhan martabat manusia, pencapaian kebebasan, pemenuhan kebutuhan social yang adil serta terjelmanya seluruh potensi manusia dalam kenyataan hidupnya. Inipun berarti bahwa pembangunan harus dapat menciptakan suatu masyarakat yang bertanggung jawab atas hidup sesamanya sebagai saudara dalam keluarga Yahwe (Kis 17 : 16 – 34) dan bukan suatu masyrakat liberal – individualistic atau suatu masyarakat totaliter – kolektif. Pembangunan seperti ini juga mendidik manusia untuk menyadari bahwa memperoleh hidup dari Yahwe berarti mempunyai sesuatu yang berhargadan berguna bagi sesame. Bagi yang kaya, pembangunan itu mendidik bahwa Yahwe membenci hidup yang mementingkan diri sendiri serta pemborosan harta, karena akan menghambat pembentukan masyrakat yang manusiawi. Bagi yang miskin, pembangunan mendidik mereka menyadari bahwa memiliki martabat sebagai anggota keluarga Yahwe yang dapat digunak sebagai pendorong agar berkreasi untuk mencapai kesejahteraan mereka sendiri. Bagi penguasa pembangunan berarti mereka harus bekerja keras sesuai dengan kehendak Yahwe untuk mencapai suatu tata kehidupan yang adil, aman serta partisipasi dan menjamin terlaksananya hak-hak kewajiban-kewajiban azasi manusia.

B.     Realitas Keadaan Bangsa
Pada sub pokok bahasan diatas yaitu Landasan Ideal bangsa, menyataka konsep pembangunan yang adil, tidak berpihak dan aman bagi seluruh raksyat Indonesia yang memiliki kesamaan dalam konteks konstitusi dasar Negara Republik Indonesia, namun pada kenyataannya terlalu banyak kesenjangan yang terjadi, yaitu : jurang pemisah antara sikaya dan simiskin semakin jauh jaraknya, ada yang menikmati hidup dengan gaya hedonism yang kemaruk tetapi ada juga manusia yang mau makan sesuap nasi saja sangat sulit, akibat tekanan ekonomi yang dari sehari kesehari semakin tak terjangkau. Negara tidak mampu menghadirkan yang namanya aroma kesejahteraan bagi rakyat Indonesia angka kemiskinan di Indonesia yang berkorelasi positif terhadap angka pengangguran yaitu 40 juta rakyat Indonesia dibawah garis kemiskinan[4], dan angka pengangguran mencapai 30% jumlah angkatan Kerja[5]. Apa yang akan terjadi dengan keadaan ini, kemiskinan dan pengangguran akan memicu tingkat penetrasi dari sikap radikalisme dan brutalisme, sebab mereka frustrasi dan tidak mampu mengatasi meningkatnya suplay paham radikalisme yang melibatkan lembaga internasional di Indonesia. Oleh sebab itu angka kekerasan dari tahun ketahun  semakin meningkat, seolah-olah Negara tak mampu menghempang arus brain storming di tingkat grass root. Itulah kondisi realitas masyarakat Indonesia yang ada dalam bingkai pembangunan nasional.

3.      Pertumbuhan Gereja dalam Konteks Masa Kini Indonesia
Peranan gereja dalam konteks masa kini Indonesia, harus dilihat dari sisi pertumbuhan gereja, jika yang menjadi topic utama adalah pertumbuhan (growth) maka  yang sangat penting adalah permasalahan kualitas walaupun soal kuantitas atau jumlah harus diperhatikan. Berbicara tentang pertumbuhan maka kita akan lihat perumpamaan tentang pohon ara (fig tree) dalam Luk 13 : 6 – 9). Dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus menyuruh menebang pohon ara yang tumbuh tapi tidak berbuah. Apa yang dikatakan disini sebagai perumpamaan di tulis Matius (fs. 21) dan Markus (fs. 11) menjadi suatu muzizat, yang didalamnya Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah itu karena tidak berbuah itu karena tidak memberikan buah yang dapat mengenyangkan Yesus.

Dalam Matius dan Markus, pengutukan itu terjadi karena tidak ada buah yang memberikan kekenyangan dan bukan karena tidak ada buah yang dapat menambah pohon ara yang baru, begitu pula maksud sebenarnya dari Yohanes 15. Saya berpendapat hal ini perlu dipegang teguh. Lukas menempatkan cerita pohon ara sebagai perumpamaan dan sebagaimana semua perumpamaan Yesus, Ia menunjuk pada hadirnya tanda-tanda kerajaan Yahwe. Tanda Kerajaan Yahwe itulah Israel sebagai umat Yahwe yang beribadah yang didalam PB disebut Gereja. Pohon ara di Palestina adalah pohon kehidupan bagi semua orang  (pohon al-hayat), tapi sekaligus adalah lambang kekecilan. Kecil tapi menghidupkan atau kecil tapi berguna bagi Yahwe dan bagi semua orang, itulah lambing umat Yahwe yakni Israel dan Gereja. Israel tidak pernah besar dan Tuhan tidak menghendaki Israel menjadi besar. Jadi dalam cerita pohon ara ini Yesus menunjukkan umat Yahwe sendiri yakni Israel dalam hal ini orang-orang Yahudi yang pada saat itu terjangkit penyakit ingin besar dan sebab itu tidak berbuah. Jadi sama seperti pohon ara umat Yahwe yang kecil itu berbuah lebat, dan buah – buah itu lebih menunjukkan pada kegunaan untuk mengenyangkan daripada pertumbuhan untuk menambah jumlah pohon ara. Berbicara pada kegunaan itu selalu menunjuk pada kebersamaan atau persekutuan (koinonia). Bertumbuh dan berbuah berarti bertumbuh agar dengan buah-buahnya gereja dan orang percaya berguna bagi Yahwe dan bagi sesama dan juga bagi Nusa dan Bangsa.

            Pertumbuhan diukur dari buahnya bukan dari daun atau batang yang lebat dan besar. Demikian iman yang bertumbuh di ukur dari buah yang dihasilkan oleh iman itu seperti kasih, rendah hati, kemurahan sabar dan lain-lain. Orang-orang seperti inilah yang berguna bagi Yahwe dan bagi sesamanya. Walaupun jumlah mereka itu kecil bukan berarti tidak boleh bertambah besar, tetapi yang harus diingat adalah bukan jumlahnya melainkan kualitas yang dihasilkan, lebih baik kecil tapi berguna dari pada besar menciptakan masalah yang pada akhirnya akan ditebang dan dibinasakan.
Berbicara mengenai lambang kekecilan yang merupakan ciri khas umat Yahwe, yang dalam hal ini adalah penampakan Israel baru maka seperti yang telah disampaikan diatas kita harus berbicara tentang keluarga dan rumah tangga. Jadi hakekat gereja adalah gereja rumah, melalui lambing tubuh dan mempelai pernikahan. Ini tidak lain menunjuk pada kenyataan bahwa keluarga dan rumah tangga adalah peresekutuan hidup yang terkecil tapi terakrab dalam kehidupan manusia.
            Jadi hidup berpusat pada rumah, kalau rumah/keluarga rusak maka seluruh kehidupan dan tatanannya akan rusak pula. Iman itu bertumbuh secara sehat didalam rumah tangga yang sehat, sebab itu dalam iman Kristen, rumah tangga dan keluarga kita adalah sekaligus rumah tangga dan keluarga Yahwe. Ini yang jarang diketahui oleh Kristen, karena menyangka rumah tangga dan keluarga kita adalah kepunyaan kita. Ini tidak benar, dan sebab itu banyak rumah tangga yang ambruk. Rumah tangga/keluarga dikelola menurut kehendak sendiri dan bukan menurut kehendak Yahwe. Oleh sebab itu apa yang menjadi ibadah gereja seharusnya adalah kesinambungan ibadah rumah dan keluarga, jangan dibalik, kalau dibalik maka kegiatan gereja dapat merusak kehidupan rumah tangga dan keluarga. Yang beribadah di gereja adalah keluarga bukan pribadi-pribadi, karena Yahwe adalah Bapa. Bapa itu berada dalam keluarga dan rumah tangga, sebab itu bapa tidak dapat dimengerti dalam artian diluar keluarga.
Terlalu banyak orang Kristen yang giat dalam kegiatan gereja karena bosan hidup dalam keluarga dan rumah tangga. Ini adalah gejala yang berbahaya dalam pertumbuhan gereja. Jangan kegiatan gereja merusak kehidupan rumah tangga dan keluarga, ini banyak sekali terjadi. Banyak sekali gereja dan orang-orang Kristen terperangkap pada slogan-slogan politik yang besar seperti perjuangan menganggulangi kemiskinan, keadilan dan hak-hak azasi tapi soal rumah tangga dan keluarga tidak pernah digubris. Ini sangat berbahaya bagi pertumbuhan Gereja.
Kita boleh berbicara dalam semua itu tetapi harus berakar dari kehidupan rumah tangga dan keluarga. Pertumbuhan gereja adalah pertumbuhan rumah tangga dan keluarga. Gereja dan bangsa yang sehat adalah yang berakar dari rumah tangga dan keluarga yang sehat. Jangan mengaharapkan sebuah bangsa atau Negara yang besar jika tidak memusatkan diri dalam pembangunan rumah tangga dan keluarga. Inilah pertumbuhan gereja dalam konteks Indonesia masa kini.

Kesimpulan
            Pembangunan Bangsa dan Negara haruslah di gerakkan oleh pertumbuhan Keluarga dan rumah tangga yang sehat, oleh karena keluarga atau rumah tangga adalah lembaga terkecil dalam Negara, Negara tidak aka nada jika keluarga atau rumah tangga tidak ada. Keluarga adalah pintu paling awal dalam melaksanakan program pembangunan Negara. Gereja juga harus berpusat pada keluarga, sebab hubungan manusia dengan Tuhan dalam gereja erat kaitannya dengan hubungan anggota keluarga dengan bapa kita Yahwe, dan Tuhan Kita Yesus Kristus, sebab dialah bapa dan kepala Gereja.

Daftar Pustaka

1.      Riderboss, Herman, Paulus : Pemikiran Utama dan Teologianya, Surabaya : Momentum, 2008
2.      Lembaga Alkitab Indonesia, 1987
3.      BPS, 2014
4.      BPPN, 2014
5.      Tanya, Victor, Hidup itu Indah, Jakarta : BPK Gunung Mulia
6.      Tanya Victor, Tiada Hidup Tanpa Agama, Jakarta : BPK Gunung Mulia


[1] Barth, Carl “Teologi Perjanjian Lama 1” (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2006), 132
[2] Ridderbos, Herman, Paulus : Pemikiran Utama Tehologianya, (Surabaya : Momentum, 2008), 345
[3] BP7, 1988
[4] BPPN 2014
[5] BPS 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar