1
SELAYANG PANDANG
Doktrin Pneumatologi adalah sebuah pengajaran yang mengandung pemahaman dan praktik iman yang berorientasi kepada pembentukan karakter secara mendalam sehingga setiap pribadi yang mendapatkan pengajaran tentang Roh Kudus ini mengalami perubahan hidup secara revolusi total. Yesus sendirilah yang meletakkan dasar – dasar pengajaran Roh Kudus, pertama sekali Yesus menyampaikan tentang Roh Kudus, dalam Injil Yohanes Yesus menjanjikan seorang penolong yang disebut parakleton (parakleton/parakletos). Penolong inilah yang akan mengubahkan hidup para pemercaya/murid-murid secara total, dalam kasih mereka, perkataan mereka dan tingkah laku mereka. Tantangan terberat dalam hidup keimanan manusia adalah ketika tidak bersama dengan Yesus lagi, oleh sebab itu Yesus menjanjikan seorang parakleitos kepada murid-muridnya. Ada empat hal yang di sampaikan Yesus dalam perintah-Nya sebelum terangkat Kesurga yaitu : “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Dari ayat diatas ada empat perintah yang utama, yaitu kata “ pergi” , “jadikan” “baptislah” dan “ajarlah”. Keempat perintah diatas dapat di nyatakan sebagai tugas dari setiap pemercaya untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Yesus, Raja dan Kepala Gereja, memberitakan keselamatan. Semua orang percaya berhak dan harus dengan bergairah mengharapkan dan sungguh-sungguh mencari janji Bapa, baptisan dalam Roh Kudus dan api, menurut Perintah Yesus Kristus Tuhan Kita. Ini merupakan pengalaman yang biasa dari jemaat Kristen mula-mula. Bersamanya muncul pelengkapan dengan kuasa untuk hidup dan melayani, pemberian karunia-karunia dan penggunaan dalam tugas pelayanan (Luk 24 : 49, Kis 1 : 4, 1Kor 12 : 1-31). Pengalaman ini jelas berbeda dari dan didiami sesudah pengalaman lahir baru (Kis 8 : 12-17; 10 : 44-46; 11 : 14-16; 15 : 7-9) Dengan Baptisan dalam Roh yang melimpah. (Yoh 7 : 37-39; Kis 4 : 8), rasa hormat yang dalam kepada Allah ( Kis 2 : 43; Ibr 12 : 28), penyerahan yang makin meningkat kepada Allah dan pengabdian kepada pekerjaan-Nya (Kis 2 : 42), dan kasih yang lebih aktif kepada Kristus dan orang yang terhilang ( Mark 16 : 20)[1]. Pada masa kini pengajaran tentang Roh Kudus dikenal dengan Doktrin Pneumatologi.
Pneumatologi adalah suatu konsep pengajaran oleh gereja yang membahas tentang Roh Kudus dalam hakekat, peranan dan karyanya. Gereja Pentakosta Indonesia memiliki doktrin Pneumatologi sebagaimana terdapat dalam Alkitab. Doktrin Pneumatologi ini diajarkan kepada jemaat melalui berbagai cara seperti khotbah, dimana topik-topik khotbah diarahkan penjelasan tentang Roh Kudus, penelaahan Alkitab yang dirancang dan dilaksanakan sesuai program kerja, diskusi, dll, sehingga diharapkan jemaat memiliki pemahaman doktrin pneumatologi. Harun Hadiwijono menjelaskan supaya Kristus yang telah dimuliakan itu dapat dialami dan dinikmati oleh umatNya, maka Kristus datang kembali, yaitu di dalam Roh Kudus.[2] Kristus sendirilah yang datang dalam Roh berdiam dan berkarya dalam hidup manusia melalui aktivitasnya. Roh membantu orang percaya untuk hidup dalam kekudusan Allah dan menjauhkan diri dari kehidupan hal-hal dosa. Donald Guthrie mengatakan bahwa Roh Kudus adalah suatu kekuatan yang membersihkan dan menyucikan, dan ini pasti merupakan bayangan pendahuluan kepada beberapa aspek dari pekerjaan Roh yang diungkapkan secara lebih jelas dalam PB.[3] Tom Jacobs menjelaskan bahwa Roh berarti lingkup karya Allah. Kaum beriman sudah disucikan dalam Roh Kudus.[4] H.v.d. Brink menjelaskan Roh Allah akan membimbing orang percaya dalam segala pengetahuan dan kebenaran, yang diperlukan untuk menunaikan tugas mereka sekarang.[5] Roh sendirilah yang menyingkapkan segala pengetahuan dan kebenaran yang ada pada Allah yang harus dimiliki manusia. Pengetahuan dan kebenaran dalam memuji dan memuliakan Allah disingkapkan Roh Kudus kepada setiap orang percaya, agar dapat memuliakan Allah dalam hidupnya. Seperti pada peristiwa yang terjadi ketika Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah, maka terjadilah gempa bumi yang hebat (Kisah 16:25-26). Dalam hal ini Roh mengajak Paulus dan Silas untuk memuliakan Allah melalui pujian, sehingga Allah melakukan keajaiban yang mengakibatkan semua pihak memuji Allah. Harun Hadiwijono menjelaskan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup setiap orang percaya sebagai berikut :
”Bahwa Roh Kudus akan dikaruniakan kepada para orang milikNya, memang telah dijanjikan oleh Tuhan Yesus sebelum Ia disalibkan. Dalam Yoh. 16:7 Tuhan Yesus berjanji akan mengutus ”Penghibur” kepada para muridNya, yang akan menyertai mereka (Yoh. 14:16) dan yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada mereka dan akan mengingatkan mereka akan semua yang telah diajarkan kepada mereka (Yoh. 14:26), lagipula yang akan memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13) dan yang akan menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh. 16:8-11).[6]
Hamba Tuhan di Gereja Pentakosta Indonesia Kota Medan telah mengajarkan hakekat, peranan dan karya Roh Kudus melalui khotbah, pendalaman Alkitab, diskusi umum tentang Alkitab, dan setiap kesempatan yang ada. Gembala sidang bersama hamba Tuhan berusaha untuk memperkenalkan hakekat, peranan dan karya Roh Kudus sambil memfasilitasi jemaat dalam pemahaman tersebut. Untuk dapat melihat dan mengenal karya Roh Kudus, jemaat diajak bersama sama untuk memberi keleluasaan kepada Roh Kudus dalam hidupnya. Juga melalui kebaktian-kebaktian dan doa-doa, jemaat diajak untuk melihat dan merasakan karya Roh Kudus.
Melalui pengajaran doktrin Pneumatologi diharapkan jemaat setia beribadah, suka membaca Alkitab dan mengalami pertumbuhan iman. Harun Hadiwijono menjelaskan iman berarti mengamini dengan segenap kepribadian dan cara hidupnya kepada janji Allah, bahwa Ia di dalam Kristus telah mendamaikan orang berdosa dengan diriNya sendiri, sehingga segenap hidup orang yang beriman dikuasai oleh keyakinan yang demikian itu.[7] Keyakinan seperti ini diharapkan terus bertumbuh menuju ke arah kesempurnaan. Roh Kuduslah yang membimbing setiap orang percaya mengalami pertumbuhan iman hingga mencapai kedewasaan.
Jemaat yang sudah mencapai kedewasaan iman, akan memiliki tanggung jawab secara otomatis terhadap semua orang. Salah satu tanggung jawab orang Kristen adalah memberitakan Injil kepada setiap orang yang membutuhkan. Harun Hadiwijono mengatakan demi keselamatan seluruh umat manusia di segala zaman dan tempat itu penyataan Tuhan Allah harus diteruskan dari keturunan yang satu kepada keturunan yang lain.[8]
Dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini dijelaskan bahwa doa adalah kebaktian mencakup segala sikap roh manusia dalam pendekatannya kepada Allah, sebagai perbuatan tertinggi yang dapat dilakukan roh manusia. Seseorang berdoa karena Allah telah menyentuh rohnya.[9] Doa dan ibadah biasanya dipadukan oleh gereja-gereja. Hoon yang dikutip oleh James F. White mengatakan ”ibadah Kristen adalah penyataan diri Allah sendiri dalam Yesus Kristus dan tanggapan manusia terhadap-Nya, atau suatu tindakan ganda: yaitu tindakan Allah kepada jiwa manusia dalam Yesus Kristus dan dalam tindakan tanggapan manusia melalui Yesus Kristus.[10] Dalam ibadah terjadi pertemuan antara Allah dengan umat, dimana Allah sebagai pemrakarsa ibadah. Tetapi di dalam ibadah, Allah mengikutsertakan manusia sebagai mitra-Nya. Manusia yang terlibat dalam ibadah adalah manusia yang hidup dalam kenyataan konteks tertentu.[11] Hamba Tuhan Gereja Pentakosta Indonesia Kota Medan mengutamakan agar dalam ibadah terjadi pertemuan antara jemaat dengan Allah.
Harun Hadiwijono mengatakan bahwa di dalam Alkitab manusia bersaksi tentang karya penyelamatan Allah yang dilakukan di dalam Kristus. Akan tetapi di dalam segala usaha manusia itu Roh Kudus bersaksi tentang Kristus. Alkitab adalah alat Roh Kudus untuk menyaksikan karya penyelamatan Kristus.[12] Dengan demikian membaca Alkitab berarti menyaksikan karya penyelamatan Kristus bagi dunia dan hidupnya, yang selanjutnya untuk direnungkan dan dilakukan.
Umat Kristen percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (II Timotius 3:16). Karena Alkitab adalah Firman Allah, oleh sebab itu Alkitab tidak bersalah terhadap segala yang dinyatakannya. Karena itu Alkitab memegang otoritas tertinggi dan terakhir dalam kehidupan.[13] Hal ini sesuai dengan pandangan Marthin Luther: ”No one is bound to believe more than what is based on Scripture. The Word must be believe against all sight and feeling and understanding. It also has the primacy over dreams, signs and wonders.[14]
Ada beberapa cara manusia berkomunikasi dengan Allah, antara lain yaitu melalui Alkitab dan doa. Dengan membaca Alkitab berarti orang percaya berkomunikasi dengan Allah. Melalui Alkitab, Allah menyatakan dirinya kepada manusia. Dengan demikian sebagai pemeluk Agama Kristen, sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang Kristen untuk membacanya setiap hari.
Mengapa harus membaca Alkitab setiap hari ? Seseorang tidak mungkin dapat meneruskan hidup selama seminggu tanpa makanan jasmaniah. Tanpa makan seseorang pasti akan menjadi lemah dan akhirnya menderita sakit. Ia harus makan setiap hari. Sama seperti bayi yang baru lahir, memerlukan susu dan makanan penunjang lainnya agar ia dapat berkembang menjadi manusia yang dewasa. Ini berlaku juga bagi kehidupan rohani seorang Kristen.[15] Untuk menumbuhkan imannya, ia memerlukan makanan rohani yaitu Firman Allah yang tertulis dalam Alkitab. Ia perlu membacanya setiap hari, sehingga imannya berkembang. Dengan pembacaan Alkitab setiap hari diharapkan terjadi perubahan hidup yang positif dari orang tersebut. Dengan membaca Alkitab diharapkan orang Kristen mengalami pertumbuhan rohani yang baik. Perubahan yang diharapkan adalah terjadi pertumbuhan iman dalam diri orang tersebut.
Malcolm Brownlee mengatakan Pekabaran Injil adalah pemberitaan kabar gembira tentang Tuhan dengan maksud supaya orang yang mendengar berita itu mengambil keputusan untuk bertobat kepada Kristus.[16] Menurut Karl Barth dalam kutipan Malcolm Brownlee gereja harus memberi kesaksian tentang kebenaran bahwa Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.[17] Sesuai pendapat di atas, anggota Gereja Pentakosta Indonesia melibatkan diri dalam pemberitaan Injil kepada tetangganya, temannya bekerja, dan setiap orang yang dekat dengannya. Sambil memberitakan Injil, jemaat terlibat dalam doa agar Injil yang diberitakan bertumbuh baik.
Sesuai dengan pokok permasalahan diatas, peneliti tertarik untuk membahas bagaimanakah hubungan pengajaran doktrin pneumatologi dengan kepemimpinan pelayan, pertumbuhan iman, kesetiaan beribadah anggota Gereja Pentakosta Indonesia.
2
PNEUMA DALAM TERMINOLOGI ALKITAB
Defenisi Doktrin Pneumatologi
Doktrin Pneumatologi adalah sebuah
pengajaran yang berpusat pada pribadi Roh Kudus, dan karya Roh Kudus.
Pneumatologi berasal dari akar kata pneumatos
(Pneumatos) yang berarti adalah spirit, dalam kamus Inggris Indonesia di
jelaskan bahwa defenisi spirit ialah : (1) roh[43] atau jiwa, (2) semangat, (3) arwah, (4) jin, hantu, mambang, mahkluk
halus (5) suasana, tetapi untuk mendapat pengertian yang jelas dari maksud kata
pneumatos maka kita lihat kata yang mengikuti yaitu : hagiou (AGIOU) yang berarti kudus, maka kata
pneumatos diatas merujuk kepada kata Roh Kudus, untuk frase Pneumatologi adalah
pneuma dan logos ; Ilmu yang mempelajari
tentang Roh kudus. Pneumatologi khusus mengajarkan tentang Roh Kudus yang akan
kita bahas dalam bab ini lebih dalam.
Kesaksian tentang penyataan Yahwe
ialah Alkitab. Dan apabila di dalam Alkitab dibicarakan tentang Yahwe Bapa,
maka dibicarakan juga tentang Yesus, dan tentang Roh Kudus. Demikian Yahwe
menyatakan diriNya, demikian Ia membuat kita mengenal Dia, yaitu tiga nama yang
menunjukkan kepada tiga caranya berada; sebagai Yahwe Bapa, Yahwe Anak dan Yahwe
Roh Kudus. Ketiganya bukanlah tiga Ilah ataupun tiga Tuhan, melainkan Yahwe yang satu dan Esa.
Dalam kitab Ulangan 6:4 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Yahwe kita,
TUHAN itu esa!” . Untuk Dapat memahami tentang Roh Kudus kita akan melihat apa
yang dikatakan oleh Alkitab tentang pribadi yang satu ini, Ia berkarya sejak
perjanjian lama dan perjanjian baru hingga masa sekarang. Fenomenal karena Roh
Kudus banyak menghasilkan
gereja pada akhir Zaman ini. Untuk itu kita perlu memahami sejarah yang
membentuk pemahaman Roh Kudus atau Pneuma ini.
Pneuma Dalam Agama Helenistik
Salah Satu perbedaan yang paling
menonjol antara Injil Sinoptis dan Injil keempat ialah tempat yang diberikan
oleh Injil Keempat kepada Roh Kudus, terutama dalam ruang atas dengan ajarannya
yang unik tentang Paraclete. Untuk mendalami perbedaan, kita perlu mengadakan
penelitian singkat tentang ajaran Roh Kudus dalam Perjanjian Lama dan dalam
Injil Sinoptis dan arena persoalan latar belakang Helenistik Yohanes, kita
harus melihat secara singkat pada
ide roh dalam agama Helenistik. Ada begitu banyak Variasi dalam agama
Helenistik; pertama-tama kita memikirkan kemungkinan adanya latar belakang
gnostik dalam pemikiran Yohanes. Orang – orang Yunani biasanya menganggap unsur
yang paling mendasar dari keberadaan manusia adalah psyche, bukan pneuma. Dalam dualism Yunani, Psyche berlawanan dengan tubuh seperti halnya alam pengertian
berlawanan dengan dunia kasat mata.[44]
Kadang kala pneuma mempunyai arti dan fungsi psyche. Dalam aliran Stoa, pneuma adalah satu kuasa atau substansi
universal – satu substansi gas berapi tak kelihatan yang halus yang merasuki seluruh dunia yang kelihatan.
Faktor utama dari pneuma dalam dunia Yunani adalah selalu
kenyataannya yang penuh kuasa dan yang sukar dipahami[45]. Dalam
pemikiran ilmiah dan filsafat, pneuma sebagai terminology fisik atau fisiologis
pada hakikatnya tetap materialistis dan vitalistis. Dalam pemikiran gnostik,
kuasa itu dipandang sebagai suatu substansi dan pneuma mencakup ide isi atau
kesanggupan hidup (Lebenssubstanz)[46]
Yahwe itu adalah Roh. Pada penciptaan,
substansi Rohani bercampur dengan materi; tetapi ia ingin bebas. Materi atau
fisik dari tubuh ingin menjadi sebuah kekuatan yang menentang kekuatan rohani
dari Yahwe, hal ini disebut perjuangan dosa untuk merdeka, tetapi akibat kekuatan materi yang terus menerus dan tak
putus-putusnya berusaha sehingga tubuh tadi takluk dalam kebebasan yang membawa
kepada belenggu dosa, jika dosa yang berkuasa maka tubuh / manusia memerlukan penebusan. Penebusan berarti
pengumpulan kembali semua percikan pneuma. Penebus itu turun untuk mengumpulkan
sisa-sisa roh, lalu Ia
naik kembali bersama mereka. Unsur-unsur tubuh dan jiwa ditinggalkan tetapi
unsur roh diserahkan kepada Yahwe. Demikianlah, orang yang ditebus itu menjadi
roh yang suci karena pembebasan dari ikatan – ikatan tubuh.
Dalam
agama helenistik pneuma adalah bagian atau unsur yang sudah kembali kepada penguasa alam semesta, pemilik
dari semua isi alam, tetapi pneuma yang mereka pahami bahwa pneuma itu adalah
milik Yahwe bukan Yahwe.
Pneuma Dalam Perjanjian Lama
Alkitab
Perjanjian Lama dan Alkitab Perjanjian Baru merekam keberadaan dan pekerjaan
Roh Kudus. Meskipun ada perbedaan dalam intensitas manifestasi, namun perbedaan
tersebut tidak dapat dijadikan dasar asumsi bahwa ajaran Perjanjian Baru dan
Perjanjian Lama mengenai Roh Kudus bertentangan. Pekerjaan Roh Kudus dalam
Perjanjian Lama bergerak mengarah ke depan ke jaman gereja Perjanjian Baru, dan
puncaknya pada kesempurnaan gereja di akhir jaman. Itulah sebabnya Roh Kudus
hadir dan bekerja selaras dengan rencana Yahwe Bapa untuk dunia ini, dan memanifestasikan
diri dalam kehendak-Nya sesuai konteks keberadaan manusia
Alkitab
Perjanjian Lama maupun Alkitab Perjanjian Baru memberikan bukti tentang
pekerjaan Roh Kudus yang berinteraksi dengan manusia. Roh Kudus selaku pribadi Yahwe
yang kekal tetap ada dan terus bekerja sebelum dan sesudah hari Pentakosta[47].
Keberadaan Roh Kudus tetap dilihat sebagai pribadi yang tidak mungkin
dipisahkan dengan Yahwe Bapa dalam Tritunggal. Pembahasan yang akan dilakukan
berikut ini tidak mempergunakan metode menginventarisir ayat-ayat yang
berhubungan dengan Roh Kudus menurut pengelompokkan kitab-kitab Perjanjian Lama
maupun Perjanjian Baru, melainkan menguraikan pekerjaan apa saja yang telah
dilakukan Roh Kudus. Mempelajari karya Roh Kudus sama pentingnya dengan
mempelajari karya keselamatan yang dikerjakan Yesus Kristus, sebab Roh Kudus hadir
dan berkarya menindaklanjuti pekerjaan Yesus pasca kebangkitan. Harun
Hadiwijono memberikan pernyataan bahwa:
“Demikian
juga Roh Kudus dapat disamakan dengan Kristus, Anak Yahwe, dilihat dari segi ini, bahwa Roh itu adalah Kristus
yang hadir berbuat untuk menjadikan
orang-orang milikNya menikmati hasil karya penyelamatanNya.”[48]
Penegasan
Yesus tentang kenaikan-Nya ke sorga bertalian erat dengan turunnya Roh Kudus
(Yohanes 14:26; 16:7-15). Yesus
mengatakan hanya melalui karya Roh Kudus akan dapat diketahui kebenaran yang sesungguhnya. Dan ada
banyak hal yang akan diberitahukan oleh Roh Kudus, dan para murid akan mampu
menerima semuanya manakala Roh Kudus turun berada di tengah gereja. Fakta yang
tidak mungkin diingkari, kedua puluh tujuh kitab dalam Perjanjian Baru tidak
ditulis semasa Yesus berada di bumi, melainkan setelah turunnya Roh Kudus di
atas loteng sebuah rumah di Yerusalem.
Pneuma dalam perjanjian lama ada
disebut 39 kali, ורוח (Ruakh) Yahwe
dalam perjanjian lama merupakan satu kesatuan yang sehakekat dengan Yahwe itu
sendiri, Ia adalah kuasa Yahwe – tindakan pribadi dalam kehendak Yahwe untuk
menjangkau objek moral dan agama. Pneuma/Ruakh adalah diri Yahwe sendiri, yang
berperan menjangkau semua isi alam semesta, dalam kitab kejadian Pneuma lah yang melakukan penciptaan, “ Pada
mulanya Yahwe menciptakan langit dan bumi, bumi belum berbentuk dan kosong
gelap gulita, dan Roh Yahwe melayang-layang diatas permukaan air” (Kej 1 : 2).
Ruakh Yahwe adalah sumber dari semua yang hidup, semua kehidupan jasmani. Roh Yahwe
adalah prinsip aktif yang datang dari Yahwe dan memberi kehidupan kepada dunia Jasmani ( kej 2 : 7). Hal itu
juga merupakan sumber dari hal-hal agama: mengangkat pemimpin-pemimpin yang
kharismatis, baik hakim-hakim, nabi-nabi, maupun raja-raja. Ruakh Yahwe adalah
satu terminology bagi tindakan kreatif historis dari Yahwe, walaupun hal itu
bertentangan dengan analisis logis, namun hal itu merupakan tindakan Yahwe.
Ruakh juga memiliki beberapa
pengertian di dalam kitab-kitab penjanjian lama, ada beberapa pengertian yang
menyatakan keberadaan dari kata ruakh :
1. Roh
Elohim ( kej 1 : 2, Hak 6 : 34, I Sam 16 : 14, I Raja 18 : 12, I Taw 12 : 18, 2
Taw 24 : 20, Ayub 12 : 10; 20 : 23; 27 :
3, Maz 51 : 10, 11,12, Ams 17 : 22; 18 :
14, Pengk 3 : 19 , 21; Yes 42 : 5)
2. Inspirited
( 1 Sam 16: 23)
3. Interval
( Kej 32 : 16)
4. Angin
( Kel 10 : 13; Bil 11 : 31, I Raja 18: 45, 19 : 11, Ayub 4 : 15, 8 : 2; 37 : 2 ; 41 : 16. Maz 11 : 6,
Ams 25 : 14; Yes 41 : 16
5. Roh
hikmat 41 : 16
Jika melihat intensitas karya Roh
Kudus maka lebih banyak didapati dalam Perjanjian Baru daripada dalam
Perjanjian Lama. Perbedaan inilah yang menjadi salah satu pertimbangan para
ahli memutuskan mengenai Roh Kudus dalam Perjanjian Lama sesungguhnya berbeda
dengan Roh Kudus di dalam Perjanjian Baru. Pendapat semacam itu sesungguhnya
sangat tidak adil, dimana kesamaan yang besar diabaikan hanya karena perbedaan
yang kecil. Prinsipnya, Roh Kudus sebagai Pribadi nampak dalam
karya-Nya, sebaliknya karya-Nya menunjukkan Roh Kudus adalah sebagai Pribadi.
Keduanya tidak mungkin dipisahkan atau dipertentangkan. Perjanjian Lama
mencatat kehadiran Roh Kudus yang ngan
para ahli memutuskan mengenai Roh Kudus dalam Perjanjian Lama sesungguhnya
berbeda dengan Roh Kudus di dalam Perjanjian Baru. Pendapat semacam itu
sesungguhnya sangat tidak adil, dimana kesamaan yang besar diabaikan hanya
karena perbedaan yang kecil. Prinsipnya, Roh Kudus sebagai Pribadi
nampak dalam karya-Nya, sebaliknya karya-Nya menunjukkan Roh Kudus adalah
sebagai Pribadi. Keduanya tidak mungkin dipisahkan atau dipertentangkan.
Perjanjian Lama mencatat kehadiran Roh Kudus yang dinyatakan dalam
pekerjaan-Nya diantaranya adalah:
A. Penciptaan alam semesta
Jagad raya
dengan keteraturan serta sistem yang rumit dan akurat bagi ilmu sekuler
dianggap masuk akal jika keberadaannya dikarenakan akibat suatu ledakan yang
kebetulan. Apa justru tidak lebih masuk akal jikalau dikatakan keberadaan dan
keteraturan jagad raya ini diciptakan oleh Pribadi Yang Maha Jenius? Seperti
seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dalam kebingungan
sepulang sekolah. Ia menemui ayahnya untuk meminta penjelasan soal terjadinya
bumi apakah akibat ledakan besar yang terjadi karena kebetulan, atau diciptakan
oleh Yahwe seperti yang diajarkan di Sekolah Minggu. Ayahnya meminta sekaleng
kelereng yang dimiliki anaknya dengan mengatakan“Nak, jika kelereng ini
ditebarkan di lantai mungkinkah kelereng-kelereng ini akan mengelompok secara
kebetulan sesuai warnanya masing-masing?” Anaknya yang cerdas
menjawab “Itu tidak mungkin terjadi ayah”. Ayahnya menanyakan
kembali “Berapa kalipun dicoba apakah tidak mungkin?”, Dan
anaknya menjawab “Ya”. Lalu ayahnya bertanya lagi“Menurutmu
bagaimana cara supaya kelereng-kelereng tersebut berkelompok sesuai warnanya?” Anaknya
menjawab “Ya harus ada yang mengelompokkannya” Selanjutnya
sang ayah menegaskan “Begitupun dengan dunia kita yang indah dan dasyat
ini tidak terjadi secara kebetulan, semuanya diciptakan oleh Yahwe yang Maha
Kuasa dan dasyat itu nak”. Dalam kisah di atas membuktikan sebenarnya
lebih masuk akal jika bumi ini diciptakan oleh Pribadi yang Maha Jenius
daripada terjadi karena suatu peristiwa kebetulan. Alkitab mencatat langit dan
bumi diciptakan oleh Yahwe, dan pada saat penciptaan tersebut Roh Kudus ikut
berperan serta (Kejadian 1:1-2). Robert Davidson menerangkan bahwa:
“Roh Yahwe adalah Yahwe sendiri yang dengan kuasa-kuasa
sedang bertindak di dalam dunia. Roh yang sama pada mulanya “melayang-layang di
atas permukaan air” (Kej. 1:1) untuk menerbitkan ketertiban dari dalam
kekacauan dan sampai sekarang masih terus bekerja membaharui karunia, berupa
kehidupan pada segala mahluk hidup.”[49]
Roh Kudus mengadakan penataan untuk
menjadikan segala sesuatu harmonis (Ayub 26:13; Yesaya 40:12, 13), dan Ia juga
memberikan kehidupan (Mazmur 33:6; 104:30).
B. Mengontrol kehidupan
Kejadian
1:1-3 menyatakan pada saat Yahwe menciptakan dan mengadakan penataan langit dan
bumi, Roh Kudus ikut berperan aktif. Peran aktif Roh Kudus selaku Pribadi yang
melakukan fungsinya ditunjukkan di ayat 2 dalam kalimat “Roh Yahwe
melayang-layang di atas permukaan air”. Artinya Roh Kudus mengadakan
perubahan dari samudera yang gelap menjadi kawasan yang jelas
perbedaan-perbedaannya.[50]
Stanley M. Horton memberikan penegasan dengan menulis sebagai berikut:
“Jadi, Roh Kudus dihubungkan baik dengan
ciptaan maupun dengan pemeliharaan
selanjutnya oleh Yahwe (lihat Yesaya 40:12,13). Bagian-bagian lain yang berkenaan dengan Roh Kudus juga menggunakan istilah yang menunjukkan
nafas Yahwe (Ayub 26:13; 33:4;
Mazmur 33:6).”[51]
Penulis
Perjanjian Lama dalam menggambarkan dinamika Roh Kudus mempergunakan ungkapan “melayang-layang”, “meninggal- kan”,
“memenuhi”, ”menguasai”, ”menghinggapi” hendak menunjukkan peran aktif
Roh Kudus dalam kelangsungan kehidupan. Baik kehidupan dalam kepentingan yang
lebih luas maupun yang bersifat pribadi. Roh Kudus senantiasa memberikan
tuntunan sebagaimana diyakini oleh penulis Kitab Mazmur (Mazmur 143:10), bahwa seseorang
mendapatkan kekuatan serta berhasil dalam melaksanakan tanggung jawabnya karena
Roh Kuduslah yang menolongnya untuk mencapai tujuan (Bilangan 11:16, 17)
C. Memberikan karunia untuk
tugas tertentu
Ketika
Musa membangun Kemah Pertemuan, ia memilih orang-orang yang oleh
Roh Kudus telah dikaruniai keahlian, pengertian dan pengetahuan untuk membuat
segala perlengkapannya (Keluaran 31:3; 28:3). Hal memilih orang-orang ini
sangat penting mengingat bangsa (Israel) yang keluar dari Mesir hanya memiliki
pengalaman sebagai budak. Hubungan karunia dengan pelaksanaan tugas Stanley M.
Horton menulis :
“Kepenuhan dengan Roh ini akan menjadi sumber “keahlian,
pengertian, dan pengetahuan dalam segala macam pekerjaan.” Dengan kata
lain, Roh Kudus akan memberikan pertolongan adikodrati dalam melaksanakan
tugas-tugas praktis untuk menyiapkan bahan-bahan Kemah Suci yang akan berguna
lagi indah.”[52]
Roh Kudus
memberikan keterampilan dan wibawa untuk melaksanakan tugas kepemimpinan
(Bilangan 11:16,17). Roh Kudus juga memberikan kemampuan kepada seseorang untuk
mengolah strategi guna mengalahkan musuh dalam peperangan (Hakim-hakim 3:10).
D. Menciptakan moralitas
yang benar
Roh Kudus
tidak dapat mentolerir segala bentuk kenajisan atau dosa yang dilakukan
seseorang, karena hakekat Roh Kudus sendiri adalah kudus (Kejadian 6:1-8). Roh
Kudus akan menghardik dan memberikan hukuman kepada segala macam bentuk
pelanggaran terhadap firman Yahwe. Roh Kudus juga mendidik serta memberikan
bimbingan terhadap umat Yahwe bagaimana seharusnya hidup di dalam ketaatan kepada Tuhan (Yesaya
11:5; Yehezkiel 36:27; Nehemia 9:20). Harun Hadiwijono menyatakan:
“Akhirnya, Roh yang dinamis itu mengandung di dalamnya
sifat-sifat yang etis. Hal ini terang dari Yes 30:1, yang
mengancam dengan hukuman para anak yang murtad, yang melaksanakan suatu
rancangan yang bukan oleh dorongan Roh Tuhan. Jadi Roh Yahwe yang dinamis tadi
memang adalah kekuatan atau kekuasaan yang menciptakan hal-hal yang baru, yang
ditujukan kepada tujuan keagamaan.”[53]
E. Mengilhami para nabi
Pada saat
menyampaikan berita untuk umat Yahwe para nabi menerima materi berita melalui
Roh Kudus, dan bukan hasil rekayasa dari dirinya sendiri (Yesaya
42:1). Raja Daud meyakini apa yang dikatakan melalui mulutnya datang
melalui pewahyuan Roh Kudus (2 Samuel 23:2). Nabi Yoel juga meyakini serta
menubuatkan bahwa Firman
Yahwe akan datang di zaman
yang kemudian, diberikan dengan cara melalui mimpi, penglihatan dan nubuatan
yang diilhami Roh Kudus (Yoel 2:28, 29). Stanley M. Horton menulis:
“Sebagai orang-orang yang dipenuhi Roh, para nabi yang
terutama menulis Kitab Suci (kita akui bahwa Musa adalah seorang nabi sama
seperti Daud). … Demikian pula Roh Kudus yang mengilhamkan perkataan dan
tulisan Yesaya (59:21).”[54]
Tulisan
para nabi yang diilhamkan Roh Kudus diakui oleh Yesus dan juga para Rasul baik
dengan penggenapan nubuatannya (Matius 22:42,43; Kisah Para Rasul 2:15-28)
maupun sebagai dasar pengajaran (Kisah Para Rasul 28:25-29).
F. Menubuatkan kedatangan
Mesias.
Roh Kudus
menyampaikan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang, tentang
kedatangan Mesias melalui nubuatan yang disampaikan para nabi (Yesaya 61:1, 2).
Misi kedatangan Mesias ke dunia memberikan keselamatan serta kesejahteraan umat
manusia yang terbelenggu dan diperbudak dosa (Yesaya 11:1-10). Tugas Kemesiasan
yang disampaikan para nabi melalui nubuatan dalam ilham Roh Kudus sebenarnya
yang dimaksud adalah Yesus Kristus sendiri.[55] Nabi
Maleakhi menubuatkan kedatangan Mesias terlebih dahulu akan diawali kedatangan
Nabi Elia dalam rangka merintis jalan mempersiapkan kehadiran Mesias (Maleakhi
4:5,6).
Konsep
Mesianik datang dari Roh Kudus melalui nubuatan para nabi yang dipercayai dan
ditunggu-tunggu penggenapannya oleh bangsa Yahudi. Seiring berjalannya waktu
serta pasang surut perkembangan politik bangsa Yahudi, konsep kedatangan Mesias
akhirnya dipahami secara politis.
G. Memberi kemampuan yang
luar biasa
Seseorang
dapat memiliki kekuatan yang luar biasa diatas rata-rata manusia pada umumnya
karena Roh Kudus menyertainya. Kekuatan yang luar biasa dari Roh Kudus hanya
sebagai sarana untuk melaksanakan misi Yahwe.[56] Stanley
M. Horton berpendapat tentang kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh para
tokoh dalam Perjanjian Lama sebagai berikut:
“Bahkan orang yang dipilih Yahwe untuk menolong dan
membebaskan bangsa itu tidak sama sekali bebas dari kelemahan zaman
itu. Tetapi Roh Yahwe bekerja; kadang kala Roh bekerja meskipun mereka ada
kelemahan. Sebenarnya, kelihatannya Yahwe memilih orang-orang yang tidak
penting dan tidak terkenal sehingga dapat melihat bahwa kuasa itu berasal dari Yahwe dan
bukan dari manusia.”[57]
Simson dalam Hakim-hakim 14:6 dengan mudah
mencabik-cabik seekor singa tanpa melukai tangannya sedikitpun, dan juga
beberapa tindakan spektakuler lainnya sebagai nasir Yahwe. Daniel memiliki
kemampuan yang luar biasa dalam hal akal budi dan hikmat, dan pada jamannya di
tengah-tengah bangsa kafir ia dikenal penuh roh para dewa yang kudus (Daniel
4:8; 5:10-12). Mikha menyatakan Roh Kudus dapat memberikan kekuatan, dan tentu
saja bukanlah kekuatan yang biasa-biasa (Mikha 3:8).
Pekerjaan
Roh Kudus dalam Perjanjian Lama cakupannya sangat luas sebagai perwujudan karya
Yahwe yang tetap peduli dengan ciptaan-Nya. Hal itu turut membuktikan peran Roh
Kudus sebagai Pribadi dalam ke-Tritunggalan Yahwe.
Pneuma Dalam Perjanjian Baru ( INJIL)
Pneuma Dalam Injil-Injil Sinoptik
“This is how the birth of Jesus Christ came
about : His mother Mary was pledged to be marries to Joseph, but before they
come together, she was found to be with child through the Holy Spirit” (Mattew
1 : 18) [58]
Dan Juga dalam Lukas 1 : 35 :
The angel answered : “The Holy Spirit come
upon you, and the power of the Most High will over shadow you . Show the holy
one to be born will be called the son of God.[59]
Dari dua ayat
dalam Injil sinoptik diatas ada hubungan yang erat perihal kelahiran Yesus
dengan karya Roh kudus, dan lebih lanjut ketiga injil menceritakan bagaimana
Yohanes Pembaptis mengemban misi membaptis dengan Air kemudian Ia menyatakan
akan datang lagi mesias yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Semua kitab Injil menceritakan bahwa ketika
Roh Kudus turun atas Yesus dalam rupa merpati dan Roh itu juga membawa Yesus ke
padang Gurun dan di cobai
selama empat puluh hari lamanya, dalam masa pencobaan itu Yesus telah
menaklukkan kuasa kegelapan, dengan Kuasa Roh kudus yang di berikan kepada-Nya
( Mat 12 : 28), kedua Injil
yang lain melibatkan hal itu dengan menghujat Roh Kudus. Walau Pun dalam Kontek
yang berbeda, baik Matius 12:18, maupun Lukas 4:18, merujuk kepada penggenapan
Nubuatan bahwa Mesias akan diberkati dengan Roh Kudus.
Kesimpulannya,
Injil sipnoptik sepakat bahwa Yesus
dikaruniai Roh untuk memenuhi misi mesianis-Nya, dan bahwa Misi-Nya
meliputi karena Roh secara umum, dan bahwa murid-muridnya akan disanggupkan
oleh Roh untuk mengatasi segala kesulitan apa saja yang akan mereka temui.
Perhatian kita hanya untuk membandingkan dan mempertentangkan ajaran Sinoptik
dan Apokaliptik Yohanes.
Pneuma Dalam Injil Apokaliptik Yohanes
Apa yang
digambarkan oleh Injil Yohanes tentang karya Roh Kudus agak berbeda dengan yang
digambarkan oleh Injil-injil Sinoptik, walaupun tidak bertentangan. Para
penulis Injil Sinoptik menceritakan bagaimana turunnya Roh Kudus kepada Yesus
(Yoh 1 : 32-34), tetapi Injil Yohanes memberikan penekanan yang berbeda, hal
itu adalah tanda bagi Yohanes Pembaptis, namun seturut dengan catatan yang
kemudian menerangkan bahwa Yesus dipenuhi pada saat Dia dibaptis oleh Yohanes
Pembaptis di sungai Yordan. “Yahwe mengaruniakan RohNya dengan tidak terbatas
(kepada anakNya). (Yoh 3 : 34). Barrett mengatakan : “ Yesus memiliki Roh
supaya Ia dapat menganugerahkannya; dan pemberian roh itulah secara menonjol
membedakan antara dispensasi baru dengan yang lama.[60]
Roh Kudus yang dianugerahkan kepada Yesus sangat berbeda dengan yang ada pada
perjanjian lama tetapi bukan pada system paradoxal melainkan kepada penggenapan
dari semua karya Roh Kudus, Yesus memberikan Roh Kudus kepada para Rasul dan
murid lainnya dalam kapasitas apokaliptik, agar semua orang yang percaya di
penuhi dengan kuasa roh itu sendiri. Setelah Yesus naik ke sorga, penderitaan
dan aniaya tak putus-putusnya dialami para pemercaya pada abad pertama, bahkan
ada yang mati martir di tangan para ahli agama Yahudi. Stefanus sebagai martir pertama telah memberikan bukti kepada
dunia, bahwa roh kudus telah mengubahkan kemanusiaan stefanus menjadi keadaan
Ilahi yang mampu mengampuni orang yang bersalah tanpa rasa benci tetapi penuh
kasih. Misi mesianis Yesus dalam tahapan awal ini sangat berhasil karena para
murid melakukan apa yang diamanatkan kepada mereka.
Lebih lanjut George Eldon Ladd
menyatakan : “ Anugerah pemberian
Roh dan berkat yang mengikutinya kepada manusia dinyatakan dalam ungkapan lain;
“ Barang siapa percaya kepada –Ku, seperti yang dikatakan oleh kitab suci: dari
dalam hati akan mengalir aliran-aliran air hidup (Yohanes 7:38). Ini dikutip sebagai ucapan
Yesus. Yohanes menambahkan komentar ini : “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang
akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang,
sebab Yesus belum dimuliakan” (7:39). Yesus adalah sumber air hidup, mereka
yang minum air ini tidak akan haus lagi (4 : 14) Namun Yesus akan kembali
kepada Bapa dan manusia tidak lagi dapat mendengar Firman-Nya. Sebagai ganti
kehadiran-Nya, murid-muridlah yang melanjutkan misi Yesus di dalam dunia, dan Roh Kudus akan
diberikan kepada murid-murid
sehingga perkataan dan perbuatan mereka bukan lagi tindakan manusia semata-mata
melainkan saluran hidup bagi orang-orang yang mendengarkan perkataan mereka dan
mempercayainya.[61]
Setelah murid-murid menerima Roh Kudus berita keselamatan yang disampaikan
Yesus kepada dunia cepat tersebar. Yohanes memberikan ungkapan kelahiran oleh Roh
adalah integrasi vertical antara alam Yahwe diatas dan alam manusia dibawah.
Secara jelas Yohanes menegaskan bahwa seseorang yang tidak dilahirkan di dalam roh tidak akan melihat kerajaan Yahwe.
Kelahiran dari atas ini sama seperti kelahiran dari air dan Roh. Ide ini
menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki hidup secara otomatis atau permanent
tetapi Yahwe – lah yang menjadi sumber kehidupan dan itu terlaksana oleh
pekerjaan Roh Kudus – Nya.
Injil apokaliptis Yohanes ini memusatkan kepada pekerjaan dan karya Roh Kudus
yang sangat besar dalam kehidupan manusia.
Parakletos
Paracletos dalam kitab Yohanes
digambarkan sebagai penghibur, dimana ketika Yesus akan meninggalkan dunia
manusia Ia menjanjikan seorang penghibur. Sebelum masuk ke dalam pembahasan kata Parakletos berasal
dari kata kerja (yunani) Paracaleō, tetapi dalam bahasa latin
diterjemahkan sebagai confortare yang
artinya menguatkan dan membentengi. Para Teolog masa kini banyak menemukan
pengertian yang banyak dari kata paraclete[62].
Kata Yunani ini memiliki arti kata “advocate” dalam pengertian keadilan, dimana
Paraclete menjadi pembela murid-murid di dunia dan dihadapan Bapa di surga.
Karya Roh Kudus Dalam Perjanjian Baru.
Pada pembahasan
sebelumnya kita sudah melihat bagaimana Roh kudus menjadi pusat pemberitaan
dalam kitab- kitab Injil Sinoptik dalam karya Muzizat Yesus, dan dalam injil
apokaliptis Yohanes juga membuka dengan luas pekerjaan Roh kudus ini. Dalam pembahasan ini kita akan melihat bagaimana karya
Roh Kudus secara keseluruhan
dalam perjanjian baru. Perjanjian
Baru dibuka dengan karya Roh Kudus melalui peristiwa Maria yang mengandung
untuk melahirkan Yesus Kristus dalam rangka menggenapi nubuatan yang telah
ditetapkan dalam Perjanjian Lama. Selain di ke empat Injil, eksistensi serta pekerjaan Roh
Kudus dicatat semakin meningkat intensitasnya dalam kitab Perjanjian Baru yang
lain. Luasnya karya Roh Kudus dengan berbagai cara yang dilakukan-Nya dalam
Perjanjian Lama sangatlah luar biasa, dan tidaklah mengherankan bila hal serupa
terdapat dalam Perjanjian Baru.[12]
Roh
Kudus Melakukan Pemulihan
Seseorang dapat selamat
bukanlah hasil dari pekerjaan baiknya
dalam bentuk amal kesalehan, melainkan melalui imannya kepada Yesus Kristus.
Roh Kudus berperan mengadakan pembaruan status orang percaya di hadapan Yahwe
dari yang dulunya sebagai budak dosa telah dimerdekakan dan diangkat menjadi
anak Yahwe (Yohanes 1:12; Titus 3:5; Roma 8:15). Dalam hal ini Chris Marantika
menulis:
“Pengertian teologis untuk istilah ini ialah bahwa setiap
orang yang bertobat dari dosa-dosanya dan beriman kepada Tuhan Yesus sebagai
Juruselamat pribadinya yang berarti telah lahir baru, diangkat oleh Yahwe
menjadi Jemaat keluarga-Nya dan berhak mewarisi Kerajaan Yahwe bersama
orang-orang beriman lainnya.”[63]
Proses ini dikenal sebagai tindakan dispensasi dari Yahwe melalui Roh
kudus sehingga manusia berdosa itu mendapat kesempatan pemulihan hubungan
antara manusia dengan Yahwe. Dosa telah merusakkan hubungan yang pada awalnya
baik dan indah tetapi akibat keinginan dan hawa nafsu kedagingan maka manusia
kehilangan persekutuan ini. Tidak ada lagi yang benar semua telah berdosa dan
kehilangan kemuliaan Yahwe seperti yang disampaikan oleh Paulus dalam tulisannya
kepada Jemaat di Roma, (Roma 3:9–18), Roh
Kudus menjadi parakclete bagi manusia dihadapan Yahwe sehingga terjadi
pemulihan yang totalitas.
Roh
Kudus Sebagai Pembimbing
Kehadiran Yahwe
ditengah-tengah umat-Nya dinyatakan dalam pekerjaan Roh Kudus yang memberikan
bimbingan kepada orang percaya. Roh Kudus memberikan hikmat kepada seseorang
agar dapat memahami sesuatu yang tidak mungkin dipahami melalui akal pikiran
biasa (1 Korintus 2:13). Senada dengan itu Millad J. Erickson menjelaskan:
“Karunia-karunia Roh Kudus diberikan dalam kata-kata yang
diajarkan didaktoi~oleh Roh dan bukan oleh hikmat manusia (2:13). Dari
semua pertimbangan ini, tampaklah bahwa Paulus tidak mengatakan orang-orang
yang tidak rohani itu mengerti tetapi tidak menerima. Sebaliknya,
orang-orang yang tidak rohani itu tidak menerima, setidak-tidaknya sebagian,
karena mereka tidak mengerti.”[64]
Bahkan
dalam 1 Yohanes 2 :27 ditegaskan betapa pentingnya urap an atau pencerahan yang diberikan
oleh Roh Kudus untuk mengerti firman Yahwe, sampai-sampai penulis Surat Yohanes
menggunakan kalimat “… tidak perlu kamu diajar oleh orang lain.”
Seseorang
dapat memiliki kearifan dengan cara mengharapkan dan meminta pertolongan Roh
Kudus.[65] Sebab
Roh Kudus mampu memimpin dan mengajar untuk memberikan pemahaman terhadap
seluruh kebenaran, Ia juga mampu membimbing seseorang bagaimana seharusnya
menyampaikan argumentasi mengenai kebenaran (Lukas 12:12; Yohanes 16:13,14;
Markus 13:11).
Roh Kudus Memperlengkapi Pelayan
Setiap
orang yang dipanggil dan ditetapkan dalam pelayanan dilengkapi oleh Roh Kudus
dengan karunia sesuai kebutuhan dalam rangka pembangunan tubuh Kristus (Roma
12:6-8; 1 Korintus 12:7-11). Orang yang dipanggil dalam pelayanan tidak diukur
menurut kesanggupan manusiawi yang terbatas, melainkan menurut ukuran
pembekalan Roh Kudus yang melimpah.[66] Paul
Yonggi Cho menyatakan bahwa:
“Bila ada suatu pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk Yahwe,
karunia-karunia Roh Kudus diberikan kepada berbagai orang percaya di dalam
gereja, tubuhNya. Ini menyanggupkan orang-orang percaya untuk menyelesaikan
pekerjaanNya dan tanggung jawabNya secara berhasil-guna dan pekerjaan itu
berkembang karena adanya karunia-karunia Roh Kudus.”[67]
Dengan
demikian karunia yang diterima oleh seseorang bukanlah diperuntukkan bagi
kepentingan dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan perluasan Kerajaan Yahwe[18](Band.
dengan Kisah Para Rasul 1:8). Jadi efektifitas pelayanan
sangat tergantung kepada karunia Roh Kudus dan motivasi pelayanan yang
bertujuan untuk membangun tubuh Kristus.
Roh Kudus Menguduskan
Rasul
Paulus menghubungkan hidup dalam Roh yang terjadi dalam diri seseorang dengan kemampuan
yang diterima dari Roh untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging (Roma
8:9-13). Kekudusan dihubungkan dengan mematikan perbuatan daging dengan tujuan
untuk mendapatkan kualitas moral yang benar. Dalam hal ini Bruce Milne menulis:
“Hal ini menggarisbawahi kenyataan bahwa tidak mungkin
memisahkan krisis pembaruan dari perubahan moral yang menyusul. Menurut istilah
teologi, pembenaran … tidak dapat dipisahkan dari pengudusan (proses perubahan
moral sepanjang hidup untuk lebih mendekati citra Kristus).”[68]
Paulus
menjelaskan kepada jemaat di Galatia tentang hidup oleh Roh dengan
ditandai tidak hidup menurut keinginan daging. Perbuatan daging yang
dimaksudkan adalah percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala,
sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri,
percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya
(Galatia 5:11-21). Roh Kudus menolong orang percaya melepaskan diri dari ikatan
perbuatan daging dan memimpinnya untuk hidup dalam kekudusan.
Roh
Kudus Mengilhamkan Penulisan Kitab Suci
Bertitik
tolak dari penjelasan Yesus Kristus tentang Roh Kudus (Yohanes 14:26 dan
16:13), bahwa Roh Kudus-lah yang akan mengajar apa yang difirmankan Yesus, dan
memberitahukan hal-hal yang akan datang, maka peran Roh Kudus dalam penulisan
Kitab Suci menjadi sangat penting.
Rasul
Petrus dan Rasul Paulus mempercayai otoritas Roh Kudus dalam memberikan
pengilhaman untuk terwujudnya penulisan Alkitab (2 Petrus 1:21; 2 Timotius
3:16). Karena dorongan untuk menulis berasal dari Roh Kudus, para pembaca harus
memperhatikan nubuatan sebagai firman Yahwe. [69] Tentang
peran Roh Kudus dalam pengilhaman Kitab Suci Henry C. Thiessen memberi
penegasan bahwa:
“Para Rasul menyatakan bahwa mereka telah menerima Roh ini
(Kisah 2:4; 9:17; 1 Korintus 2:10-12; 7:40; Yakobus 4:5; 1 Yohanes 3:24; Yudas 19) dan bahwa mereka berbicara karena
dipengaruhi oleh Roh serta atas nama Roh itu (Kisah 2:4; 4:8, 31; 13:9; 1
Korintus 2:13; 14:37; Galatia
1:1,12; 1 Tesalonika 2:13; 4:2, 8; 1 Petrus 1:12; 1 Yohanes 5:10-11; Wahyu 21:5; 22:6,18-19). Jadi dapat dikatakan
bahwa Tuhan Yesus sendiri menjamin pengilhaman Perjajian Baru.” [70]
Roh Kudus Meneruskan Pelayanan Yesus
Tuhan
Yesus menegaskan bahwa kehadiran Roh Kudus bertujuan menindaklanjuti karya
penebusan terhadap orang berdosa yang telah dikerjakan-Nya dengan cara
menginsafkan dan menjelaskan kebenaran akan adanya penghakiman di akhir zaman (Yohanes 16:7, 8). Harun
Hadiwijono menyatakan hubungan Roh Kudus dengan Yesus Kristus sebagai berikut:
“Jadi ada hubungan yang erat sekali di antara karya Kristus
sebagai Anak Yahwe dan karya Roh Kudus sebagai kekuatan ilahi atau daya ilahi.
Hubungan itu demikian eratnya, hingga Roh Kudus juga disebut Roh Kristus (1
Ptr. 1:11). Kristus mendatangi para orang milikNya di dalam Roh dan di dalam
Roh itulah Ia bersama-sama dengan mereka.”[71]
Bahkan
sebelum naik ke sorga Yesus Kristus menyampaikan wasiat tentang Roh Kudus yang
akan memberikan dinamika pekabaran Injil (Kisah Para Rasul 1:8).
Roh
Kudus Memberi kuasa
Saat
menyampaikan argumentasi mengenai asal-usul kuasa yang dipakai-Nya untuk
mengusir Setan, Tuhan Yesus mengakui Roh Kudus-lah yang memberi-Nya kuasa
(Matius 12:28). Rasul Paulus juga mengakui dalam menyusun strategi pekabaran
Injil ia mempergunakan cara mendemontrasikan kuasa di dalam kekuatan Roh Kudus
(1 Korintus 2:4, NIV). Hal itu dibuktikan Rasul Paulus pada saat ia
mempergunakan otoritas Roh Kudus untuk menghardik tukang sihir, dan
menjadikannya buta dalam beberapa hari (Kisah Para Rasul 13:9-12; 1
Yohanes 4:4). Mengenai Roh Kudus yang mampu memberikan kuasa James I. Packer
menyatakan:
“Kedatangan Kristus, Sang Juruselamat, telah membawa
pencurahan Roh Kudus kepada Gereja dan dunia. Roh Kudus datang dengan kuasa.
Dalam Perjanjian Baru, kita melihat kuasa ini diwujudkan di dalam semua cara
yang disebut di atas: kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah
ditetapkan dan kemampuan untuk mengatasi pencobaan, dan kemampuan memenangkan
orang lain melalui pemberitaan firman Tuhan dan kesaksian, dan kemampuan untuk
bertindak sebagai saluran kuasa Yahwe dalam berbagai mujizat, penyembuhan, dan
lain sebagainya.”[72]
Berdasarkan
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Roh Kudus hadir secara
berkesinambungan ditengah kehidupan manusia yang dapat dilihat dalam karya-Nya,
dan dapat dirasakan kehadiran-Nya sebagai Pribadi. Kesimpulan lain yang bisa
didapat Roh Kudus yang berkarya dalam Perjanjian Lama tidak lain Roh Kudus yang
sama seperti didalam Perjanjian Baru. Hanya saja dalam Perjanjian Baru
intensitas kehadiran dan karya Roh Kudus lebih banyak jumlahnya. Beberapa
perbedaan yang terdapat dalam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru pada
dasarnya tidaklah sebanding dengan banyaknya kesamaan yang prinsipil. Oleh
karena itu rasanya tidak adil apabila penilaian dijatuhkan dengan hanya
bertumpu pada perbedaan yang kecil, bahwa Roh Kudus dalam Perjanjian Lama
berbeda dengan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru.
LAHIR BARU
Untuk dapat memahami pengertian
tentang frase “Lahir Baru” maka harus dilihat latar belakang yang menyebabkan
peristiwa kelahiran frase ini, mengapa ada peristiwa yang demikian. Hal ini
tidak bisa lepas dari peristiwa pra sejarah di Taman Eden, Eden adalah saksi
dimana manusia yang pada awalnya dipenuhi oleh kemuliaan Tuhan, tetapi kemudian
terjerembab dalam kehinaan dosa, sejak itu manusia hidup dalam kedagingan yang
dikendalikan oleh hawa nafsu. Keberdosaan manusia ini yang kemudian dipahami
sebagai kehidupan lama, Daud dalam Maz 51 : 7 mengatakan : “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku
dikandung ibuku” ini adalah sebuah
penyataan tentang keberdosaan manusia. Manusia, akhirnya membutuhkan sebuah
jalan untuk mendapatkan keselamatan. Dalam Perjanjian Baru doktrin keselamatan
ini lebih banyak disampaikan oleh Paulus dalam setiap surat kiriman. Baiklah
kita melihat pokok pikiran Paulus dalam doktrin keselamatannya. Keselamatan
dalam peikiran Paulus tidak lepas dari pemahaman Paulus tentang Dosa, Indikasi
tentang pemikiran ini dapat dilihat bagaimana Paulus menerangkan hidup sebelum
dan diluar Kristus, serta modus eksistensi manusia dalam konteks hidup itu,
khususnya saat dia memakai kata “dunia” (kosmos)
atau “ dunia ini” dan “aeon” (yang
sekarang) ini. Kedua kata ini berperan penting dalam cara pikir Paulus yang
berorientasikan sejarah penebusan. Kedua kata ini menggambarkan totalitas hidup
di luar Kristus yang belum ditebus dan masih dikuasai dosa – kosmos lebih berkonotasi ruang,
sementara aeon lebih berkonotasi
waktu.[73]
Dosa masa masa lampau dan dosa masa kini telah
mencengkram kehidupan manusia, proses pengembalian/pemulihan hubungan dengan Yahwe
adalah suatu tindakan yang merupak respon dari manusia atas anugerah dari
kemurahan kasih Bapa kepada manusia, dalam hal ini Yahwelah yang ber inisiatif
dan manusia merespon dengan memberikan hatinya untuk Yahwe, hal ini disebut
peristiwa pertobatan. Setelah seseorang mengalami pertobatan maka ia akan terus
menalami tingkatan demi tingkatan menuju kelahiran baru (lahir baru). Ada
kesalahan di kalangan Kristen belakangan ini jika ia menerima Kristus sebagai
juruselamat
pribadi maka ia telah mengalami
peristiwa lahir baru.
Urutan yang tepat ialah seseorang
harus beriman dulu seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam Roma 10:9, ada tiga
kata yang harus diperhatikan yaitu kata : “homologeses (pengakuan)”,”pisteuses
(percaya)” dan “souteses (keselamatan)”. Dari ketiga kata diatas maka ada
tingkatan yang harus dialami yang berlangsung secara berkesinambungan tak
terputus. Homologeses adalah sebuah tidakan responsive atas anugerah Yahwe
yaitu memberikan hati, dalam bahasa inggris diakatakan “surrounded” penyerahan
total. Jika seseorang tidak menyerah secara total dibawah kekuasaan Yahwe maka
dia tidak akan pernah mengalami namanya kelahiran baru. Penyerahan/pengakuan itu digerakkan oleh kepecayaan kepada
keberadaan Yahwe yang maha suci, menundukkan logika dan melebur dalam kemuliaan
Yahwe yang Maha
Kudus. Jika sudah melebur maka ia akan
mendapatkan keselamatan total, bukan sebagian atau sedikit saja tetapi total.
Seringkali
orang yang sudah dikenal menerima Yesus tetapi kembali kepada kehidupan
lamanya, ada orang yangmengatakan bahwa jika seseorang telah menerima Yesus sebagai
Juruslamat pribadi maka ia berhak menjadi ahli waris, ini adalah pandangan
sesat yang di tanamkan oleh Iblis. Keselamatan atau menjadi ahli waris adalah
suatu proses berkesinambungan tidak terputus dan itu terus bekerja hingga kedatangan Tuhan
dalam hidup kita di masa
kini atau kedatangan Yesus kedua kali di masa
yang akan datang. Paulus pernah menuliskan kepada jemaat di Filipi agar tetap
mengerjakan keselamatan mereka dalam takut akan Tuhan (2:12).
Pertobatan Sebagai Pintu Menuju Pemulihan
Keselamatan
adalah suatu proses pemulihan relasi yang benar dengan Yahwe melalui
pembenaran, pendamaian dan pengangkatan sebagai anak. Keselamatan bukan hanya
pemulihan relasi tetapi pemulihan seluruh hidup dalam pengertian yang
menyeluruh.[74].
Kebenaran Yahwe yang yang dinyatakan dalam kristus adalah kebenaran yang
memimpin kepada hidup, dalam pengertian yang menyeluruh (Roma 5 : 18).
Seseorang jika ingin memiliki hubungan yang diubahkan secara total maka ia
harus berbalik kepada Yahwe, dan meninggalkan segala kehidupan lamanya. Ada kiasan babi jangan kembali ke lubang,
atau anjing kepada muntahnya. Tetapi sering kali kehidupan para petobat
selalu jatuh kelubang yang sama sepanjang perjalanan hidup mereka. Bertobat
juga mengubah haluan atau kiblat tujuan hidup, dari dunia menjadi berpusat pada Yahwe.
Mematikan kedagingan adalah hal yang
utama dalam proses pertobatan. Sebab ada ungkapan “Dahulu kamu telah mati bagi
dosa, menyerah dan takluk kepada kehendak dosa” . Mati bagi dosa tidak merujuk
kepada realitas etis atau mistis. Berdasarkan konteks ini adalah awal dari
sejarah penebusan yang dilakukan oleh Yesus, kita semua dibaptis dalam Kristus
telah dibaptis dalam kematian-Nya. Paulus lebih eksplisit mengenai pertobatan
ini dalam Kolese 3 : 5 dikatakan :” Karena matikanlah dalam dirimu segala
sesuatu yang duniawi ...”[75]
HIDUP BARU
Manusia
telah terbelenggu dalam dosa, upah dosa ialah maut. Yang berarti manusia telah
binasa dalam belenggu dosa, sebelum di jabarkan pada sub bab ini maka harus
dipahami dulu esensi dosa itu. Supaya kita dapat memahami soteriologi yang di
sampaikan oleh Paulus dan kaitannya dalam karunia Roh Kudus yang disampaikan
oleh Yesus, dosa adalah tesis dari kelemahan jasmaniah manusia, yang cenderung
melakukan dan terpikat didalam dosa sehingga mengakibatkan kematian dalam dua
level kehidupan diatas dan di bawah, kalau kita dapat mengatasi dosa dan menang
atas segala godaan dosa maka tubuh kita
mendapat kesempatan untuk mengalami pemuliaan dalam Kristus tetapi jika kita
tenggelam dan tertanam dalam dosa maka penghakiman yang akan diterima manusia.
Oleh sebab itu manusia harus mengalami proses pemulihan relasi dengan Yahwe, supaya
menjadi Ahli waris, seperti yang disampaikan oleh Yohanes dalam 1 : 12, setiap pribadi yang menerima Yesus
dan mengakui sebagai Anak Yahwe maka pribadi itu menjadi pewaris kehidupan
dalam surat 1 Yoh 5 : 11 – 12 menyatakan : Dan inilah kesaksian itu, Yahwe
telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita, dan hidup itu ada didalam
Anak-Nya, barang siapa yang memilki anak maka Ia memiliki hidup, barang siapa
tidak memiliki anak maka ia tidak mememiliki hidup, oleh sebab itu eksistensi
kematian Kristus
adalah bentuk dari penaklukan tubuh yang berdosa, sehingga dosa ditanamkan
dalam kematian, dan eksistensi kebangkitan kristus adalah bukti bahwa dosa
tidak dapat menghalangi kebenaran dan kemuliaan Yahwe yang diberikan kepada
Yesus sebagai anak-Nya yang tunggal. Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan
sebuah tanda dan jaminan bahwa Yahwe telah membuktikan kepada dunia keberadaan
dari eksistensinya.
Makna Dosa Dan Penaklukannya
Dosa
berada didalam dunia sehingga dosa itu bersifat Universal, Adam sebagai manusia
pertama yang berdosa maka seluruh umat manusia menerima dosa yang diturunkan
oleh Adam, tidak ada lagi manusia yang tidak berdosa, sebab dosa telah
ditaburkan dalam kefanaan tubuh manusia. Ada banyak agama menolak dosa
keturunan atau dosa warisan seolah dosa
itu terjadi ketika manusia telah akil balik, yang menjadi pertanyaan adalah
jika manusia lahir dalam keadaan tidak berdosa, maka kapan dia melakukan dosa?.
Logika menyatakan jika manusia dalam
keadaan suci lahir, maka dia akan tetap dalam keadaan suci, sebab kesucian itu
tidak akan ternoda oleh apapun. Apa yang suci akan melahirkan kesucian, tetapi
daging akan melahirkan daging. Kesucian itu bukan keadaan lahiriah tetapi
berada dalam kondisi karakter manusia yaitu moral. Jika moral kita subsitusi
menjadi jiwa maka jiwa manusia juga sudah dirusakkan oleh dosa, kerusakan moral
yang sedemikian telah ditunjukkan oleh manusia kafir zaman purba ( Manusia
seangkatan Nuh), Masyarakat Sodom dan Gomora, kemegahan palsu Yudaisme, semua ini telah dinyatakan dalam Roma
1:18–3:20. Kerusakan yang dibuat oleh dosa menyebar seperti kanker ganas yang
tidak mengenal batas, semua level kehidupan manusia telah gelap gulita akibat
dosa. Kecenderungan inilah yang menimbulkan kehancuran diseluruh dunia,
kefasikan, percabulan, dusta dan kenistaan menjadi pilihan manusia didunia.
Oleh sebab itu dosa harus ditaklukkan secara fundamental agar efek dan residu
dari dosa telah membuat manusia cenderung berbuat dosa lagi.
Dalam
Kitab suci tertulis : “ Tidak ada yang benar, seorangpun tidak, tidak
seorangpun berakal budi, tidak seorangpun mencari Yahwe. Semua orang telah
menyeleweng, mereka semua tidak berguna ...”
(3:10–20, bdk 2:24). Apa yang disampaikan oleh Paulus dalam ayat-ayat diatas
bukan menunjukkan kepada dosa pribadi tetapi lebih dari itu Paulus ingin
menunjukkan kuasa dosa dan natur dari asal mula dosa dan solidaritas implikasi dosa.
Jika
sudah diketahui universalitas dosa, natur, asal mula dosa dan solidaritas
penyebab dosa, maka yang menjadi pertanyaan bagaimana menaklukkan dosa. Dosa
terjadi dan berakar serta mencengkram seluruh entitas dan identitas manusia.
Pemahaman asal mula dosa harus menjadi titik tolak dari penaklukan dosa itu
sendiri. Dalam Ensiklopedi Perjanjian
baru, makna dosa diterangkan sebagai berikut : Dalam bahasa Yunani dosa diterangkan dengan
pengertian hamart (dipakai 296 kali).
Harmatia bermakna lebih luas daripada
kata adikia artinya kejahatan yang berkaitan dengan
kosa kata yuridis (muncul 22 kali) dari pada kata parabasis ( dari kata para-bainô : berjalan disamping,
melanggar”) yang berkaitan dengan pelanggaran ketetapan-ketetapan ilahi (14
kali). Berbeda dengan dunia Yunani
dimana kata kerja hamartano : “
menyimpang dari sasaran” tidak mengandung makna “kejahatan”, melainkan hanya
kekeliruan atau pengaruh takdir belaka, maka PL menghubungkan dosa secara erat
mengenai hubungan manusia dengan Yahwe, sehingga berdosa berarti tidak setia
kepada “Perjanjian”, searti dengan menghianati “Kasih” dan memisahkan diri dari
Jemaah. Tidak ada obat untuk menyembuhkan dosa selain pengampunan Yahwe yang
kudus, dan ini berarti perlu mengadakan
pendamaian dengan Yahwe.
Untuk menaklukkan dosa maka manusia
harus menaklukkan diri dalam kemuliaan Yahwe, searti dengan pertobatan dari
kehidupan berdosa, pertobatan itu bukan hasil usaha manusia melainkan karya Roh
Kudus ( akan kita bahas nanti). Untuk menyelamatkan manusia itu bukan inisiatif
manusia, agama, kepercayaan apapun. Keberdosaan berarti menentang ke mahakudusan Yahwe, ke mahamuliaan Yahwe. Untuk
pengampunan hanya Tuhan sendiri yang bisa
mengampuni manusia. Inisiatif ini dilakukan oleh Yahwe dengan mengutus
Firman-Nya menjadi manusia, manusia berdosa hanya dapat ditebus dengan korban
manusia, bukan hewan atau benda apapun. Oleh
sebab itu dispensasi yang diberikan oleh Yahwe melalui manusia Yesus adalah
bukti bahwa Yahwe begitu mengasihi manusia sebagai mahkota ciptaan-Nya.
Satu Dalam Kematian Dan Kebangkitan Kristus
Terminologi
keselamatan ada dalam kematian dan kebangkitan Kristus, karena apa yang telah
disalibkan diatas kayu salib maka itu adalah akhir dari penaklukan atas dosa.
Kekuasaan dosa berada dalam ranah jasmaniah yang terintegrasi dengan ranah
rohani. Sebab apa yang ada di alam
rohani maka itu yang nyata di alam
jasmani. Kematian Kristus adalah bentuk bagaimana kekuatan dosa di setiap level
kekuasaannya telah dihancurkan. Kita telah mati bersama dengan Kristus maka
kita pun akan menjadi sama dengan kebangkitan Kristus, Paulus lebih radikal
lagi mengemukan dalam hukum
subsitusi dispensasi menyatakan bahwa jika seorang telah mati bagi seluruh
manusia maka manusia juga telah mati dalam dosa, tetapi jika oleh satu manusia
tersebut telah mengalahkan kematian maka seluruh manusia berhak mendapat
kehidupan, tetapi bagi mereka yang percaya saja, jika tidak percaya maka
penghukuman dalam penghakiman tetap berlanjut. Tetapi orang yang satu dengna
Kristus mereka tidak mendapatkan pehukuman lagi melainkan kehidupan kekal dalam
nama Bapa yang dikaruniakan atas nama Yesus Kristus. Menjadi satu dalam bahasa
Yunani dikatakan symphytoi gegonamen,
untuk frase ini merujuk kepada baptisan dan menyatakan bahwa kita telah menjadi
satu dengan konteks – hidup yang Kristus wakili sebagai Adam terakhir.
PEMBAPTISAN DALAM ROH
Perkataan
Dibaptis oleh Roh Kudus dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis, pada saat ia
mengumandangkan pertobatan, “ aku membaptis kamu dengan air tetapi Ia (Yesus)
akan membaptis kamu dengan Roh Kudus”, sebelum di bahas lebih lanjut maka kata
dibaptis harus di pahami dahulu, agar tidak menyimpang artinya. Dalam bahasa
Yunani dikatakan baptisma/baptismos dari
bapto, sebuah kata kerja yang kian hari kian dibatasi artinya, sampai mulai
berarti mewarnai hingga lama kelamaan diganti dengan baptize : “membasahi,
membenamkan didalam…”[76],
oleh sebab itu jika arti kata baptizo, ditenggelamkan maka pembaptisan haruslah
dilakukan dengan penenggelaman, jika tidak ditenggelamkan maka hal itu bukan
baptisan, banyak gereja hanya melihat dari sudut praktisnya saja dalam
pelaksanaan pembaptisan, gereja protestan juga melaksanakan pembaptisan tetapi pada saat anak masih bayi, kenapa
muncul traidsi ini juga tidak diketahui. Yohanes sebagai pendiri pelaksanaan
upacara baptis justeru membaptis orang yang sudah dewasa, maksudnya agar dalam setiap keputusan yang mereka ambil, mereka telah memahami apa yang telah
mereka lakukan, tetapi banyak gereja masa kini justeru menentang tradisi
Yohanes. Oleh sebab itu setiap orang yang dibaptis tanpa tahu arti dari
baptisan maka harus dibaptis ulang, baptis ulang bukan dosa.
Pembaptisan adalah menyucikan diri
dari dosa[77]
dalam artian ia adalah awal titik balik kepada Tuhan, ada undangan untuk
bertobat, oleh sebab itu jika tujuan utama dari pembaptisan adalah bertobat,
maka hanya orang yang sudah dewasa secara psykologi dan kognitif yang dapat
melakukan itu, bukan anak-anak dibawah
dua tahun. Hal yang paling penting adalah Baptisan merupakan pralangkah kepada
pembaptisan Roh dan Api yang dilakukan oleh Yesus, untuk mencapai pertumbuhan
dan level iman maka seseorang harus di baptis didalam Roh dan Api. Baptisan Roh adalah pintu masuk ke dalam kehidupan Roh yang lebih dalam. Pengalaman
Pentakosta pada Gereja Mula-Mula adalah
satu bukti forensic yang nyata dan tak terbantahkan, dimana kehidupan orang
yang pada mulanya biasa dan tidak ada yang istimewa tetapi ketika mereka
menerima baptisan roh maka seluruh kehidupan mereka berubah. Horton dalam
bukunya Bible Says : Baptisan Roh
kudus merupakan permulaan penuaian dan membawa kaum laki-laki dan perempuan
kedalam persekutuan untuk beribadah, mengajar, dan melayani, begitulah baptisan
dalam Roh Kudus hanya pintu kedalam
hubungan yang lebih meningkat dengan Roh dan dengan orang-orang percaya
lainnya. Baptisan ini memimpin kepada hidup pelayanan dimana karunia-karunia
Roh menyediakan kuasa dan hikmat untuk menyebarkan Injil dan bagi pertumbuhan
gereja. Ini ditunjukkan oleh pesatnya penyebaran Injil ke banyak daerah di dunia sekarang ini.
Berbagai pemenuhan baru, pengarahan baru untuk pelayanan harus diharapkan
sewaktu berbagai kebutuhan baru muncul, dan sebagaimana Yahwe dalam
kehendak-Nya yang Mahatinggi akan melaksanakan rencanaNya[78]
Tanda – Tanda Baptisan Roh Kudus
Tanda
baptisan roh kudus berbeda dengan karunia atau karya roh kudus, sebab
seringkali orang menganggap sama kedua hal ini.
Pada hari Pentakosta, ada dua tanda yang mendahului pencurahan Roh Kudus
yaitu, mereka mendengar tiupan angin keras dan tampaklah lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap
pada mereka masing-masing (Kis 2 : 2-3), tanda khusus ini tidak terulang lagi
pada mereka yang dibaptis dengan Roh Kudus pada waktu kemudian. Itu adalah
tanda sulung dari baptisan, tidak ada yang menerima lagi di kemudian hari.
Kenapa
kita harus dibaptis Roh Kudus? Banyak gereja protestan alergi mendengar
baptisan Roh Kudus, seolah itu bertentangan dengan Dasar Iman Kristen pada
umumnya, tetapi sesungguhnya musuh kita telah menyelubungi hati mereka untuk
tidak melihat kebenaran, sehingga Iblis menang terhadap kekristenan, sehingga
banyak iblis melakukan penuaian besar terhadap manusia untuk dipanen keneraka.
Kembali
keperistiwa Pentakosta pertama, mengapa hal itu terjadi? Ini adalah penggenapan
dari nubuatan Nabi Yoel yang mengatakan :
"Kemudian
dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua
manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu
yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu
akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan
perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu. Aku akan mengadakan mujizat-mujizat
di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan
berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari
TUHAN yang hebat dan dahsyat itu. Dan barang siapa yang
berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di
Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan
setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang
terlepas." (Yoel
2:28–32)
Nubuatan
ini telah disampaikan oleh nabi yoel ratusan tahun sebelumnya, jika hal
baptisan Roh
Kudus tidak penting bagi Yahwe maka Ia
tidak akan menyampaikan itu kepada Nabi Yoel. Setiap orang harus dibaptis oleh
Roh Kudus tanpa pengecualian. Dari nubuatan Yoel diatas ada 7 tanda yang
disampaikan oleh Yahwe melalui Yoel yaitu : nubuat, mimpi, dan pengelihatan itu
terjadi di dalam manusia,
dan kedua adalah darah, api, gumpalan-gumpalan asap, bulan menjadi darah, empat
hal yang terjadi diluar manusia (dunia). Dalam Kis 2 itu 3 hal yang pertama sudah digenapi oleh Yahwe,
4 hal sedang berlangsung, sampai kedatangan Yesus kedua kali. Oleh sebab itu
para teolog menyimpulkan bahwa di dunia
ini ada tiga Zaman yang berlangsung, Zaman Bapa, Anak dan Roh Kudus, pada masa
kini disebut sebagai zaman Roh Kudus.
Berbahasa Roh
Pada
bagian sebelumnya kita sudah melihat beberapa tanda fisik yang menyatakan
baptisan Roh Kudus, lebih dalam kita akan melihat tanda fisik lainnya dalam
peristiwa pentakosta, yaitu bahasa roh. Pertentangan akan ba hasa roh ini juga banyak
menimbulkan kontroversi. Ada yang mengatakan bahwa bahasa roh itu tidak
penting, hanya gereja-gereja pentakosta saja yang mengedepankan pengajaran
perihal bahasa roh. Dalam disertasi ini akan disajikan perihal Bahasa Roh ini.
Bahasa
Roh ini adalah antithesis dari peristiwa menara babel, pada masa itu terjadi Yahwe
mengacaukan “bahasa mereka” dalam bahasa ibrani disebut shapetem (μtpc ) yang merujuk kepada
komunikasi verbal. Dalam bahasa Yunani disebut :
(1) dialektos (bahasa
suatu bangsa atau Negara) pada Peristiwa pentakosta masing-masing orang yang
ada disitu mendengar para Rasul berbahasa dalam bahasa ibu mereka.( Kis 1 : 19;
21 : 40; 22 : 2; 26 : 14; Kis 2 : 6-8).
(2) Glossa (lidah) : bahasa dengan lidah berarti manusia menyampaikan atau
menyatakan perasaan – perasaan hatinya. Dengan menggunakan
lidah pula manusia dapat mempermuliakan
Yahwe, tetapi juga mengutuk sesama
manusia, dan menyembunyikan kemiskinan maksud-maksud hidupnya yang tidak
diketahui (Kel 11 : 7; Mzm 22 : 16; Mark 7 : 33-35; Luk 1 : 64; 16 : 24; Why 16
: 10)
Dengan
dirusakkanya bahasa manusia dalam peritiwa menara babel itu menjadi bukti bahwa
manusia tidak dapat lagi berkomunikasi
dengan manusia lainnya yang berbeda bahasa, tetapi yang lebih penting adalah
bahwa hubungan manusia dengan Yahwe telah terputus secara total. Oleh sebab itu
peritiwa pentakosta adalah anti tesis dari peritiwa babel, jika di babel
terjadi pemisahan tetapi di pentakosta terjadi penyatuan Integration System dimana
sesuatu yang terputus telah kembali dipulihkan. Tetapi dengan berbahasa roh itu
adalah bukti hubungan manusia dengan Yahwe telah juga mengalami pemulihan.
Setiap orang yang dibaptis dengan roh kudus secara fisik itu ditandai oleh
berbahasa roh/lidah asing. Untuk dapat
dimengerti oleh pendengar itu adalah hanya sekali dinyatakan oleh Roh Kudus
hanya pada peristiwa pentakosta. Paulus menekankan mengenai bahasa roh dalam 1
Korintus 14 : 2 , “Siapa yang
berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi
kepada Yahwe. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia
mengucapkan hal-hal yang rahasia”. Berkata kata dalam bahasa roh adalah
berkata-kata kepada Yahwe, bukan kepada manusia. Yang berarti hubungan secara rohani dengan
Yahwe melalui Roh Kudus telah dipulihkan. Seseorang yang bertobat tetapi belum
berbahasa roh maka itu adalah pertobatan yang tanggung artinya hanya memasuki
pintu masuk ibarat kalau memasuki rumah hanya di depan pintu, pintunya telah
dibukakan tetapi tidak masuk ke dalam
rumah. Pandangan yang mengatakan tidak perlu berbahasa roh adalah pandangan
yang salah. Bahasa roh bukan karunia tetapi ia adalah tanda seseorang telah
menjadi milik yahwe didalam Kristus
sama artinya dengan baptisan air. Yesus mengatakan hal tersebut kepada
Nikodemus jika ingin melihat kerajaan Yahwe harus dilahirkan kembali, dalam air
dan Roh. Jika kita mengamini baptisan air mengapa harus menentang baptisan roh.
Padahal itu menjadi satu kesatuan yang wajib bagi setiap orang percaya.
HIDUP OLEH ROH
Tahapan dalam
pengajaran tentang Roh Kudus adalah hidup di dalam Roh, kehidupan orang percaya
adalah kesinambungan dan bertingkat, ketika seseorang menjadi percaya maka dia
harus menyerahkan dirinya untuk bertobat, dan setelah bertobat memberikan diri
dibaptis dalam air dan dalam roh, tahapan berikutnya adalah hidup di dalam roh. Banyak orang setelah menjadi
petobat baru tidak memelihara kehidupan rohani mereka dengan baik hal ini
disebabkan pemahaman yang kurang tentang
karya dan karunia Roh
Kudus. Jika kita telah dibaptis dalam Roh Kudus maka kita harus hidup di dalam roh, kita harus menjadi tawanan
roh. Dalam Kisah Para Rasul 20:22
Paulus mengatakan : “Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke
Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ” dalam
pernyataan ini Paulus menggambarkan bahwa sejak dia di penuhi oleh Roh Kudus seluruh aspek hidupnya dikendalikan oleh
Roh kudus. Lebih lanjut Paulus menunjukkan kepada kita suatu sejarah penebusan
dan pneumatic tidak saling bersaing dalam doktrin keselamatan Paulus. Roh
adalah pembuka dan anugerah aeon baru yang datang bersama Kristus. Oleh sebab
itu perbedaan daging dan roh jangan dilihat sebagai perbedaan secara metafisika
ataupun antropologis tetapi sebagai perbedaan dalam sejarah penebusan, yaitu
sebagai dua prinsip yang menguasai dua aeon yang dipisahkan oleh kedatangan
Kristus. Karena itu, konsep Paulus
tentang Roh tidak mengikuti jejak “pneumatologi” helenistik, seolah –olah
disana bukan di perjanjian lama. Perjanjian Lama melihat Roh sebagai kuasa
Yahwe yang mencipta dan memperbarui seluruh eksistensi jemaat, dan bukan
sekedar sebagai sumber bagi tanda, keajaiban dan kuasa. Perjanjian Lama melihat
Roh sebagai Kuasa yang mencipta dan memperbarui anugerah perjanjian baru, milik
Mesias yang akan datang, prinsip hidup bagi umat yang akan datang.
Pengudusan
Keberdosaan
manusia telah membuat kondisi kehidupan manusia tercemar dan kehilangan
kemuliaan Yahwe, dosa telah mengikat manusia manusia dalam kelaliman. Sehingga
Paulus dengan jelas menunjukkan kondisi manusia berdosa itu. Ketika kita
bertobat, lahir kembali, kita dilepaskan dari kelaliman akibat dosa. Tetapi
bagaimana dengan kehidupan Kristen setelah peristiwa ini ? Dapatkah seorang Kristen berbuat dosa?
Adakah untuk hidup setelah kemenangan sesungguhnya? Pertanyaan-pertanyaan yang
amat praktis ini muncul dibawah doktrin pengudusan (Yunani ; Hagiasmos). Setelah pertobatan dalam
hidup kita, Yahwe menginginkan pengudusan dalam hidup kita. Ada tertulis “Kuduslah kamu sebab Aku Kudus” ( I Ptr 1 : 13-16; Im 20 : 7). Hubungan dengan
Yahwe bukanlah hubungan sebatas prinsip tetapi seluruh totalitas hidup manusia
yang telah dipersatukan dengan Yahwe. Alkitab memperlihatkan bahwa dalam satu
aspek pengudusan berkaitan dengan kedudukan dan terjadi dalam seketika: dalam
apek lain, pengudusan bersifat praktis dan bertahap.[79]
Yang terpenting
adalah bahwa Roh Kudus melakukannya dalam hidup kita secara bertahap, continuous level, proses pengudusan
bukan seketika dam meyeluruh tetapi bertahap seiring pertumbuhan akal budi kita, sebab hidup itu
adalah pilihan yang diberikan
Tuhan kepada manusia, jika kita memiliki pilihan untuk hidup dalam kekudusan
maka Roh Kudus akan melakukan pengudusan dalam hidup manusia. Dalam bahasa
Ibrani dan Yunani untuk kata “pengudusan”, ”orang suci”, ”pengabdian”, ”penahbisan”, ”dan Kekudusan” semuanya berhubungan
dengan gagasan pemisahan[80].
Pemisahan dari kehidupan lama
memasuki kehidupan baru, prinsip pengudusan adalah dipisahkan dari dosa supaya
melakukan penyembahan dan pemuliaan Yahwe, penyembahan harus dilakukan dengan
rasa hormat dan sukacita untuk pelayanan kepada Yahwe. Dalam perjanjian lama
telah digambarkan tipologi perbandingan dimana didalam kemah di tabernakel
telah dinyatakan bahwa Yahwe disembah di Ruang Maha Kudus, sedangkan umat dan
para imam dengan jabatan lebih rendah berada di halaman dan ruang kudus. Jelas
sekali pemisahan antara hal yang tidak kudus dengan yang kudus. Apa yang
dipersembahkan kepada Yahwe harus dipisahkan secara khusus, yang menekankan
kekudusan Oknum yang menerima penyembahan demikian. Pengabdian positif itu
kepada Yahwe selalu merupakan tekanan yang utama. Misalnya, benda-benda kudus
yang digunakan dalam kemah suci dan bait suci dipisahkan penggunaannya dari penggunaan biasa. Benda – benda itu
tidak boleh dibawa pulang untuk digunakan dirumah orang Israel, bukan itu yang
membuat kudus tetapi penggunaannya
sungguh-sunguh untuk peribadatan menyembah Tuhan.
Paulus dalam tulisan kepada jemaat
di Roma mengatakan bahwa “tubuh harus menjadi persembahan yang sejati” lebih
lanjut Paulus memberikan
penjelasan untuk hal ini “ supaya tidak serupa dengan dunia, tetapi berubah
oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Yahwe
: apa yang baik, yang berkenan kepada Yahwe dan yang sempurna” Roma 12:1–2. Pemisahan adalah suatu proses
yang terus berkelanjutan dan menuju kepada kesempurnaan.
Roh Kudus menghendaki kita sempurna
dalam pengenalan akan Yahwe, sehingga kita dapat memiliki akal budi yang
membedakan manakah kehendak Yahwe. Masih
dari ayat diatas ada tiga hal yang menjadi fokus pengudusan yang dilakukan oleh Roh
Kudus. Hal yang pertama adalah pengudusan yang dimulai dari saat kita mulai
menjadi Kristen. Ini merupakan cara Yahwe melakukan pembenaran, bagi manusia
yang berdosa. Setiap orang yang berdosa telah menjadi budak/hamba dosa yang
hidup dibawah perintah dosa. Dengan pertobatan kita mengalami pemindahan dari gelap menuju terang. Dan pemindahan ini memasukkan
kita ke dalam dapur pengudusan dimana api yang
berkobar itu adalah api roh kudus yang terus membakar kita hingga benar-benar
menjadi suci, ibarat emas yang dimurnikan dengan api.
Hal yang kedua adalah pertumbuhan
rohani, setiap pribadi yang telah dikuduskan sejak awal pertobatan maka ia
harus bertumbuh. Dan pertumbuhan yang diharapkan adalah jika orang yang dewasa
dalam pengudusan menjadi orang yang sabar sama seperti Yahwe yang begitu sabar
menghadapi para petobat baru, pertumbuhan ini adalah tingkat kedewasaan yang
menghasilkan buah-buah sesuai pertobatan. Yang
menandai kesempurnaan yang sesungguhnya dari seorang anak Tuhan bukanlah ketika
ia mencapai keadaan kesempurnaan tanpa dosa yang mutlak, tetapi aspirasinya
yang meningkat. Rasul Paulus tidak menganggap dirinya telah “mencapai” atau
telah “sampai” tetapi ia mengakui bahwa ia rindu sekali lebih menyenangkan
Yahwe hari demi hari. ( Flp 3 : 13 – 14). Apa yang telah dicapai cukup baik
hari kemarin tidaklah memadai untuk hari ini bagi kehidupan orang percaya.
Karena pertumbuhan dalam pengudusan memperluas kapasitas seseorang untuk
menampung perkara – perkara yang diberikan Yahwe dalam kehidupan orang percaya.
Walaupun diawali dengan “susu”
diharapkan kita bertumbuh dan mampu mencerna “makanan keras” (Ibr 5 :
12-14, I Ptr 2 : 1-3). Dalam proses yang terus bertumbuh maka diharapkan setiap
orang percaya dapat menjadi “serupa dengan gambar Kristus”
Hal yang ketiga adalah berkemenangan, kita harus bertanggung
jawab untuk berperan aktif dalam perjuangan melawan dosa dan untuk mengalami
sisi positif dari pengudusan. Tetapi seluruh tanggung jawab pengudusan tidak
terletak pada kita, ada bagian yang menjadi bagian Yahwe dan Roh kudus
menyucikan jiwa kita agar taat kepada kebenaran (1 Petrus 1 : 2, 22). Bagian kita adalah secara
aktif dan dengan iman “matikanlah segala sesuatu yang duniawi, yaitu
percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan juga keserakahan” (Kol 3 :
5). Lebih lanjut Paulus menekankan bahwa dahulu kamu melakukan itu ketika dalam
perangkap dosa, tetapi ketika kamu mengalami pertobatan dan api penyucian yang
menguduskan dalam pimpinan Roh kudus buanglah semuanya itu, yakni : marah,
geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan
lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta
kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui
untuk memperoleh pengertahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; dalam hal
ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang yang
tak bersunat , orang Barbar atau
orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua, dan di dalam
segala sesuatu. Karena itu sebagai orang-orang pilihan Yahwe, yang dikuduskan
dan dikasihi, kenakalah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah
lembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah
seorang akan yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu
perbuatlah demikian. Dan diatas semuanya itu kenakanlah kasih, sebagai pengikat
yang mempersatukan dan yang menyempurnakan.
Kemenangan dalam hidup merupakan
tujuan dari kekristenan kita, bukan untuk mencapai kedudukan atau posisi pertumbuhan
yang sempurna. Perjuangan yang berat akan terus kita hadapi tetapi kita tidak perlu terus menerus
dikalahkan dalam pertarungan hidup lama dan hidup baru. Sekalipun dalam hidup
kita ini kita tidak dapat mencapai posisi dimana kita tidak berbuat dosa lagi
kita dapat meminta pertolongan
dari Roh Kudus agar kita tidak melakukan dosa[81]. Selama
kita belum mengakhiri perjuangan yang terus berlangsung ini jangan pernah
berhenti, dosa akan terus menyerang kita dan memperdaya kita, tetapi jangan ada
kata menyerah bangkit dan terus maju sampai kita mengakhiri semuanya.
Hidup Dalam Ketaatan
Hidup oleh Roh adalah satu tahapan
yang harus dialami oleh seorang percaya sampai ia menemukan atau tiba pada satu titik yang menyerupai
gambar Kristus. Setelah manusia bertobat seperti yang telah diterangkan
dibagian atas, mengalami tiga hal yang bertahap dalam pencapain tersebut. Setelah manusia dikuduskan maka akan memasuki suatu periode ketaatan,
sebab tanpa ketaatan sesorang tidak akan mungkin tahan uji. Dalam ketaatan ini
kita akan membahas bagaimana terjadinya relasi indikatif dan relasi imperative.
Artinya kita akan melihat manifestasi moral dari hidup baru sebagai sebuah
karya penebusan Yahwe didalam Kristus melalui Roh Kudus, ini adalah relasi
indikatif, tetapi sebagai sebuah keharusan atau tuntutan atau keharusan –
imperative. Dua hal ini orang meyebutnya sebagai paradox “dialektikal” dan “antinomy”. Perjumpaan
indikatif dan imperative ini umum kita jumpai dalam surat-surat Paulus (juga
diseluruh perjanjian baru). Memberikan beberapa contoh dari kedua relasi diatas
:
(1) Kematian
dan kebangkitan Kristus, merupakan bentuk indikatif fundamental: sebab mereka
yang ada dalam Kristus telah mati bagi
dosa ( Rm 6 : 2). Tetapi itu menggerakkan dari tanggung jawab manusia dan
membangkitkan tidakan untuk tidak
berbuat dosa lagi.
(2) Hidup
di dalam Roh adalah bentuk indikatif, sebab
Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut (Rm 8 : 2,9), di lain pihak hidup juga mengandung aspek
imperative.
(3) Manusia
adalah ciptaan baru sebagai ciptaan Allah, dalam hal ini relasi imperative
diikuti oleh indikatif
Melihat
kaitan kedua relasi ini maka setiap orang yang telah dimerdekakan
harus melakukan apa yang dikehendaki Yahwe tanpa syarat, inilah yang disebut
sebagai ketaatan baru.
Maka
sangat tidak pantas jika setelah kita dimerdekakan dari dosa kita masih bergiat
melakukan dosa, dosa tidak berkuasa lagi, ia telah dikalahkan tetapi kita
memberi kesempatan kepada dosa untuk menaklukkan kita. Peperangan ini akan
terus berlangsung
sampai kita menanggalkan tubuh fana dan kita akan mengenakan tubuh yang tidak fana di
kemudian hari.
[1]William,
W. Menzies dan Stanley M. Horton, Doktrin
Alkitab, (Malang : Gandum Mas, 2003),122
[4]Tom
Jacobs Sy. Paulus Hidup, Karya Dan Teologinya, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1983), 241-242.
[14]Norman
L. Geisler. Essential Of Evangelical Theolog, (Grand Rapids
Michigan: Academic Books, Zondervan
Publishing House, 1980), 61-62.
[18]Bongsu
Parhusip, Thesis : Analisa Kepemimpinan
Dan Perkembangan Gereja Pentakosta Indonesia Sejak Tahun 1942-2006,( Medan
: STTII,2009), 65
[20]
Hal ini juga dilihat dalm Kisah Para Rasul 19 : 1 – 7. Kedua belas orang itu
pasti menyatakan bahwa mereka dalah pengikut Yesus, tetapi Paulus merasa bahwa
ada sesuatu yang tidak terdapat pada mereka, karena itu ia menanyakan
mereka (secara harfiah), “setelah
percaya, apakah kamu menerima Roh Kudus?”. “Setelah percaya” (yun : pisteusantes) adalah sebuah prinsip
aorist, sebuah bentuk yang biasanya menunjukkan tindakan sebelum kata kerja
utama, dalam hal ini, sebelum menerima. Susunan gramatikal yang serupa terjadi
dalam ayat-ayat seperti ini (diterjemahkan secara harfiah). “Setelah menikah
dengan seorang isteri, ia mati” (Mat 22 : 25). “setelah mengusungnya [Syafira]
keluar, mereka menguburkannya” (Kis 13 : 51). “Setelah menerima perintah itu,
kepala penjara memasukkan mereka ke penjara yang paling tengah” (Kis 16 : 24).
Juga Jelas bahwa Rasul Paulus membaptis orang-orang percaya kedalam air sebelum
ia menumpangkan tangannya diatas mereka dan Roh Kudus turun atas mereka. Lihat
Horton , What The Bible Says, 152-162;
dan Donald C. Stamps, ed. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan,(Malang :
Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1994). 1811
[21]
Paul Birch, Instan Leadership : 66 Cara
Instan Memiliki Kepemimpinan Praktis,(Jakarta : Penerbit Erlangga, 1999),9
[25]William,
W. Menzies dan Stanley M. Horton, Doktrin
Alkitab,134
[26]Harun
Hadiwijono. Iman Kristen, (Jakarta: BPK
Hunung Mulia, 1986), 356.
[28]Tom
Jacobs Sy. Paulus Hidup, Karya Dan Teologinya, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1983), 241-242.
[38]Norman
L. Geisler. Essential Of Evangelical Theolog, (Grand Rapids
Michigan: Academic Books, Zondervan
Publishing House, 1980), 61-62.
[41]Ibid., 101.
[43] Jhon
M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus
Inggris Indonesia,(Jakarta : PT. Gramedia, 1997), 546
[44] Ini
dibahas secara mendetail dalam Plato, Plutarch and Philo dalam G.E. Ladd, The Pattern of NT Truth (1968), 13-31
[50]Donald Guthrie, dkk (Editor), Tafsiran
Alkitab Masa Kini 1, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2000, hal.
80.
[51]Stanley M. Horton, Oknum Roh Kudus,
Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2001, hal. 15.
[52] Ibid, hal. 23
[53] Harun
Hadiwijono. Op.Cit., hal. 114.
[54] Stanley
M. Horton, Op.Cit., hal. 74.
[61] Ladd, G.E., Teologi Perjanjian Baru Jilid 1 ( Bandung : Yayasan Kalam Hidup,
2002), 388
[65]Millard J. Erickson, Teologi Kristen,160
[67]Paul Yonggi Cho, Roh Kudus, Adimitra
Saya, (Jakarta :Yayasan
Pekabaran Injil Immanuel, 2000),147.
[68]Bruce Milne, Mengenali Kebenaran
Panduan Iman Kristen,(Jakarta : BPK Gunung
Mulia), 286.
[71] Harun Hadiwijono, Op.Cit.,130-131.
[74] Ibid 213
[77]
Upacara yang dikenal oleh banyak agama (*air yang menyucikan dan sumber
kehidupan), yang diambil alih oleh kaum *Eseni dalam bentuk suatu pemandian
harian yang melambangkan usaha menuju suatu kehidupan yang murni serta
kedambaan akan rahmat yang menyucikan. Upacara ini juga dipraktekkan dikalangan
Yahudi, ketika mereka menerima para proselit (*penganut agama Yahudi) kedalam
kalangan mereka. Baptisan yang diselenggaraka oleh Yohanes Pembatis berbeda
dengan upacara-upacara yang serupa dalam dua hal : Ia ditawarkan kepada semua
orang dan tidak diulang lagi, ia bermakna undangan untuk bertobat serta
merupakan pra langkah menuju baptisan Mesias dalam Roh dan dalam Api.
[78] Horton, Bible Says, 261
[81]Kita tidak hanya perlu disucikan
terus menerus dengan darah Yesus ( I Yoh 1 : 7) kita tidak pernah mencapai
tempat dalam hidup ini dimana kita tidak lagi memerlukannya. Inilah maksud yang
terkandung dalam 1 Yoh 1 : 10 “ Jika kita berkata bahwa kita tidak ada berbuat
dosa, maka kita membuat Dia (Yahwe) menjadi pendusta dan Firman-Nya tidak ada
di dalam kita. “Frasa : “tidak ada berbuat dosa” dalam bahasa Yunani di tulis
dalam yang telah sempurna. Biasanya hal ini menunjukkan suatu perbuatan dimasa
lalu yang mempunyai akibat-akibat yang terus berlangsung pada masa kini. Oleh
karena itu sebaiknya frasa itu diterjemahkan sebagai berikut : “jika kita
berkata bahwa kita telah mencapai tempat atau telah mempunyai pengalaman,
dimana kita tidak dapat atau tidak berbuat dosa lagi”- kita membuat Yahwe
menjadi pendusta. Sebab Ia telah menyediakan penyucian terus-menerus oelh darah
(dengan implikasi yang jelas bahwa kita memerlukannya) dan kita mengatakan
bahwa kita tidak memerluknnya.
[82] John C. Maxell; Mengembangkan Kepemimpinan Di Dalam Diri
Anda ,(Georgia: Equip,Injoy,inc, 1993),8
[83] George Barna; Leaders On Leadership, Pandangan Para
Pemimpin Tentang Kepemimpinan; (Malang: Gandum Mas, 2002), 18.
[84]) John C.Maxwell, Mengembangkan Kepemimpinan di Sekeliling
Anda, (Jakarta : Profesional Books, 1997), hal. 4.
[88] J.Oswald
Sanders: Kepemimpinan Rohani, (Bandung:
Yayasan Kalam Hidup, 1993) hlm. 20
[89] Ibid.,
hlm.20
[90] DR.Kartini
Kartono: Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1994)
hlm.49.
[91] John C.Maxwell: Buku Equip 1, ( Jakatra : t.p., 2003)
hlm.15
[92] Pdt.DR.Yacob Tomatala: Kepemimpinan Yang dinamis, (Jakarta : YT
Leadership Foundation, 1997) hlm. 5.
[93] John C.Maxwell: 21 Hukum Kepemimpinan, (Batam :
Interaksa, 2001) hlm. 71
[94] Ibid, hlm. 60
[95] Ibib, hlm.323
[96] Ibid, hlm.373
[97] Hans Finzel: Sepuluh Besar Kesalahan yang Dibuat Para Pemimipin,
(Batam: Interaksa, 2002), hlm.178
[98] J.Oswald Sanders: Op.cit. hlm. 149.
[99] Ibid., hlm.
58.
[100] DR.P.Octavianus: Manajemen dan Kepemimpinan menurut Wahyu
Allah, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2002), hlm.183.
[101] Gottfriedo
Sei-Mensah: Dicari Pemimpin Yang Menjadi
Pelayan, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), hlm. 11.
[102] J.Oswald Sanders: Op.cit., hlm. 65.
[103] Ibid., hlm 65.
[104] J.Oswald Sanders, Op.cit., hlm. 69.
[105] J.Oswald Sanders, Op.cit.., hlm. 69.
[106] Joyce Meyer: Pemimpin Yang Sedang Dibentuk, ( Jakarta: Immanuel,2002), hlm.
260.
[107] Ibid.,
hlm., 269.
[108] Fredsmith,
SR., Memimpin Dengan Integritas, (
Jakarta: Imanuel, 2002), hlm. 17.
[109] M.Karjadi, Kepemimpinan (Leadership), (Bandung:
PT.Karya Nusantara, 1993), hlm.48
[110] John C. Maxwell, Buku Equip 2, Jakarta, 2003.
[111] J.Oswald Sanders: Op.cit.,
hlm. 135
[112] Charles R.Swindoll, Kepemimpinan Kristen yang Berhasil, (Surabaya: YAKIN), hlm.103.
[113] Joyce Meyer, Op.cit.,
hlm. 210.
[114] Hanz Finzel, The Top Ten Mistakes Leaders Make (Batam
: Interaksara, 2002),24-25
[116]Mangapul Sagala, 16.
[117]Paul Yonggi Cho, 89.
[118]G.W.Schweer, 17-21.
[119]Nicky J. Sumual. Dasar
& Inti Ajaran Kristen, (Menado:
Wisma Lektur Kristen El Shaddai Menado Indonesia, t.th), 29.
[120]Paulus
Daun. Prolegomena Bibliologia (Doktrin Alkitab), (Menado: Daun Family, 2008), 26-28.
[121]Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini Jilid II, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1992),
430.
[122]Fritz Ridenour. Dapatkah
Alkitab di percaya ?, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1985), 35
[123]E.H.van OLST. Alkitab dan Liturgi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), 19.
[124]Robert Davidson. Alkitab
Berbicara, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1998), 2.
[125]Ibid., 2-20.
[126]David
Cupples. Beriman Dan Berilmu, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1994), 25.
[127]R. C. Sproul. Mari
bertumbuh, (Jakarta: Gloria Graffa,
2004), 25.
[128]Bambang H. Widjaja, 51.
[129]Goldsworthy. New
Dictionary Of Biblical Theology, (Gospel), Logos Librabry System, [CD ROOM]
(Downer, III: InterVarsity Press, 2000), t.h.
[130]K.
C. Hinckley. Kompas Kehidupan Kristen, (Bandung:
Kalam Hidup, 1996), 111.
[131]D.
W. Ellis. Metode Penginjilan, (Jakarta:
Yayasan Bina Kasih/OMF, 2005), 7.
[132]Stephen Tong, 104.
[133]Ibid., 73.
[134]Robert OH. The
Prayer Driven Life, (Yogyakarta:
Andi, 2009), 13-18.
[135]R. C. Sproul, 35-45.
[136]Indrawan Eleeas, 104-106.
[137]Ibid.,
130-138.
[138]G.
Riemer. Jemaat yang Diakonal, (Jakarta:
Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2004), 47.
[139]David
L. Baker. Roh dan
Kerohanian Dalam Jemaat, Tafsiran Surat I Korintus 12 – 14, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 53.
[140]Rubin
Adi Abraham. Rindu Untuk Melayani, (Yogyakarta:
Andi, 2009), 84-97.
[141]W.J.S.Poerwadarminta, 231.
[142]J. Verkuyl. Etika Kristen Kapita Selekta,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1978), 162.
[143]A.A. Sitompul. ParMingguon Namangolu, (P.Siantar: HKBP, 1986). 35.
[144]Arlo D. Duba dan W.B.Sijabat. Azas-Azas Kebaktian Alkitabiah dan Protestan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), 36
[145]Indrawan Eleeas, 6.
[146]Frista Artmananda W, 830.
[147]M. Ngalim Purwanto.
Psikologi Pendidikan, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1990), 72.
[148]Sumadi Suryabrata.
Psikologi Pendidikan,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004),
72-73.
[149]G. Riemer. Jemaat yang Diakonal, 181.
[150]Ralip M. Riggs. Gembala Sidang Yang Berhasil,
(Malang: Gandum Mas, 2003), 88.
[151]Bambang H. Widjaja, 89.
[152]Mike & Vib Hilberr.
Pelayanan Musik¸ (Yogyakarta:
Andi, 2007), 163.
[153]M. Simanjuntak. Dasar Dasar Musik, Diktat Kuliah,
(Medan: Kalangan sendiri, t.t.), 87.
[154]GR. Harding
Wood. Bina Diri, (Jakarta: YKBK, 1993), 165.
[156]GR. Harding
Wood, 166.
[157]Norman L.
Geisler. Innerancy, (Grand Rapids
Michigan:
Academic
Books, Zondervan Publishing House, 1980), 308.
[160]J. Wesley Brill. Dasar
Yang Teguh, (Bandung: YKBK, 1999),
24.
[162]John McDowell & Don Steward, 11.
[164]Lea Santoso & Jimmy Kuswadi. Memulai
Hidup Baru, (Jakarta:
Perkantas: Divisi Literatur, 2008), 12.
[165]Tim Penyusun. Renungan
Harian, (Jakarta: Gloria, 2010), 19.
[166]The Navigators. Berjalan
Bersama Kristus, (Bandung: Kalam
Hidup, 2000), 1.
[168]G. Riemer. Ajarlah
Mereka, (Jakarta: YKBK, 2006), 38.
[170]The Navigators,
3.
[171]GR. Harding
Wood, 163-164.
[172]Tim Penyusun Renungan Harian, 17.
[173]The Navigators, 3.
[176]G.R. Harding
Wood, 164.
[178]Ibid., 60.
[179]D. James Kennedy. Ledakan
Penginjilan, (Jakarta:
Evangelistic
Explotion International, 2003), 192.
[181]Robert A. Orr. Memantapkan
Misi Gereja, (Bandung: Lembaga
Literatur Baptis, 1997), 78.
[182]Tim Penyusun, 24.
[183] Darrel W. Robinson.
Total
Church Life,
(Bandung: Lembaga Literatur Baptis,
2004), 96.
[184]Tim Phoenix,
437.
[185]E.G.
Homrighausen. Pendidikan Agama Kristen,
(Jakarta:BPK-Gunung Mulia, 2005), 128.
[186]Ibid., 130.
[187]Robert A. Orr, 91.
[188] Margaret Bailey Jacobsen. Ketika Anak Anda Bertumbuh,
(Bandung: Kalam
Hidup, 1997), 232.
[189] Ibid., 233.
[1]William, W. Menzies dan Stanley M. Horton, Doktrin Alkitab, (Malang : Gandum Mas, 2003),122
[4]Tom Jacobs Sy. Paulus Hidup, Karya Dan Teologinya, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1983), 241-242.
[14]Norman L. Geisler. Essential Of Evangelical Theolog, (Grand Rapids Michigan: Academic Books, Zondervan Publishing House, 1980), 61-62.
[18]Bongsu Parhusip, Thesis : Analisa Kepemimpinan Dan Perkembangan Gereja Pentakosta Indonesia Sejak Tahun 1942-2006,( Medan : STTII,2009), 65
[20] Hal ini juga dilihat dalm Kisah Para Rasul 19 : 1 – 7. Kedua belas orang itu pasti menyatakan bahwa mereka dalah pengikut Yesus, tetapi Paulus merasa bahwa ada sesuatu yang tidak terdapat pada mereka, karena itu ia menanyakan mereka (secara harfiah), “setelah percaya, apakah kamu menerima Roh Kudus?”. “Setelah percaya” (yun : pisteusantes) adalah sebuah prinsip aorist, sebuah bentuk yang biasanya menunjukkan tindakan sebelum kata kerja utama, dalam hal ini, sebelum menerima. Susunan gramatikal yang serupa terjadi dalam ayat-ayat seperti ini (diterjemahkan secara harfiah). “Setelah menikah dengan seorang isteri, ia mati” (Mat 22 : 25). “setelah mengusungnya [Syafira] keluar, mereka menguburkannya” (Kis 13 : 51). “Setelah menerima perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke penjara yang paling tengah” (Kis 16 : 24). Juga Jelas bahwa Rasul Paulus membaptis orang-orang percaya kedalam air sebelum ia menumpangkan tangannya diatas mereka dan Roh Kudus turun atas mereka. Lihat Horton , What The Bible Says, 152-162; dan Donald C. Stamps, ed. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan,(Malang : Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1994). 1811
[21] Paul Birch, Instan Leadership : 66 Cara Instan Memiliki Kepemimpinan Praktis,(Jakarta : Penerbit Erlangga, 1999),9
[25]William, W. Menzies dan Stanley M. Horton, Doktrin Alkitab,134
[26]Harun Hadiwijono. Iman Kristen, (Jakarta: BPK Hunung Mulia, 1986), 356.
[28]Tom Jacobs Sy. Paulus Hidup, Karya Dan Teologinya, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1983), 241-242.
[38]Norman L. Geisler. Essential Of Evangelical Theolog, (Grand Rapids Michigan: Academic Books, Zondervan Publishing House, 1980), 61-62.
[41]Ibid., 101.
[43] Jhon M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia,(Jakarta : PT. Gramedia, 1997), 546
[44] Ini
dibahas secara mendetail dalam Plato, Plutarch and Philo dalam G.E. Ladd, The Pattern of NT Truth (1968), 13-31
[50]Donald Guthrie, dkk (Editor), Tafsiran
Alkitab Masa Kini 1, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2000, hal.
80.
[51]Stanley M. Horton, Oknum Roh Kudus,
Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2001, hal. 15.
[52] Ibid, hal. 23
[53] Harun
Hadiwijono. Op.Cit., hal. 114.
[54] Stanley
M. Horton, Op.Cit., hal. 74.
[61] Ladd, G.E., Teologi Perjanjian Baru Jilid 1 ( Bandung : Yayasan Kalam Hidup,
2002), 388
[65]Millard J. Erickson, Teologi Kristen,160
[67]Paul Yonggi Cho, Roh Kudus, Adimitra
Saya, (Jakarta :Yayasan
Pekabaran Injil Immanuel, 2000),147.
[68]Bruce Milne, Mengenali Kebenaran
Panduan Iman Kristen,(Jakarta : BPK Gunung
Mulia), 286.
[71] Harun Hadiwijono, Op.Cit.,130-131.
[74] Ibid 213
[77]
Upacara yang dikenal oleh banyak agama (*air yang menyucikan dan sumber
kehidupan), yang diambil alih oleh kaum *Eseni dalam bentuk suatu pemandian
harian yang melambangkan usaha menuju suatu kehidupan yang murni serta
kedambaan akan rahmat yang menyucikan. Upacara ini juga dipraktekkan dikalangan
Yahudi, ketika mereka menerima para proselit (*penganut agama Yahudi) kedalam
kalangan mereka. Baptisan yang diselenggaraka oleh Yohanes Pembatis berbeda
dengan upacara-upacara yang serupa dalam dua hal : Ia ditawarkan kepada semua
orang dan tidak diulang lagi, ia bermakna undangan untuk bertobat serta
merupakan pra langkah menuju baptisan Mesias dalam Roh dan dalam Api.
[78] Horton, Bible Says, 261
[81]Kita tidak hanya perlu disucikan
terus menerus dengan darah Yesus ( I Yoh 1 : 7) kita tidak pernah mencapai
tempat dalam hidup ini dimana kita tidak lagi memerlukannya. Inilah maksud yang
terkandung dalam 1 Yoh 1 : 10 “ Jika kita berkata bahwa kita tidak ada berbuat
dosa, maka kita membuat Dia (Yahwe) menjadi pendusta dan Firman-Nya tidak ada
di dalam kita. “Frasa : “tidak ada berbuat dosa” dalam bahasa Yunani di tulis
dalam yang telah sempurna. Biasanya hal ini menunjukkan suatu perbuatan dimasa
lalu yang mempunyai akibat-akibat yang terus berlangsung pada masa kini. Oleh
karena itu sebaiknya frasa itu diterjemahkan sebagai berikut : “jika kita
berkata bahwa kita telah mencapai tempat atau telah mempunyai pengalaman,
dimana kita tidak dapat atau tidak berbuat dosa lagi”- kita membuat Yahwe
menjadi pendusta. Sebab Ia telah menyediakan penyucian terus-menerus oelh darah
(dengan implikasi yang jelas bahwa kita memerlukannya) dan kita mengatakan
bahwa kita tidak memerluknnya.
[82] John C. Maxell; Mengembangkan Kepemimpinan Di Dalam Diri
Anda ,(Georgia: Equip,Injoy,inc, 1993),8
[83] George Barna; Leaders On Leadership, Pandangan Para
Pemimpin Tentang Kepemimpinan; (Malang: Gandum Mas, 2002), 18.
[84]) John C.Maxwell, Mengembangkan Kepemimpinan di Sekeliling
Anda, (Jakarta : Profesional Books, 1997), hal. 4.
[88] J.Oswald
Sanders: Kepemimpinan Rohani, (Bandung:
Yayasan Kalam Hidup, 1993) hlm. 20
[89] Ibid.,
hlm.20
[90] DR.Kartini
Kartono: Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1994)
hlm.49.
[91] John C.Maxwell: Buku Equip 1, ( Jakatra : t.p., 2003)
hlm.15
[92] Pdt.DR.Yacob Tomatala: Kepemimpinan Yang dinamis, (Jakarta : YT
Leadership Foundation, 1997) hlm. 5.
[93] John C.Maxwell: 21 Hukum Kepemimpinan, (Batam :
Interaksa, 2001) hlm. 71
[94] Ibid, hlm. 60
[95] Ibib, hlm.323
[96] Ibid, hlm.373
[97] Hans Finzel: Sepuluh Besar Kesalahan yang Dibuat Para Pemimipin,
(Batam: Interaksa, 2002), hlm.178
[98] J.Oswald Sanders: Op.cit. hlm. 149.
[99] Ibid., hlm.
58.
[100] DR.P.Octavianus: Manajemen dan Kepemimpinan menurut Wahyu
Allah, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2002), hlm.183.
[101] Gottfriedo
Sei-Mensah: Dicari Pemimpin Yang Menjadi
Pelayan, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), hlm. 11.
[102] J.Oswald Sanders: Op.cit., hlm. 65.
[103] Ibid., hlm 65.
[104] J.Oswald Sanders, Op.cit., hlm. 69.
[105] J.Oswald Sanders, Op.cit.., hlm. 69.
[106] Joyce Meyer: Pemimpin Yang Sedang Dibentuk, ( Jakarta: Immanuel,2002), hlm.
260.
[107] Ibid.,
hlm., 269.
[108] Fredsmith,
SR., Memimpin Dengan Integritas, (
Jakarta: Imanuel, 2002), hlm. 17.
[109] M.Karjadi, Kepemimpinan (Leadership), (Bandung:
PT.Karya Nusantara, 1993), hlm.48
[110] John C. Maxwell, Buku Equip 2, Jakarta, 2003.
[111] J.Oswald Sanders: Op.cit.,
hlm. 135
[112] Charles R.Swindoll, Kepemimpinan Kristen yang Berhasil, (Surabaya: YAKIN), hlm.103.
[113] Joyce Meyer, Op.cit.,
hlm. 210.
[114] Hanz Finzel, The Top Ten Mistakes Leaders Make (Batam
: Interaksara, 2002),24-25
[116]Mangapul Sagala, 16.
[117]Paul Yonggi Cho, 89.
[118]G.W.Schweer, 17-21.
[119]Nicky J. Sumual. Dasar
& Inti Ajaran Kristen, (Menado:
Wisma Lektur Kristen El Shaddai Menado Indonesia, t.th), 29.
[120]Paulus
Daun. Prolegomena Bibliologia (Doktrin Alkitab), (Menado: Daun Family, 2008), 26-28.
[121]Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini Jilid II, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1992),
430.
[122]Fritz Ridenour. Dapatkah
Alkitab di percaya ?, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1985), 35
[123]E.H.van OLST. Alkitab dan Liturgi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), 19.
[124]Robert Davidson. Alkitab
Berbicara, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1998), 2.
[125]Ibid., 2-20.
[126]David
Cupples. Beriman Dan Berilmu, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1994), 25.
[127]R. C. Sproul. Mari
bertumbuh, (Jakarta: Gloria Graffa,
2004), 25.
[128]Bambang H. Widjaja, 51.
[129]Goldsworthy. New
Dictionary Of Biblical Theology, (Gospel), Logos Librabry System, [CD ROOM]
(Downer, III: InterVarsity Press, 2000), t.h.
[130]K.
C. Hinckley. Kompas Kehidupan Kristen, (Bandung:
Kalam Hidup, 1996), 111.
[131]D.
W. Ellis. Metode Penginjilan, (Jakarta:
Yayasan Bina Kasih/OMF, 2005), 7.
[132]Stephen Tong, 104.
[133]Ibid., 73.
[134]Robert OH. The
Prayer Driven Life, (Yogyakarta:
Andi, 2009), 13-18.
[135]R. C. Sproul, 35-45.
[136]Indrawan Eleeas, 104-106.
[137]Ibid.,
130-138.
[138]G.
Riemer. Jemaat yang Diakonal, (Jakarta:
Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2004), 47.
[139]David
L. Baker. Roh dan
Kerohanian Dalam Jemaat, Tafsiran Surat I Korintus 12 – 14, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 53.
[140]Rubin
Adi Abraham. Rindu Untuk Melayani, (Yogyakarta:
Andi, 2009), 84-97.
[141]W.J.S.Poerwadarminta, 231.
[142]J. Verkuyl. Etika Kristen Kapita Selekta,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1978), 162.
[143]A.A. Sitompul. ParMingguon Namangolu, (P.Siantar: HKBP, 1986). 35.
[144]Arlo D. Duba dan W.B.Sijabat. Azas-Azas Kebaktian Alkitabiah dan Protestan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), 36
[145]Indrawan Eleeas, 6.
[146]Frista Artmananda W, 830.
[147]M. Ngalim Purwanto.
Psikologi Pendidikan, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1990), 72.
[148]Sumadi Suryabrata.
Psikologi Pendidikan,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004),
72-73.
[149]G. Riemer. Jemaat yang Diakonal, 181.
[150]Ralip M. Riggs. Gembala Sidang Yang Berhasil,
(Malang: Gandum Mas, 2003), 88.
[151]Bambang H. Widjaja, 89.
[152]Mike & Vib Hilberr.
Pelayanan Musik¸ (Yogyakarta:
Andi, 2007), 163.
[153]M. Simanjuntak. Dasar Dasar Musik, Diktat Kuliah,
(Medan: Kalangan sendiri, t.t.), 87.
[154]GR. Harding
Wood. Bina Diri, (Jakarta: YKBK, 1993), 165.
[156]GR. Harding
Wood, 166.
[157]Norman L.
Geisler. Innerancy, (Grand Rapids
Michigan:
Academic
Books, Zondervan Publishing House, 1980), 308.
[160]J. Wesley Brill. Dasar
Yang Teguh, (Bandung: YKBK, 1999),
24.
[162]John McDowell & Don Steward, 11.
[164]Lea Santoso & Jimmy Kuswadi. Memulai
Hidup Baru, (Jakarta:
Perkantas: Divisi Literatur, 2008), 12.
[165]Tim Penyusun. Renungan
Harian, (Jakarta: Gloria, 2010), 19.
[166]The Navigators. Berjalan
Bersama Kristus, (Bandung: Kalam
Hidup, 2000), 1.
[168]G. Riemer. Ajarlah
Mereka, (Jakarta: YKBK, 2006), 38.
[170]The Navigators,
3.
[171]GR. Harding
Wood, 163-164.
[172]Tim Penyusun Renungan Harian, 17.
[173]The Navigators, 3.
[176]G.R. Harding
Wood, 164.
[178]Ibid., 60.
[179]D. James Kennedy. Ledakan
Penginjilan, (Jakarta:
Evangelistic
Explotion International, 2003), 192.
[181]Robert A. Orr. Memantapkan
Misi Gereja, (Bandung: Lembaga
Literatur Baptis, 1997), 78.
[182]Tim Penyusun, 24.
[183] Darrel W. Robinson.
Total
Church Life,
(Bandung: Lembaga Literatur Baptis,
2004), 96.
[184]Tim Phoenix,
437.
[185]E.G.
Homrighausen. Pendidikan Agama Kristen,
(Jakarta:BPK-Gunung Mulia, 2005), 128.
[186]Ibid., 130.
[187]Robert A. Orr, 91.
[188] Margaret Bailey Jacobsen. Ketika Anak Anda Bertumbuh,
(Bandung: Kalam
Hidup, 1997), 232.
[189] Ibid., 233.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar