Abstraksi, Pertumbuhan Gereja harus menjadi penentu arah dalam kebijakan pembangunan nasional pada masa kini, sebab gereja tidak bias terlepas dari Negara. Gereja juga harus bertranformasi pada wujud yang lebih real sesuai apa yang dikehendaki oleh Alkitab dan keterkaitannya dengan Negara, jangan hanya mengejar pembangunan Fisik tetapi terlebih kepada pembangunan manusianya. Agar gereja jangan dianggap sebagai kekuatan yang akan merongrong hegemoni mayoritas yang ada, hidup berkualitas lebih baik dari pada kuantitas, jadilah pohon ara yang berguna bagi kehidupan
Kata kunci : Pertumbuhan, Gereja, dan Negara Kesatuan
Republik Indonesia
|
Pendahuluan
Gereja pada masa kini
khususnya di Indonesia sedang mengalami cobaan yang berat, sebab gereja banyak
mengalami penentangan dan penolakan yang kadang sangat keras dari orang –orang
diluar Kristen. Jika kita menilik sesaat mengenai persoalan ini maka ada hal
yang mengelitik nurani kita dengan berjuta pertanyaan. Bukankah dalam
konstitusi Negara kita sudah jelas bahwa kebebasan memeluk dan menjalankan
ibadah dijamin dan dilindungi oleh Negara. Namun dalam tataran kerakyatan hal
ini tidak terjadi, segar diingatan kita bagaimana dengan dalih tidak memiliki
ijin puluhan Gereja di Aceh Singkil dibakar, dari keadaan ini dapat diambil
kesimpulan sementara bahwa pertumbuhan gereja telah menggetarkan sekelompok
agama dinegeri ini.
Gereja dalam konteks
kekristenan dipahami bukan sebagai badan politik atau badan agama melainkan
sebagai lembaga yang dipahami sebagai alat Tuhan dalam menyebarkan/ menaburkan
terang Firman di dalam dunia yang diliputi oleh kegelapan ini. Jadi kebaktian
dalam gereja adalah suatu tindakan yang dilakukan sebagai pengucapan syukur
kepada Bapa (Yahwe) dan kepada Tuhan Yesus
Kristus atas hidup ini.
Dari pengertian diatas kita akan melihat peranan orang Kristen sebagai anggota
gereja melaksanakan Tugas Panggilanya di tengah pembengunan nasional sebagai
pengamalan menuju tinggal landas
1. Gereja Dalam Terang Kesaksian Alkitab
Dalam perjanjian Lama,
kata Qahal, menunjuk pada kumpulan orang –orang yang dipanggil Yahwe, Allah
Israel, untuk berkumpul disekitar Dia dan untuk mendengar perintah-perintahNya
atau kehendakNya. Kumpulan orang ini bukanlah kerumunan massa yangv hendak
digunakan begitu saja oleh Yahwe untuk mencapai tujuanNya. Mereka adalah
umatNya, yakni orang – orang yang khusus mempunyai hubungan kasih setia
denganNya. Yahwe adalah Bapa dan mereka adalah anak-anakNya. Yahwe adalah sumber
hidup yang memanggil mereka dari kehidupan sesehari untuk mendengar kehendak-kehendakNya.
Setelah itu dikembalikan ke kehidupan mereka sesehari untuk melakukan kehendak
Yahwe tersebut. Jadi disini tidak ada unsur pemujaan atau agama.Namun tidak ada
pula unsur social politik. Dalam
peristiwa Yahwe membebaskan umat Israel dari perbudakan mesir. Sambil membawa
Israel keluar dari Mesir, Yahwe membebaskan mereka dari perbudakan, serta
menjadikan mereka umat milikNya sendiri. Dengan perbuatan ini Ia bukan hanya
memperlakukan mereka sebagai “anakNya yang sulung” sekaligus juga Ia
membangkitkan puji-pujian dan kepercayaan mereka sebagai umat yang dengan
sukarela beribadat kepadanya. Sebagai “hamba” Tuhan, Israel justeru menjadi
merdeka; bukan hanya dari perbudakan oleh manusia, tetapi juga dari perbudakan
oleh segala kuasa-kuasa yang menjadi sesembahan bangsa-bangsa. Untuk melindungi
kemerdekaan umat dan tiap-tiap anggotaNya itulah maksud sebagian besar dari
hukum-hukum Tuhan yang diterima oleh Israel[1]
Dalam perjanjian baru kata Qahal ini diterjemahkan sebagai Eklesia, kata
gereja berasal dari kata ini. Kedua kata ini mengandung arti yang sama. Dalam
perjanjian baru Eklesia ini terbentuk sebagai hasil pertemuan mereka yang
dipanggil dari kehidupan sesehari oleh Kristus, Tuhan yang bangkit. Jadi yang
membangun Gereja atau membentuk gereja (eklesia) adalah Kristus yang bangkit.
Ini berarti gereja berlandaskan kemenangan atas kuasa maut, seperti yang telah
dilakukan Yahwe membangkitkan Kristus dari dunia Maut. Gereja adalah gereja
kebangkitan bukan gereja kematian atau gereja salib; gereja yang beribadah
dalam kesukaciataan bukan gereja yang mengidealisasikan penderitaan. Sehingga
teologia gereja adalah teologia kebangkitan bukan teologia salib; teologia
perajaan bukan teologia penderitaan; teologia kelimpahan bukan teologia kemiskinan.
Memang kuasa salib, penderitaan dan kemiskinan itu masih terasa dan nyata dalam
dunia. Namun dalam Kristus semuanya itu telah dikalahkan. Sehingga saat ini
kita tidak lagi miskin tapi kaya, tidak lagi menderita tapi bersukaria, tidak
lagi mati tapi hidup. Paulus juga memiliki beberapa pengertian megenai Ekklesia yang kerap dia gunakan dalam
surat-suratnya. Pandangan Paulus itu adalah (1) Gereja adalah kelanjutan dan
penggenapan umat Yahwe yang didalam Abraham telah Yahwe pilih bagi diri-Nya
dari seluruh umat manusia dan yang dengannya Dia mengikat diri dengan
mengadakan kovenan dan janji-janji. Dalam hal ini Paulus mengikuti konsep
gereja yang umumnya muncul diseluruh Perjanjian Baru meski ia juga
memperluasnya. (2) Ia memberikan istilah baru untuk menyebut keberadaan dan
karakter Gereja, yaitu gereja sebagai tubuh Kristus.[2]
Selain Eklesia, ada beberapa istilah yang kerap Paulus pakai untuk menyebut
gereja dan yang seperti ekklesia, juga menyatakan kesadaran diri gereja Kristen
dan penilaian rasuli. Pertama akan kita lihat istilah “orang kudus” (hagioi).
Sebutan ini khusus muncul diawal dan disalam penutup surat-suratnya (bdk Rm
1:7, 1 Kor 1:2; 2 Kor 1:1; Ef. 1:1; Flp 1 : 1; Kol 1 : 2; Rm 16:15; 2Kor. 13 :
12; Flp 4:21-22) dan sebagian dipakai bersama ekklesia (1Kor. 1:2)
Dari penjelasan diatas
maka gereja adalah sebuah lembaga yang mengatur dan mengikat hubungan manusia
dengan Yahwe sebagai pencipta dan hidup dalam kelimpahan kasih karunia didalam
Kristus sebgai Juruselamat.
2. Dunia Masa Kini Indonesia
A. Landasan Ideal Bangsa
Membicarakan situasi
Indonesia masa kini, mau tidak mau harus berbicara tentang usaha bangsa
Indonesia untuk melaksanakan pembangunan nasional yaitu pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya, sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas.
Pembangunan manusia Indonesia pada masa kini adalah menjadikan manusia
Indonesia berbudi pekerti luhur, yang berketuhanan. Dalam konteks masa kini
Indonesia pembangunan mempunyai arti yang jauh lebih luas dari pada pembangunan
materi dan fisik saja. Malah factor ekonomi/material sama sekali tidak
dijelaskan secara eksplisit, hanya tersirat dalam Pancasila sebagai pandangan
dan Falsafah hidup bangsa. Dalam sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya
pembangunan nasional yang usahanya mensejahterakan rakyatnya harus berhubungan
dengan peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan. Sila Kedua, pembangunan harus
dilaksanakan untuk menopang terjadinya proses kemanusiaan yang penuh bagi
setiap warga Negara tanpa membeda-bedakan agama, suku dan pendidikan. Dalam
sila ketiga pembangunan harus dilaksanakan agar mempunyai watak strategis yang
menjamin persatuan dan kesatuan bangsa. Sila Ke empat, maka pembangunan harus
mendorong terbentuknya pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat,
sedangkan dalam kaitan sila ke lima, pembangunan haruslah bermuara pada adanya
pembentukan suatu masyarakat yang didalamnya terdapat kesamaan dalam kesempatan
berpartisipasi dan kedudukan dihadapanhukum. Dapat juga dikatakan dengan
dilandasi pokok pengertian diatas, tujuan pembangunan sebagai pengamalan
Pancasila adalah pendayagunaan kekayaan alam dan mengubah lingkungan alam untuk
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya[3].
Atas pandangan-pandangan
diatas apakah yang dapat dilakukan agama-agama di Indonesia, dalam hal ini iman
Kristiani yang berupa basis pertumbuhan gereja? Jadi jelas bahwa dalam alam
pembangunan seperti tadi, maka peranan iman Kristiani itu tidak hanya sumber
motivasi dan inspirasi tapi lebih merupakan pemberian arah yang pasti sehingga
pembangunan manusia yang seutuhnya yakni sebagai manusia yang berkenan dipakai
oleh Yahwe dan berguna bagi sesamanya dalam suatu kebersamaan
Unsur kegunaan dan
kebersamaan merupakan dua unsur penting sebagai yang menentukan tinggi
rendahnya tingkat kualitas kehidupan manusia. Pembangunan manusia seutuhnya
akan menghasilkan manusia yang mandiri, yang melalui hidup dan karyanya
berusaha menyumbangkan yang terbaik bagi kehidupan sesamanya, manusia sebagai
tanda nyata daripada ketaqwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, pembangunan
seperti ini bersangkut paut dengan pengukuhan martabat manusia, pencapaian
kebebasan, pemenuhan kebutuhan social yang adil serta terjelmanya seluruh
potensi manusia dalam kenyataan hidupnya. Inipun berarti bahwa pembangunan
harus dapat menciptakan suatu masyarakat yang bertanggung jawab atas hidup
sesamanya sebagai saudara dalam keluarga Yahwe (Kis 17 : 16 – 34) dan bukan
suatu masyrakat liberal – individualistic atau suatu masyarakat totaliter –
kolektif. Pembangunan seperti ini juga mendidik manusia untuk menyadari bahwa
memperoleh hidup dari Yahwe berarti mempunyai sesuatu yang berhargadan berguna
bagi sesame. Bagi yang kaya, pembangunan itu mendidik bahwa Yahwe membenci
hidup yang mementingkan diri sendiri serta pemborosan harta, karena akan
menghambat pembentukan masyrakat yang manusiawi. Bagi yang miskin, pembangunan
mendidik mereka menyadari bahwa memiliki martabat sebagai anggota keluarga
Yahwe yang dapat digunak sebagai pendorong agar berkreasi untuk mencapai
kesejahteraan mereka sendiri. Bagi penguasa pembangunan berarti mereka harus
bekerja keras sesuai dengan kehendak Yahwe untuk mencapai suatu tata kehidupan
yang adil, aman serta partisipasi dan menjamin terlaksananya hak-hak
kewajiban-kewajiban azasi manusia.
B. Realitas Keadaan Bangsa
Pada sub pokok bahasan
diatas yaitu Landasan Ideal bangsa, menyataka konsep pembangunan yang adil,
tidak berpihak dan aman bagi seluruh raksyat Indonesia yang memiliki kesamaan
dalam konteks konstitusi dasar Negara Republik Indonesia, namun pada
kenyataannya terlalu banyak kesenjangan yang terjadi, yaitu : jurang pemisah
antara sikaya dan simiskin semakin jauh jaraknya, ada yang menikmati hidup
dengan gaya hedonism yang kemaruk tetapi ada juga manusia yang mau makan sesuap
nasi saja sangat sulit, akibat tekanan ekonomi yang dari sehari kesehari
semakin tak terjangkau. Negara tidak mampu menghadirkan yang namanya aroma
kesejahteraan bagi rakyat Indonesia angka kemiskinan di Indonesia yang
berkorelasi positif terhadap angka pengangguran yaitu 40 juta rakyat Indonesia dibawah
garis kemiskinan[4],
dan angka pengangguran mencapai 30% jumlah angkatan Kerja[5]. Apa
yang akan terjadi dengan keadaan ini, kemiskinan dan pengangguran akan memicu
tingkat penetrasi dari sikap radikalisme dan brutalisme, sebab mereka frustrasi
dan tidak mampu mengatasi meningkatnya suplay paham radikalisme yang melibatkan
lembaga internasional di Indonesia. Oleh sebab itu angka kekerasan dari tahun
ketahun semakin meningkat, seolah-olah
Negara tak mampu menghempang arus brain storming di tingkat grass root. Itulah
kondisi realitas masyarakat Indonesia yang ada dalam bingkai pembangunan
nasional.
3. Pertumbuhan Gereja dalam Konteks Masa Kini Indonesia
Peranan
gereja dalam konteks masa kini Indonesia, harus dilihat dari sisi pertumbuhan
gereja, jika yang menjadi topic utama adalah pertumbuhan (growth) maka yang sangat penting adalah permasalahan
kualitas walaupun soal kuantitas atau jumlah harus diperhatikan. Berbicara
tentang pertumbuhan maka kita akan lihat perumpamaan tentang pohon ara (fig
tree) dalam Luk 13 : 6 – 9). Dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus menyuruh
menebang pohon ara yang tumbuh tapi tidak berbuah. Apa yang dikatakan disini
sebagai perumpamaan di tulis Matius (fs. 21) dan Markus (fs. 11) menjadi suatu
muzizat, yang didalamnya Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah itu karena
tidak berbuah itu karena tidak memberikan buah yang dapat mengenyangkan Yesus.
Dalam Matius dan Markus, pengutukan itu terjadi karena tidak ada buah yang memberikan kekenyangan dan bukan karena tidak ada buah yang dapat menambah pohon ara yang baru, begitu pula maksud sebenarnya dari Yohanes 15. Saya berpendapat hal ini perlu dipegang teguh. Lukas menempatkan cerita pohon ara sebagai perumpamaan dan sebagaimana semua perumpamaan Yesus, Ia menunjuk pada hadirnya tanda-tanda kerajaan Yahwe. Tanda Kerajaan Yahwe itulah Israel sebagai umat Yahwe yang beribadah yang didalam PB disebut Gereja. Pohon ara di Palestina adalah pohon kehidupan bagi semua orang (pohon al-hayat), tapi sekaligus adalah lambang kekecilan. Kecil tapi menghidupkan atau kecil tapi berguna bagi Yahwe dan bagi semua orang, itulah lambing umat Yahwe yakni Israel dan Gereja. Israel tidak pernah besar dan Tuhan tidak menghendaki Israel menjadi besar. Jadi dalam cerita pohon ara ini Yesus menunjukkan umat Yahwe sendiri yakni Israel dalam hal ini orang-orang Yahudi yang pada saat itu terjangkit penyakit ingin besar dan sebab itu tidak berbuah. Jadi sama seperti pohon ara umat Yahwe yang kecil itu berbuah lebat, dan buah – buah itu lebih menunjukkan pada kegunaan untuk mengenyangkan daripada pertumbuhan untuk menambah jumlah pohon ara. Berbicara pada kegunaan itu selalu menunjuk pada kebersamaan atau persekutuan (koinonia). Bertumbuh dan berbuah berarti bertumbuh agar dengan buah-buahnya gereja dan orang percaya berguna bagi Yahwe dan bagi sesama dan juga bagi Nusa dan Bangsa.
Pertumbuhan diukur dari buahnya bukan dari daun atau batang
yang lebat dan besar. Demikian iman yang bertumbuh di ukur dari buah yang
dihasilkan oleh iman itu seperti kasih, rendah hati, kemurahan sabar dan
lain-lain. Orang-orang seperti inilah yang berguna bagi Yahwe dan bagi
sesamanya. Walaupun jumlah mereka itu kecil bukan berarti tidak boleh bertambah
besar, tetapi yang harus diingat adalah bukan jumlahnya melainkan kualitas yang
dihasilkan, lebih baik kecil tapi berguna dari pada besar menciptakan masalah
yang pada akhirnya akan ditebang dan dibinasakan.
Berbicara mengenai lambang kekecilan
yang merupakan ciri khas umat Yahwe, yang dalam hal ini adalah penampakan
Israel baru maka seperti yang telah disampaikan diatas kita harus berbicara
tentang keluarga dan rumah tangga. Jadi hakekat gereja adalah gereja rumah,
melalui lambing tubuh dan mempelai pernikahan. Ini tidak lain menunjuk pada
kenyataan bahwa keluarga dan rumah tangga adalah peresekutuan hidup yang
terkecil tapi terakrab dalam kehidupan manusia.
Jadi hidup berpusat pada rumah, kalau rumah/keluarga
rusak maka seluruh kehidupan dan tatanannya akan rusak pula. Iman itu bertumbuh
secara sehat didalam rumah tangga yang sehat, sebab itu dalam iman Kristen,
rumah tangga dan keluarga kita adalah sekaligus rumah tangga dan keluarga
Yahwe. Ini yang jarang diketahui oleh Kristen, karena menyangka rumah tangga
dan keluarga kita adalah kepunyaan kita. Ini tidak benar, dan sebab itu banyak
rumah tangga yang ambruk. Rumah tangga/keluarga dikelola menurut kehendak
sendiri dan bukan menurut kehendak Yahwe. Oleh sebab itu apa yang menjadi
ibadah gereja seharusnya adalah kesinambungan ibadah rumah dan keluarga, jangan
dibalik, kalau dibalik maka kegiatan gereja dapat merusak kehidupan rumah
tangga dan keluarga. Yang beribadah di gereja adalah keluarga bukan pribadi-pribadi,
karena Yahwe adalah Bapa. Bapa itu berada dalam keluarga dan rumah tangga,
sebab itu bapa tidak dapat dimengerti dalam artian diluar keluarga.
Terlalu banyak orang
Kristen yang giat dalam kegiatan gereja karena bosan hidup dalam keluarga dan
rumah tangga. Ini adalah gejala yang berbahaya dalam pertumbuhan gereja. Jangan
kegiatan gereja merusak kehidupan rumah tangga dan keluarga, ini banyak sekali
terjadi. Banyak sekali gereja dan orang-orang Kristen terperangkap pada
slogan-slogan politik yang besar seperti perjuangan menganggulangi kemiskinan,
keadilan dan hak-hak azasi tapi soal rumah tangga dan keluarga tidak pernah
digubris. Ini sangat berbahaya bagi pertumbuhan Gereja.
Kita boleh berbicara
dalam semua itu tetapi harus berakar dari kehidupan rumah tangga dan keluarga.
Pertumbuhan gereja adalah pertumbuhan rumah tangga dan keluarga. Gereja dan
bangsa yang sehat adalah yang berakar dari rumah tangga dan keluarga yang
sehat. Jangan mengaharapkan sebuah bangsa atau Negara yang besar jika tidak memusatkan
diri dalam pembangunan rumah tangga dan keluarga. Inilah pertumbuhan gereja
dalam konteks Indonesia masa kini.
Kesimpulan
Pembangunan
Bangsa dan Negara haruslah di gerakkan oleh pertumbuhan Keluarga dan rumah
tangga yang sehat, oleh karena keluarga atau rumah tangga adalah lembaga
terkecil dalam Negara, Negara tidak aka nada jika keluarga atau rumah tangga
tidak ada. Keluarga adalah pintu paling awal dalam melaksanakan program
pembangunan Negara. Gereja juga harus berpusat pada keluarga, sebab hubungan
manusia dengan Tuhan dalam gereja erat kaitannya dengan hubungan anggota
keluarga dengan bapa kita Yahwe, dan Tuhan Kita Yesus Kristus, sebab dialah
bapa dan kepala Gereja.
Daftar Pustaka
1.
Riderboss,
Herman, Paulus : Pemikiran Utama dan
Teologianya, Surabaya : Momentum, 2008
2.
Lembaga
Alkitab Indonesia, 1987
3.
BPS,
2014
4.
BPPN,
2014
5.
Tanya,
Victor, Hidup itu Indah, Jakarta :
BPK Gunung Mulia
6.
Tanya
Victor, Tiada Hidup Tanpa Agama, Jakarta : BPK Gunung Mulia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar