Senin, 07 Desember 2015

PERBEDAAN KRISTEN DAN ISLAM DI RANAH TEOLOGI



Abstraksi : Kristen dan Islam dianggap sebagai agama yang memiliki akar yang sama, sebagai agama langitan (samayim) dengan leluhur yang sama, yaitu Abraham. Tetapi dalam sepanjang sejarah pertumbuhannya Kristen dan Islam pernah terlibat perang yang berkepanjangan yang disebut perang salib, dan saat ini sering telibat konflik yang keras, terlebih di Indonesia. Jika memiliki Leluhur yang sama, kenapa terjadi konflik, berikut kita akan lihat perbedaan Prinsip yang sangat besar antara kedua agama.

Kata Kunci  : Perbedaan


PENDAHULUAN

            Indonesia dikenal didunia sebagai Negara yang paling toleran di dunia terhadap kelompok minoritas ( Suku, Agama, dan Ras), predikat itu melekat selama hampi 30 tahun, setelah peristiwa G 30 S/PKI, tahun 1965, dan pemberantasan kelompok kiri ini telah membuat Indonesia lebih bersatu dan lebih menghargai kepecayaan yang dipeluk oleh rakyat Indonesia. Keadaan damai ini mulai terusik ketika digulirkannya kondisi reformasi yang disebut orde reformasi, saya sebagai salah satu pelaku pergerakan reformasi dulu pada masa pergerakan berharap bahwa reformasi adalah awal baru bagi kemajuan Indonesia dalam segala tatanan walaupun pada saat itu tujuan utama adalah demokrasi, yang bebas. Tidak pernah terpikirkan apa yang kita perjuangkan dulu akan dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk melakukan kegiatan yang tidak demokratis, in toleran dan pemaksaan, atas nama mayoritas, padahal demokratis bukan hanya pada tatanan mayoritas tetapi pada semua tatanan global kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang seharusnya mewujudkan ide dan nafas dari kebhinekaan yang tunggal ika sebagai nafas dari keberagaman di Indonesia.

KEKRISTENAN
            Kekristenan atau agama Kristen adalah suatu agama yang lahir di Timur Tengah yang di kembangkan oleh seorang Yahudi Roma yaitu Paulus, ia adalah seorang rabbi yahudi yang mendapat pedidikan kerabbian dari seorang guru besar yahudi Gamaliel, pada usia muda ia sudah masuk dalam jajaran elite para guru yahudi, sehingga ketika dia mendengar bahwa ada aliran/pengajaran yang baru dibawa oleh seorang yang tidak familiar dikalangan para sarjana yahudi pada saat itu, tetapi di syiarkan oleh Yesus anak dari kota Nazareth, yang terkenal kota para pemberontak Romawi, ayahnya adalah seorang tukang kayu, hal ini sangat bertentangan dengan struktur pemberitaan agama Yahudi, seorang nabi atau mesias harus dari keturunan lewi atau raja, mana mungkin ada nabi dari Nazareth, nubuatan para nabi seharusnya dari kota Betlehem, sesuai dengan nubuatan Mikha (Mikha  5:1 Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.)
            Raja Israel yang kedua pengganti Saul adalah David, berasal dari kota Betlehem, sehingga azas logika seorang nabi dari Nazareth adalah tidak masuk akal, oleh sebab itu, para rabbi membuat sebuat fatwa/keputusan keberadaan Yesus yang menyebut dirinya sebagai anak Yahwe adalah sesat. Para Rabbi bersepakat untuk membunuh Yesus agar tatanan yang sudah ada sejak zaman Musa tidak hancur berantakan, dan keberadaan Taurat sebagai hukum tertinggi dari Hukum agama Yahudi akan hancur,  sebab Yesus mengajarkan kasih sebagai tauladan hidup yang harus di kedepankan dari semua hukum yang ada. Mereka berhasil membunuh Yesus dengan cara menyalibkan Yesus di Kayu salib di bukit golgota (bukit tengkorak). Pertanyaannya setelah mereka berhasil membunuh Yesus, apakah ajarannya habis/hancur dan terlupakan? Tertnyata tidak, ajaran baru ini semakin berkembang, setelah peristiwa pentakosta, para murid dan pengikut Yesus semakin berkembang secara luar bisaa, tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka, sekali lagi para Rabbi menjadi repot, karena apa yang mereka pikirkan dan lakukan tidak terjadi sesuai rencana, justeru perkembangan pengikut lairan ini semakin hebat. Sekali lagi mereka menyusun rencana untuk menghancurkan ajaran baru tersebut. Maka dikeluarkanlah perintah kepada Saul dari Tarsus, untuk membinasakan para pengikut Yesus. Mereka ditangkapi dan dianiaya, bahkan dibunuh di sula di pinggir jalan sepanjang jalan mereka temui, para pengikut ini berlarian ke setiap kota yang bisa mereka jangkau dan hal ini menjadi cara terbaik yang dilakukan Tuhan untuk mensyiarkan ajaran Yesus keseluruh dunia, para pelarian ini yang dikenal dengan diaspora, menyebarkan ajaran Yesus dimanapun mereka bertemu dan berdiam.
            Segala upaya yang dilakukan oleh rabbi yahudi gagal, sebab dalam perjalanan ke Damsyik, panglima pembinasa ini di tangkap oleh Yesus dengan cara muzizat, yaitu dia buta selama tiga hari lamanya sampai datang seorang murid menyembuhkan dia, murid itu bernama Ananias. Dalam doanya Ananias membuat pertanyaan kepada Tuhan, bahwa saulus adalah orang yang menerima kuasa penuh dari para Imam, untuk membinasakan pengikut Yesus, tetapi Tuhan menyatakan hal sebaliknya. Saulus akan di pakai untuk memberitakan ajaran Yesus keseluruh dunia. Karena peran Saulus yang kemudian berganti nama menjadi Paulus, penyebaran Kristen begitu hebat, dia mengajarkan bahwa keselamatan bukan hanya untuk orang Yahudi saja tetapi juga bagi orang Yunani dan orang kafir lainnya.
Kekristenan di Indonesia
            Nusantara mengenal kekristenan, pada masa masuknya penjajah di Indonesia, diawali dengan masuknya bangsa Portugis dan Spanyol pada tahun 1511 – 1700, namun sebelum Kristen sudah masuk pada abad ke – 7 di panatai barat sumatera utara, yang disebarkan oleh Kristen Nestorian ( dari Khaldea/Syiria dan Persia) dan kunjungan para misionaris Katolik kebeberapa tempat di Nusantara pada abad ke 14.[1]  Kedatangan bangsa Portugis dan Spanyol ke nusantara membawa tim misionaris katolik dan protestan, para misionaris ini memberitakan injil kependuduk local dimana mereka menetap, sehingga lambat laun kekeristenan mulai dapat diterima oleh penduduk local, para misionaris mendirikan sekolah-sekolah agama dan gereja di koloni portugis dan spanyol. Setelah melintasi beberapa pulau di Nusantara sejak berangkat dari Malaka pada bulan Nopember 1511, armada Portugis tiba di Maluku pada Tahun 1512, sebelumnya Portugis telah mendirikan pangkalan dagang di India (Goa), Srilanka dan Malaka sebagai tindak lanjut dari keberhasilan Vasco Da Gama dan armadanya tiba di Asia pada tahun 1498. Dari Maluku, Portugis dan Spanyol meluaskan jaringan perdagangan dan penyebaran agama Kristen ke daerah-daerah sekitarnya, bahkan hingga ke Pulau Jawa.
            Portugis dalam usaha perdagangannya di Maluku banyak menggunakan cara-cara yang tidak baik, sehingga menimbulkan pertikaian di Maluku pada saat itu, sehingga menimbulkan perang yang sangat hebat pada masanya itu, di pimpin oleh sultan Hairun 1558, Sultan Hairun dari ternate bersama raja-raja Jailolo, Bacan dan Tidore membuat kesepakatan rahasia untuk membasmi semua orang Kristen dan orang-orang asing terutama orang portugis, segera mengirimkan armada yang besar ke ambon dibawah pimpinan putra Sultan Hairun yaitu Laulata, khusus untuk mengajak penduduk di Hitu dan menanamkan Islam di Ambon. Pasukan yang besar ini melakukan pengislaman dengan cara kekerasan di pesisir Maluku, sehingga banyak penduduk yang baru di Kristenkan oleh Xaverius menjadi Islam. Sejak saat itu pertikaian Islam dan Kristen terus belangsung hingga setengah abad lamanya. Sampai belanda datang ke tanah Maluku dan membuat suasana baru dalam kedamaian yang semu. Agama Kristen dianggap sejak ratusan tahun yang lalu sebagai agama penjajah dan di Nusantara oleh kerajaan dan masyarakat islam, oleh sebab itu hal yang terjadi pada masa sekarang bukanlah hal yang baru lagi. Jika ditilik dalam sejarah di Indonesia pertikaian ini akan terus berlangsung.
            Pada masa sekarang apa saja yang menjadi pemicu konflik Islam dan Kristen itu yang harus dipahami untuk dapat mengurai benang kusut yang tidak sedikit memakan korban Jiwa, perkembangan teknologi komunikasi dan Informasi saat ini juga menjadi penyebab yang tidak bisa di nafikkan begitu saja. Setiap terjadi konflik agama di belahan dunia lain, televisi sebagai salah satu media massa yang paling cepat menyajikan informasi terdepan juga sebagai factor paling penting dalam meningkatnya kerusuhan agama di Indonesia. Hal ini juga disebabkan oleh semakin menipisnya rasa kebangsaan, dan persatuan, dan lebih mengutamakan kebenaran teologi agama masing-masing.

Benturan Kristen dan Islam
            Pertikaian di lataran agama dimulai sejak tahun 1980an, dimana bangkitnya gerakan fundamentalis Kristen, gerakan ini bukannya agresif dalam hubungan intra Kristen sendiri, tetapi keluar dengan agama-agama lainnya. Hal ini di akibatkan pemahaman yang literal dan apokaliptik yang di ekspresikan dalam tema-tema seperti religious values (nilai-nilai iman), prolife, prinsip anti Darwinisme biologis dan Darwinisme Sosial, kelompok-kelompok Fundamentalis Kristen ini membom klinik aborsi dan bar kaum homo/lesbian serta membakar buku-buku yang tidak sepaham dengan ajaran-ajaran yang mereka anut. Di latar islam peningkatan yang keras dimulai dengan revolusi iran dibawah pimpinan Ayatullah Khomeini, dan gelombang Intifadah di palestina diawal tahun 1980an, berlanjut dengan kebangkitan aliran Talibanisme di afganistan dibawah pimpinan Ushama Bin Laden, dengan puncak pemboman menara kembar WTC (World Trade Center) di New York pada 11 september 2001 Amerika serikat, peristiwa terakhir ini menjadi puncak pertiakian yang keras agama-agama, di Indonesia juga mengalami pertumbuhan gerakan Fundamentalis Islam keras, seperti : Laskar jihad, Front Pembela Islam, Jamaah Anshorud Tauhid, Hizbut Thahir Indonesia dll. Dengan lahirnya aliran garis keras ini di Indonesia menjadikan Indonesia tidak ramah bagi pemeluk agama di luar islam, dan juga dikalangan Islam terjadi pertikaian yang sangat keras dimana mayoritas pemeluk islam di Indonesia adalah pemeluk Al Sunna Wal Jamaah, yang menitik beratka ajaran Islam harus sesuai dengan sunnah nabi, maka yang diluar pemahaman ini dianggap sesat, masih segar diingatan kita pembantaian penganut Ahmadiyah dan Syiah di Madura, sedang dalam tataran iman islam saja sudah terjadi pembantaian apalagi ditataran agama lainnya.
Dalam catatan jurnalistik kita banyak melihat peristiwa penutupan gereja, klenteng dan rumah kegiatan agama lainnya, serta kekerasan berlatar belakang agama lainnya.
            Kekerasan demi kekerasan terus belangsung di Negara ini, tanpa bisa di bendung, seolah olah Negara tidak mampu menangkal setiap bentuk kekejaman atas nama/symbol symbol agama, pada tahun 2010 yang lalu seorang penetua gereja HKBP ditikam dilokasi kebaktian dan seorang pendeta juga kena aniaya, Negara ini hanya mampu mengutuk tetapi tidak ada tindakan nyata di tataran hukum legal, yang lebih parah tindakan penusukan dan penganiayaan itu disebutkan sebagai kasus criminal murni bukan masalah agama[2]. Yang mengherankan kenapa aparat hukum terkesan menutup mata atas peristiwa kekerasan yang terjadi, atau adakah tindakan yang secara massif telah di rencanakan untuk membasmi pemeluk agama minoritas dari bumi Nusantara, atau aparat hukum sudah mandul menghadapi para teroris yang berjubahkan symbol agama tertentu ini.

Perbedaan Pemahaman Teologi
            Kristen dan Islam memiliki pemaham teologi yang sangat mendasar, perbedaan ini akan terus menjadi awal pertikaian Kristen dan Islam. Untuk dapat menghindari pertikaian yang lebih lanjut perlu kita memahami perbedaan teologi yang ada antar kedua agama, sebab dunia kita saat ini sangat gampang terkontaminasi dengan informasi yang salah dari luar maupun dari dalam. Selama kita tidak memahami teologi kedua agama maka kita akan menganggap salah dan sesat pemeluk agama berbeda.

Islam[3]
Islam dalam pemahaman Linguistik berasal dari akar kata salima (baca : s-l-m) yang berarti selamat, damai, sehat, bebas dari gangguan, tunduk (berserah diri), dan bebas dari penentangan, bahkan juga berarti tangga bertahap. Secara semantic beberapa makna dasar Islam dapat dikemukakan sebagai berikut :
a.    Islam berarti Istislām (berserah diri) dan al-inqiyāż (tunduk). Ini artinya bahwa islam mengajarkan nilai-nilai kepasrahan dan ketundukan pada hukum Allah SWT.
b.    Islam berarti selamat (Al – Salamah). Ini memberi isyarat bahwa seorang Muslim adalah orang yang mencari jalan keselamatan.
c.    Islam berarti al-silmu dan al-sulh, perdamaian, yang berarti bahwa seorang muslim tidak suka membuat keonaran dan kerusakan di lingkungannya. Hal ini sejalan dengan hadist Nabi Muhammad SAW yang menggambarkan orang mukmin seperti lebah, sebuah gambaran metaforis yang sangat indah. Lebah adalah binatang yang sangat berguna, menghasilkan madu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kalau ia hinggap diatas dahan, tidak pernah membuat dahan itu patah, ia tidak meyerang lebih dahulu, kecuali ia merasa diganggu atau diserang
Jika dilihat Islam secara Ideologis-Politis-Ekslusif maka kita akan melihat pengertian Islam yang diwarnai oleh kepentingan ideology dan politik tertentu. Islam ideologis-politik – ekslusif cenderung menganggap bahwa pemeluk agama Katolik, Protestan, Hindu, Buddha atau Konghuchu bukanlah seorang muslim dan tidak mendapat jaminan keselamatan sebab mereka bukanlah pengikut Islam yang diajarkan Nabi Muhammad. Ini berarti bahwa mereka bukanlah orang mukmin, melainkan musuh yang harus dibinasakan. Pandangan yang sangat intoleran ini mulai masuk ke Indonesia sejak tahun 1950an, awalnya gerakan ini didukung oleh aliran Muhammadiah dengan membentuk partai Masyumi.

Kristen
            Kekristenan adalah ajaran yang dibawa oleh Yesus, menitikberatkan pada ajaran kasih sebagai pengikat universal yang mempersatukan semua umat manusia, sehingga kekristenan itu bukanlah sebuah agama tetapi pandangan hidup atau cara hidup dari orang yang percaya kepada Tuhan, ada tiga hal yang paling utama yang diajarkan oleh Yesus kepada manusia yaitu :
a.    Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu
( Matius 22 : 37, Markus 12 : 30, Lukas 10 : 27), ini adalah hal yang paling mutlak harus dilakukan setiap orang Kristen, tidak dapat ditawar dan merupakan kemutlakkan.
b.    Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri ( Lukas 10 : 27), ini menjadi pengikat bagi manusia untuk saling mengasihi dan menjauhkan diri dari sifat dengki dan benci, lebih ekstrim lagi Yohanes menuliskan siapa yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh, ( I Yohanes 3 : 15 ), orang yang percaya kepada Tuhan haruslah engasihi sesamanya sebagai perwujudan dari iman yang di anut.
c.    Kasihilah musuhmu (Matius 5 : 44). Dalam hukum taurat dan hukum sebelumnya diajarkan untuk membenci musuh, dan ini merupakan hal yang logis siapa menyakiti orang lain patut dihukum dengan cara yang sama ia perbuat bagi orang itu (pelaku) atau bisaa dikenal mata ganti mata, gigi ganti gigi, darah ganti dara, nyawa ganti nyawa, tetapi Yesus mengajarkan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu. Lukas menuliskan dalam Lukas 6 : 27 ; Kasihilah musuhmu dan berbuat baiklah kepada orang yang membenci kamu.
Tiga hal penting dalam pengajaran Yesus diatas tentunya akan menjauhkan dunia dari kekerasan, dunia akan damai sejahtera. Tetapi hal itu menjadi pertentangan di aras bawah kehidupan manusia, penentangan terhadap ajaran ini bermunculan dimana bahkan sampai sekarang. Perbedaan pandangan Islam dan Kristen di aras Teologia[4] ini tentunya dapat menjadi pertimbangan kita sebagai orang Kristen untuk dapat menempatkan diri secara bijak agar dapat mengurangi benturan-benturan yang ada. Islam mengajarkan kebencian kepada pemeluk agama lain dan harus dibinasakan tetapi Kristen harus mengasihi sesama bahkan mengasihi musuh.


KEPERCAYAAN KEPADA TUHAN
Islam mengajarkan Tuhan itu Esa, ini tercantum dalam kalimah syahadat mereka ketika seseorang menjadi pemeluk islam, Ke – Esaan Tuhan ( Allah) merupakan harga mati dalam iman Islam, ini tercantum dalam surah pertama Al-Qur’an yaitu  Al-Fātiha yang terdiri dari tujuh ayat, tetapi menjadi bagian utama dari pengajaran yang terkandung dalam 113 surah yang dikandung Al-Quran. Kesadaran iman mereka yang terbentuk sejak nabi Muhammad mengajarkan keesaan Allah maka sejak itulah logika keesaan Allah itu mengkristal dalam kehidupan mereka. Namun jika ditelusuri secara rinci, Muhammad sendiri tidak pernah menerima wahyu yang dia katakan sebagai wahyu dari Allah kepadanya secara langsung, atau ada yang melihat tanda keberadaan Allah dalam iman Islam, Muhammad justeru menerima wahyu dari malaikat bernama Jibril yang mengenalkan kepada dia suatu perintah untuk menjadi nabi bagi bangsa arab yang pada saat itu hidup dalam masa jahilliyah, tetapi Muhammad sendiri tidak pernah bertemu dengan Allah, baik itu dalam suasana private maupun dalam kondisi general, seperti yang dialami oleh nabi-nabi Yahudi dan leluhur bangsa Yahudi. Perbedaan siapa Tuhan menjadi pertentangan yang sangat tajam antara Muhammad dan Yahudi, seperti diterangkan dalam beberapa Hadist sahih Islam, sejenak kita akan melihat perbedaan antara Allah dalam Alkitab dengan Allah Islam (Qur’an), jika kita menganggap itu sama maka ini akan menjadi factor pemicu persoalan antara Kristen dan Islam di dunia ini yang tidak akan pernah putus.
Tuhan Alkitab sama dengan Allah Alquran ?

Banyak orang beranggapan bahwa Tuhan dalam Alkitab dan Tuhan dalam  Al-quran adalah sama dan satu, hanya namanya atau sebutannya saja yang   berbeda.  Karena   sama-sama   menyembah   ”Allah”,   satu-satunya  Tuhan yang Esa, maka mereka yakin bahwa Kristen dan Islam memang  menyembah Allah yang sama. Namun bahwa monoteisme itu SATU ALLAH  tidak berarti bahwa identitas dari Tuhan yang Esa itu sama pada kedua  agama   tersebut.  Orang-orang   dizaman   purba   bahkan   mungkin telah  mengajarkan bahwa Baal atau Molokh adalah satu-satunya Tuhan yang benar dan yang Maha Kuasa, namun itu tidak menjadikannya sama dengan Tuhan orang Kristiani atau Allah orang Muslim.Begitu pula halnya bahwa Allah orang Kristiani dan Islam tidak dijamin kesamaanya hanya karena keduanya mengklaim Tuhan yang Esa. Tuhan Alkitab telah mengungkapkan hakikat Nama dan DiriNya sedemikian rincinya sehingga mustahil dirancukan dengan hakikat dan jati-diri  Tuhan yang lainnya. Klaim bahwa Tuhan Elohim adalah sama dengan Allah  Islam tidak boleh berhenti pada klaim semata, tetapi harus dibukti-kan  melalui sains, catatan arkeologi, dan/ atau sejarah. Harus dicarikan asal-usul  Allah,   namaNya,   attribut-attribut   Allah,   dan   asal-usul  pewahyu-an  dan agen-pewahyu dan ritual penyembahanNya. Dari apa yang terfakta,  ternyata   klaim   tersebut   malah   membuktikan   sebaliknya,   yaitu   bahwa  kedua TUHAN dan ALLAH ini praktis tidak ada samanya disegala bidang!
(lihat berikutnya).

1.    Adapun nama “Allah” yang sama tidak bisa dipakai sebagai bukti, karena kita   tahu   bahwa   itu   hanyalah  sebutan  bahasa   Indonesia/Arab  dalam komunikasi masyarakat sehari-hari.  Sama halnya   sebutan  “Tuhan”, itu  bukan  nama  hakiki   pribadiNya,  melainkan sebutan   populer   belaka. Bagaimanapun, nama hakiki Allah tentulah nama surgawi dengan unsur-unsur yang tidak mungkin dapat dimampatkan dalam 26 abjad aksara ciptaan manusia. Kitab Suci asli dalam bahasa   Ibrani atau Yunani tidak mengenal nama ALLAH. Yang ada adalah nama YAHWEH (diterjemahkan dalam Alkitab sebagai TUHAN, dengan huruf besar semua). Itupun bukan nama hakiki-final-mutlak diriNya. Melainkan masih berunsur Ibrani. Jadi   orang-orang   Kristen   malahan   selalu   bertanya-tanya   kepada   teman-teman   Muslim, darimana  dan kenapa  nama  YAHWEH   yang   sudah   diperkenalkan  sendiri   oleh   Tuhan   selama   beribu-ribu   tahun   itu (Keluaran 3:13-15), kini tiba-tiba menjadi perlu diganti  menjadi  nama  ALLAH (”siapanya”)  tetapi tanpa  diperkenalkan   ”apa”nya?. Bukankah   Allah   yang  menurunkan wahyu Quran awal-awal di Mekah hanya disebut sebagai ”Rabb”(Tuhan), lalu tiba-tiba disebut  juga sebagai ”Allah” tanpa penjelasan ? Samuel Zwemer, seorang pakar masalah keagamaan  Timur   Tengah   mencatat   bahwa   para   penulis   Islam  kurang kritis terhadap nama atau etimologi. ”Hampir  semua penulis tersebut beranggapan bahwa Allah Al-Quran mempunyai identitas dan eksistensi yang sama  dengan   ”YAHWE”   yang   dinyatakan   oleh   Alkitab”.  Sebutan   Allah   dan   panggilan   sifat-sifat   boleh   saja  sama, namun apakah perilaku, pribadi dan jiwa kedua  Allah tersebut sama? 

2.    Mari kita meresapi apa yang dicerahkan oleh Dr.  Robert Morey dan Dr.RC Sproul[5] dibawah ini : Tuhan yang hadir dan aktif didunia vs Allah yang kehadiranNya pasif Allah Alkitab hadir, exist, dan tampak   dalam kehadiranNya ditengah-tengah umatNya. Ia berbicara langsung dengan  manusia (termasuk nabi-nabi Allah). Ia bernubuat diantara sejarah manusia. Ia bermujizat diantara  para   saksi. Ia tidak menjadi penonton atau agen sejarah, dan hanya  berwahyu   lewat malaikat,  melainkan  bertindak  secara  pribadi dan   ber-inkarnasi menjadi manusia. Ia masuk dalam sejarah kehidupan manusia secara  aktif. Mendengar, mengajari, menuntun, melayani, memulihkan, meneguhkan, memberi contoh teladan, dan melaksanakan/  menggenapi  janji-janji Allah untuk menyelamatkan umat manusia. Sebaliknya Allah Al-Quran   bahkan   tidak   pernah   berbicara   dan   bertindak   langsung   dengan manusia, kecuali lewat dua tahapan sesama makhluk, yaitu Jibril dan nabi.

3.    Tuhan yang dikenal oleh umatNya vs  Tidak dapat dikenal
Tuhan   Alkitab   dapat   dan   perlu   dikenal   oleh   umatNya.   Yesus   Kristus sengaja datang ke dunia agar manusia boleh mengenal Tuhan (Yoh.17:3). Bahkan manusia dapat datang dan berhubungan secara pribadi dengan  Tuhannya. Namun dalam Islam, Allah tidak dapat dikenal dan tidak perlu  dikenalkan   oleh   umatNya   yang   hamba   belaka.   Allah   begitu   tinggi   dan  mulia,   sehingga   tidak   ada   seorang   manusiapun   yang   pernah   secara  pribadi mengenalNya. Jangankan Allah, malaikat pewahyu yang Roh pun  praktis   tidak   dikenal   oleh   Islam   (Qs   17:85).   Allah   Al-Quran   berada  ditempat yang berlainan dimensi, dan relative abstrak, sehingga tidak ada  seorang yang pernah secara pribadi mengenalNya.

4.    Tuhan itu suatu Pribadi vs  Bukan suatu Pribadi
Tuhan   Alkitab   dikenal   sebagai   suatu   pribadi. Ia memiliki kecerdasan, emosi, dan kehendak yang menjadi ciri-ciri suatu pribadi. Hal ini berlainan  dengan Allah Islam yang tidak dikenal sebagai suatu pribadi, sebab hal itu  akan dianggap merendahkan Allah setara dengan tingkat manusia bisaa.

5.    Tuhan Roh vs Allah bukan-Roh
Pandangan   bahwa   Allah   itu   suatu   pribadi   atau   suatu   roh   merupakan hujatan bagi Muslim, karena pandangan semacam ini adalah ”membatasi” dan merendahkan Allah yang Maha Mulia. Islam menolak setiap gambaran yang spesifik tentang Allah. Sebab Allah bukan pribadi, bukan roh, bukan ”Bapa”, bukan apa saja yang bisa dilukiskan manusia. Sebaliknya, hakikat  ”Tuhan adalah roh” merupakan landasan dari Tuhan-Alkitab sebagaimana yang diajarkan Yesus sendiri :”Allah itu Roh dan barangsiapa meyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran”(Yohanes 4:24).

6.    Tuhan menurut doktrin Trinitas[6] vs Allah menurut doktrin Tauhid Tuhan Alkitab adalah Tuhan Trinitas yaitu Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Pengertian trinitas bukanlah pengertian politeistis ”tiga Tuhan”, melainkan  satu Tuhan yang Esa yang menyatakan diriNya dalam wujud tiga pribadi. Al-Quran yang   berazas   kan   Tauhid   menolak   tegas   konsep   trinitas.   Ia  menolak Bapa,  menolak Yesus  sebagai Anak,  dan  menolak  Roh  Kudus  sebagai   Allah.   Sayangnya   Al-Quran menggambarkan Yesus yang dipercayai orang Kristen sebagai anak biologis dari Bapa, yang dikaitkan  dengan   relasi   ”suami-istri”   dan   ”makan-minum” jasmani   seperti   yang  terlihat dalam QS 6: 101 dan 5:75. (Untuk penjelasan yang baik dari azas  Trinitas ini, lihat booklet ” Siapa Allah dan Apa AlkitabNya ”).

7.    Tuhan yang tidak bisa mengingkari DiriNya vs Yang mengingkari  DiriNya
Tuhan Alkitab ”dibatasi” oleh hakikatNya sendiri yang Maha Baik. Ia tidak menciptakan dari diriNya kejahatan atau kesusahan. Itu semua adalah akibat   dari   dosa-dosa kita sendiri (lihat   booklet   ’Siapa Allah dan Apa AlkitabNya”).  Allah sejak semula menciptakan segala sesuatu dalam  keadaan   baik (Kej.1).   Tuhan Alkitab bukanlah Tuhan yang dapat melakukan apa saja yang bertentangan dengan hakikatNya Yang Maha  baik,   Maha   Kudus,   Yang   Maha   Benar.   Tuhan   tidak   bisa   mengingkari  diriNya sendiri. Dia yang Maha Benar tidak berubah menjadi tidak benar  dengan cara menipu-daya, apapun alasannya. Dalam Alkitab, kita berkali-kali diberitahu bahwa: ”Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus”  (Yes.45:19),”Tuhan yang   tidak   berdusta”  dan  ”Allah   tidak   mungkin berdusta” (Titus1:2; Ibr 6:18). Ditegaskan   lagi  bahwa   Tuhan   tidak   dapat   menyangkal diriNya sebagai Tuhan dengan segala sifat-sifat benar yang dimilikiNya (2 Timotius 2: 13). Namun   Islam   mengimani   bahwa   Allah   Maha   Besar   tidak   dibatasi   oleh  apapun, tidak juga oleh hakikatNya sendiri. Allah dapat melakukan apa  saja,   kapanpun   Dia   mau,   di   tempat   manapun,   dan Dia berada dan berotoritas paling atas tanpa batas. Allah yang  Maha Baik   ini bisa menciptakan ketidak-baikan, misalnya manusia diciptakan dalam keadaan susah-payah (Qs 90:4). Karena alasan  tertentu Allah juga bisa menjuluki diriNya sebagai sebesar-besar/sebaik-baik penipu daya (QS 3:54,8:30, baca bahasa dan istilah aslinya). Dan Allah ini dengan alasan tersendiri, diam-diam menyesatkan semua orang ketika Ia menggantikan Isa Al-Masih yang hendak disalibkan itu dengan  seorang Isa-Isa-an yang tidak pernah diketahui identitasnya dan alasan-nya.

8.    Tuhan yang konsisten dalam hukumNya vs Tidak konsisten, Bisa berubah diatas hukumNya
 Tuhan   Alkitab ”dibatasi”   oleh hakikat keberadaanNya sendiri. Dia sepenuhnya   dapat   dipercaya   dan   konsisten.   Dia  tidak   berdiri   diatas Hukum. DiriNya adalah HukumNya, dan HukumNya adalah diriNya. Dia tidak berubah dahulu, sekarang dan selamanya. Namun Allah Al-Quran tidak mesti demikian.  Ia berdiri tidak terikat oleh sifat-sifatNya maupun  kata-kataNya   sendiri. Allah dimengerti sebagai Pencipta Hukum. Dia berdiri diatasi Hukum. Maka kata-kata   Allah   tidak  perlu  selalu   kekal, melainkan   bisa   digantikan olehNya   lewat   waktu   dan   keadaan   yang  diinginkanNya. Itu melahirkan   pewahyuan   ayat-ayat  nasakh (yang menggantikan) terhadap   ayat-ayat  mansukh  (yang   digantikan).   Surat-wahyu-Nya yang tadinya diturunkan  secara   kronologis   juga   diubahNya sendiri   secara   sengaja   menjadi  non-kronologis,   tanpa   perlu   memberi  tahukan alasannya. Akibatnya Quran harus disusun ulang urutannya oleh Jibril  yang   sama,   menjadi   urutan   seperti  yang   kita   kenal   sekarang   ini  dimana   Surat-surat Quran yang   lebih panjang   umumnya   mendahului Surat yang lebih pendek. Dalam satu ayat Qur’an menempatkan Yesus (Isa AS) dalam posisi yang sangat mulia, tetapi pada bagian lain ia menyatakan Isa sebagai sesuatu yang tidak layak.

9.    Kasih Tuhan yang substansif vs Kasih Allah yang kurang  jelas substansinya
Kasih Tuhan Alkitab adalah sifat utama yang paling menonjol dan yang  ditonjolkan. Karena kasih itulah maka Tuhan habis-habisan merancangkan penyelamatan   khusus   bagi manusia,   yang   memungkinkan   kita   semua diselamatkan  secara  khusus  seperti yang  tertulis dalam Yohanes 3:16. Tuhan mempunyai rasa kasih kepada ciptaanNya, sekalipun manuisa itu kafir atau mendurhakaiNya. Sebaliknya kasih bukanlah sifat utama Allah Al-Quran, melainkan kemaha-besaranNya. Konsep kasih Tuhan Elohim yang menjadikan diriNya ”punya perasaan”  merupakan hal yang asing dalam ajaran Islam karena hal itu hanya akan menempatkan   Allah Al-Quran menjadi kerdil setara   dengan   manusia  bisa.  Walau teman-teman Muslim sering mengklaim bahwa Allah   itu  maha   pengasih & penyayang,   namun   sifat-sifat ini tidak pernah  disubstansikan   oleh   Allah   sendiri.   Hubungan   pengalaman   para   Muslim  dengan realitas kerahiman Allah sulit ditampakkan. Muslim tidak pernah  mengenal Tuhan Elohim yang berkorban bagi umatNya. Allah dianggap telah Maha Rahim oleh teman-teman Muslim karena ia telah memberikan hujan, embun, sinar, udara dan lain-lain secara gratis, yang oleh para Kristiani  lebih  dianggap sebagai  tanggung jawab Tuhan Elohim, bukan Kasih yang berkorban! Tuhan pemberi anugerah keselamatan vs Allah menunggu usaha manusia mencari-cari keselamatan Dimana-mana Alkitab berbicara tentang anugerah Tuhan yang memberi-kan   keselamatan   kepada   manusia   berdosa   melalui   penebusan   Yesus  Kristus. Ia adalah Juruselamat yang bertindak selaku Pengantara/  Juru-syafaat antara manusia dan Tuhan.(1 Timotius 2:5) Dalam Al-Quran tidak terdapat konsep anugerah keselamatan Allah. Tidak ada Juruselamat Penebus, juga tidak ada Pengantara. Yang ada hanya  usaha amal-ibadah masing-masing untuk mencapai keselamatannya. Dengan sejumlah perbedaan hakiki antara sifat Allah Al-Quran dengan  Tuhan   Alkitab,   maka   dapat   disimpulkan   dengan   mudah   bahwa   kedua  Tuhan ini sungguh jauh dari sama, bak siang dengan malam. Tidak benar seruan Nabi yang berkata: “Tuhanmu dan Tuhanku satu adanya”, yang namun  kelak  diralatnya  sendiri  menjadi: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam" (Qs.5:72).

Dari Sembilan hal pokok diatas maka sangat sulit menyerupakan Tuhan yang kita imani dengan Tuhan yang diimani oleh muslim, Kata Allah sendiri merupakan nama dewa tertinggi dari dewa-dewa yang dipuja di dalam Kabbah, Arab pagan memiliki 360 dewa, dan pada posisi puncak dari dewa-dewa itu adalah Allah, Muhammad ingin mengangkat derajat Allah sebagai dewa yang tidak mau ia buang, karena pada dasarnya ia percaya kepada Tuhan yang di puja oleh Siti Khadijah istrinya, dalam awal masa kenabiannya orang Yahudi menolak dirinya sebagai nabi terakhir, lalu ia membantai orang Yahudi di kota Madinah, dan untuk melegalkan Tuhan yang berbeda dari Tuhan Yahudi maka ia dalam perang merebut Mekah kembali, menghancurkan dewa-dewa yang ada di dalam Kabbah, dan menggangkat Allah dengan memberikan entitas dari Yahwe yang dia pahami dari pendeta Nestorian yang berkembang di Arab pada saat itu, nah dari kekecewaan Muhammad untuk menggambarkan Allah hanyalannya maka ia mencari tahu apa saja entitas Yahwe, lalu memaksakan entitas itu seolah-olah Allah sama dengan Yahwe, lalu hal yang paling tidak masuk akal adalah menjadi nabi-nabi Yahudi menjadi nabi-nabi Islam, padahal dalam beberapa ayat Qur’an, Muhammad mendapat wahyu bahwa Yahudi dan Nasrani akan masuk neraka, bahkan dia meyebutkan bahwa Yahudi dan Nasrani adalah keturunan kera dan babi. Nah, untuk menghindari pertikaian yang lebih dalam maka Kristen harus mengetahui entitas dari Yahwe, bahwa Allah bukan Tuhan Kristen, melainkan Tuhan Islam, jika percaya kepada Allah maka harus menjadi Muslim yang baik, menjalankan syariat Islam dan percaya kepada Muhammad sebagi Rasul Allah. Tuhan Kristen, adalah Tuhan yang sudah diperkenalkan kepada Manusia sejak Adam hingga kini, dan Yesus adalah Firman Yahwe yang menjadi Manusia.















KESIMPULAN
1.    Pertentangan Islam Kristen dapat di hentikan Jika kedua agama dapat berdiri dalam substansi teologi masing-masing, tanpa perlu melakukan persinggungan satu dengan yang lain.
2.    Umat Kristen harusnya dapat lebih kontekstual dalam pelayanannya di tengah masyarakat Indonesia.
3.    Pengajaran tentang ke-Esaan Tuhan harus menjadi ajaran terpenting bagi umat agar tidak menimbulkan ambiguitas di tengah masyarakat global, dan lebih mengkomunikasikan pemahaman Trinitas. Sebab bagi sebagian orang khususnya Islam mengganggap bahwa Tuhan Kristen ada 3 ( tiga ) atau Triteisme.
4.    Komunikasi social harus menjadi bagian utama dari kehidupan Kristen di tengah dunia global saat ini.
5.    Kristen harus membangun sekolah-sekolah agama yang mengajarkan kebenaran tentang Yahwe dan harus menghilangkan pandangan bahwa Tuhan Kristen sama dengan Tuhan Islam.






























BIBILIOGRAFI


Woly, Nicolas J. “ Perjumpaan Di Serambi Iman:  Suatu Studi Tentang Pandangan Para Teolog Muslim dan Kristen Mengenai Hubungan Antar Agama”,Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2010

Tim Penulis Dialogue Centre PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan PSAA Fakultas Teologia UKDW Yogyakarta Meniti Kalam Kerukunan Jilid 1: Beberapa Istilah Kunci Dalam Istilah Islam – Kristen”, BPK Gunung Mulia : Jakarta, 2010

Aritonang Jan S. “Sejarah Perjumpaan Kristen Dan Islam Di Indonesia”, BPK Gunung Mulia ,Jakarta, 2010.

H.M. Arsyad Thalib Lubis, “Keesaan Tuhan  Menurut Ajaran Kristen Dan Islam”, Jakarta, Media Dakwah Cet Ke-6, 1983.

K.H. Bahaudin Mudhary, Dialog Masalah Ketuhanan Yesus, Jakarta, Kiblat Center, 1981.
Robert Morey, The Islamic Invasion : Confronting The world Fastes Growing Religion, Scholar Press, Las Vegas , 1991.



[1] Ian S. Aritonang, “Sejarah Perjumpaan Kristen Dan Islam Di Indonesia”, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2010. 13
[2] Dari majalah Gaharu edisi 78 Tahun 2010, Penusukan majelis HKBP Ciketing, Minggu 12 september 2010 : Sintua Asian Sihombing dan Pdt. Luspida Simanjuntak, berjalan beriringan menuju Gereja HKBP Ciketing, Bekasi, jam menunjukkan pukul 8.30 , untuk melakukan ibadah pagi di tanah lapang gereja itu, sebab pembangunan gedung Gereja mendapat penolakan dari pemerintah setempat dan masyarakat, tetapi secara tiba-tiba ada sekelompok orang tidak dikenal mengendarai sepeda motor dengan secara tiba–tiba menusuk St. Asian Sihombing tepat diulu hatinya, secara cepat juga mereka menghantam kepala pendeta Luspida Simanjuntak dengan sebatang balok. Dan secepatnya mereka melarikan diri meninggalkan korban bersimbah darah, lalu rombongan jemaat yang melihat kejadian segera memberikan pertolongan dengan melarikan korban ke RS Mitra Bekasi. Kejadian ini segera dilaporkan kepihak kepolisian yaitu Polres Bekasi, dan Pihak Polisi menerima laporan itu dan melakukan Olah TKP. Tetapi dalam waktu yang relative singkat, Pihak Polres langsung membuat kesimpulan yang tidak masuk akal yaitu menyatakan bahwa tidakan ini merupakan Kriminal murni.
[3] Abdul Mustaqin, dalam literature “Meniti Kalam Kerukunan” menjelaskan : Pengertian Kata Islam merupakan konsep teologi Islam yang sangat Fundamental sehingga dalam sejarah pemikiran umat islam masalah ini sering dijadikan pokok bahasan dalam kitab-kitab teologi yang di tulis para ulama, hlm 5
[4] Nurcholis Madjid dalam buku Islam Agama Peradaban, pernah menulis bahwa dalam kenyataan sejarah antara kaum Yahudi dan Kristen tidak pernah ada kesepakatan karena masing-masing menganggap bahwa hanya agama merekalah yang benar dan yang lain salah. Karena pandangan yang ekslusif ini, baik kaum Yahudi maupun Kristen mengkalim sebagai satu-satunya kaum yang akan mendapat keselamatan dan masuk surge. Sejalan dengan sikap dasar mereka itu, kaum Yahudi dan Nasrani mengaku merekalah golongan manusia yang mendapat petunjuk kebenaran ( Nurcholis Madjid, 1995,45)
                [5] Robert Morey dalam bukunya Invasion Islamic, Confronting The world Fastes Growing Relegion, bahwa sangat beda jauh pemahaman tentang Tuhan yang dipahami oleh Kristen dengan pemahaman oleh Islam, yang kesemuanya berakibat pandangan yang paradox dari kedua agama. Scholar Press, Las Vegas, 1991 hal. 70
[6] Ajaran tentang Trinitas adalah ajaran yang sangat penting dalam kehidupan bergereja, tetapi sekaligus menjadi ajaran yang sulit dijelaskan oleh warga gereja. Ajaran ini sulit diterima oleh pihak lain, terutama konteks Indonesia yang berfalsafahkan Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan yang mayoritas penduduknya adalah Islam. Oleh karena umat Islam mengganggap bahwa ajaran tersebut adalah Triteisme (menyembah Tiga Tuhan), kepercayaan Kristen akan Allah Tritunggal sering menjadi batu sandungan yang serius dalam hubungan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Islam Khusunya. [ H.M. Arsyad Thalib Lubis, “Keesaan Tuhan  Menurut Ajaran Kristen Dan Islam”, Jakarta, Media Dakwah Cet Ke-6, 1983. Lih. K.H. Bahaudin Mudhary, Dialog Masalah Ketuhanan Yesus, ( Jakarta, Kiblat Center, 1981) dimana ajaran ketritunggalan dan ketuhanan Yesus diserang Habis-habisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar