Abstraksi :
Kristen dan Islam dianggap sebagai agama yang memiliki akar yang sama, sebagai
agama langitan (samayim) dengan leluhur yang sama, yaitu Abraham. Tetapi dalam
sepanjang sejarah pertumbuhannya Kristen dan Islam pernah terlibat perang yang
berkepanjangan yang disebut perang salib, dan saat ini sering telibat konflik
yang keras, terlebih di Indonesia. Jika memiliki Leluhur yang sama, kenapa
terjadi konflik, berikut kita akan lihat perbedaan Prinsip yang sangat besar
antara kedua agama.
Kata Kunci : Perbedaan
PENDAHULUAN
Indonesia dikenal didunia sebagai
Negara yang paling toleran di dunia terhadap kelompok minoritas ( Suku, Agama,
dan Ras), predikat itu melekat selama hampi 30 tahun, setelah peristiwa G 30
S/PKI, tahun 1965, dan pemberantasan kelompok kiri ini telah membuat Indonesia
lebih bersatu dan lebih menghargai kepecayaan yang dipeluk oleh rakyat
Indonesia. Keadaan damai ini mulai terusik ketika digulirkannya kondisi
reformasi yang disebut orde reformasi, saya sebagai salah satu pelaku
pergerakan reformasi dulu pada masa pergerakan berharap bahwa reformasi adalah
awal baru bagi kemajuan Indonesia dalam segala tatanan walaupun pada saat itu
tujuan utama adalah demokrasi, yang bebas. Tidak pernah terpikirkan apa yang
kita perjuangkan dulu akan dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk melakukan
kegiatan yang tidak demokratis, in toleran dan pemaksaan, atas nama mayoritas,
padahal demokratis bukan hanya pada tatanan mayoritas tetapi pada semua tatanan
global kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang seharusnya mewujudkan ide dan
nafas dari kebhinekaan yang tunggal ika sebagai nafas dari keberagaman di
Indonesia.
KEKRISTENAN
Kekristenan
atau agama Kristen adalah suatu agama yang lahir di Timur Tengah yang di
kembangkan oleh seorang Yahudi Roma yaitu Paulus, ia adalah seorang rabbi
yahudi yang mendapat pedidikan kerabbian dari seorang guru besar yahudi
Gamaliel, pada usia muda ia sudah masuk dalam jajaran elite para guru yahudi,
sehingga ketika dia mendengar bahwa ada aliran/pengajaran yang baru dibawa oleh
seorang yang tidak familiar dikalangan para sarjana yahudi pada saat itu,
tetapi di syiarkan oleh Yesus anak dari kota Nazareth, yang terkenal kota para
pemberontak Romawi, ayahnya adalah seorang tukang kayu, hal ini sangat
bertentangan dengan struktur pemberitaan agama Yahudi, seorang nabi atau mesias
harus dari keturunan lewi atau raja, mana mungkin ada nabi dari Nazareth, nubuatan
para nabi seharusnya dari kota Betlehem, sesuai dengan nubuatan Mikha (Mikha
5:1 Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara
kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah
Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.)
Raja
Israel yang kedua pengganti Saul adalah David, berasal dari kota Betlehem,
sehingga azas logika seorang nabi dari Nazareth adalah tidak masuk akal, oleh
sebab itu, para rabbi membuat sebuat fatwa/keputusan keberadaan Yesus yang
menyebut dirinya sebagai anak Yahwe adalah sesat. Para Rabbi bersepakat untuk
membunuh Yesus agar tatanan yang sudah ada sejak zaman Musa tidak hancur
berantakan, dan keberadaan Taurat sebagai hukum tertinggi dari Hukum agama
Yahudi akan hancur, sebab Yesus
mengajarkan kasih sebagai tauladan hidup yang harus di kedepankan dari semua hukum
yang ada. Mereka berhasil membunuh Yesus dengan cara menyalibkan Yesus di Kayu
salib di bukit golgota (bukit tengkorak). Pertanyaannya setelah mereka berhasil
membunuh Yesus, apakah ajarannya habis/hancur dan terlupakan? Tertnyata tidak,
ajaran baru ini semakin berkembang, setelah peristiwa pentakosta, para murid
dan pengikut Yesus semakin berkembang secara luar bisaa, tiap-tiap hari Tuhan
menambahkan jumlah mereka, sekali lagi para Rabbi menjadi repot, karena apa
yang mereka pikirkan dan lakukan tidak terjadi sesuai rencana, justeru
perkembangan pengikut lairan ini semakin hebat. Sekali lagi mereka menyusun
rencana untuk menghancurkan ajaran baru tersebut. Maka dikeluarkanlah perintah
kepada Saul dari Tarsus, untuk membinasakan para pengikut Yesus. Mereka
ditangkapi dan dianiaya, bahkan dibunuh di sula di pinggir jalan sepanjang
jalan mereka temui, para pengikut ini berlarian ke setiap kota yang bisa mereka
jangkau dan hal ini menjadi cara terbaik yang dilakukan Tuhan untuk mensyiarkan
ajaran Yesus keseluruh dunia, para pelarian ini yang dikenal dengan diaspora,
menyebarkan ajaran Yesus dimanapun mereka bertemu dan berdiam.
Segala
upaya yang dilakukan oleh rabbi yahudi gagal, sebab dalam perjalanan ke
Damsyik, panglima pembinasa ini di tangkap oleh Yesus dengan cara muzizat,
yaitu dia buta selama tiga hari lamanya sampai datang seorang murid
menyembuhkan dia, murid itu bernama Ananias. Dalam doanya Ananias membuat
pertanyaan kepada Tuhan, bahwa saulus adalah orang yang menerima kuasa penuh
dari para Imam, untuk membinasakan pengikut Yesus, tetapi Tuhan menyatakan hal
sebaliknya. Saulus akan di pakai untuk memberitakan ajaran Yesus keseluruh
dunia. Karena peran Saulus yang kemudian berganti nama menjadi Paulus,
penyebaran Kristen begitu hebat, dia mengajarkan bahwa keselamatan bukan hanya
untuk orang Yahudi saja tetapi juga bagi orang Yunani dan orang kafir lainnya.
Kekristenan
di Indonesia
Nusantara mengenal kekristenan, pada
masa masuknya penjajah di Indonesia, diawali dengan masuknya bangsa Portugis
dan Spanyol pada tahun 1511 – 1700, namun sebelum Kristen sudah masuk pada abad
ke – 7 di panatai barat sumatera utara, yang disebarkan oleh Kristen Nestorian
( dari Khaldea/Syiria dan Persia) dan kunjungan para misionaris Katolik kebeberapa
tempat di Nusantara pada abad ke 14.[1] Kedatangan bangsa Portugis dan Spanyol ke
nusantara membawa tim misionaris katolik dan protestan, para misionaris ini
memberitakan injil kependuduk local dimana mereka menetap, sehingga lambat laun
kekeristenan mulai dapat diterima oleh penduduk local, para misionaris
mendirikan sekolah-sekolah agama dan gereja di koloni portugis dan spanyol.
Setelah melintasi beberapa pulau di Nusantara sejak berangkat dari Malaka pada
bulan Nopember 1511, armada Portugis tiba di Maluku pada Tahun 1512, sebelumnya
Portugis telah mendirikan pangkalan dagang di India (Goa), Srilanka dan Malaka
sebagai tindak lanjut dari keberhasilan Vasco Da Gama dan armadanya tiba di
Asia pada tahun 1498. Dari Maluku, Portugis dan Spanyol meluaskan jaringan
perdagangan dan penyebaran agama Kristen ke daerah-daerah sekitarnya, bahkan
hingga ke Pulau Jawa.
Portugis dalam usaha perdagangannya
di Maluku banyak menggunakan cara-cara yang tidak baik, sehingga menimbulkan
pertikaian di Maluku pada saat itu, sehingga menimbulkan perang yang sangat
hebat pada masanya itu, di pimpin oleh sultan Hairun 1558, Sultan Hairun dari
ternate bersama raja-raja Jailolo, Bacan dan Tidore membuat kesepakatan rahasia
untuk membasmi semua orang Kristen dan orang-orang asing terutama orang
portugis, segera mengirimkan armada yang besar ke ambon dibawah pimpinan putra
Sultan Hairun yaitu Laulata, khusus untuk mengajak penduduk di Hitu dan
menanamkan Islam di Ambon. Pasukan yang besar ini melakukan pengislaman dengan
cara kekerasan di pesisir Maluku, sehingga banyak penduduk yang baru di
Kristenkan oleh Xaverius menjadi Islam. Sejak saat itu pertikaian Islam dan
Kristen terus belangsung hingga setengah abad lamanya. Sampai belanda datang ke
tanah Maluku dan membuat suasana baru dalam kedamaian yang semu. Agama Kristen
dianggap sejak ratusan tahun yang lalu sebagai agama penjajah dan di Nusantara
oleh kerajaan dan masyarakat islam, oleh sebab itu hal yang terjadi pada masa
sekarang bukanlah hal yang baru lagi. Jika ditilik dalam sejarah di Indonesia
pertikaian ini akan terus berlangsung.
Pada masa sekarang apa saja yang
menjadi pemicu konflik Islam dan Kristen itu yang harus dipahami untuk dapat
mengurai benang kusut yang tidak sedikit memakan korban Jiwa, perkembangan teknologi
komunikasi dan Informasi saat ini juga menjadi penyebab yang tidak bisa di
nafikkan begitu saja. Setiap terjadi konflik agama di belahan dunia lain,
televisi sebagai salah satu media massa yang paling cepat menyajikan informasi
terdepan juga sebagai factor paling penting dalam meningkatnya kerusuhan agama
di Indonesia. Hal ini juga disebabkan oleh semakin menipisnya rasa kebangsaan,
dan persatuan, dan lebih mengutamakan kebenaran teologi agama masing-masing.
Benturan Kristen dan
Islam
Pertikaian di lataran agama dimulai
sejak tahun 1980an, dimana bangkitnya gerakan fundamentalis Kristen, gerakan
ini bukannya agresif dalam hubungan intra Kristen sendiri, tetapi keluar dengan
agama-agama lainnya. Hal ini di akibatkan pemahaman yang literal dan apokaliptik
yang di ekspresikan dalam tema-tema seperti religious values (nilai-nilai
iman), prolife, prinsip anti Darwinisme biologis dan Darwinisme Sosial,
kelompok-kelompok Fundamentalis Kristen ini membom klinik aborsi dan bar kaum
homo/lesbian serta membakar buku-buku yang tidak sepaham dengan ajaran-ajaran
yang mereka anut. Di latar islam peningkatan yang keras dimulai dengan revolusi
iran dibawah pimpinan Ayatullah Khomeini, dan gelombang Intifadah di palestina
diawal tahun 1980an, berlanjut dengan kebangkitan aliran Talibanisme di
afganistan dibawah pimpinan Ushama Bin Laden, dengan puncak pemboman menara
kembar WTC (World Trade Center) di New York pada 11 september 2001 Amerika
serikat, peristiwa terakhir ini menjadi puncak pertiakian yang keras agama-agama,
di Indonesia juga mengalami pertumbuhan gerakan Fundamentalis Islam keras,
seperti : Laskar jihad, Front Pembela Islam, Jamaah Anshorud Tauhid, Hizbut
Thahir Indonesia dll. Dengan lahirnya aliran garis keras ini di Indonesia
menjadikan Indonesia tidak ramah bagi pemeluk agama di luar islam, dan juga
dikalangan Islam terjadi pertikaian yang sangat keras dimana mayoritas pemeluk
islam di Indonesia adalah pemeluk Al Sunna Wal Jamaah, yang menitik beratka
ajaran Islam harus sesuai dengan sunnah nabi, maka yang diluar pemahaman ini
dianggap sesat, masih segar diingatan kita pembantaian penganut Ahmadiyah dan
Syiah di Madura, sedang dalam tataran iman islam saja sudah terjadi pembantaian
apalagi ditataran agama lainnya.
Dalam
catatan jurnalistik kita banyak melihat peristiwa penutupan gereja, klenteng
dan rumah kegiatan agama lainnya, serta kekerasan berlatar belakang agama
lainnya.
Kekerasan demi kekerasan terus
belangsung di Negara ini, tanpa bisa di bendung, seolah olah Negara tidak mampu
menangkal setiap bentuk kekejaman atas nama/symbol symbol agama, pada tahun
2010 yang lalu seorang penetua gereja HKBP ditikam dilokasi kebaktian dan
seorang pendeta juga kena aniaya, Negara ini hanya mampu mengutuk tetapi tidak
ada tindakan nyata di tataran hukum legal, yang lebih parah tindakan penusukan
dan penganiayaan itu disebutkan sebagai kasus criminal murni bukan masalah
agama[2]. Yang mengherankan kenapa
aparat hukum terkesan menutup mata atas peristiwa kekerasan yang terjadi, atau
adakah tindakan yang secara massif telah di rencanakan untuk membasmi pemeluk
agama minoritas dari bumi Nusantara, atau aparat hukum sudah mandul menghadapi
para teroris yang berjubahkan symbol agama tertentu ini.
Perbedaan Pemahaman
Teologi
Kristen dan Islam memiliki pemaham
teologi yang sangat mendasar, perbedaan ini akan terus menjadi awal pertikaian
Kristen dan Islam. Untuk dapat menghindari pertikaian yang lebih lanjut perlu
kita memahami perbedaan teologi yang ada antar kedua agama, sebab dunia kita
saat ini sangat gampang terkontaminasi dengan informasi yang salah dari luar
maupun dari dalam. Selama kita tidak memahami teologi kedua agama maka kita akan
menganggap salah dan sesat pemeluk agama berbeda.
Islam[3]
Islam dalam pemahaman Linguistik berasal dari
akar kata salima (baca : s-l-m) yang
berarti selamat, damai, sehat, bebas dari gangguan, tunduk (berserah diri), dan
bebas dari penentangan, bahkan juga berarti tangga bertahap. Secara
semantic beberapa makna dasar Islam dapat dikemukakan sebagai berikut :
a.
Islam
berarti Istislām (berserah diri) dan al-inqiyāż (tunduk). Ini artinya bahwa
islam mengajarkan nilai-nilai kepasrahan dan ketundukan pada hukum Allah SWT.
b.
Islam
berarti selamat (Al – Salamah). Ini memberi isyarat bahwa seorang Muslim adalah
orang yang mencari jalan keselamatan.
c.
Islam
berarti al-silmu dan al-sulh, perdamaian, yang berarti bahwa seorang muslim
tidak suka membuat keonaran dan kerusakan di lingkungannya. Hal ini sejalan
dengan hadist Nabi Muhammad SAW yang menggambarkan orang mukmin seperti lebah,
sebuah gambaran metaforis yang sangat indah. Lebah adalah binatang yang sangat
berguna, menghasilkan madu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kalau ia
hinggap diatas dahan, tidak pernah membuat dahan itu patah, ia tidak meyerang
lebih dahulu, kecuali ia merasa diganggu atau diserang
Jika
dilihat Islam secara Ideologis-Politis-Ekslusif maka kita akan melihat
pengertian Islam yang diwarnai oleh kepentingan ideology dan politik tertentu.
Islam ideologis-politik – ekslusif cenderung menganggap bahwa pemeluk agama
Katolik, Protestan, Hindu, Buddha atau Konghuchu bukanlah seorang muslim dan tidak
mendapat jaminan keselamatan sebab mereka bukanlah pengikut Islam yang
diajarkan Nabi Muhammad. Ini berarti bahwa mereka bukanlah orang mukmin,
melainkan musuh yang harus dibinasakan. Pandangan yang sangat intoleran ini
mulai masuk ke Indonesia sejak tahun 1950an, awalnya gerakan ini didukung oleh
aliran Muhammadiah dengan membentuk partai Masyumi.
Kristen
Kekristenan adalah ajaran yang dibawa
oleh Yesus, menitikberatkan pada ajaran kasih sebagai pengikat universal yang
mempersatukan semua umat manusia, sehingga kekristenan itu bukanlah sebuah
agama tetapi pandangan hidup atau cara hidup dari orang yang percaya kepada
Tuhan, ada tiga hal yang paling utama yang diajarkan oleh Yesus kepada manusia
yaitu :
a.
Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu
( Matius 22 : 37,
Markus 12 : 30, Lukas 10 : 27), ini adalah hal yang paling mutlak harus
dilakukan setiap orang Kristen, tidak dapat ditawar dan merupakan kemutlakkan.
b.
Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri ( Lukas 10 : 27), ini menjadi pengikat
bagi manusia untuk saling mengasihi dan menjauhkan diri dari sifat dengki dan
benci, lebih ekstrim lagi Yohanes menuliskan siapa yang membenci saudaranya
adalah seorang pembunuh, ( I Yohanes 3 : 15 ), orang yang percaya kepada Tuhan
haruslah engasihi sesamanya sebagai perwujudan dari iman yang di anut.
c.
Kasihilah
musuhmu (Matius 5 : 44). Dalam hukum taurat dan hukum sebelumnya diajarkan
untuk membenci musuh, dan ini merupakan hal yang logis siapa menyakiti orang
lain patut dihukum dengan cara yang sama ia perbuat bagi orang itu (pelaku)
atau bisaa dikenal mata ganti mata, gigi ganti gigi, darah ganti dara, nyawa
ganti nyawa, tetapi Yesus mengajarkan berdoalah bagi orang yang menganiaya
kamu. Lukas menuliskan dalam Lukas 6 : 27 ; Kasihilah musuhmu dan berbuat
baiklah kepada orang yang membenci kamu.
Tiga
hal penting dalam pengajaran Yesus diatas tentunya akan menjauhkan dunia dari
kekerasan, dunia akan damai sejahtera. Tetapi hal itu menjadi pertentangan di
aras bawah kehidupan manusia, penentangan terhadap ajaran ini bermunculan
dimana bahkan sampai sekarang. Perbedaan pandangan Islam dan Kristen di aras
Teologia[4] ini tentunya dapat menjadi
pertimbangan kita sebagai orang Kristen untuk dapat menempatkan diri secara
bijak agar dapat mengurangi benturan-benturan yang ada. Islam mengajarkan
kebencian kepada pemeluk agama lain dan harus dibinasakan tetapi Kristen harus
mengasihi sesama bahkan mengasihi musuh.
KEPERCAYAAN KEPADA
TUHAN
Islam mengajarkan Tuhan itu Esa, ini
tercantum dalam kalimah syahadat mereka ketika seseorang menjadi pemeluk islam,
Ke – Esaan Tuhan ( Allah) merupakan harga mati dalam iman Islam, ini tercantum
dalam surah pertama Al-Qur’an yaitu
Al-Fātiha yang terdiri dari tujuh ayat, tetapi menjadi bagian utama dari
pengajaran yang terkandung dalam 113 surah yang dikandung Al-Quran. Kesadaran
iman mereka yang terbentuk sejak nabi Muhammad mengajarkan keesaan Allah maka
sejak itulah logika keesaan Allah itu mengkristal dalam kehidupan mereka. Namun
jika ditelusuri secara rinci, Muhammad sendiri tidak pernah menerima wahyu yang
dia katakan sebagai wahyu dari Allah kepadanya secara langsung, atau ada yang melihat
tanda keberadaan Allah dalam iman Islam, Muhammad justeru menerima wahyu dari
malaikat bernama Jibril yang mengenalkan kepada dia suatu perintah untuk
menjadi nabi bagi bangsa arab yang pada saat itu hidup dalam masa jahilliyah, tetapi
Muhammad sendiri tidak pernah bertemu dengan Allah, baik itu dalam suasana
private maupun dalam kondisi general, seperti yang dialami oleh nabi-nabi
Yahudi dan leluhur bangsa Yahudi. Perbedaan siapa Tuhan menjadi pertentangan
yang sangat tajam antara Muhammad dan Yahudi, seperti diterangkan dalam
beberapa Hadist sahih Islam, sejenak kita akan melihat perbedaan antara Allah
dalam Alkitab dengan Allah Islam (Qur’an), jika kita menganggap itu sama maka
ini akan menjadi factor pemicu persoalan antara Kristen dan Islam di dunia ini
yang tidak akan pernah putus.
Tuhan Alkitab sama
dengan Allah Alquran ?
Banyak orang beranggapan bahwa Tuhan dalam
Alkitab dan Tuhan dalam Al-quran adalah
sama dan satu, hanya namanya atau sebutannya saja yang berbeda.
Karena sama-sama menyembah
”Allah”, satu-satunya Tuhan yang Esa, maka mereka yakin bahwa
Kristen dan Islam memang menyembah Allah
yang sama. Namun bahwa monoteisme itu SATU ALLAH tidak berarti bahwa identitas dari Tuhan yang
Esa itu sama pada kedua agama tersebut.
Orang-orang dizaman purba
bahkan mungkin telah mengajarkan bahwa Baal atau Molokh adalah
satu-satunya Tuhan yang benar dan yang Maha Kuasa, namun itu tidak
menjadikannya sama dengan Tuhan orang Kristiani atau Allah orang Muslim.Begitu
pula halnya bahwa Allah orang Kristiani dan Islam tidak dijamin kesamaanya
hanya karena keduanya mengklaim Tuhan yang Esa. Tuhan Alkitab telah
mengungkapkan hakikat Nama dan DiriNya sedemikian rincinya sehingga mustahil
dirancukan dengan hakikat dan jati-diri Tuhan
yang lainnya. Klaim bahwa Tuhan Elohim adalah sama dengan Allah Islam tidak boleh berhenti pada klaim semata,
tetapi harus dibukti-kan melalui sains,
catatan arkeologi, dan/ atau sejarah. Harus dicarikan asal-usul Allah,
namaNya, attribut-attribut Allah,
dan asal-usul pewahyu-an dan agen-pewahyu dan ritual penyembahanNya.
Dari apa yang terfakta, ternyata klaim
tersebut malah membuktikan
sebaliknya, yaitu bahwa kedua TUHAN dan ALLAH ini praktis tidak ada
samanya disegala bidang!
(lihat
berikutnya).
1.
Adapun nama “Allah”
yang sama tidak bisa dipakai sebagai bukti, karena kita tahu
bahwa itu hanyalah
sebutan bahasa Indonesia/Arab dalam komunikasi masyarakat sehari-hari. Sama halnya
sebutan “Tuhan”, itu bukan
nama hakiki pribadiNya,
melainkan sebutan populer belaka. Bagaimanapun, nama hakiki Allah
tentulah nama surgawi dengan unsur-unsur yang tidak mungkin dapat dimampatkan
dalam 26 abjad aksara ciptaan manusia. Kitab Suci asli dalam bahasa Ibrani atau Yunani tidak mengenal nama
ALLAH. Yang ada adalah nama YAHWEH (diterjemahkan dalam Alkitab sebagai TUHAN,
dengan huruf besar semua). Itupun bukan nama hakiki-final-mutlak diriNya.
Melainkan masih berunsur Ibrani. Jadi
orang-orang Kristen malahan
selalu bertanya-tanya kepada
teman-teman Muslim,
darimana dan kenapa nama
YAHWEH yang sudah
diperkenalkan sendiri oleh Tuhan
selama beribu-ribu tahun
itu (Keluaran 3:13-15), kini tiba-tiba menjadi perlu diganti menjadi
nama ALLAH (”siapanya”) tetapi tanpa diperkenalkan
”apa”nya?. Bukankah Allah yang menurunkan
wahyu Quran awal-awal di Mekah hanya disebut sebagai ”Rabb”(Tuhan), lalu
tiba-tiba disebut juga sebagai ”Allah”
tanpa penjelasan ? Samuel Zwemer, seorang pakar masalah keagamaan Timur
Tengah mencatat bahwa
para penulis Islam kurang kritis terhadap nama atau etimologi.
”Hampir semua penulis tersebut
beranggapan bahwa Allah Al-Quran mempunyai identitas dan eksistensi yang sama dengan
”YAHWE” yang dinyatakan
oleh Alkitab”. Sebutan
Allah dan panggilan
sifat-sifat boleh saja sama,
namun apakah perilaku, pribadi dan jiwa kedua Allah tersebut sama?
2.
Mari kita meresapi
apa yang dicerahkan oleh Dr. Robert
Morey dan Dr.RC Sproul[5] dibawah ini : Tuhan
yang hadir dan aktif didunia vs Allah yang kehadiranNya pasif Allah Alkitab
hadir, exist, dan tampak dalam
kehadiranNya ditengah-tengah umatNya. Ia berbicara langsung dengan manusia (termasuk nabi-nabi Allah). Ia
bernubuat diantara sejarah manusia. Ia bermujizat diantara para
saksi. Ia tidak menjadi penonton atau agen sejarah, dan hanya berwahyu
lewat malaikat, melainkan bertindak
secara pribadi dan ber-inkarnasi menjadi manusia. Ia masuk
dalam sejarah kehidupan manusia secara
aktif. Mendengar, mengajari, menuntun, melayani, memulihkan, meneguhkan,
memberi contoh teladan, dan melaksanakan/
menggenapi janji-janji Allah
untuk menyelamatkan umat manusia. Sebaliknya Allah Al-Quran bahkan
tidak pernah berbicara
dan bertindak langsung
dengan manusia, kecuali lewat dua tahapan sesama makhluk, yaitu Jibril
dan nabi.
3. Tuhan yang dikenal oleh umatNya vs Tidak dapat dikenal
Tuhan Alkitab
dapat dan perlu
dikenal oleh umatNya.
Yesus Kristus sengaja datang ke
dunia agar manusia boleh mengenal Tuhan (Yoh.17:3). Bahkan manusia dapat datang
dan berhubungan secara pribadi dengan Tuhannya.
Namun dalam Islam, Allah tidak dapat dikenal dan tidak perlu dikenalkan
oleh umatNya yang
hamba belaka. Allah
begitu tinggi dan mulia, sehingga
tidak ada seorang
manusiapun yang pernah
secara pribadi mengenalNya.
Jangankan Allah, malaikat pewahyu yang Roh pun praktis
tidak dikenal oleh
Islam (Qs 17:85).
Allah Al-Quran berada ditempat yang berlainan dimensi, dan relative
abstrak, sehingga tidak ada seorang yang
pernah secara pribadi mengenalNya.
4. Tuhan itu suatu Pribadi vs Bukan suatu Pribadi
Tuhan Alkitab
dikenal sebagai suatu
pribadi. Ia memiliki kecerdasan, emosi, dan kehendak yang menjadi
ciri-ciri suatu pribadi. Hal ini berlainan dengan Allah Islam yang tidak dikenal sebagai
suatu pribadi, sebab hal itu akan
dianggap merendahkan Allah setara dengan tingkat manusia bisaa.
5. Tuhan Roh vs Allah bukan-Roh
Pandangan bahwa
Allah itu suatu
pribadi atau suatu
roh merupakan hujatan bagi
Muslim, karena pandangan semacam ini adalah ”membatasi” dan merendahkan Allah
yang Maha Mulia. Islam menolak setiap gambaran yang spesifik tentang Allah.
Sebab Allah bukan pribadi, bukan roh, bukan ”Bapa”, bukan apa saja yang bisa
dilukiskan manusia. Sebaliknya, hakikat ”Tuhan
adalah roh” merupakan landasan dari Tuhan-Alkitab sebagaimana yang diajarkan
Yesus sendiri :”Allah itu Roh dan barangsiapa meyembah Dia, harus menyembahNya
dalam roh dan kebenaran”(Yohanes 4:24).
6.
Tuhan menurut doktrin
Trinitas[6]
vs Allah menurut doktrin Tauhid Tuhan Alkitab adalah Tuhan Trinitas yaitu Bapa,
Putera, dan Roh Kudus. Pengertian trinitas bukanlah pengertian politeistis
”tiga Tuhan”, melainkan satu Tuhan yang
Esa yang menyatakan diriNya dalam wujud tiga pribadi. Al-Quran yang berazas
kan Tauhid menolak
tegas konsep trinitas.
Ia menolak Bapa, menolak Yesus
sebagai Anak, dan menolak
Roh Kudus sebagai
Allah. Sayangnya Al-Quran menggambarkan Yesus yang dipercayai
orang Kristen sebagai anak biologis dari Bapa, yang dikaitkan dengan
relasi ”suami-istri” dan
”makan-minum” jasmani
seperti yang terlihat dalam QS 6: 101 dan 5:75. (Untuk
penjelasan yang baik dari azas Trinitas
ini, lihat booklet ” Siapa Allah dan Apa AlkitabNya ”).
7. Tuhan yang tidak bisa mengingkari DiriNya vs Yang
mengingkari DiriNya
Tuhan Alkitab
”dibatasi” oleh hakikatNya sendiri yang Maha Baik. Ia tidak menciptakan dari
diriNya kejahatan atau kesusahan. Itu semua adalah akibat dari
dosa-dosa kita sendiri (lihat
booklet ’Siapa Allah dan Apa
AlkitabNya”). Allah sejak semula menciptakan
segala sesuatu dalam keadaan baik (Kej.1). Tuhan Alkitab bukanlah Tuhan yang dapat
melakukan apa saja yang bertentangan dengan hakikatNya Yang Maha baik,
Maha Kudus, Yang
Maha Benar. Tuhan
tidak bisa mengingkari diriNya sendiri. Dia yang Maha Benar tidak
berubah menjadi tidak benar dengan cara
menipu-daya, apapun alasannya. Dalam Alkitab, kita berkali-kali diberitahu
bahwa: ”Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus” (Yes.45:19),”Tuhan yang tidak
berdusta” dan ”Allah
tidak mungkin berdusta”
(Titus1:2; Ibr 6:18). Ditegaskan
lagi bahwa Tuhan
tidak dapat menyangkal diriNya sebagai Tuhan dengan
segala sifat-sifat benar yang dimilikiNya (2 Timotius 2: 13). Namun Islam
mengimani bahwa Allah
Maha Besar tidak
dibatasi oleh apapun, tidak juga oleh hakikatNya sendiri.
Allah dapat melakukan apa saja, kapanpun
Dia mau, di
tempat manapun, dan Dia berada dan berotoritas paling atas
tanpa batas. Allah yang Maha Baik ini bisa menciptakan ketidak-baikan, misalnya
manusia diciptakan dalam keadaan susah-payah (Qs 90:4). Karena alasan tertentu Allah juga bisa menjuluki diriNya
sebagai sebesar-besar/sebaik-baik penipu daya (QS 3:54,8:30, baca bahasa dan
istilah aslinya). Dan Allah ini dengan alasan tersendiri, diam-diam menyesatkan
semua orang ketika Ia menggantikan Isa Al-Masih yang hendak disalibkan itu
dengan seorang Isa-Isa-an yang tidak
pernah diketahui identitasnya dan alasan-nya.
8.
Tuhan yang konsisten
dalam hukumNya vs Tidak konsisten, Bisa
berubah diatas hukumNya
Tuhan Alkitab ”dibatasi” oleh hakikat keberadaanNya sendiri. Dia
sepenuhnya dapat dipercaya
dan konsisten. Dia
tidak berdiri diatas Hukum. DiriNya adalah HukumNya, dan
HukumNya adalah diriNya. Dia tidak berubah dahulu, sekarang dan selamanya. Namun
Allah Al-Quran tidak mesti demikian. Ia
berdiri tidak terikat oleh sifat-sifatNya maupun kata-kataNya
sendiri. Allah dimengerti sebagai Pencipta Hukum. Dia berdiri diatasi Hukum.
Maka kata-kata Allah tidak
perlu selalu kekal, melainkan bisa
digantikan olehNya lewat waktu
dan keadaan yang diinginkanNya. Itu melahirkan pewahyuan
ayat-ayat nasakh (yang menggantikan)
terhadap ayat-ayat mansukh
(yang digantikan). Surat-wahyu-Nya yang tadinya diturunkan secara
kronologis juga diubahNya sendiri secara
sengaja menjadi non-kronologis, tanpa
perlu memberi tahukan alasannya. Akibatnya Quran harus
disusun ulang urutannya oleh Jibril
yang sama, menjadi
urutan seperti yang
kita kenal sekarang
ini dimana Surat-surat Quran yang lebih panjang umumnya
mendahului Surat yang lebih pendek. Dalam satu ayat Qur’an menempatkan
Yesus (Isa AS) dalam posisi yang sangat mulia, tetapi pada bagian lain ia
menyatakan Isa sebagai sesuatu yang tidak layak.
9. Kasih Tuhan yang substansif vs Kasih Allah yang kurang jelas substansinya
Kasih Tuhan Alkitab
adalah sifat utama yang paling menonjol dan yang ditonjolkan. Karena kasih itulah maka Tuhan
habis-habisan merancangkan penyelamatan
khusus bagi manusia, yang
memungkinkan kita semua diselamatkan secara
khusus seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:16. Tuhan mempunyai
rasa kasih kepada ciptaanNya, sekalipun manuisa itu kafir atau mendurhakaiNya. Sebaliknya
kasih bukanlah sifat utama Allah Al-Quran, melainkan kemaha-besaranNya. Konsep
kasih Tuhan Elohim yang menjadikan diriNya ”punya perasaan” merupakan hal yang asing dalam ajaran Islam
karena hal itu hanya akan menempatkan
Allah Al-Quran menjadi kerdil setara
dengan manusia bisa.
Walau teman-teman Muslim sering mengklaim bahwa Allah itu maha pengasih & penyayang, namun
sifat-sifat ini tidak pernah disubstansikan oleh
Allah sendiri. Hubungan
pengalaman para Muslim dengan realitas kerahiman Allah sulit
ditampakkan. Muslim tidak pernah mengenal
Tuhan Elohim yang berkorban bagi umatNya. Allah dianggap telah Maha Rahim oleh
teman-teman Muslim karena ia telah memberikan hujan, embun, sinar, udara dan
lain-lain secara gratis, yang oleh para Kristiani lebih
dianggap sebagai tanggung jawab
Tuhan Elohim, bukan Kasih yang berkorban! Tuhan pemberi anugerah keselamatan vs
Allah menunggu usaha manusia mencari-cari keselamatan Dimana-mana Alkitab
berbicara tentang anugerah Tuhan yang memberi-kan keselamatan
kepada manusia berdosa
melalui penebusan Yesus Kristus. Ia adalah Juruselamat yang bertindak
selaku Pengantara/ Juru-syafaat antara
manusia dan Tuhan.(1 Timotius 2:5) Dalam Al-Quran tidak terdapat konsep
anugerah keselamatan Allah. Tidak ada Juruselamat Penebus, juga tidak ada
Pengantara. Yang ada hanya usaha
amal-ibadah masing-masing untuk mencapai keselamatannya. Dengan sejumlah
perbedaan hakiki antara sifat Allah Al-Quran dengan Tuhan
Alkitab, maka dapat
disimpulkan dengan mudah
bahwa kedua Tuhan ini sungguh jauh dari sama, bak siang
dengan malam. Tidak benar seruan Nabi yang berkata: “Tuhanmu dan Tuhanku satu
adanya”, yang namun kelak diralatnya
sendiri menjadi: “Sesungguhnya
telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al
Masih putera Maryam" (Qs.5:72).
Dari
Sembilan hal pokok diatas maka sangat sulit menyerupakan Tuhan yang kita imani
dengan Tuhan yang diimani oleh muslim, Kata Allah sendiri merupakan nama dewa
tertinggi dari dewa-dewa yang dipuja di dalam Kabbah, Arab pagan memiliki 360
dewa, dan pada posisi puncak dari dewa-dewa itu adalah Allah, Muhammad ingin
mengangkat derajat Allah sebagai dewa yang tidak mau ia buang, karena pada
dasarnya ia percaya kepada Tuhan yang di puja oleh Siti Khadijah istrinya,
dalam awal masa kenabiannya orang Yahudi menolak dirinya sebagai nabi terakhir,
lalu ia membantai orang Yahudi di kota Madinah, dan untuk melegalkan Tuhan yang
berbeda dari Tuhan Yahudi maka ia dalam perang merebut Mekah kembali,
menghancurkan dewa-dewa yang ada di dalam Kabbah, dan menggangkat Allah dengan
memberikan entitas dari Yahwe yang dia pahami dari pendeta Nestorian yang
berkembang di Arab pada saat itu, nah dari kekecewaan Muhammad untuk
menggambarkan Allah hanyalannya maka ia mencari tahu apa saja entitas Yahwe,
lalu memaksakan entitas itu seolah-olah Allah sama dengan Yahwe, lalu hal yang
paling tidak masuk akal adalah menjadi nabi-nabi Yahudi menjadi nabi-nabi
Islam, padahal dalam beberapa ayat Qur’an, Muhammad mendapat wahyu bahwa Yahudi
dan Nasrani akan masuk neraka, bahkan dia meyebutkan bahwa Yahudi dan Nasrani
adalah keturunan kera dan babi. Nah, untuk menghindari pertikaian yang lebih
dalam maka Kristen harus mengetahui entitas dari Yahwe, bahwa Allah bukan Tuhan
Kristen, melainkan Tuhan Islam, jika percaya kepada Allah maka harus menjadi Muslim
yang baik, menjalankan syariat Islam dan percaya kepada Muhammad sebagi Rasul
Allah. Tuhan Kristen, adalah Tuhan yang sudah diperkenalkan kepada Manusia
sejak Adam hingga kini, dan Yesus adalah Firman Yahwe yang menjadi Manusia.
KESIMPULAN
1.
Pertentangan
Islam Kristen dapat di hentikan Jika kedua agama dapat berdiri dalam substansi
teologi masing-masing, tanpa perlu melakukan persinggungan satu dengan yang
lain.
2.
Umat
Kristen harusnya dapat lebih kontekstual dalam pelayanannya di tengah masyarakat
Indonesia.
3.
Pengajaran
tentang ke-Esaan Tuhan harus menjadi ajaran terpenting bagi umat agar tidak
menimbulkan ambiguitas di tengah masyarakat global, dan lebih mengkomunikasikan
pemahaman Trinitas. Sebab bagi sebagian orang khususnya Islam mengganggap bahwa
Tuhan Kristen ada 3 ( tiga ) atau Triteisme.
4.
Komunikasi
social harus menjadi bagian utama dari kehidupan Kristen di tengah dunia global
saat ini.
5.
Kristen
harus membangun sekolah-sekolah agama yang mengajarkan kebenaran tentang Yahwe
dan harus menghilangkan pandangan bahwa Tuhan Kristen sama dengan Tuhan Islam.
BIBILIOGRAFI
Woly,
Nicolas J. “ Perjumpaan Di Serambi Iman:
Suatu Studi Tentang Pandangan Para Teolog Muslim dan Kristen Mengenai
Hubungan Antar Agama”,Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2010
Tim
Penulis Dialogue Centre PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan PSAA Fakultas
Teologia UKDW Yogyakarta “Meniti Kalam Kerukunan Jilid 1:
Beberapa Istilah Kunci Dalam Istilah Islam – Kristen”, BPK Gunung Mulia :
Jakarta, 2010
Aritonang
Jan S. “Sejarah Perjumpaan Kristen Dan
Islam Di Indonesia”, BPK Gunung Mulia ,Jakarta, 2010.
H.M.
Arsyad Thalib Lubis, “Keesaan Tuhan Menurut Ajaran Kristen Dan Islam”,
Jakarta, Media Dakwah Cet Ke-6, 1983.
K.H.
Bahaudin Mudhary, Dialog Masalah
Ketuhanan Yesus, Jakarta, Kiblat Center, 1981.
Robert
Morey, The Islamic Invasion : Confronting
The world Fastes Growing Religion, Scholar Press, Las Vegas , 1991.
[1]
Ian S. Aritonang, “Sejarah Perjumpaan
Kristen Dan Islam Di Indonesia”, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2010. 13
[2]
Dari majalah Gaharu edisi 78 Tahun 2010, Penusukan majelis HKBP Ciketing,
Minggu 12 september 2010 : Sintua Asian Sihombing dan Pdt. Luspida Simanjuntak,
berjalan beriringan menuju Gereja HKBP Ciketing, Bekasi, jam menunjukkan pukul
8.30 , untuk melakukan ibadah pagi di tanah lapang gereja itu, sebab
pembangunan gedung Gereja mendapat penolakan dari pemerintah setempat dan
masyarakat, tetapi secara tiba-tiba ada sekelompok orang tidak dikenal
mengendarai sepeda motor dengan secara tiba–tiba menusuk St. Asian Sihombing
tepat diulu hatinya, secara cepat juga mereka menghantam kepala pendeta Luspida
Simanjuntak dengan sebatang balok. Dan secepatnya mereka melarikan diri
meninggalkan korban bersimbah darah, lalu rombongan jemaat yang melihat
kejadian segera memberikan pertolongan dengan melarikan korban ke RS Mitra
Bekasi. Kejadian ini segera dilaporkan kepihak kepolisian yaitu Polres Bekasi,
dan Pihak Polisi menerima laporan itu dan melakukan Olah TKP. Tetapi dalam
waktu yang relative singkat, Pihak Polres langsung membuat kesimpulan yang
tidak masuk akal yaitu menyatakan bahwa tidakan ini merupakan Kriminal murni.
[3]
Abdul Mustaqin, dalam literature “Meniti Kalam Kerukunan” menjelaskan :
Pengertian Kata Islam merupakan konsep teologi Islam yang sangat Fundamental
sehingga dalam sejarah pemikiran umat islam masalah ini sering dijadikan pokok
bahasan dalam kitab-kitab teologi yang di tulis para ulama, hlm 5
[4]
Nurcholis Madjid dalam buku Islam Agama Peradaban, pernah menulis bahwa dalam
kenyataan sejarah antara kaum Yahudi dan Kristen tidak pernah ada kesepakatan
karena masing-masing menganggap bahwa hanya agama merekalah yang benar dan yang
lain salah. Karena pandangan yang ekslusif ini, baik kaum Yahudi maupun Kristen
mengkalim sebagai satu-satunya kaum yang akan mendapat keselamatan dan masuk
surge. Sejalan dengan sikap dasar mereka itu, kaum Yahudi dan Nasrani mengaku
merekalah golongan manusia yang mendapat petunjuk kebenaran ( Nurcholis Madjid,
1995,45)
[5]
Robert Morey dalam bukunya Invasion Islamic, Confronting The world Fastes
Growing Relegion, bahwa sangat beda jauh pemahaman tentang Tuhan yang dipahami
oleh Kristen dengan pemahaman oleh Islam, yang kesemuanya berakibat pandangan
yang paradox dari kedua agama. Scholar Press, Las Vegas, 1991 hal. 70
[6]
Ajaran tentang Trinitas adalah ajaran yang sangat penting dalam kehidupan
bergereja, tetapi sekaligus menjadi ajaran yang sulit dijelaskan oleh warga
gereja. Ajaran ini sulit diterima oleh pihak lain, terutama konteks Indonesia
yang berfalsafahkan Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan
yang mayoritas penduduknya adalah Islam. Oleh karena umat Islam mengganggap
bahwa ajaran tersebut adalah Triteisme (menyembah Tiga Tuhan), kepercayaan
Kristen akan Allah Tritunggal sering menjadi batu sandungan yang serius dalam hubungan
dengan masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Islam Khusunya. [ H.M.
Arsyad Thalib Lubis, “Keesaan Tuhan Menurut Ajaran Kristen Dan Islam”,
Jakarta, Media Dakwah Cet Ke-6, 1983. Lih. K.H. Bahaudin Mudhary, Dialog Masalah Ketuhanan Yesus, (
Jakarta, Kiblat Center, 1981) dimana ajaran ketritunggalan dan ketuhanan Yesus
diserang Habis-habisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar