Jumat, 16 Oktober 2015

DOKTRIN PENTAKOSTA (GPI BUKIT KARMEL)

1

SELAYANG PANDANG

             Doktrin Pneumatologi adalah sebuah pengajaran yang mengandung pemahaman dan praktik iman yang berorientasi kepada pembentukan karakter secara mendalam sehingga setiap pribadi yang mendapatkan pengajaran tentang Roh Kudus ini mengalami perubahan hidup secara revolusi total. Yesus sendirilah yang meletakkan dasar – dasar pengajaran Roh Kudus, pertama sekali Yesus menyampaikan tentang Roh Kudus, dalam Injil Yohanes Yesus menjanjikan seorang penolong yang disebut parakleton (parakleton/parakletos). Penolong inilah yang akan mengubahkan hidup para pemercaya/murid-murid secara total, dalam kasih mereka, perkataan mereka dan tingkah laku mereka.  Tantangan  terberat dalam hidup keimanan manusia adalah ketika tidak bersama dengan Yesus lagi, oleh sebab itu Yesus menjanjikan seorang parakleitos kepada murid-muridnya. Ada empat hal yang di sampaikan Yesus dalam perintah-Nya sebelum terangkat Kesurga yaitu : “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."   Dari ayat diatas ada empat perintah yang utama, yaitu kata “ pergi” , “jadikan” “baptislah” dan “ajarlah”. Keempat  perintah diatas dapat di nyatakan sebagai tugas dari setiap pemercaya untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Yesus, Raja dan Kepala Gereja, memberitakan keselamatan. Semua orang percaya berhak dan harus  dengan bergairah mengharapkan dan sungguh-sungguh mencari janji Bapa, baptisan dalam Roh Kudus dan api, menurut Perintah Yesus Kristus Tuhan Kita. Ini merupakan pengalaman yang biasa dari jemaat Kristen mula-mula. Bersamanya muncul pelengkapan dengan kuasa untuk hidup dan melayani, pemberian karunia-karunia dan penggunaan dalam tugas pelayanan (Luk 24 : 49, Kis 1 : 4, 1Kor 12 : 1-31). Pengalaman ini jelas berbeda dari dan didiami sesudah pengalaman lahir baru (Kis 8 : 12-17; 10 : 44-46; 11 : 14-16;   15 : 7-9) Dengan Baptisan dalam Roh yang melimpah. (Yoh 7 : 37-39; Kis 4 : 8), rasa hormat yang dalam kepada Allah ( Kis 2 : 43; Ibr 12 : 28), penyerahan yang makin meningkat kepada Allah dan pengabdian kepada pekerjaan-Nya (Kis 2 : 42), dan kasih yang lebih aktif kepada Kristus dan orang yang terhilang ( Mark 16 : 20)[1]. Pada masa kini pengajaran tentang Roh Kudus dikenal dengan Doktrin Pneumatologi.

Pneumatologi adalah suatu konsep pengajaran oleh gereja yang membahas tentang Roh Kudus dalam hakekat, peranan dan karyanya.  Gereja Pentakosta Indonesia memiliki doktrin Pneumatologi sebagaimana terdapat dalam Alkitab.  Doktrin Pneumatologi ini diajarkan kepada jemaat melalui berbagai cara seperti khotbah, dimana topik-topik khotbah diarahkan penjelasan tentang Roh Kudus, penelaahan Alkitab yang dirancang dan dilaksanakan sesuai program kerja, diskusi, dll, sehingga diharapkan jemaat memiliki pemahaman doktrin pneumatologi. Harun Hadiwijono menjelaskan supaya Kristus yang telah dimuliakan itu dapat dialami dan dinikmati oleh umatNya, maka Kristus datang kembali, yaitu di dalam Roh Kudus.[2]  Kristus sendirilah yang datang dalam Roh berdiam dan berkarya dalam hidup manusia melalui aktivitasnya.  Roh membantu orang percaya untuk hidup dalam kekudusan Allah dan menjauhkan diri dari kehidupan hal-hal dosa.  Donald Guthrie mengatakan bahwa Roh Kudus adalah suatu kekuatan yang membersihkan dan menyucikan, dan ini pasti merupakan bayangan pendahuluan kepada beberapa aspek dari pekerjaan Roh yang diungkapkan secara lebih jelas dalam PB.[3]  Tom Jacobs menjelaskan bahwa Roh berarti lingkup karya Allah.  Kaum beriman sudah disucikan dalam Roh Kudus.[4]    H.v.d. Brink menjelaskan Roh Allah akan membimbing orang percaya dalam segala pengetahuan dan kebenaran, yang diperlukan untuk menunaikan tugas mereka sekarang.[5]  Roh sendirilah yang menyingkapkan segala pengetahuan dan kebenaran yang ada pada Allah yang harus dimiliki manusia.  Pengetahuan dan kebenaran dalam memuji dan memuliakan Allah disingkapkan Roh Kudus kepada setiap orang percaya, agar dapat memuliakan Allah dalam hidupnya.  Seperti pada peristiwa yang terjadi ketika Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah, maka terjadilah gempa bumi yang hebat (Kisah 16:25-26).  Dalam hal ini Roh mengajak Paulus dan Silas untuk memuliakan Allah melalui pujian, sehingga Allah melakukan keajaiban yang mengakibatkan semua pihak memuji Allah. Harun Hadiwijono menjelaskan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup setiap orang percaya sebagai berikut :

”Bahwa Roh Kudus akan dikaruniakan kepada para orang milikNya, memang telah dijanjikan oleh Tuhan Yesus sebelum Ia disalibkan. Dalam Yoh. 16:7 Tuhan Yesus berjanji akan mengutus ”Penghibur” kepada para muridNya, yang akan menyertai mereka (Yoh. 14:16) dan yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada mereka dan akan mengingatkan  mereka akan semua yang telah diajarkan kepada mereka (Yoh. 14:26), lagipula yang akan memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13) dan yang akan menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh. 16:8-11).[6]

 Hamba Tuhan di Gereja Pentakosta Indonesia Kota Medan telah mengajarkan hakekat, peranan dan karya Roh Kudus melalui khotbah, pendalaman Alkitab, diskusi umum tentang Alkitab, dan setiap kesempatan yang ada.  Gembala sidang bersama hamba Tuhan berusaha untuk memperkenalkan hakekat, peranan dan karya Roh Kudus sambil memfasilitasi jemaat dalam pemahaman tersebut.  Untuk dapat melihat dan mengenal karya Roh Kudus, jemaat diajak bersama sama untuk memberi keleluasaan kepada Roh Kudus dalam hidupnya.  Juga melalui kebaktian-kebaktian dan doa-doa, jemaat diajak untuk melihat dan merasakan karya Roh Kudus.

            Melalui pengajaran doktrin Pneumatologi diharapkan jemaat setia beribadah, suka membaca Alkitab dan mengalami pertumbuhan iman.  Harun Hadiwijono menjelaskan iman berarti mengamini dengan segenap kepribadian dan cara hidupnya kepada janji Allah, bahwa Ia di dalam Kristus telah mendamaikan orang berdosa dengan diriNya sendiri, sehingga segenap hidup orang yang beriman dikuasai oleh keyakinan yang demikian itu.[7]  Keyakinan seperti ini diharapkan terus bertumbuh menuju ke arah kesempurnaan.  Roh Kuduslah yang membimbing setiap orang percaya mengalami pertumbuhan iman hingga mencapai kedewasaan.

            Jemaat yang sudah mencapai kedewasaan iman, akan memiliki tanggung jawab secara otomatis terhadap semua orang.  Salah satu tanggung jawab orang Kristen adalah memberitakan Injil kepada setiap orang yang membutuhkan.  Harun Hadiwijono mengatakan demi keselamatan seluruh umat manusia di segala zaman dan tempat itu penyataan Tuhan Allah harus diteruskan dari keturunan yang satu kepada keturunan yang lain.[8] 

            Dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini dijelaskan bahwa doa adalah kebaktian mencakup segala sikap roh manusia dalam pendekatannya kepada Allah, sebagai perbuatan tertinggi yang dapat dilakukan roh manusia.  Seseorang berdoa karena Allah telah menyentuh rohnya.[9]  Doa dan ibadah biasanya dipadukan oleh gereja-gereja.  Hoon yang dikutip oleh James F. White mengatakan ”ibadah Kristen adalah penyataan diri Allah sendiri dalam Yesus Kristus dan tanggapan manusia terhadap-Nya, atau suatu tindakan ganda: yaitu tindakan Allah kepada jiwa manusia dalam Yesus Kristus dan dalam tindakan tanggapan manusia melalui Yesus Kristus.[10]  Dalam ibadah terjadi pertemuan antara Allah dengan umat, dimana Allah sebagai pemrakarsa ibadah.  Tetapi di dalam ibadah, Allah mengikutsertakan manusia sebagai mitra-Nya.  Manusia yang terlibat dalam ibadah adalah manusia yang hidup dalam kenyataan konteks tertentu.[11]  Hamba Tuhan Gereja Pentakosta Indonesia Kota Medan mengutamakan agar dalam ibadah terjadi pertemuan antara jemaat dengan Allah.

            Harun Hadiwijono mengatakan bahwa di dalam Alkitab manusia bersaksi tentang karya penyelamatan Allah yang dilakukan di dalam Kristus.  Akan tetapi di dalam segala usaha manusia itu Roh Kudus bersaksi tentang Kristus.  Alkitab adalah alat Roh Kudus untuk menyaksikan karya penyelamatan Kristus.[12]  Dengan demikian membaca Alkitab berarti menyaksikan karya penyelamatan Kristus bagi dunia dan hidupnya, yang selanjutnya untuk direnungkan dan dilakukan.

Umat Kristen percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (II Timotius 3:16).  Karena Alkitab adalah Firman Allah,  oleh sebab itu Alkitab tidak bersalah terhadap segala yang dinyatakannya.  Karena itu Alkitab memegang otoritas tertinggi dan terakhir dalam kehidupan.[13]  Hal ini sesuai dengan pandangan Marthin Luther: ”No one is bound to believe more than what is based on Scripture.  The Word must be believe against all sight and feeling and understanding.  It also has the primacy over dreams, signs and wonders.[14]

Ada beberapa cara manusia berkomunikasi dengan Allah, antara lain yaitu melalui Alkitab dan doa.  Dengan membaca Alkitab berarti orang percaya berkomunikasi dengan Allah.  Melalui Alkitab, Allah menyatakan dirinya kepada manusia.  Dengan demikian sebagai pemeluk Agama Kristen,  sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang Kristen untuk membacanya setiap hari.

Mengapa harus membaca Alkitab setiap hari ?  Seseorang tidak mungkin dapat meneruskan hidup selama seminggu tanpa makanan jasmaniah.  Tanpa makan seseorang pasti akan menjadi lemah dan akhirnya menderita sakit.  Ia harus makan setiap hari.  Sama seperti bayi yang baru lahir, memerlukan susu dan makanan penunjang lainnya agar ia dapat berkembang menjadi manusia yang dewasa.  Ini berlaku juga bagi kehidupan rohani seorang Kristen.[15]  Untuk menumbuhkan imannya, ia memerlukan makanan rohani yaitu Firman Allah yang tertulis dalam Alkitab.  Ia perlu membacanya setiap hari, sehingga imannya berkembang.  Dengan pembacaan Alkitab setiap hari diharapkan terjadi perubahan hidup yang positif dari orang tersebut.  Dengan membaca Alkitab diharapkan orang Kristen mengalami pertumbuhan rohani yang baik.  Perubahan yang diharapkan adalah terjadi pertumbuhan iman dalam diri orang tersebut.

            Malcolm Brownlee mengatakan Pekabaran Injil adalah pemberitaan kabar gembira tentang Tuhan dengan maksud supaya orang yang mendengar berita itu mengambil keputusan untuk bertobat kepada Kristus.[16]  Menurut Karl Barth dalam kutipan Malcolm Brownlee gereja harus memberi kesaksian tentang kebenaran bahwa Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.[17]  Sesuai pendapat di atas, anggota Gereja Pentakosta Indonesia melibatkan diri dalam pemberitaan Injil kepada tetangganya, temannya bekerja, dan setiap orang yang dekat dengannya.  Sambil memberitakan Injil, jemaat terlibat dalam doa agar Injil yang diberitakan bertumbuh baik.

            Sesuai dengan pokok permasalahan diatas, peneliti tertarik untuk membahas bagaimanakah hubungan pengajaran doktrin pneumatologi dengan kepemimpinan pelayan, pertumbuhan iman, kesetiaan beribadah anggota Gereja Pentakosta Indonesia.

 

  2

PNEUMA DALAM TERMINOLOGI ALKITAB

Defenisi Doktrin Pneumatologi


            Doktrin Pneumatologi adalah sebuah pengajaran yang berpusat pada pribadi Roh Kudus, dan karya Roh Kudus. Pneumatologi berasal dari akar kata pneumatos (Pneumatos) yang berarti adalah spirit, dalam kamus Inggris Indonesia di jelaskan bahwa defenisi spirit ialah : (1) roh[43] atau jiwa, (2) semangat,  (3) arwah, (4) jin, hantu, mambang, mahkluk halus (5) suasana, tetapi untuk mendapat pengertian yang jelas dari maksud kata pneumatos maka kita lihat kata yang mengikuti yaitu :   hagiou (AGIOU) yang berarti kudus, maka kata pneumatos diatas merujuk kepada kata Roh Kudus, untuk frase Pneumatologi adalah pneuma dan logos ;  Ilmu yang mempelajari tentang Roh kudus. Pneumatologi khusus mengajarkan tentang Roh Kudus yang akan kita bahas dalam bab ini lebih dalam.
            Kesaksian tentang penyataan Yahwe ialah Alkitab. Dan apabila di dalam Alkitab dibicarakan tentang Yahwe Bapa, maka dibicarakan juga tentang Yesus, dan tentang Roh Kudus. Demikian Yahwe menyatakan diriNya, demikian Ia membuat kita mengenal Dia, yaitu tiga nama yang menunjukkan kepada tiga caranya berada; sebagai Yahwe Bapa, Yahwe Anak dan Yahwe Roh Kudus.  Ketiganya bukanlah tiga Ilah ataupun tiga  Tuhan, melainkan Yahwe yang satu dan Esa. Dalam kitab Ulangan 6:4 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Yahwe kita, TUHAN itu esa!” . Untuk Dapat memahami tentang Roh Kudus kita akan melihat apa yang dikatakan oleh Alkitab tentang pribadi yang satu ini, Ia berkarya sejak perjanjian lama dan perjanjian baru hingga masa sekarang. Fenomenal karena Roh Kudus banyak menghasilkan gereja pada akhir Zaman ini. Untuk itu kita perlu memahami sejarah yang membentuk pemahaman Roh Kudus atau Pneuma ini.

Pneuma Dalam Agama Helenistik
            Salah Satu perbedaan yang paling menonjol antara Injil Sinoptis dan Injil keempat ialah tempat yang diberikan oleh Injil Keempat kepada Roh Kudus, terutama dalam ruang atas dengan ajarannya yang unik tentang Paraclete. Untuk mendalami perbedaan, kita perlu mengadakan penelitian singkat tentang ajaran Roh Kudus dalam Perjanjian Lama dan dalam Injil Sinoptis dan arena persoalan latar belakang Helenistik Yohanes, kita harus melihat secara singkat pada ide roh dalam agama Helenistik. Ada begitu banyak Variasi dalam agama Helenistik; pertama-tama kita memikirkan kemungkinan adanya latar belakang gnostik dalam pemikiran Yohanes. Orang – orang Yunani biasanya menganggap unsur yang paling mendasar dari keberadaan manusia adalah psyche, bukan pneuma. Dalam dualism Yunani, Psyche berlawanan dengan tubuh seperti halnya alam pengertian berlawanan dengan dunia kasat mata.[44] Kadang kala pneuma mempunyai arti dan fungsi psyche. Dalam aliran Stoa, pneuma adalah satu kuasa atau substansi universal – satu substansi gas berapi tak kelihatan yang halus  yang merasuki seluruh dunia yang kelihatan. Faktor utama dari pneuma dalam dunia Yunani adalah selalu kenyataannya yang penuh kuasa dan yang sukar dipahami[45]. Dalam pemikiran ilmiah dan filsafat, pneuma sebagai terminology fisik atau fisiologis pada hakikatnya tetap materialistis dan vitalistis. Dalam pemikiran gnostik, kuasa itu dipandang sebagai suatu substansi dan pneuma mencakup ide isi atau kesanggupan hidup (Lebenssubstanz)[46] Yahwe itu adalah Roh. Pada penciptaan, substansi Rohani bercampur dengan materi; tetapi ia ingin bebas. Materi atau fisik dari tubuh ingin menjadi sebuah kekuatan yang menentang kekuatan rohani dari Yahwe, hal ini disebut perjuangan dosa untuk merdeka, tetapi akibat kekuatan materi yang terus menerus dan tak putus-putusnya berusaha sehingga tubuh tadi takluk dalam kebebasan yang membawa kepada belenggu dosa, jika dosa yang berkuasa maka tubuh / manusia memerlukan penebusan. Penebusan berarti pengumpulan kembali semua percikan pneuma. Penebus itu turun untuk mengumpulkan sisa-sisa roh, lalu Ia naik kembali bersama mereka. Unsur-unsur tubuh dan jiwa ditinggalkan tetapi unsur roh diserahkan kepada Yahwe. Demikianlah, orang yang ditebus itu menjadi roh yang suci karena pembebasan dari ikatan – ikatan tubuh.
Dalam agama helenistik pneuma adalah bagian atau unsur  yang sudah kembali kepada penguasa alam semesta, pemilik dari semua isi alam, tetapi pneuma yang mereka pahami bahwa pneuma itu adalah milik Yahwe bukan Yahwe.

Pneuma Dalam Perjanjian Lama
Alkitab Perjanjian Lama dan Alkitab Perjanjian Baru merekam keberadaan dan pekerjaan Roh Kudus. Meskipun ada perbedaan dalam intensitas manifestasi, namun perbedaan tersebut tidak dapat dijadikan dasar asumsi bahwa ajaran Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama mengenai Roh Kudus bertentangan. Pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama bergerak mengarah ke depan ke jaman gereja Perjanjian Baru, dan puncaknya pada kesempurnaan gereja di akhir jaman. Itulah sebabnya Roh Kudus hadir dan bekerja selaras dengan rencana Yahwe Bapa untuk dunia ini, dan memanifestasikan diri dalam kehendak-Nya sesuai konteks keberadaan   manusia
            Alkitab Perjanjian Lama maupun Alkitab Perjanjian Baru memberikan bukti tentang pekerjaan Roh Kudus yang berinteraksi dengan manusia. Roh Kudus selaku pribadi Yahwe yang kekal tetap ada dan terus bekerja sebelum dan sesudah hari Pentakosta[47]. Keberadaan Roh Kudus tetap dilihat sebagai pribadi yang tidak mungkin dipisahkan dengan Yahwe Bapa dalam Tritunggal. Pembahasan yang akan dilakukan berikut ini tidak mempergunakan metode menginventarisir ayat-ayat yang berhubungan dengan Roh Kudus menurut pengelompokkan kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, melainkan menguraikan pekerjaan apa saja yang telah dilakukan Roh Kudus. Mempelajari karya Roh Kudus sama pentingnya dengan mempelajari karya keselamatan yang dikerjakan Yesus Kristus, sebab Roh Kudus hadir dan berkarya menindaklanjuti pekerjaan Yesus pasca kebangkitan. Harun Hadiwijono memberikan pernyataan bahwa:
            “Demikian juga Roh Kudus dapat disamakan dengan Kristus, Anak            Yahwe, dilihat dari segi ini, bahwa Roh itu adalah Kristus yang hadir       berbuat untuk menjadikan orang-orang milikNya menikmati hasil karya             penyelamatanNya.”[48] 
Penegasan Yesus tentang kenaikan-Nya ke sorga bertalian erat dengan turunnya Roh Kudus (Yohanes  14:26; 16:7-15). Yesus mengatakan hanya melalui karya Roh Kudus akan dapat diketahui kebenaran yang sesungguhnya. Dan ada banyak hal yang akan diberitahukan oleh Roh Kudus, dan para murid akan mampu menerima semuanya manakala Roh Kudus turun berada di tengah gereja. Fakta yang tidak mungkin diingkari, kedua puluh tujuh kitab dalam Perjanjian Baru tidak ditulis semasa Yesus berada di bumi, melainkan setelah turunnya Roh Kudus di atas loteng sebuah rumah di Yerusalem.
            Pneuma dalam perjanjian lama ada disebut 39 kali, ורוח (Ruakh) Yahwe dalam perjanjian lama merupakan satu kesatuan yang sehakekat dengan Yahwe itu sendiri, Ia adalah kuasa Yahwe – tindakan pribadi dalam kehendak Yahwe untuk menjangkau objek moral dan agama. Pneuma/Ruakh adalah diri Yahwe sendiri, yang berperan menjangkau semua isi alam semesta, dalam kitab kejadian Pneuma lah yang melakukan penciptaan, “ Pada mulanya Yahwe menciptakan langit dan bumi, bumi belum berbentuk dan kosong gelap gulita, dan Roh Yahwe melayang-layang diatas permukaan air” (Kej 1 : 2). Ruakh Yahwe adalah sumber dari semua yang hidup, semua kehidupan jasmani. Roh Yahwe adalah prinsip aktif yang datang dari Yahwe dan memberi kehidupan  kepada dunia Jasmani ( kej 2 : 7). Hal itu juga merupakan sumber dari hal-hal agama: mengangkat pemimpin-pemimpin yang kharismatis, baik hakim-hakim, nabi-nabi, maupun raja-raja. Ruakh Yahwe adalah satu terminology bagi tindakan kreatif historis dari Yahwe, walaupun hal itu bertentangan dengan analisis logis, namun hal itu merupakan tindakan  Yahwe.
            Ruakh juga memiliki beberapa pengertian di dalam kitab-kitab penjanjian lama, ada beberapa pengertian yang menyatakan keberadaan dari kata ruakh :
1.    Roh Elohim ( kej 1 : 2, Hak 6 : 34, I Sam 16 : 14, I Raja 18 : 12, I Taw 12 : 18, 2 Taw 24 : 20, Ayub 12 : 10;  20 : 23; 27 : 3, Maz 51 : 10, 11,12,  Ams 17 : 22; 18 : 14, Pengk 3 : 19 , 21; Yes 42 : 5)
2.    Inspirited ( 1 Sam 16: 23)
3.    Interval ( Kej 32 : 16)
4.    Angin ( Kel 10 : 13; Bil 11 : 31, I Raja 18: 45, 19 : 11, Ayub  4 : 15, 8 : 2; 37 : 2 ; 41 : 16. Maz 11 : 6, Ams 25 : 14; Yes 41 : 16
5.    Roh hikmat 41 : 16
                        Jika melihat intensitas karya Roh Kudus maka lebih banyak didapati dalam Perjanjian Baru daripada dalam Perjanjian Lama. Perbedaan inilah yang menjadi salah satu pertimbangan para ahli memutuskan mengenai Roh Kudus dalam Perjanjian Lama sesungguhnya berbeda dengan Roh Kudus di dalam Perjanjian Baru. Pendapat semacam itu sesungguhnya sangat tidak adil, dimana kesamaan yang besar diabaikan hanya karena perbedaan yang kecil. Prinsipnya, Roh Kudus sebagai Pribadi nampak dalam karya-Nya, sebaliknya karya-Nya menunjukkan Roh Kudus adalah sebagai Pribadi. Keduanya tidak mungkin dipisahkan atau dipertentangkan. Perjanjian Lama mencatat kehadiran Roh Kudus yang  ngan para ahli memutuskan mengenai Roh Kudus dalam Perjanjian Lama sesungguhnya berbeda dengan Roh Kudus di dalam Perjanjian Baru. Pendapat semacam itu sesungguhnya sangat tidak adil, dimana kesamaan yang besar diabaikan hanya karena perbedaan yang kecil. Prinsipnya, Roh Kudus sebagai Pribadi nampak dalam karya-Nya, sebaliknya karya-Nya menunjukkan Roh Kudus adalah sebagai Pribadi. Keduanya tidak mungkin dipisahkan atau dipertentangkan. Perjanjian Lama mencatat kehadiran Roh Kudus yang dinyatakan dalam pekerjaan-Nya diantaranya adalah:

A. Penciptaan alam semesta
Jagad raya dengan keteraturan serta sistem yang rumit dan akurat bagi ilmu sekuler dianggap masuk akal jika keberadaannya dikarenakan akibat suatu ledakan yang kebetulan. Apa justru tidak lebih masuk akal jikalau dikatakan keberadaan dan keteraturan jagad raya ini diciptakan oleh Pribadi Yang Maha Jenius? Seperti seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dalam kebingungan sepulang sekolah. Ia menemui ayahnya untuk meminta penjelasan soal terjadinya bumi apakah akibat ledakan besar yang terjadi karena kebetulan, atau diciptakan oleh Yahwe seperti yang diajarkan di Sekolah Minggu. Ayahnya meminta sekaleng kelereng yang dimiliki anaknya dengan mengatakan“Nak, jika kelereng ini ditebarkan di lantai mungkinkah kelereng-kelereng ini akan mengelompok secara kebetulan sesuai warnanya masing-masing?” Anaknya yang cerdas menjawab “Itu tidak mungkin terjadi ayah”. Ayahnya menanyakan kembali “Berapa kalipun dicoba apakah tidak mungkin?”, Dan anaknya menjawab “Ya”. Lalu ayahnya bertanya lagi“Menurutmu bagaimana cara supaya kelereng-kelereng tersebut berkelompok sesuai warnanya?” Anaknya menjawab “Ya harus ada yang mengelompokkannya” Selanjutnya sang ayah menegaskan “Begitupun dengan dunia kita yang indah dan dasyat ini tidak terjadi secara kebetulan, semuanya diciptakan oleh Yahwe yang Maha Kuasa dan dasyat itu nak”. Dalam kisah di atas membuktikan sebenarnya lebih masuk akal jika bumi ini diciptakan oleh Pribadi yang Maha Jenius daripada terjadi karena suatu peristiwa kebetulan. Alkitab mencatat langit dan bumi diciptakan oleh Yahwe, dan pada saat penciptaan tersebut Roh Kudus ikut berperan serta (Kejadian 1:1-2). Robert Davidson menerangkan bahwa:
“Roh Yahwe adalah Yahwe sendiri yang dengan kuasa-kuasa sedang bertindak di dalam dunia. Roh yang sama pada mulanya “melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:1) untuk menerbitkan ketertiban dari dalam kekacauan dan sampai sekarang masih terus bekerja membaharui karunia, berupa kehidupan pada segala mahluk hidup.”[49]
Roh Kudus mengadakan penataan untuk menjadikan segala sesuatu harmonis (Ayub 26:13; Yesaya 40:12, 13), dan Ia juga memberikan kehidupan (Mazmur 33:6; 104:30).

B. Mengontrol kehidupan
Kejadian 1:1-3 menyatakan pada saat Yahwe menciptakan dan mengadakan penataan langit dan bumi, Roh Kudus ikut berperan aktif. Peran aktif Roh Kudus selaku Pribadi yang melakukan fungsinya ditunjukkan di ayat 2 dalam kalimat “Roh Yahwe melayang-layang di atas permukaan air”. Artinya Roh Kudus mengadakan perubahan dari samudera yang gelap menjadi kawasan yang jelas perbedaan-perbedaannya.[50] Stanley M. Horton memberikan penegasan dengan menulis sebagai berikut:
 “Jadi, Roh Kudus dihubungkan baik dengan ciptaan maupun dengan           pemeliharaan selanjutnya oleh Yahwe (lihat Yesaya 40:12,13).         Bagian-bagian lain yang berkenaan dengan Roh Kudus juga             menggunakan istilah yang menunjukkan nafas Yahwe (Ayub 26:13;            33:4; Mazmur 33:6).”[51]
Penulis Perjanjian Lama dalam menggambarkan dinamika Roh  Kudus mempergunakan ungkapan “melayang-layang”, “meninggal- kan”, “memenuhi”, ”menguasai”, ”menghinggapi” hendak menunjukkan peran aktif Roh Kudus dalam kelangsungan kehidupan. Baik kehidupan dalam kepentingan yang lebih luas maupun yang bersifat pribadi. Roh Kudus senantiasa memberikan tuntunan sebagaimana diyakini oleh penulis Kitab Mazmur (Mazmur 143:10), bahwa seseorang mendapatkan kekuatan serta berhasil dalam melaksanakan tanggung jawabnya karena Roh Kuduslah yang menolongnya untuk mencapai tujuan (Bilangan 11:16, 17)

C. Memberikan karunia untuk tugas tertentu
Ketika Musa membangun Kemah Pertemuan, ia memilih orang-orang yang oleh Roh Kudus telah dikaruniai keahlian, pengertian dan pengetahuan untuk membuat segala perlengkapannya (Keluaran 31:3; 28:3). Hal memilih orang-orang ini sangat penting mengingat bangsa (Israel) yang keluar dari Mesir hanya memiliki pengalaman sebagai budak. Hubungan karunia dengan pelaksanaan tugas Stanley M. Horton menulis :
“Kepenuhan dengan Roh ini akan menjadi sumber “keahlian, pengertian, dan pengetahuan dalam segala macam pekerjaan.” Dengan kata lain, Roh Kudus akan memberikan pertolongan adikodrati dalam melaksanakan tugas-tugas praktis untuk menyiapkan bahan-bahan Kemah Suci yang akan berguna lagi indah.”[52]

Roh Kudus memberikan keterampilan dan wibawa untuk melaksanakan tugas kepemimpinan (Bilangan 11:16,17). Roh Kudus juga memberikan kemampuan kepada seseorang untuk mengolah strategi guna mengalahkan musuh dalam peperangan (Hakim-hakim 3:10).
D. Menciptakan moralitas yang benar
Roh Kudus tidak dapat mentolerir segala bentuk kenajisan atau dosa yang dilakukan seseorang, karena hakekat Roh Kudus sendiri adalah kudus (Kejadian 6:1-8). Roh Kudus akan menghardik dan memberikan hukuman kepada segala macam bentuk pelanggaran terhadap firman Yahwe. Roh Kudus juga mendidik serta memberikan bimbingan terhadap umat Yahwe bagaimana seharusnya hidup di dalam ketaatan kepada Tuhan (Yesaya 11:5; Yehezkiel 36:27; Nehemia 9:20). Harun Hadiwijono menyatakan:
“Akhirnya, Roh yang dinamis itu mengandung di dalamnya sifat-sifat yang etis. Hal ini terang dari Yes 30:1, yang mengancam dengan hukuman para anak yang murtad, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan oleh dorongan Roh Tuhan. Jadi Roh Yahwe yang dinamis tadi memang adalah kekuatan atau kekuasaan yang menciptakan hal-hal yang baru, yang ditujukan kepada tujuan keagamaan.”[53]


E. Mengilhami para nabi
Pada saat menyampaikan berita untuk umat Yahwe para nabi menerima materi berita melalui Roh Kudus, dan bukan hasil rekayasa dari dirinya sendiri (Yesaya 42:1). Raja Daud meyakini apa yang dikatakan melalui mulutnya datang melalui pewahyuan Roh Kudus (2 Samuel 23:2). Nabi Yoel juga meyakini serta menubuatkan bahwa Firman Yahwe akan datang di zaman yang kemudian, diberikan dengan cara melalui mimpi, penglihatan dan nubuatan yang diilhami Roh Kudus (Yoel 2:28, 29). Stanley M. Horton menulis:
“Sebagai orang-orang yang dipenuhi Roh, para nabi yang terutama menulis Kitab Suci (kita akui bahwa Musa adalah seorang nabi sama seperti Daud). … Demikian pula Roh Kudus yang mengilhamkan perkataan dan tulisan Yesaya (59:21).”[54]
Tulisan para nabi yang diilhamkan Roh Kudus diakui oleh Yesus dan juga para Rasul baik dengan penggenapan nubuatannya (Matius 22:42,43; Kisah Para Rasul 2:15-28) maupun sebagai dasar pengajaran (Kisah Para Rasul 28:25-29).

F. Menubuatkan kedatangan Mesias.
Roh Kudus menyampaikan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang, tentang kedatangan Mesias melalui nubuatan yang disampaikan para nabi (Yesaya 61:1, 2). Misi kedatangan Mesias ke dunia memberikan keselamatan serta kesejahteraan umat manusia yang terbelenggu dan diperbudak dosa (Yesaya 11:1-10). Tugas Kemesiasan yang disampaikan para nabi melalui nubuatan dalam ilham Roh Kudus sebenarnya yang dimaksud adalah Yesus Kristus sendiri.[55] Nabi Maleakhi menubuatkan kedatangan Mesias terlebih dahulu akan diawali kedatangan Nabi Elia dalam rangka merintis jalan mempersiapkan kehadiran Mesias (Maleakhi 4:5,6).
Konsep Mesianik datang dari Roh Kudus melalui nubuatan para nabi yang dipercayai dan ditunggu-tunggu penggenapannya oleh bangsa Yahudi. Seiring berjalannya waktu serta pasang surut perkembangan politik bangsa Yahudi, konsep kedatangan Mesias akhirnya dipahami secara politis.

G. Memberi kemampuan yang luar biasa
Seseorang dapat memiliki kekuatan yang luar biasa diatas rata-rata manusia pada umumnya karena Roh Kudus menyertainya. Kekuatan yang luar biasa dari Roh Kudus hanya sebagai sarana untuk melaksanakan misi Yahwe.[56] Stanley M. Horton berpendapat tentang kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh para tokoh dalam Perjanjian Lama sebagai berikut:
“Bahkan orang yang dipilih Yahwe untuk menolong dan membebaskan bangsa itu tidak sama sekali bebas dari kelemahan zaman itu. Tetapi Roh Yahwe bekerja; kadang kala Roh bekerja meskipun mereka ada kelemahan. Sebenarnya, kelihatannya Yahwe memilih orang-orang yang tidak penting dan tidak terkenal sehingga dapat melihat bahwa kuasa itu berasal dari Yahwe dan bukan dari manusia.”[57]

Simson dalam Hakim-hakim 14:6 dengan mudah mencabik-cabik seekor singa tanpa melukai tangannya sedikitpun, dan juga beberapa tindakan spektakuler lainnya sebagai nasir Yahwe. Daniel memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal akal budi dan hikmat, dan pada jamannya di tengah-tengah bangsa kafir ia dikenal penuh roh para dewa yang kudus (Daniel 4:8; 5:10-12). Mikha menyatakan Roh Kudus dapat memberikan kekuatan, dan tentu saja bukanlah kekuatan yang biasa-biasa (Mikha 3:8).
Pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama cakupannya sangat luas sebagai perwujudan karya Yahwe yang tetap peduli dengan ciptaan-Nya. Hal itu turut membuktikan peran Roh Kudus sebagai Pribadi dalam ke-Tritunggalan Yahwe.

Pneuma Dalam Perjanjian Baru ( INJIL)
Pneuma Dalam Injil-Injil Sinoptik
            “This is how the birth of Jesus Christ came about : His mother Mary was pledged to be marries to Joseph, but before they come together, she was found to be with child through the Holy Spirit” (Mattew 1 : 18) [58]
Dan Juga dalam Lukas 1 : 35 :
            The angel answered : “The Holy Spirit come upon you, and the power of the Most High will over shadow you . Show the holy one to be born will be called the son of God.[59]
Dari dua ayat dalam Injil sinoptik diatas ada hubungan yang erat perihal kelahiran Yesus dengan karya Roh kudus, dan lebih lanjut ketiga injil menceritakan bagaimana Yohanes Pembaptis mengemban misi membaptis dengan Air kemudian Ia menyatakan akan datang lagi mesias yang akan membaptis dengan Roh Kudus.  Semua kitab Injil menceritakan bahwa ketika Roh Kudus turun atas Yesus dalam rupa merpati dan Roh itu juga membawa Yesus ke padang Gurun dan di cobai selama empat puluh hari lamanya, dalam masa pencobaan itu Yesus telah menaklukkan kuasa kegelapan, dengan Kuasa Roh kudus yang di berikan kepada-Nya ( Mat 12 : 28), kedua Injil yang lain melibatkan hal itu dengan menghujat Roh Kudus. Walau Pun dalam Kontek yang berbeda, baik Matius 12:18, maupun Lukas 4:18, merujuk kepada penggenapan Nubuatan bahwa Mesias akan diberkati dengan Roh Kudus.
Kesimpulannya, Injil sipnoptik sepakat bahwa Yesus  dikaruniai Roh untuk memenuhi misi mesianis-Nya, dan bahwa Misi-Nya meliputi karena Roh secara umum, dan bahwa murid-muridnya akan disanggupkan oleh Roh untuk mengatasi segala kesulitan apa saja yang akan mereka temui. Perhatian kita hanya untuk membandingkan dan mempertentangkan ajaran Sinoptik dan Apokaliptik Yohanes.

Pneuma Dalam Injil Apokaliptik Yohanes
            Apa yang digambarkan oleh Injil Yohanes tentang karya Roh Kudus agak berbeda dengan yang digambarkan oleh Injil-injil Sinoptik, walaupun tidak bertentangan. Para penulis Injil Sinoptik menceritakan bagaimana turunnya Roh Kudus kepada Yesus (Yoh 1 : 32-34), tetapi Injil Yohanes memberikan penekanan yang berbeda, hal itu adalah tanda bagi Yohanes Pembaptis, namun seturut dengan catatan yang kemudian menerangkan bahwa Yesus dipenuhi pada saat Dia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. “Yahwe mengaruniakan RohNya dengan tidak terbatas (kepada anakNya). (Yoh 3 : 34). Barrett mengatakan : “ Yesus memiliki Roh supaya Ia dapat menganugerahkannya; dan pemberian roh itulah secara menonjol membedakan antara dispensasi baru dengan yang lama.[60] Roh Kudus yang dianugerahkan kepada Yesus sangat berbeda dengan yang ada pada perjanjian lama tetapi bukan pada system paradoxal melainkan kepada penggenapan dari semua karya Roh Kudus, Yesus memberikan Roh Kudus kepada para Rasul dan murid lainnya dalam kapasitas apokaliptik, agar semua orang yang percaya di penuhi dengan kuasa roh itu sendiri. Setelah Yesus naik ke sorga, penderitaan dan aniaya tak putus-putusnya dialami para pemercaya pada abad pertama, bahkan ada yang mati martir di tangan para ahli agama Yahudi. Stefanus sebagai martir pertama telah memberikan bukti kepada dunia, bahwa roh kudus telah mengubahkan kemanusiaan stefanus menjadi keadaan Ilahi yang mampu mengampuni orang yang bersalah tanpa rasa benci tetapi penuh kasih. Misi mesianis Yesus dalam tahapan awal ini sangat berhasil karena para murid melakukan apa yang diamanatkan kepada mereka.
            Lebih lanjut George Eldon Ladd menyatakan : “ Anugerah pemberian Roh dan berkat yang mengikutinya kepada manusia dinyatakan dalam ungkapan lain; “ Barang siapa percaya kepada –Ku, seperti yang dikatakan oleh kitab suci: dari dalam hati akan mengalir aliran-aliran air hidup (Yohanes 7:38). Ini dikutip sebagai ucapan Yesus. Yohanes menambahkan komentar ini : “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, sebab Yesus belum dimuliakan” (7:39). Yesus adalah sumber air hidup, mereka yang minum air ini tidak akan haus lagi (4 : 14) Namun Yesus akan kembali kepada Bapa dan manusia tidak lagi dapat mendengar Firman-Nya. Sebagai ganti kehadiran-Nya, murid-muridlah yang melanjutkan misi Yesus di dalam dunia, dan Roh Kudus akan diberikan kepada murid-murid sehingga perkataan dan perbuatan mereka bukan lagi tindakan manusia semata-mata melainkan saluran hidup bagi orang-orang yang mendengarkan perkataan mereka dan mempercayainya.[61] Setelah murid-murid menerima Roh Kudus berita keselamatan yang disampaikan Yesus kepada dunia cepat tersebar.  Yohanes memberikan ungkapan kelahiran oleh Roh adalah integrasi vertical antara alam Yahwe diatas dan alam manusia dibawah. Secara jelas Yohanes menegaskan bahwa seseorang yang tidak dilahirkan di dalam roh tidak akan melihat kerajaan Yahwe. Kelahiran dari atas ini sama seperti kelahiran dari air dan Roh. Ide ini menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki hidup secara otomatis atau permanent tetapi Yahwe – lah yang menjadi sumber kehidupan dan itu terlaksana oleh pekerjaan Roh Kudus – Nya. Injil apokaliptis Yohanes ini memusatkan kepada pekerjaan dan karya Roh Kudus yang sangat besar dalam kehidupan manusia.

Parakletos
            Paracletos dalam kitab Yohanes digambarkan sebagai penghibur, dimana ketika Yesus akan meninggalkan dunia manusia Ia menjanjikan seorang penghibur. Sebelum masuk ke dalam pembahasan kata Parakletos berasal dari kata kerja (yunani)  Paracaleō, tetapi dalam bahasa latin diterjemahkan sebagai confortare yang artinya menguatkan dan membentengi. Para Teolog masa kini banyak menemukan pengertian yang banyak dari kata paraclete[62]. Kata Yunani ini memiliki arti kata “advocate” dalam pengertian keadilan, dimana Paraclete menjadi pembela murid-murid di dunia dan dihadapan Bapa di surga.

Karya Roh Kudus Dalam Perjanjian Baru.
            Pada pembahasan sebelumnya kita sudah melihat bagaimana Roh kudus menjadi pusat pemberitaan dalam kitab- kitab Injil Sinoptik dalam karya Muzizat Yesus, dan dalam injil apokaliptis Yohanes juga membuka dengan luas pekerjaan Roh kudus ini. Dalam pembahasan ini kita akan melihat bagaimana karya Roh Kudus secara keseluruhan dalam perjanjian baru. Perjanjian Baru dibuka dengan karya Roh Kudus melalui peristiwa Maria yang mengandung untuk melahirkan Yesus Kristus dalam rangka menggenapi nubuatan yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Lama. Selain di ke empat Injil, eksistensi serta pekerjaan Roh Kudus dicatat semakin meningkat intensitasnya dalam kitab Perjanjian Baru yang lain. Luasnya karya Roh Kudus dengan berbagai cara yang dilakukan-Nya dalam Perjanjian Lama sangatlah luar biasa, dan tidaklah mengherankan bila hal serupa terdapat dalam Perjanjian Baru.[12]

  Roh Kudus Melakukan Pemulihan
Seseorang dapat selamat bukanlah  hasil dari pekerjaan baiknya dalam bentuk amal kesalehan, melainkan melalui imannya kepada Yesus Kristus. Roh Kudus berperan mengadakan pembaruan status orang percaya di hadapan Yahwe dari yang dulunya sebagai budak dosa telah dimerdekakan dan diangkat menjadi anak Yahwe (Yohanes 1:12; Titus 3:5; Roma 8:15). Dalam hal ini Chris Marantika menulis:
“Pengertian teologis untuk istilah ini ialah bahwa setiap orang yang bertobat dari dosa-dosanya dan beriman kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya yang berarti telah lahir baru, diangkat oleh Yahwe menjadi Jemaat keluarga-Nya dan berhak mewarisi Kerajaan Yahwe bersama orang-orang beriman lainnya.”[63]
Proses ini dikenal sebagai tindakan dispensasi dari Yahwe melalui Roh kudus sehingga manusia berdosa itu mendapat kesempatan pemulihan hubungan antara manusia dengan Yahwe. Dosa telah merusakkan hubungan yang pada awalnya baik dan indah tetapi akibat keinginan dan hawa nafsu kedagingan maka manusia kehilangan persekutuan ini. Tidak ada lagi yang benar semua telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Yahwe seperti yang disampaikan oleh Paulus dalam tulisannya kepada Jemaat di Roma, (Roma 3:9–18), Roh Kudus menjadi parakclete bagi manusia dihadapan Yahwe sehingga terjadi pemulihan yang totalitas.

 Roh Kudus Sebagai Pembimbing
Kehadiran Yahwe ditengah-tengah umat-Nya dinyatakan dalam pekerjaan Roh Kudus yang memberikan bimbingan kepada orang percaya. Roh Kudus memberikan hikmat kepada seseorang agar dapat memahami sesuatu yang tidak mungkin dipahami melalui akal pikiran biasa (1 Korintus 2:13). Senada dengan itu Millad J. Erickson menjelaskan:
“Karunia-karunia Roh Kudus diberikan dalam kata-kata yang diajarkan didaktoi~oleh Roh dan bukan oleh hikmat manusia (2:13). Dari semua pertimbangan ini, tampaklah bahwa Paulus tidak mengatakan orang-orang yang tidak rohani itu mengerti tetapi tidak menerima. Sebaliknya, orang-orang yang tidak rohani itu tidak menerima, setidak-tidaknya sebagian, karena mereka tidak mengerti.”[64]
Bahkan dalam 1 Yohanes 2 :27 ditegaskan betapa pentingnya urap an atau pencerahan yang diberikan oleh Roh Kudus untuk mengerti firman Yahwe, sampai-sampai penulis Surat Yohanes menggunakan kalimat “… tidak perlu kamu diajar oleh orang lain.”
Seseorang dapat memiliki kearifan dengan cara mengharapkan dan meminta pertolongan Roh Kudus.[65] Sebab Roh Kudus mampu memimpin dan mengajar untuk memberikan pemahaman terhadap seluruh kebenaran, Ia juga mampu membimbing seseorang bagaimana seharusnya menyampaikan argumentasi mengenai kebenaran (Lukas 12:12; Yohanes 16:13,14; Markus 13:11).


Roh Kudus Memperlengkapi Pelayan
Setiap orang yang dipanggil dan ditetapkan dalam pelayanan dilengkapi oleh Roh Kudus dengan karunia sesuai kebutuhan dalam rangka pembangunan tubuh Kristus (Roma 12:6-8; 1 Korintus 12:7-11). Orang yang dipanggil dalam pelayanan tidak diukur menurut kesanggupan manusiawi yang terbatas, melainkan menurut ukuran pembekalan Roh Kudus yang melimpah.[66] Paul Yonggi Cho menyatakan bahwa:
“Bila ada suatu pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk Yahwe, karunia-karunia Roh Kudus diberikan kepada berbagai orang percaya di dalam gereja, tubuhNya. Ini menyanggupkan orang-orang percaya untuk menyelesaikan pekerjaanNya dan tanggung jawabNya secara berhasil-guna dan pekerjaan itu berkembang karena adanya karunia-karunia Roh Kudus.”[67]
Dengan demikian karunia yang diterima oleh seseorang bukanlah diperuntukkan bagi kepentingan dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan perluasan Kerajaan Yahwe[18](Band. dengan Kisah Para Rasul 1:8). Jadi efektifitas pelayanan sangat tergantung kepada karunia Roh Kudus dan motivasi pelayanan yang bertujuan untuk membangun tubuh Kristus.

 Roh Kudus Menguduskan
Rasul Paulus menghubungkan hidup dalam Roh yang terjadi dalam diri seseorang dengan kemampuan yang diterima dari Roh untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging (Roma 8:9-13). Kekudusan dihubungkan dengan mematikan perbuatan daging dengan tujuan untuk mendapatkan kualitas moral yang benar. Dalam hal ini Bruce Milne menulis:
“Hal ini menggarisbawahi kenyataan bahwa tidak mungkin memisahkan krisis pembaruan dari perubahan moral yang menyusul. Menurut istilah teologi, pembenaran … tidak dapat dipisahkan dari pengudusan (proses perubahan moral sepanjang hidup untuk lebih mendekati citra Kristus).”[68]
Paulus menjelaskan kepada jemaat di Galatia tentang hidup oleh Roh dengan ditandai tidak hidup menurut keinginan daging. Perbuatan daging yang dimaksudkan adalah percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Galatia 5:11-21). Roh Kudus menolong orang percaya melepaskan diri dari ikatan perbuatan daging dan memimpinnya untuk hidup dalam kekudusan.
 
 Roh Kudus Mengilhamkan Penulisan Kitab Suci
Bertitik tolak dari penjelasan Yesus Kristus tentang Roh Kudus (Yohanes 14:26 dan 16:13), bahwa Roh Kudus-lah yang akan mengajar apa yang difirmankan Yesus, dan memberitahukan hal-hal yang akan datang, maka peran Roh Kudus dalam penulisan Kitab Suci menjadi sangat penting.
Rasul Petrus dan Rasul Paulus mempercayai otoritas Roh Kudus dalam memberikan pengilhaman untuk terwujudnya penulisan Alkitab (2 Petrus 1:21; 2 Timotius 3:16). Karena dorongan untuk menulis berasal dari Roh Kudus, para pembaca harus memperhatikan nubuatan sebagai firman Yahwe. [69] Tentang peran Roh Kudus dalam pengilhaman Kitab Suci Henry C. Thiessen memberi penegasan bahwa:
“Para Rasul menyatakan bahwa mereka telah menerima Roh ini (Kisah 2:4; 9:17; 1 Korintus 2:10-12; 7:40; Yakobus 4:5; 1 Yohanes 3:24;  Yudas 19) dan bahwa mereka berbicara karena dipengaruhi oleh Roh serta atas nama Roh itu (Kisah 2:4; 4:8, 31; 13:9; 1 Korintus 2:13;          14:37; Galatia 1:1,12; 1 Tesalonika 2:13; 4:2, 8; 1 Petrus 1:12; 1     Yohanes 5:10-11; Wahyu 21:5; 22:6,18-19). Jadi dapat dikatakan bahwa Tuhan Yesus sendiri menjamin pengilhaman Perjajian Baru.” [70]



 Roh Kudus Meneruskan Pelayanan Yesus
Tuhan Yesus menegaskan bahwa kehadiran Roh Kudus bertujuan menindaklanjuti karya penebusan terhadap orang berdosa yang telah dikerjakan-Nya dengan cara menginsafkan dan menjelaskan kebenaran akan adanya penghakiman di akhir zaman (Yohanes 16:7, 8). Harun Hadiwijono menyatakan hubungan Roh Kudus dengan Yesus Kristus sebagai berikut:
“Jadi ada hubungan yang erat sekali di antara karya Kristus sebagai Anak Yahwe dan karya Roh Kudus sebagai kekuatan ilahi atau daya ilahi. Hubungan itu demikian eratnya, hingga Roh Kudus juga disebut Roh Kristus (1 Ptr. 1:11). Kristus mendatangi para orang milikNya di dalam Roh dan di dalam Roh itulah Ia bersama-sama dengan mereka.”[71]
Bahkan sebelum naik ke sorga Yesus Kristus menyampaikan wasiat tentang Roh Kudus yang akan memberikan dinamika pekabaran Injil (Kisah Para Rasul 1:8).

 Roh Kudus  Memberi kuasa
Saat menyampaikan argumentasi mengenai asal-usul kuasa yang dipakai-Nya untuk mengusir Setan, Tuhan Yesus mengakui Roh Kudus-lah yang memberi-Nya kuasa (Matius 12:28). Rasul Paulus juga mengakui dalam menyusun strategi pekabaran Injil ia mempergunakan cara mendemontrasikan kuasa di dalam kekuatan Roh Kudus (1 Korintus 2:4, NIV). Hal itu dibuktikan Rasul Paulus pada saat ia mempergunakan otoritas Roh Kudus untuk menghardik tukang sihir, dan menjadikannya buta dalam beberapa hari (Kisah Para Rasul 13:9-12; 1 Yohanes 4:4). Mengenai Roh Kudus yang mampu memberikan kuasa James I. Packer menyatakan:
“Kedatangan Kristus, Sang Juruselamat, telah membawa pencurahan Roh Kudus kepada Gereja dan dunia. Roh Kudus datang dengan kuasa. Dalam Perjanjian Baru, kita melihat kuasa ini diwujudkan di dalam semua cara yang disebut di atas: kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah ditetapkan dan kemampuan untuk mengatasi pencobaan, dan kemampuan memenangkan orang lain melalui pemberitaan firman Tuhan dan kesaksian, dan kemampuan untuk bertindak sebagai saluran kuasa Yahwe dalam berbagai mujizat, penyembuhan, dan lain sebagainya.”[72]

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Roh Kudus hadir secara berkesinambungan ditengah kehidupan manusia yang dapat dilihat dalam karya-Nya, dan dapat dirasakan kehadiran-Nya sebagai Pribadi. Kesimpulan lain yang bisa didapat Roh Kudus yang berkarya dalam Perjanjian Lama tidak lain Roh Kudus yang sama seperti didalam Perjanjian Baru. Hanya saja dalam Perjanjian Baru intensitas kehadiran dan karya Roh Kudus lebih banyak jumlahnya. Beberapa perbedaan yang terdapat dalam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru pada dasarnya tidaklah sebanding dengan banyaknya kesamaan yang prinsipil. Oleh karena itu rasanya tidak adil apabila penilaian dijatuhkan dengan hanya bertumpu pada perbedaan yang kecil, bahwa Roh Kudus dalam Perjanjian Lama berbeda dengan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru.

LAHIR BARU
            Untuk dapat memahami pengertian tentang frase “Lahir Baru” maka harus dilihat latar belakang yang menyebabkan peristiwa kelahiran frase ini, mengapa ada peristiwa yang demikian. Hal ini tidak bisa lepas dari peristiwa pra sejarah di Taman Eden, Eden adalah saksi dimana manusia yang pada awalnya dipenuhi oleh kemuliaan Tuhan, tetapi kemudian terjerembab dalam kehinaan dosa, sejak itu manusia hidup dalam kedagingan yang dikendalikan oleh hawa nafsu. Keberdosaan manusia ini yang kemudian dipahami sebagai kehidupan lama, Daud dalam Maz 51 : 7 mengatakan : “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku”  ini adalah sebuah penyataan tentang keberdosaan manusia. Manusia, akhirnya membutuhkan sebuah jalan untuk mendapatkan keselamatan. Dalam Perjanjian Baru doktrin keselamatan ini lebih banyak disampaikan oleh Paulus dalam setiap surat kiriman. Baiklah kita melihat pokok pikiran Paulus dalam doktrin keselamatannya. Keselamatan dalam peikiran Paulus tidak lepas dari pemahaman Paulus tentang Dosa, Indikasi tentang pemikiran ini dapat dilihat bagaimana Paulus menerangkan hidup sebelum dan diluar Kristus, serta modus eksistensi manusia dalam konteks hidup itu, khususnya saat dia memakai kata “dunia” (kosmos) atau “ dunia ini” dan “aeon” (yang sekarang) ini. Kedua kata ini berperan penting dalam cara pikir Paulus yang berorientasikan sejarah penebusan. Kedua kata ini menggambarkan totalitas hidup di luar Kristus yang belum ditebus dan masih dikuasai dosa – kosmos lebih berkonotasi ruang, sementara aeon lebih berkonotasi waktu.[73]
             Dosa masa masa lampau dan dosa masa kini telah mencengkram kehidupan manusia, proses pengembalian/pemulihan hubungan dengan Yahwe adalah suatu tindakan yang merupak respon dari manusia atas anugerah dari kemurahan kasih Bapa kepada manusia, dalam hal ini Yahwelah yang ber inisiatif dan manusia merespon dengan memberikan hatinya untuk Yahwe, hal ini disebut peristiwa pertobatan. Setelah seseorang mengalami pertobatan maka ia akan terus menalami tingkatan demi tingkatan menuju kelahiran baru (lahir baru). Ada kesalahan di kalangan Kristen belakangan ini jika ia menerima Kristus sebagai juruselamat pribadi  maka ia telah mengalami peristiwa lahir baru.
            Urutan yang tepat ialah seseorang harus beriman dulu seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam Roma 10:9, ada tiga kata yang harus diperhatikan yaitu kata : “homologeses (pengakuan)”,”pisteuses (percaya)” dan “souteses (keselamatan)”. Dari ketiga kata diatas maka ada tingkatan yang harus dialami yang berlangsung secara berkesinambungan tak terputus. Homologeses adalah sebuah tidakan responsive atas anugerah Yahwe yaitu memberikan hati, dalam bahasa inggris diakatakan “surrounded” penyerahan total. Jika seseorang tidak menyerah secara total dibawah kekuasaan Yahwe maka dia tidak akan pernah mengalami namanya kelahiran baru. Penyerahan/pengakuan itu digerakkan oleh kepecayaan kepada keberadaan Yahwe yang maha suci, menundukkan logika dan melebur dalam kemuliaan Yahwe yang Maha Kudus. Jika sudah melebur maka ia akan mendapatkan keselamatan total, bukan sebagian atau sedikit saja tetapi total.
Seringkali orang yang sudah dikenal menerima Yesus tetapi kembali kepada kehidupan lamanya, ada orang yangmengatakan bahwa jika seseorang telah menerima Yesus sebagai Juruslamat pribadi maka ia berhak menjadi ahli waris, ini adalah pandangan sesat yang di tanamkan oleh Iblis. Keselamatan atau menjadi ahli waris adalah suatu proses berkesinambungan tidak terputus dan itu terus bekerja hingga kedatangan Tuhan dalam hidup kita di masa kini atau kedatangan Yesus kedua kali di masa yang akan datang. Paulus pernah menuliskan kepada jemaat di Filipi agar tetap mengerjakan keselamatan mereka dalam takut akan Tuhan (2:12).

Pertobatan Sebagai Pintu Menuju Pemulihan
Keselamatan adalah suatu proses pemulihan relasi yang benar dengan Yahwe melalui pembenaran, pendamaian dan pengangkatan sebagai anak. Keselamatan bukan hanya pemulihan relasi tetapi pemulihan seluruh hidup dalam pengertian yang menyeluruh.[74]. Kebenaran Yahwe yang yang dinyatakan dalam kristus adalah kebenaran yang memimpin kepada hidup, dalam pengertian yang menyeluruh (Roma 5 : 18). Seseorang jika ingin memiliki hubungan yang diubahkan secara total maka ia harus berbalik kepada Yahwe, dan meninggalkan segala kehidupan lamanya. Ada kiasan babi jangan kembali ke lubang, atau anjing kepada muntahnya. Tetapi sering kali kehidupan para petobat selalu jatuh kelubang yang sama sepanjang perjalanan hidup mereka. Bertobat juga mengubah haluan atau kiblat tujuan hidup, dari  dunia menjadi berpusat pada Yahwe.
            Mematikan kedagingan adalah hal yang utama dalam proses pertobatan. Sebab ada ungkapan “Dahulu kamu telah mati bagi dosa, menyerah dan takluk kepada kehendak dosa” . Mati bagi dosa tidak merujuk kepada realitas etis atau mistis. Berdasarkan konteks ini adalah awal dari sejarah penebusan yang dilakukan oleh Yesus, kita semua dibaptis dalam Kristus telah dibaptis dalam kematian-Nya. Paulus lebih eksplisit mengenai pertobatan ini dalam Kolese 3 : 5 dikatakan :” Karena matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi ...”[75]

HIDUP BARU
Manusia telah terbelenggu dalam dosa, upah dosa ialah maut. Yang berarti manusia telah binasa dalam belenggu dosa, sebelum di jabarkan pada sub bab ini maka harus dipahami dulu esensi dosa itu. Supaya kita dapat memahami soteriologi yang di sampaikan oleh Paulus dan kaitannya dalam karunia Roh Kudus yang disampaikan oleh Yesus, dosa adalah tesis dari kelemahan jasmaniah manusia, yang cenderung melakukan dan terpikat didalam dosa sehingga mengakibatkan kematian dalam dua level kehidupan diatas dan di bawah, kalau kita dapat mengatasi dosa dan menang atas segala godaan  dosa maka tubuh kita mendapat kesempatan untuk mengalami pemuliaan dalam Kristus tetapi jika kita tenggelam dan tertanam dalam dosa maka penghakiman yang akan diterima manusia. Oleh sebab itu manusia harus mengalami proses pemulihan relasi dengan Yahwe, supaya menjadi Ahli waris, seperti yang disampaikan oleh Yohanes dalam  1 : 12, setiap pribadi yang menerima Yesus dan mengakui sebagai Anak Yahwe maka pribadi itu menjadi pewaris kehidupan dalam surat 1 Yoh 5 : 11 – 12 menyatakan : Dan inilah kesaksian itu, Yahwe telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita, dan hidup itu ada didalam Anak-Nya, barang siapa yang memilki anak maka Ia memiliki hidup, barang siapa tidak memiliki anak maka ia tidak mememiliki hidup, oleh sebab itu eksistensi kematian Kristus adalah bentuk dari penaklukan tubuh yang berdosa, sehingga dosa ditanamkan dalam kematian, dan eksistensi kebangkitan kristus adalah bukti bahwa dosa tidak dapat menghalangi kebenaran dan kemuliaan Yahwe yang diberikan kepada Yesus sebagai anak-Nya yang tunggal. Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan sebuah tanda dan jaminan bahwa Yahwe telah membuktikan kepada dunia keberadaan dari eksistensinya.

Makna Dosa Dan Penaklukannya
Dosa berada didalam dunia sehingga dosa itu bersifat Universal, Adam sebagai manusia pertama yang berdosa maka seluruh umat manusia menerima dosa yang diturunkan oleh Adam, tidak ada lagi manusia yang tidak berdosa, sebab dosa telah ditaburkan dalam kefanaan tubuh manusia. Ada banyak agama menolak dosa keturunan atau dosa warisan  seolah dosa itu terjadi ketika manusia telah akil balik, yang menjadi pertanyaan adalah jika manusia lahir dalam keadaan tidak berdosa, maka kapan dia melakukan dosa?. Logika  menyatakan jika manusia dalam keadaan suci lahir, maka dia akan tetap dalam keadaan suci, sebab kesucian itu tidak akan ternoda oleh apapun. Apa yang suci akan melahirkan kesucian, tetapi daging akan melahirkan daging. Kesucian itu bukan keadaan lahiriah tetapi berada dalam kondisi karakter manusia yaitu moral. Jika moral kita subsitusi menjadi jiwa maka jiwa manusia juga sudah dirusakkan oleh dosa, kerusakan moral yang sedemikian telah ditunjukkan oleh manusia kafir zaman purba ( Manusia seangkatan Nuh), Masyarakat Sodom dan Gomora, kemegahan palsu Yudaisme,  semua ini telah dinyatakan dalam Roma 1:18–3:20. Kerusakan yang dibuat oleh dosa menyebar seperti kanker ganas yang tidak mengenal batas, semua level kehidupan manusia telah gelap gulita akibat dosa. Kecenderungan inilah yang menimbulkan kehancuran diseluruh dunia, kefasikan, percabulan, dusta dan kenistaan menjadi pilihan manusia didunia. Oleh sebab itu dosa harus ditaklukkan secara fundamental agar efek dan residu dari dosa telah membuat manusia cenderung berbuat dosa lagi.
Dalam Kitab suci tertulis : “ Tidak ada yang benar, seorangpun tidak, tidak seorangpun berakal budi, tidak seorangpun mencari Yahwe. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna ...” (3:10–20, bdk 2:24). Apa yang disampaikan oleh Paulus dalam ayat-ayat diatas bukan menunjukkan kepada dosa pribadi tetapi lebih dari itu Paulus ingin menunjukkan kuasa dosa dan natur dari asal mula dosa  dan solidaritas implikasi dosa.
Jika sudah diketahui universalitas dosa, natur, asal mula dosa dan solidaritas penyebab dosa, maka yang menjadi pertanyaan bagaimana menaklukkan dosa. Dosa terjadi dan berakar serta mencengkram seluruh entitas dan identitas manusia. Pemahaman asal mula dosa harus menjadi titik tolak dari penaklukan dosa itu sendiri.  Dalam Ensiklopedi Perjanjian baru, makna dosa diterangkan sebagai berikut :  Dalam bahasa Yunani dosa diterangkan dengan pengertian hamart (dipakai 296 kali). Harmatia bermakna lebih luas daripada kata adikia artinya kejahatan yang berkaitan dengan kosa kata yuridis (muncul 22 kali) dari pada kata parabasis ( dari kata para-bainô : berjalan disamping, melanggar”) yang berkaitan dengan pelanggaran ketetapan-ketetapan ilahi (14 kali). Berbeda dengan  dunia Yunani dimana kata kerja hamartano : “ menyimpang dari sasaran” tidak mengandung makna “kejahatan”, melainkan hanya kekeliruan atau pengaruh takdir belaka, maka PL menghubungkan dosa secara erat mengenai hubungan manusia dengan Yahwe, sehingga berdosa berarti tidak setia kepada “Perjanjian”, searti dengan menghianati “Kasih” dan memisahkan diri dari Jemaah. Tidak ada obat untuk menyembuhkan dosa selain pengampunan Yahwe yang kudus, dan ini berarti perlu mengadakan pendamaian dengan Yahwe.
            Untuk menaklukkan dosa maka manusia harus menaklukkan diri dalam kemuliaan Yahwe, searti dengan pertobatan dari kehidupan berdosa, pertobatan itu bukan hasil usaha manusia melainkan karya Roh Kudus ( akan kita bahas nanti). Untuk menyelamatkan manusia itu bukan inisiatif manusia, agama, kepercayaan apapun. Keberdosaan berarti menentang  ke mahakudusan Yahwe, ke mahamuliaan Yahwe. Untuk pengampunan hanya Tuhan sendiri yang bisa mengampuni manusia. Inisiatif ini dilakukan oleh Yahwe dengan mengutus Firman-Nya menjadi manusia, manusia berdosa hanya dapat ditebus dengan korban manusia, bukan hewan atau benda apapun. Oleh sebab itu dispensasi yang diberikan oleh Yahwe melalui manusia Yesus adalah bukti bahwa Yahwe begitu mengasihi manusia sebagai mahkota ciptaan-Nya.

Satu Dalam Kematian Dan Kebangkitan Kristus
Terminologi keselamatan ada dalam kematian dan kebangkitan Kristus, karena apa yang telah disalibkan diatas kayu salib maka itu adalah akhir dari penaklukan atas dosa. Kekuasaan dosa berada dalam ranah jasmaniah yang terintegrasi dengan ranah rohani. Sebab apa yang ada di alam rohani maka itu yang nyata di alam jasmani. Kematian Kristus adalah bentuk bagaimana kekuatan dosa di setiap level kekuasaannya telah dihancurkan. Kita telah mati bersama dengan Kristus maka kita pun akan menjadi sama dengan kebangkitan Kristus, Paulus lebih radikal lagi mengemukan dalam hukum subsitusi dispensasi menyatakan bahwa jika seorang telah mati bagi seluruh manusia maka manusia juga telah mati dalam dosa, tetapi jika oleh satu manusia tersebut telah mengalahkan kematian maka seluruh manusia berhak mendapat kehidupan, tetapi bagi mereka yang percaya saja, jika tidak percaya maka penghukuman dalam penghakiman tetap berlanjut. Tetapi orang yang satu dengna Kristus mereka tidak mendapatkan pehukuman lagi melainkan kehidupan kekal dalam nama Bapa yang dikaruniakan atas nama Yesus Kristus. Menjadi satu dalam bahasa Yunani dikatakan symphytoi gegonamen, untuk frase ini merujuk kepada baptisan dan menyatakan bahwa kita telah menjadi satu dengan konteks – hidup yang Kristus wakili sebagai Adam terakhir.

PEMBAPTISAN DALAM ROH
Perkataan Dibaptis oleh Roh Kudus dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis, pada saat ia mengumandangkan pertobatan, “ aku membaptis kamu dengan air tetapi Ia (Yesus) akan membaptis kamu dengan Roh Kudus”, sebelum di bahas lebih lanjut maka kata dibaptis harus di pahami dahulu, agar tidak menyimpang artinya. Dalam bahasa Yunani dikatakan  baptisma/baptismos dari bapto, sebuah kata kerja yang kian hari kian dibatasi artinya, sampai mulai berarti mewarnai hingga lama kelamaan diganti dengan baptize : “membasahi, membenamkan didalam…”[76], oleh sebab itu jika arti kata baptizo, ditenggelamkan maka pembaptisan haruslah dilakukan dengan penenggelaman, jika tidak ditenggelamkan maka hal itu bukan baptisan, banyak gereja hanya melihat dari sudut praktisnya saja dalam pelaksanaan pembaptisan, gereja protestan juga melaksanakan pembaptisan tetapi pada saat anak masih bayi, kenapa muncul traidsi ini juga tidak diketahui. Yohanes sebagai pendiri pelaksanaan upacara baptis justeru membaptis orang yang sudah dewasa, maksudnya agar dalam setiap keputusan yang mereka ambil, mereka telah memahami apa yang telah mereka lakukan, tetapi banyak gereja masa kini justeru menentang tradisi Yohanes. Oleh sebab itu setiap orang yang dibaptis tanpa tahu arti dari baptisan maka harus dibaptis ulang, baptis ulang bukan dosa.
            Pembaptisan adalah menyucikan diri dari dosa[77] dalam artian ia adalah awal titik balik kepada Tuhan, ada undangan untuk bertobat, oleh sebab itu jika tujuan utama dari pembaptisan adalah bertobat, maka hanya orang yang sudah dewasa secara psykologi dan kognitif yang dapat melakukan itu, bukan anak-anak dibawah dua tahun. Hal yang paling penting adalah Baptisan merupakan pralangkah kepada pembaptisan Roh dan Api yang dilakukan oleh Yesus, untuk mencapai pertumbuhan dan level iman maka seseorang harus di baptis didalam Roh dan Api.  Baptisan Roh adalah pintu masuk ke dalam  kehidupan Roh yang lebih dalam. Pengalaman Pentakosta pada Gereja Mula-Mula adalah satu bukti forensic yang nyata dan tak terbantahkan, dimana kehidupan orang yang pada mulanya biasa dan tidak ada yang istimewa tetapi ketika mereka menerima baptisan roh maka seluruh kehidupan mereka berubah. Horton dalam bukunya Bible Says : Baptisan Roh kudus merupakan permulaan penuaian dan membawa kaum laki-laki dan perempuan kedalam persekutuan untuk beribadah, mengajar, dan melayani, begitulah baptisan dalam Roh Kudus  hanya pintu kedalam hubungan yang lebih meningkat dengan Roh dan dengan orang-orang percaya lainnya. Baptisan ini memimpin kepada hidup pelayanan dimana karunia-karunia Roh menyediakan kuasa dan hikmat untuk menyebarkan Injil dan bagi pertumbuhan gereja. Ini ditunjukkan oleh pesatnya penyebaran Injil ke banyak daerah di dunia sekarang ini. Berbagai pemenuhan baru, pengarahan baru untuk pelayanan harus diharapkan sewaktu berbagai kebutuhan baru muncul, dan sebagaimana Yahwe dalam kehendak-Nya yang Mahatinggi akan melaksanakan rencanaNya[78]

Tanda – Tanda Baptisan Roh Kudus
Tanda baptisan roh kudus berbeda dengan karunia atau karya roh kudus, sebab seringkali orang menganggap sama kedua hal ini.  Pada hari Pentakosta, ada dua tanda yang mendahului pencurahan Roh Kudus yaitu, mereka mendengar tiupan angin keras dan tampaklah lidah-lidah  seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing (Kis 2 : 2-3), tanda khusus ini tidak terulang lagi pada mereka yang dibaptis dengan Roh Kudus pada waktu kemudian. Itu adalah tanda sulung dari baptisan, tidak ada yang menerima lagi di kemudian hari.
Kenapa kita harus dibaptis Roh Kudus? Banyak gereja protestan alergi mendengar baptisan Roh Kudus, seolah itu bertentangan dengan Dasar Iman Kristen pada umumnya, tetapi sesungguhnya musuh kita telah menyelubungi hati mereka untuk tidak melihat kebenaran, sehingga Iblis menang terhadap kekristenan, sehingga banyak iblis melakukan penuaian besar terhadap manusia untuk dipanen keneraka.
Kembali keperistiwa Pentakosta pertama, mengapa hal itu terjadi? Ini adalah penggenapan dari nubuatan Nabi Yoel yang mengatakan :
"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu. Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu. Dan barang siapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas." (Yoel 2:28–32)

Nubuatan ini telah disampaikan oleh nabi yoel ratusan tahun sebelumnya, jika hal baptisan Roh Kudus tidak penting bagi Yahwe maka Ia tidak akan menyampaikan itu kepada Nabi Yoel. Setiap orang harus dibaptis oleh Roh Kudus tanpa pengecualian. Dari nubuatan Yoel diatas ada 7 tanda yang disampaikan oleh Yahwe melalui Yoel yaitu : nubuat, mimpi, dan pengelihatan itu terjadi di dalam manusia, dan kedua adalah darah, api, gumpalan-gumpalan asap, bulan menjadi darah, empat hal yang terjadi diluar manusia (dunia). Dalam Kis 2 itu  3 hal yang pertama sudah digenapi oleh Yahwe, 4 hal sedang berlangsung, sampai kedatangan Yesus kedua kali. Oleh sebab itu para teolog menyimpulkan bahwa di dunia ini ada tiga Zaman yang berlangsung, Zaman Bapa, Anak dan Roh Kudus, pada masa kini disebut sebagai zaman Roh Kudus. 

Berbahasa Roh
Pada bagian sebelumnya kita sudah melihat beberapa tanda fisik yang menyatakan baptisan Roh Kudus, lebih dalam kita akan melihat tanda fisik lainnya dalam peristiwa pentakosta, yaitu bahasa roh. Pertentangan akan ba hasa roh ini juga banyak menimbulkan kontroversi. Ada yang mengatakan bahwa bahasa roh itu tidak penting, hanya gereja-gereja pentakosta saja yang mengedepankan pengajaran perihal bahasa roh. Dalam disertasi ini akan disajikan perihal Bahasa Roh ini.
Bahasa Roh ini adalah antithesis dari peristiwa menara babel, pada masa itu terjadi Yahwe mengacaukan “bahasa mereka” dalam bahasa ibrani disebut shapetem (μtpc ) yang merujuk kepada komunikasi verbal. Dalam bahasa Yunani disebut :
(1)   dialektos (bahasa suatu bangsa atau Negara) pada Peristiwa pentakosta masing-masing orang yang ada disitu mendengar para Rasul berbahasa dalam bahasa ibu mereka.( Kis 1 : 19; 21 : 40; 22 : 2; 26 : 14; Kis 2 : 6-8).
(2)   Glossa (lidah) : bahasa  dengan lidah berarti manusia menyampaikan atau menyatakan perasaan – perasaan hatinya. Dengan menggunakan lidah pula manusia dapat mempermuliakan Yahwe, tetapi juga mengutuk sesama manusia, dan menyembunyikan kemiskinan maksud-maksud hidupnya yang tidak diketahui (Kel 11 : 7; Mzm 22 : 16; Mark 7 : 33-35; Luk 1 : 64; 16 : 24; Why 16 : 10)
Dengan dirusakkanya bahasa manusia dalam peritiwa menara babel itu menjadi bukti bahwa manusia tidak dapat lagi berkomunikasi dengan manusia lainnya yang berbeda bahasa, tetapi yang lebih penting adalah bahwa hubungan manusia dengan Yahwe telah terputus secara total. Oleh sebab itu peritiwa pentakosta adalah anti tesis dari peritiwa babel, jika di babel terjadi pemisahan tetapi di pentakosta terjadi penyatuan Integration System  dimana sesuatu yang terputus telah kembali dipulihkan. Tetapi dengan berbahasa roh itu adalah bukti hubungan manusia dengan Yahwe telah juga mengalami pemulihan. Setiap orang yang dibaptis dengan roh kudus secara fisik itu ditandai oleh berbahasa roh/lidah asing.  Untuk dapat dimengerti oleh pendengar itu adalah hanya sekali dinyatakan oleh Roh Kudus hanya pada peristiwa pentakosta. Paulus menekankan mengenai bahasa roh dalam 1 Korintus 14 : 2 , “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Yahwe. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia”. Berkata kata dalam bahasa roh adalah berkata-kata kepada Yahwe, bukan kepada manusia.  Yang berarti hubungan secara rohani dengan Yahwe melalui Roh Kudus telah dipulihkan. Seseorang yang bertobat tetapi belum berbahasa roh maka itu adalah pertobatan yang tanggung artinya hanya memasuki pintu masuk ibarat kalau memasuki rumah hanya di depan pintu, pintunya telah dibukakan tetapi tidak masuk ke dalam rumah. Pandangan yang mengatakan tidak perlu berbahasa roh adalah pandangan yang salah. Bahasa roh bukan karunia tetapi ia adalah tanda seseorang telah menjadi milik yahwe didalam Kristus sama artinya dengan baptisan air. Yesus mengatakan hal tersebut kepada Nikodemus jika ingin melihat kerajaan Yahwe harus dilahirkan kembali, dalam air dan Roh. Jika kita mengamini baptisan air mengapa harus menentang baptisan roh. Padahal itu menjadi satu kesatuan yang wajib bagi setiap orang percaya.

HIDUP OLEH ROH
Tahapan dalam pengajaran tentang Roh Kudus adalah hidup di dalam Roh, kehidupan orang percaya adalah kesinambungan dan bertingkat, ketika seseorang menjadi percaya maka dia harus menyerahkan dirinya untuk bertobat, dan setelah bertobat memberikan diri dibaptis dalam air dan dalam roh, tahapan berikutnya adalah hidup di dalam roh. Banyak orang setelah menjadi petobat baru tidak memelihara kehidupan rohani mereka dengan baik hal ini disebabkan pemahaman yang kurang tentang karya dan karunia Roh Kudus. Jika kita telah dibaptis dalam Roh Kudus maka kita harus hidup di dalam roh, kita harus menjadi tawanan roh.  Dalam Kisah Para Rasul  20:22  Paulus mengatakan : “Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ” dalam pernyataan ini Paulus menggambarkan bahwa sejak dia di penuhi oleh Roh Kudus seluruh aspek hidupnya dikendalikan oleh Roh kudus. Lebih lanjut Paulus menunjukkan kepada kita suatu sejarah penebusan dan pneumatic tidak saling bersaing dalam doktrin keselamatan Paulus. Roh adalah pembuka dan anugerah aeon baru yang datang bersama Kristus. Oleh sebab itu perbedaan daging dan roh jangan dilihat sebagai perbedaan secara metafisika ataupun antropologis tetapi sebagai perbedaan dalam sejarah penebusan, yaitu sebagai dua prinsip yang menguasai dua aeon yang dipisahkan oleh kedatangan Kristus.  Karena itu, konsep Paulus tentang Roh tidak mengikuti jejak “pneumatologi” helenistik, seolah –olah disana bukan di perjanjian lama. Perjanjian Lama melihat Roh sebagai kuasa Yahwe yang mencipta dan memperbarui seluruh eksistensi jemaat, dan bukan sekedar sebagai sumber bagi tanda, keajaiban dan kuasa. Perjanjian Lama melihat Roh sebagai Kuasa yang mencipta dan memperbarui anugerah perjanjian baru, milik Mesias yang akan datang, prinsip hidup bagi umat yang akan datang.

Pengudusan
Keberdosaan manusia telah membuat kondisi kehidupan manusia tercemar dan kehilangan kemuliaan Yahwe, dosa telah mengikat manusia manusia dalam kelaliman. Sehingga Paulus dengan jelas menunjukkan kondisi manusia berdosa itu. Ketika kita bertobat, lahir kembali, kita dilepaskan dari kelaliman akibat dosa. Tetapi bagaimana dengan kehidupan Kristen setelah peristiwa ini ? Dapatkah seorang Kristen berbuat dosa? Adakah untuk hidup setelah kemenangan sesungguhnya? Pertanyaan-pertanyaan yang amat praktis ini muncul dibawah doktrin pengudusan (Yunani ; Hagiasmos). Setelah pertobatan dalam hidup kita, Yahwe menginginkan pengudusan dalam hidup kita. Ada tertulis “Kuduslah kamu sebab Aku Kudus”  ( I Ptr 1 : 13-16; Im 20 : 7). Hubungan dengan Yahwe bukanlah hubungan sebatas prinsip tetapi seluruh totalitas hidup manusia yang telah dipersatukan dengan Yahwe. Alkitab memperlihatkan bahwa dalam satu aspek pengudusan berkaitan dengan kedudukan dan terjadi dalam seketika: dalam apek lain, pengudusan bersifat praktis dan bertahap.[79]
Yang terpenting adalah bahwa Roh Kudus melakukannya dalam hidup kita secara bertahap, continuous level, proses pengudusan bukan seketika dam meyeluruh tetapi bertahap seiring pertumbuhan akal budi kita, sebab hidup itu adalah pilihan yang diberikan Tuhan kepada manusia, jika kita memiliki pilihan untuk hidup dalam kekudusan maka Roh Kudus akan melakukan pengudusan dalam hidup manusia. Dalam bahasa Ibrani dan Yunani untuk kata “pengudusan”, ”orang suci”, ”pengabdian”, ”penahbisan”, ”dan Kekudusan” semuanya berhubungan dengan gagasan pemisahan[80].
            Pemisahan dari kehidupan lama memasuki kehidupan baru, prinsip pengudusan adalah dipisahkan dari dosa supaya melakukan penyembahan dan pemuliaan Yahwe, penyembahan harus dilakukan dengan rasa hormat dan sukacita untuk pelayanan kepada Yahwe. Dalam perjanjian lama telah digambarkan tipologi perbandingan dimana didalam kemah di tabernakel telah dinyatakan bahwa Yahwe disembah di Ruang Maha Kudus, sedangkan umat dan para imam dengan jabatan lebih rendah berada di halaman dan ruang kudus. Jelas sekali pemisahan antara hal yang tidak kudus dengan yang kudus. Apa yang dipersembahkan kepada Yahwe harus dipisahkan secara khusus, yang menekankan kekudusan Oknum yang menerima penyembahan demikian. Pengabdian positif itu kepada Yahwe selalu merupakan tekanan yang utama. Misalnya, benda-benda kudus yang digunakan dalam kemah suci dan bait suci dipisahkan penggunaannya  dari penggunaan biasa. Benda – benda itu tidak boleh dibawa pulang untuk digunakan dirumah orang Israel, bukan itu yang membuat kudus tetapi penggunaannya  sungguh-sunguh untuk peribadatan menyembah Tuhan.
            Paulus dalam tulisan kepada jemaat di Roma mengatakan bahwa “tubuh harus menjadi persembahan yang sejati” lebih lanjut Paulus memberikan penjelasan untuk hal ini “ supaya tidak serupa dengan dunia, tetapi berubah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Yahwe : apa yang baik, yang berkenan kepada Yahwe dan yang sempurna”  Roma 12:1–2. Pemisahan adalah suatu proses yang terus berkelanjutan dan menuju kepada kesempurnaan.
            Roh Kudus menghendaki kita sempurna dalam pengenalan akan Yahwe, sehingga kita dapat memiliki akal budi yang membedakan manakah kehendak Yahwe.  Masih dari ayat diatas ada tiga hal yang menjadi fokus pengudusan yang dilakukan oleh Roh Kudus. Hal yang pertama adalah pengudusan yang dimulai dari saat kita mulai menjadi Kristen. Ini merupakan cara Yahwe melakukan pembenaran, bagi manusia yang berdosa. Setiap orang yang berdosa telah menjadi budak/hamba dosa yang hidup dibawah perintah dosa. Dengan pertobatan kita mengalami pemindahan dari gelap menuju terang. Dan pemindahan ini memasukkan kita ke dalam dapur pengudusan dimana api yang berkobar itu adalah api roh kudus yang terus membakar kita hingga benar-benar menjadi suci, ibarat emas yang dimurnikan dengan api.
            Hal yang kedua adalah pertumbuhan rohani, setiap pribadi yang telah dikuduskan sejak awal pertobatan maka ia harus bertumbuh. Dan pertumbuhan yang diharapkan adalah jika orang yang dewasa dalam pengudusan menjadi orang yang sabar sama seperti Yahwe yang begitu sabar menghadapi para petobat baru, pertumbuhan ini adalah tingkat kedewasaan yang menghasilkan buah-buah sesuai pertobatan.   Yang menandai kesempurnaan yang sesungguhnya dari seorang anak Tuhan bukanlah ketika ia mencapai keadaan kesempurnaan tanpa dosa yang mutlak, tetapi aspirasinya yang meningkat. Rasul Paulus tidak menganggap dirinya telah “mencapai” atau telah “sampai” tetapi ia mengakui bahwa ia rindu sekali lebih menyenangkan Yahwe hari demi hari. ( Flp 3 : 13 – 14). Apa yang telah dicapai cukup baik hari kemarin tidaklah memadai untuk hari ini bagi kehidupan orang percaya. Karena pertumbuhan dalam pengudusan memperluas kapasitas seseorang untuk menampung perkara – perkara yang diberikan Yahwe dalam kehidupan orang percaya. Walaupun diawali dengan “susu”  diharapkan kita bertumbuh dan mampu mencerna “makanan keras” (Ibr 5 : 12-14, I Ptr 2 : 1-3). Dalam proses yang terus bertumbuh maka diharapkan setiap orang percaya dapat menjadi “serupa dengan gambar Kristus”
            Hal yang ketiga adalah berkemenangan, kita harus bertanggung jawab untuk berperan aktif dalam perjuangan melawan dosa dan untuk mengalami sisi positif dari pengudusan. Tetapi seluruh tanggung jawab pengudusan tidak terletak pada kita, ada bagian yang menjadi bagian Yahwe dan Roh kudus menyucikan jiwa kita agar taat kepada kebenaran  (1 Petrus 1 : 2, 22). Bagian kita adalah secara aktif dan dengan iman “matikanlah segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan juga keserakahan” (Kol 3 : 5). Lebih lanjut Paulus menekankan bahwa dahulu kamu melakukan itu ketika dalam perangkap dosa, tetapi ketika kamu mengalami pertobatan dan api penyucian yang menguduskan dalam pimpinan Roh kudus buanglah semuanya itu, yakni : marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui untuk memperoleh pengertahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang yang tak bersunat , orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua, dan di dalam segala sesuatu. Karena itu sebagai orang-orang pilihan Yahwe, yang dikuduskan dan dikasihi, kenakalah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatlah demikian. Dan diatas semuanya itu kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan yang menyempurnakan.
            Kemenangan dalam hidup merupakan tujuan dari kekristenan kita, bukan untuk mencapai kedudukan atau posisi pertumbuhan yang sempurna. Perjuangan yang berat akan terus kita hadapi tetapi kita tidak perlu terus menerus dikalahkan dalam pertarungan hidup lama dan hidup baru. Sekalipun dalam hidup kita ini kita tidak dapat mencapai posisi dimana kita tidak berbuat dosa lagi kita dapat meminta pertolongan dari Roh Kudus agar kita tidak melakukan dosa[81]. Selama kita belum mengakhiri perjuangan yang terus berlangsung ini jangan pernah berhenti, dosa akan terus menyerang kita dan memperdaya kita, tetapi jangan ada kata menyerah bangkit dan terus maju sampai kita mengakhiri semuanya.

Hidup Dalam Ketaatan
            Hidup oleh Roh adalah satu tahapan yang harus dialami oleh seorang percaya sampai ia menemukan atau tiba pada satu titik yang menyerupai gambar Kristus. Setelah manusia bertobat seperti yang telah diterangkan dibagian atas, mengalami tiga hal yang bertahap dalam pencapain tersebut. Setelah manusia dikuduskan maka akan memasuki suatu periode ketaatan, sebab tanpa ketaatan sesorang tidak akan mungkin tahan uji. Dalam ketaatan ini kita akan membahas bagaimana terjadinya relasi indikatif dan relasi imperative. Artinya kita akan melihat manifestasi moral dari hidup baru sebagai sebuah karya penebusan Yahwe didalam Kristus melalui Roh Kudus, ini adalah relasi indikatif, tetapi sebagai sebuah keharusan atau tuntutan atau keharusan – imperative. Dua hal ini orang meyebutnya sebagai paradox  “dialektikal” dan “antinomy”. Perjumpaan indikatif dan imperative ini umum kita jumpai dalam surat-surat Paulus (juga diseluruh perjanjian baru). Memberikan beberapa contoh dari kedua relasi diatas :
(1)   Kematian dan kebangkitan Kristus, merupakan bentuk indikatif fundamental: sebab mereka yang ada dalam Kristus  telah mati bagi dosa ( Rm 6 : 2). Tetapi itu menggerakkan dari tanggung jawab manusia dan membangkitkan  tidakan untuk tidak berbuat dosa lagi.
(2)   Hidup di dalam Roh adalah bentuk indikatif, sebab Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut (Rm 8 : 2,9), di lain pihak hidup juga mengandung aspek imperative.
(3)   Manusia adalah ciptaan baru sebagai ciptaan Allah, dalam hal ini relasi imperative diikuti oleh indikatif
Melihat kaitan kedua relasi ini maka setiap orang yang telah dimerdekakan harus melakukan apa yang dikehendaki Yahwe tanpa syarat, inilah yang disebut sebagai ketaatan baru.
Maka sangat tidak pantas jika setelah kita dimerdekakan dari dosa kita masih bergiat melakukan dosa, dosa tidak berkuasa lagi, ia telah dikalahkan tetapi kita memberi kesempatan kepada dosa untuk menaklukkan kita. Peperangan ini akan terus berlangsung sampai kita menanggalkan tubuh fana dan kita akan mengenakan tubuh yang tidak fana di kemudian hari.



              

                [1]William, W. Menzies dan Stanley M. Horton, Doktrin Alkitab, (Malang : Gandum Mas, 2003),122

[2]Harun Hadiwijono.  Iman Kristen, (Jakarta:  BPK Hunung Mulia, 1986), 356.

 

[3]Donald Guthrie.  Teologi Perjanjian Baru 2, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1995), 143.

 

[4]Tom Jacobs Sy.  Paulus Hidup, Karya Dan Teologinya, (Yogyakarta:  Yayasan Kanisius, 1983), 241-242.

[5]H.v.d. Brink.  Tafsiran Alkitab Kisah Para Rasul, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 2008), 16.

 

[6]Harun Hadiwijono, 356.

[7]Harun Hadiwijono, 17-18.

[8]Ibid., 55.

 

[9]Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1, (Jakarta:  Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1994), 249.

 

[10]James F. White.  Pengantar Ibadah Kristen, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 2002), 7.

[11]J. Pasaribu.  Diktat Kuliah Liturgika, (Medan:  Kalangan Sendiri, 2013), 21.

 

[12]Harun Hadiwijono, 62.

 

[13]Sampitmo Habeahan, 4.

[14]Norman L. Geisler.  Essential Of Evangelical Theolog, (Grand Rapids Michigan:  Academic Books, Zondervan Publishing House, 1980), 61-62.

 

[15]Tim Penyusun, Pengalaman dan Perjuangan Hidup Orang Kristen, (Medan:  YKBK, 2003), 3.

[16]Malcolm Brownlee.  Tugas Manusia Dalam Dunia Milik Tuhan, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1987), 29.

 

[17]Ibid., 101.

                [18]Bongsu Parhusip, Thesis : Analisa Kepemimpinan Dan Perkembangan Gereja Pentakosta Indonesia Sejak Tahun 1942-2006,( Medan : STTII,2009), 65

                [19]Ken Blanchard dan Phil Hodges, Lead Like Jesus,(Tangerang : Visi Media, 2006),4

                [20] Hal ini juga dilihat dalm Kisah Para Rasul 19 : 1 – 7. Kedua belas orang itu pasti menyatakan bahwa mereka dalah pengikut Yesus, tetapi Paulus merasa bahwa ada sesuatu yang tidak terdapat pada mereka, karena itu ia menanyakan mereka  (secara harfiah), “setelah percaya, apakah kamu menerima Roh Kudus?”. “Setelah percaya” (yun : pisteusantes) adalah sebuah prinsip aorist, sebuah bentuk yang biasanya menunjukkan tindakan sebelum kata kerja utama, dalam hal ini, sebelum menerima. Susunan gramatikal yang serupa terjadi dalam ayat-ayat seperti ini (diterjemahkan secara harfiah). “Setelah menikah dengan seorang isteri, ia mati” (Mat 22 : 25). “setelah mengusungnya [Syafira] keluar, mereka menguburkannya” (Kis 13 : 51). “Setelah menerima perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke penjara yang paling tengah” (Kis 16 : 24). Juga Jelas bahwa Rasul Paulus membaptis orang-orang percaya kedalam air sebelum ia menumpangkan tangannya diatas mereka dan Roh Kudus turun atas mereka. Lihat Horton , What The Bible Says, 152-162; dan Donald C. Stamps, ed. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan,(Malang : Yayasan  Penerbit Gandum Mas, 1994). 1811

                [21] Paul Birch, Instan Leadership : 66 Cara Instan Memiliki Kepemimpinan Praktis,(Jakarta : Penerbit Erlangga, 1999),9

                [22] William, W. Menzies dan Stanley M. Horton, Doktrin Alkitab,126

                [23] The Charismatic Theology of St. Luke, (Peabody, Mass : Hendrickson Publishers, 1984) 112

                [24]Where we stand (Springfield, Mo.: Gospel Publishing House, 1990),147

                [25]William, W. Menzies dan Stanley M. Horton, Doktrin Alkitab,134

  [26]Harun Hadiwijono.  Iman Kristen, (Jakarta:  BPK Hunung Mulia, 1986), 356.

 

[27]Donald Guthrie.  Teologi Perjanjian Baru 2, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1995), 143.

 

[28]Tom Jacobs Sy.  Paulus Hidup, Karya Dan Teologinya, (Yogyakarta:  Yayasan Kanisius, 1983), 241-242.

[29]H.v.d. Brink.  Tafsiran Alkitab Kisah Para Rasul, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 2008), 16.

 

[30]Harun Hadiwijono, 356.

[31]Harun Hadiwijono, 17-18.

[32]Ibid., 55.

 

[33]Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1, (Jakarta:  Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1994), 249.

 

[34]James F. White.  Pengantar Ibadah Kristen, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 2002), 7.

[35]J. Pasaribu.  Diktat Kuliah Liturgika, (Medan:  Kalangan Sendiri, 2013), 21.

 

[36]Harun Hadiwijono, 62.

 

[37]Sampitmo Habeahan, 4.

[38]Norman L. Geisler.  Essential Of Evangelical Theolog, (Grand Rapids Michigan:  Academic Books, Zondervan Publishing House, 1980), 61-62.

 

[39]Tim Penyusun, Pengalaman dan Perjuangan Hidup Orang Kristen, (Medan:  YKBK, 2003), 3.

[40]Malcolm Brownlee.  Tugas Manusia Dalam Dunia Milik Tuhan, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1987), 29.

 

[41]Ibid., 101.

[43] Jhon M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia,(Jakarta : PT. Gramedia, 1997), 546

                [44] Ini dibahas secara mendetail dalam Plato, Plutarch and Philo dalam G.E. Ladd, The Pattern of NT Truth (1968), 13-31



                [45] C.H. Dodd, Interpretation of The Fourth Gospel,(1953), 213-20


                [46]E. Schweizer, Pneuma, TNDT VI, 390

                [47] J.R.W.Stott, Kedaulatan Dan Karya Kristus, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,Jakarta, 1991, hal. 93

                [48] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1984, hal., 131.

                [49] Robert Davidson, Alkitab Berbicara, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 19886, hal. 7.


                [50]Donald Guthrie, dkk (Editor), Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2000, hal. 80.


[51]Stanley M. Horton, Oknum Roh Kudus, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2001, hal. 15.

[52] Ibid, hal. 23

[53] Harun Hadiwijono. Op.Cit., hal. 114.


[54] Stanley M. Horton, Op.Cit., hal. 74.

                [55] J.D.Douglas (Penyunting), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1996, hal. 57

                [56] Harun Hadiwijono, Op.Cit., hal. 116.


                [57] Stanley M. Horton, Op.Cit., hal. 33.

                [58] Zondervan, The Holy Bible New International Version,(2001)533


                [59] Ibid, 566

                [60] CK. Barrett, The Gospel According To St. John : An Introduction With Commentary And Notes On The Greek Text Second Edition, 148

[61] Ladd, G.E., Teologi Perjanjian Baru Jilid 1 ( Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 2002), 388

                [62] J.G. Davie, “The Primary Meaning Of Parakletos”, JTS 4 (1953), 35 - 38

                [63] Chris Marantika, Doktrin Keselamatan dan Kehidupan Rohani, Iman Press,Yogyakarta, 2002, hal.. 126-127.

                [64] Millard J. Erickson, Teologi Kristen,(Malang : Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1999), 323.

[65]Millard J. Erickson, Teologi Kristen,160


                [66]Bruce Milne, Mengenali Kebenaran Panduan Iman Kristen, ( Jakarta :BPK Gunung Mulia), 286.

[67]Paul Yonggi Cho, Roh Kudus, Adimitra Saya, (Jakarta :Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, 2000),147.


[68]Bruce Milne, Mengenali Kebenaran Panduan Iman Kristen,(Jakarta : BPK Gunung Mulia), 286.

                [69] Millard J. Erickson, Op.Cit., 258.


                [70] Henry Clarence Thiessen, Teologia Sistimatika,(Malang :Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1995),105


[71] Harun Hadiwijono, Op.Cit.,130-131.

                [72] J.I. Packer,dkk., Kebutuhan Gereja Saat Ini Kerajaan allah dan Kuasa-Nya, (Malang : Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2001),254-255

                [73] Herman Ridderbos, Paulus : Pemikiran Utama Theologinya, (Surabaya : Penerbit Momentum, 2008), 87

[74] Ibid 213



                [76]  Ensiklopedi Perjanjian baru, 156-157

                [77] Upacara yang dikenal oleh banyak agama (*air yang menyucikan dan sumber kehidupan), yang diambil alih oleh kaum *Eseni dalam bentuk suatu pemandian harian yang melambangkan usaha menuju suatu kehidupan yang murni serta kedambaan akan rahmat yang menyucikan. Upacara ini juga dipraktekkan dikalangan Yahudi, ketika mereka menerima para proselit (*penganut agama Yahudi) kedalam kalangan mereka. Baptisan yang diselenggaraka oleh Yohanes Pembatis berbeda dengan upacara-upacara yang serupa dalam dua hal : Ia ditawarkan kepada semua orang dan tidak diulang lagi, ia bermakna undangan untuk bertobat serta merupakan pra langkah menuju baptisan Mesias dalam Roh dan dalam Api.

[78] Horton, Bible Says, 261

                [79]Stanley M. Horton : “The Pentacostal Perspective”. Dalam Five Views On Sanctification oleh Melvin E. Dieter ( Grand Rapids Zondervan Publishing House, 1987) 113

                [80]  Lihat “Pemisahan Rohani Orang  Percaya”  dalam Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, ed.,  Donal Stamps ( Malang : Yayasan Penerbit Gandum Mas,1994), 1928

[81]Kita tidak hanya perlu disucikan terus menerus dengan darah Yesus ( I Yoh 1 : 7) kita tidak pernah mencapai tempat dalam hidup ini dimana kita tidak lagi memerlukannya. Inilah maksud yang terkandung dalam 1 Yoh 1 : 10 “ Jika kita berkata bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia (Yahwe) menjadi pendusta dan Firman-Nya tidak ada di dalam kita. “Frasa : “tidak ada berbuat dosa” dalam bahasa Yunani di tulis dalam yang telah sempurna. Biasanya hal ini menunjukkan suatu perbuatan dimasa lalu yang mempunyai akibat-akibat yang terus berlangsung pada masa kini. Oleh karena itu sebaiknya frasa itu diterjemahkan sebagai berikut : “jika kita berkata bahwa kita telah mencapai tempat atau telah mempunyai pengalaman, dimana kita tidak dapat atau tidak berbuat dosa lagi”- kita membuat Yahwe menjadi pendusta. Sebab Ia telah menyediakan penyucian terus-menerus oelh darah (dengan implikasi yang jelas bahwa kita memerlukannya) dan kita mengatakan bahwa kita tidak memerluknnya.

[82] John C. Maxell; Mengembangkan Kepemimpinan Di Dalam Diri Anda ,(Georgia: Equip,Injoy,inc, 1993),8

[83] George Barna; Leaders On Leadership, Pandangan Para Pemimpin Tentang Kepemimpinan; (Malang: Gandum Mas, 2002), 18.

[84]) John C.Maxwell, Mengembangkan Kepemimpinan di Sekeliling Anda, (Jakarta : Profesional Books, 1997), hal. 4.


4  Ibid, hal. 4

                [86] Ken Blancard and Phil Hodges, Lead Like Jesus, (Tangerang : Visimedia, 2006),5

                [87] Heryanto,Dr,DTh : Kepemimpinan Kristen (Medan, Diktat 2008) hal 3-6

[88] J.Oswald Sanders: Kepemimpinan Rohani, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993) hlm. 20


[89] Ibid., hlm.20

[90] DR.Kartini Kartono: Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1994) hlm.49.


[91] John C.Maxwell: Buku Equip 1, ( Jakatra : t.p., 2003) hlm.15


[92] Pdt.DR.Yacob Tomatala: Kepemimpinan Yang dinamis, (Jakarta : YT Leadership Foundation, 1997) hlm. 5.

[93] John C.Maxwell: 21 Hukum Kepemimpinan, (Batam : Interaksa, 2001)  hlm. 71

[94] Ibid, hlm. 60

[95] Ibib, hlm.323

[96] Ibid, hlm.373

[97] Hans Finzel: Sepuluh Besar Kesalahan yang Dibuat Para Pemimipin, (Batam: Interaksa, 2002), hlm.178


[98] J.Oswald Sanders: Op.cit. hlm. 149.

[99] Ibid., hlm. 58.

[100] DR.P.Octavianus: Manajemen dan Kepemimpinan menurut Wahyu Allah, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2002), hlm.183.


[101] Gottfriedo Sei-Mensah: Dicari Pemimpin Yang Menjadi Pelayan, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), hlm. 11.


[102] J.Oswald Sanders: Op.cit., hlm. 65.


[103] Ibid., hlm  65.

[104] J.Oswald Sanders, Op.cit., hlm. 69.

[105] J.Oswald Sanders, Op.cit.., hlm. 69.

[106] Joyce Meyer: Pemimpin Yang Sedang Dibentuk, ( Jakarta: Immanuel,2002), hlm. 260.

[107] Ibid., hlm., 269.

[108] Fredsmith, SR., Memimpin Dengan Integritas, ( Jakarta: Imanuel, 2002), hlm. 17.


[109] M.Karjadi, Kepemimpinan (Leadership), (Bandung: PT.Karya Nusantara, 1993),  hlm.48

[110] John C. Maxwell, Buku Equip 2, Jakarta, 2003.

[111] J.Oswald Sanders: Op.cit., hlm. 135

[112] Charles R.Swindoll, Kepemimpinan Kristen yang Berhasil,  (Surabaya: YAKIN), hlm.103.

[113] Joyce Meyer, Op.cit., hlm. 210.

[114] Hanz Finzel, The Top Ten Mistakes Leaders Make (Batam : Interaksara, 2002),24-25

                [115]David Iman Santoso, 95.

[116]Mangapul Sagala, 16.


[117]Paul Yonggi Cho, 89.

[118]G.W.Schweer, 17-21.

[119]Nicky J. Sumual.  Dasar & Inti Ajaran Kristen, (Menado:  Wisma Lektur Kristen El Shaddai Menado Indonesia, t.th), 29.


[120]Paulus Daun.  Prolegomena Bibliologia (Doktrin Alkitab), (Menado:  Daun Family, 2008), 26-28.

[121]Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, (Jakarta:  Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1992), 430.

[122]Fritz Ridenour.  Dapatkah Alkitab di percaya ?, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1985), 35

[123]E.H.van OLST.  Alkitab dan Liturgi, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1999), 19.

[124]Robert Davidson.  Alkitab Berbicara, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1998), 2.


[125]Ibid., 2-20.


[126]David Cupples.  Beriman Dan Berilmu, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1994), 25.

[127]R. C. Sproul.  Mari bertumbuh, (Jakarta:  Gloria Graffa, 2004), 25.


[128]Bambang H. Widjaja, 51.

[129]Goldsworthy.  New Dictionary Of Biblical Theology, (Gospel), Logos Librabry System, [CD ROOM] (Downer, III: InterVarsity Press, 2000), t.h.


[130]K. C. Hinckley.  Kompas Kehidupan Kristen, (Bandung:  Kalam Hidup, 1996), 111.


[131]D. W. Ellis.  Metode Penginjilan, (Jakarta:  Yayasan Bina Kasih/OMF, 2005), 7.


[132]Stephen Tong, 104.


[133]Ibid., 73.

[134]Robert OH.  The Prayer Driven Life, (Yogyakarta:  Andi, 2009), 13-18.

[135]R. C. Sproul, 35-45.


[136]Indrawan Eleeas, 104-106.


[137]Ibid., 130-138.

[138]G. Riemer.  Jemaat yang Diakonal, (Jakarta:  Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2004), 47.


[139]David L.  Baker.  Roh dan Kerohanian Dalam Jemaat, Tafsiran Surat I Korintus 12 – 14, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1996), 53.

[140]Rubin Adi Abraham.  Rindu Untuk Melayani, (Yogyakarta:  Andi, 2009), 84-97.

[141]W.J.S.Poerwadarminta, 231.


[142]J. Verkuyl.  Etika Kristen Kapita Selekta, (Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 1978), 162.

[143]A.A. Sitompul.  ParMingguon Namangolu, (P.Siantar:  HKBP, 1986). 35.


[144]Arlo D. Duba dan W.B.Sijabat.  Azas-Azas Kebaktian Alkitabiah dan Protestan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), 36

[145]Indrawan Eleeas, 6.

[146]Frista Artmananda W, 830.


[147]M. Ngalim Purwanto.  Psikologi Pendidikan,  (Bandung:  Remaja Rosdakarya, 1990), 72.


[148]Sumadi Suryabrata.  Psikologi Pendidikan, (Jakarta:  Raja Grafindo Persada, 2004), 72-73.

[149]G. Riemer.  Jemaat yang Diakonal, 181.


[150]Ralip M. Riggs.  Gembala Sidang Yang Berhasil, (Malang:  Gandum Mas, 2003), 88.

[151]Bambang H. Widjaja, 89.

[152]Mike & Vib Hilberr.  Pelayanan Musik¸ (Yogyakarta: Andi, 2007), 163.


[153]M. Simanjuntak.  Dasar Dasar Musik, Diktat Kuliah, (Medan:  Kalangan sendiri, t.t.), 87.

[154]GR. Harding Wood.  Bina Diri, (Jakarta:  YKBK, 1993), 165.


[155]Tim Vitahealth.  Food Supplement, (Jakarta:  Gramedia, 2006),
35.


[156]GR. Harding Wood, 166.

[157]Norman L. Geisler.  Innerancy, (Grand Rapids Michigan: 
Academic Books, Zondervan Publishing House, 1980), 308.


[158]Pdt. Sampitmo Habeahan.  Pembimbing Theologia Sistematika,
(Medan:  Diktat, 2002), 46-47.


[159]Tim Penyusun,   Pengalaman dan Perjuangan Hidup Orang
Kristen, (Bandung:  YKBK, 2003), 3.


[160]J. Wesley Brill.  Dasar Yang Teguh, (Bandung:  YKBK, 1999),
24.

[161]Drs. Y. Bambang Widyataka.  Bahan Kuliah Theologia I,
(Yogyakarta:  Diktat, 1987), 3.


[162]John McDowell & Don Steward, 11.

[163]BF. Reusu.  Menyelidiki Alkitab Bersama-sama, (Jakarta:
BPK-Gunung Mulia, 1983), 10.


[164]Lea Santoso & Jimmy Kuswadi.  Memulai Hidup Baru, (Jakarta:
Perkantas:  Divisi Literatur, 2008), 12.


[165]Tim Penyusun.  Renungan Harian, (Jakarta:  Gloria, 2010), 19.

[166]The Navigators.  Berjalan Bersama Kristus, (Bandung:  Kalam
Hidup, 2000), 1.

[167]JL. Ch. Abineno.  Unsur-unsur Liturgia, (Jakarta:  BPK-Gunung
Mulia, 2007), 48.


[168]G. Riemer.  Ajarlah Mereka, (Jakarta:  YKBK, 2006), 38.


[169]Ray McCauley.  Allah Kita Dahsyat, (Jakarta:  YPI Immanuel,
2000), 10-11.


[170]The Navigators, 3.

[171]GR. Harding Wood, 163-164.

[172]Tim Penyusun Renungan Harian, 17.


[173]The Navigators, 3.

[174]AA. Sitompul.  Bersahabat dengan Firman, (Jakarta:  BPK-
Gunung Mulia, 1998), 19.


[175]J. Sephen Lang.  Janji-Janji Alkitab, (Bandung:  Kalam Hidup,
2001), 19.


[176]G.R. Harding Wood, 164.

[177]Arlyanus Larosa.  Siapa dan Bagaimana, (Bandung: 
Kalam Hidup, 1999), 61.


[178]Ibid., 60.

[179]D. James Kennedy.  Ledakan Penginjilan, (Jakarta: 
Evangelistic Explotion International, 2003), 192.


[180]Tim Penyusun.  Memperlengkapi Kaum Awam, (Yogyakarta:
YKAP), 4.


[181]Robert A. Orr.  Memantapkan Misi Gereja, (Bandung:  Lembaga Literatur Baptis, 1997), 78.

[182]Tim Penyusun, 24.


[183] Darrel W. Robinson.  Total Church Life, (Bandung:  Lembaga Literatur Baptis, 2004), 96.

[184]Tim Phoenix, 437.


[185]E.G. Homrighausen.  Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta:BPK-Gunung Mulia, 2005), 128.

[186]Ibid., 130.


[187]Robert A. Orr, 91.

[188] Margaret Bailey Jacobsen.   Ketika Anak Anda Bertumbuh,
(Bandung:  Kalam Hidup, 1997), 232.

[189] Ibid., 233.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar