Senin, 07 Desember 2015

KEPEMIMPINAN KRISTEN YANG EFEKTIF






Abstraksi, Kepemimpinan adalah hal yang penting bagi maju mundurnya sebuah organisasi, baik itu organisasi sekuler maupun organisasi rohani, namun kepemimpinan yang buruk juga akan membawa kehancuran bagi organisasi itu sendiri, Yesus merupakan pemimpin yang inspiratif untuk kemajuan sebuah lembaga, Dia adalah teladan yang luar biasa.

Pendahuluan

            Keadaan akan kebutuhan pemimpin bukanlah sesuatu yang bisa dielakkan lagi. Tidak menutup kemungkinan bila organisasi apapun termasuk gereja tanpa memperhatikan kepentingan keberadaan pemimpin dan   kepemimpinan   akan   membahayakan   kehidupan  organisasi  atau persekutuan dalam gereja.
Kepemimpinan merupakan tugas utama dalam pengelolaan alam semesta beserta segala isinya.  Tuhan mengaruniai seluruh makhluk hidup naluri kepemimpinan.  Mereka butuh komunitas, kelompok ataupun barisan.  Sebagai contoh; Belalang yang suka terbang bergerombol, burung Pinguin yang hidup berkumpul, Singa yang hidup berkelompok, semut yang tinggal satu sarang, Lebah yang punya struktur kepemimpinan yang rapi. Manusia pada zaman purbakalapun telah mengenal sistem kepemimpinan dan telah mempraktekkan kepemimpinan itu Kepemimpinan muncul bersama-sama adanya peradaban manusia yaitu sejak zaman nabi-nabi dan nenek moyang manusia yang berkumpul bersama, lalu bekerja bersama-sama untuk mempertahankan eksistensi hidupnya menantang kebuasan binatang dan alam sekitarnya. Sejak itulah terjadi kerjasama antar manusia dan ada unsur kepemimpinan. Pada Masyarakat Modern sistem kepemimpinan semakin sempurna dan memiliki variasi yang sangat kaya dengan gaya kepemimpinan.   Kemudian seni kepemimpinan ini berkembang menjadi ilmu kepemimpinan.  Gereja sebagai lembaga yang bergerak di bidang kerohanianpun membutuhkan seorang pemimpin. Maju mundurnya sebuah lembaga terletak pada baik buruknya sistem kepemimpinan. John C. Maxwel menuturkan: “Segala sesuatu, jatuh bangunnya tergantung pada kepemimpinan”.[1] John C. Maxwell menempatkan kepemimpinan itu sebagai motor penggerak dan kemudian kontrol dari segala sesuatu yang dikelola. Dalam seri buku kepemimpinan George Barna menulis suatu penekanan betapa pentingnya peranan kepemimpinan itu yang dituangkannya dalam kalimat pendek demikian:”Tidak ada yang lebih penting dari pada kepemimpinan”.[2] Fakta sejarah telah cukup memberi bukti, bahwa kepemimpinan itu sepanjang zaman merupakan persoalan penting bagi umat manusia bahkan pada tiap-tiap Negara bisa nama pemimpinnya lebih terkenal  seperti Jawaharlal Nehru dari India, Mao Tsetung dari RRC, dll. Kepemimpinan itu senantiasa menjadi masalah kemasyarakatan, artinya penting bagi kehidupan manusia. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang tidak mengganggap pemimpin lainnya, baik yang direkrutnya maupun yang dikembangkan sendiri sebagai saingan. John C. Maxwell mengatakan :
“Kebanyakan pemimpin punya pengikut di sekeliling mereka. Mereka berkeyakinan bahwa kunci menuju kepemimpinan  adalah mendapatkan banyak pengikut. Hanya sedikit  pemimpin yang mengelilingi dirinya dengan pemimpin lainnya. Orang yang berbuat begitu mendatangkan nilai besar kepada organisasi mereka. Dan bukan hanya beban mereka menjadi ringan, tetapi wawasan mereka juga semakin diperluas”.[3]

Untuk meraih  atau  mencapai suatu tujuan tidak terjadi dengan sendirinya, tidak tercapai dengan seorang diri, mau tidak mau harus melibatkan  para pemimpin lain. Kemampuan seorang pemimpin  sangatlah terbatas, akibatnya visi yang hendak dicapai tidak pernah menjadi kenyataan.  Tanpa pemimpin lainnya untuk memikul beban, dia akan kelelahan dan berhenti untuk melakukan sesuatu. John C.Maxwell pernah mengatakan : “Kunci untuk mengelilingi diri anda dengan pemimpin lainnya adalah menemukan orang terbaik semampu anda”.[4]  Para pemimpin harus mencari calon-calon pemimpin dan melatih  mereka menjadi pemimpin-pemimpin baru yang dapat melaksanakan tugas dan wewenang kepemimpinan dengan baik dan akhirnya menjadi pemimpin yang dapat melatih para calon pemimpin.


Defenisi Kepemimpinan
              Tidak jarang orang mencampur adukkan pengertian antar pemimpin dengan kepemimpinan. Tidak sedikit orang kurang memiliki pemahaman akan pengertian/defenisi kepemimpinan ini sehingga hampir dalam setiap kesempatan orang seringkali menyatakan antara keduanya. Sesungguhnya, diantara keduanya ada perbedaan yang nyata walaupun saling terkait.     Beberapa pendapat tentang apa itu kepemimpinan juga menunjukkan beranekaragam penafsiran dan pemahaman setiap orang tentang apa itu kepemimpinan walaupun pada akhirnya secara sederhana kita dapat menyimpulkan dalam satu kalimat yang lebih jelas. Adapun beberapa pendapat tentang apa itu kepemimpinan, yakni :
Kouzes dan Posner dalam buku “A Leader’s Legacy’s”
Kepemimpinan adalah suatu hubungan. Yaitu hubungan antara mereka yang beraspirasi memimpin dan mereka yang memilih mengikutinya. Bagaimanapun hubungan ini, dengan satu atau banyak orang.”
Buku “Kepemimpinan yang Sukses dalam Sepekan” yang ditulis oleh Carol A O’Connor, mengatakan : Kepemimpinan adalah kemampuan menyampaikan suatu visi sehingga orang lain tergerak untuk ikut mencapainya. Hal ini memerlukan keterampilan membangun hubungan dengan orang lain dan mengorganisir sumberdaya yang ada secara efektif. Dengan demikian, kepiawaian untuk memimpin terbuka bagi semua orang.
Dalam buku “The Best of Chinese Heroic Leader”, yang ditulis oleh Leman, mengatakan :Secara umum Leadership (kepemimpinan) didefenisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi dan membuat orang lain bergerak mencapai suatu tujuan.
 Begitu pula, M.H. Matondang dalam bukunya “Kepemimpinan” mengatakan :
Suatu proses dalam mempengaruhi orang lain agar mau tidak mau melakukan sesuatu yang diinginkan. Ada juga yang mengatakan bahwa kepemimpinan (leadership) adalah hubungan interaksi antara pengikut (follower) dan pemimpin dalam  mencapai tujuan bersama.

James  Mc Gregor Burns :“Kepemimpinan adalah bila seseorang dengan tujuan dan motivasi tertentu, mengerahkan, berlomba-lomba atau berkonflik dengan orang lain, dengan kelembagaan, dengan sumber-sumber politik, psikologi dan sumber-sumber lain, untuk mengarahkan, mengajak dan memuaskan motif-motif pada pengikutnya.”

J. Oswald Senders : “Kepemimpinan adalah pengaruh.”
Garry Wills : “Kepemimpinan adalah mengarahkan orang lain menuju tujuan yang diperjuangkan bersama oleh pemimpin dan pengikut-pengikutnya.”

Terakhir, Ken Blancard – Phil Hodges dalam bukunya “Lead Like Jesus” mengatakan
Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi. Setiap anda berusaha memengaruhi cara berpikir, prilaku atau perkembangan orang untuk mencapai suatu tujuan dalam kehidupan pribadi atau professional mereka, anda sedang menjalankan peran sebagai pemimpin.

Jadi, kesimpulan dari pengertian kepemimpinan adalah proses yang dilakukan oleh seorang pemimpin untuk membangun hubungan dengan pengikutnya dan menginspirasi orang lain mau mengambil bagian dalam mencapai visi sebagai tujuan untuk melakukan perubahan yang signifikan menuju kehidupan yang lebih baik.[5]
Prof. Dr. Mr. Prajudi Atmosudirdjo dalam menulis bukunya yang berjudul : ” Beberapa Pandangan Umum tentang Pengambilan Keputusan (Dedicions making)”  telah mempelajari banyak buku yang membahas kepemimpinan, dan dalam bukunya tersebut memberikan berbagai aspek yang dapat memberikan pengertian tentang apa yang disebut kepemimpinan itu, antara lain ada beberapa buah yang telah saya kutip seperti di bawah ini :
1.    Kepemimpinan dapat dipandang sebagai pangkal penyebab daripada kegiatan-kegiatan, proses, atau kesediaan untuk merubah pandangan atau sikap (mental/phisik) daripada kelompok orang-orang, baik di dalam hubungan organisasi formal  maupun informal
2.    Kepemimpinan adalah suatu seni (art), kesanggupan (ability), atau teknik (tecnique) untuk membuat sekelompok orang-orang (bawahan dalam organisasi formil atau para pengikut atau simpatisan dalam organisasi yang informil) mengikuti atau mentaati segala apa yang dikehendakinya, membuat mereka begitu antusias atau bersemangat untuk mengikutinya, bahkan ada yang sanggup berkorban.
Kepemimpinan bisa juga dipandang sebagai suatu sarana, suatu instrumen atau alat, untuk membuat sekelompok orang-orang mau bekerja sama dan berdaya upaya, mentaati segala sesuatunya, untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditentukan dalam rangka pandangan ini, maka kepemimpinan dipandang sebagai dinamika daripada suatu organisasi, yang membuat orang-orang bergerak, bergiat, berdaya upaya secara ” kesatuan organisasi ” untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Gambaran tentang manusia dalam Alkitab menyangkut kepemimpinan Allah merencanakan manusia untuk memimpin, memiliki otoritas dan untuk berkuasa. Menurut Kejadian 1 : 28 manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin. J. Oswald mendefinisikan bahwa “Kepemimpinan adalah pengaruh .Yaitu kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain. Orang hanya dapat memimpin orang lain sejauh ia dapat mempengaruhi mereka.”[6] Dan J.Oswald mengutip pendapat dari Lord Montogomery yang mengatakan bahwa : “Kepemimpinan adalah kemampuan dan kehendak untuk menggerakkan orang laki-laki dan perempuan  untuk satu tujuan bersama dan watak yang menimbulkan kepercayaan”.[7] DR.Kartini Kartono mengatakan kepemimpinan adalah  “Seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, kemampuan untuk membimbing orang.”[8]  Jadi kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk satu tujuan.
Seorang pemimpin pastilah memiliki suatu visi atau tujuan dan ia yakin dengan tujuan tersebut. John C.Maxwell berkata,”Sangat sukar untuk memisahkan kepemimpinan dan visi, semua pemimpin yang baik didorong oleh visi.”[9]

PENTINGNYA KEPEMIMPINAN.
Pdt.DR.Yacob Tomatala mengatakan bahwa: “Kepemimpinan memegang peranan penting, kepemimpinan menentukan maju mundurnya suatu organisasi.”[10] Dari pernyataan ini terbukti bahwa kepemimpinan mempengaruhi kehidupan organisasi manapun di dunia. Beberapa alasan yang fundamental sebagai bukti pentingnya kepemimpinan dapat diuraikan sebagai berikut :
Pertama; Dimana ada kehidupan kelompok, disitu kepemimpinan dibutuhkan untuk menata  mekanisme  kehidupan bersama di kelompok  tersebut. Kenyataan ini didukung oleh fakta-fakta berikut :
1.    Proses harmonisasi dalam kehidupan suatu kelompok orang dibutuhkan adanya kepemimpinan.
2.    Gejala serta kebutuhan ketergantungan sesama anggota kelompok satu kepada yang lain dalam suatu kelompok membutuhkan adanya kepemimpinan.
3.    Struktur sosial/hirarki sosial dalam kehidupan kelompok dengan sendirinya memberi tempat kepada dan menuntut adanya kepemimpinan.
4.    Hasrat atau keinginan untuk mempertahankan kesatuan kehidupan bersama dalam suatu kelompok menuntut adanya kepemimpinan
5.    Adanya upaya mengorganisir kehidupan kelompok secara formal membutuhkan kepemimpinan.
Kedua; Adanya pekerjaan bersama dalam kehidupan kelompok menuntut perlunya kepemimpinan.  Tuntutan akan kebutuhan kepemimpinan dapat dibuktikan berdasarkan kenyataan  dibawah ini  :
a)    Kebutuhan individu untuk hidup dan bekerja secara bersama dalam suatu  kelompok yang diwujudkan dalam usaha bersama mengharuskan adanya kepemimpinan.
b)    Visi dan Misi menuntut adanya kepemimpinan sebagai inisiator dan motivator yang menggerakkan dan menuntut kehidupan dan kerjasama.
c)    Upaya pencapaian tujuan kelompok dalam suatu organisasi yang diwujudkan dalam usaha bersama menuntut perlunya kepemimpinan.
Ketiga; Pembentukan organisasi dan hakekat organisasi formil  di dalam masyarakat membutuhkan kepemimpinan. Hal ini didasarkan atas kenyataan berikut:
a)    Adanya aspirasi bersama dari anggota masyarakat untuk mengorganisir diri dalam suatu kelompok untuk mengerjakan sesuatu bagi kepentingan bersama memerlukan kepemimpinan.
b)    Adanya cita-cita ideal bersama dari anggota masyarakat yang ingin dicapai yang diwujudkan dalam usaha wadah/organisasi menuntut adanya kepemimpinan.
c)    Kepentingan ini terlihat pada efek/pengaruh kepemimpinan dalam kehidupan bersama. Kepemimpinan dalam kehidupan bersama ini terlihat dengan  adanya keteraturan, keseimbangan dan dinamika yang mengikat, menggerakkan serta mengarahkan usaha/kerja dalam upaya mencapai tujuan bersama. Amsal 11:14 berkata, “Bangsa hancur jika tidak ada pemimpin; semakin banyak penasehat, semakin terjamin keselamatan.”


HUKUM KEPEMIMPINAN
1)      Hukum Proses.
Ada banyak orang tidak mau melakukan investasi apapun tetapi memiliki harapan  untuk menuai hasil. Mereka berkata, jika saya melakukan apa saja pada saat ini, maka saya ingin mendapatkan upah saat ini juga. Saya ingin menuai hasil saat ini juga. Namun untuk menuai hasil haruslah melalui proses.  Demikian juga kepemimpinan.Untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah terjadi dalam satu hari tetapi itu merupakan proses seumur hidup. John C.Maxwell berkata: “Kepemimpinan itu berkembang setiap hari. Itulah kenyataan menurut hukum proses.”[11] Ia harus berani membayar harganya. Belajar dan mulai  mengembangkan kepemimpinan setiap hari (berlatih) dalam mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin.Contoh dari hukum proses kepemimpinan dalam Alkitab adalah Yusuf, Kejadian (Psl. 35 – 37 ).

2)      Hukum Pengaruh.
Kepemimpinan adalah pengaruh, tidak lebih tidak kurang yaitu suatu pengaruh untuk menggerakkan orang lain pada satu tujuan. Pemimpin yang memiliki pengaruh disebut pemimpin yang efektif. Dengan pengaruhnya  maka dia akan mempunyai banyak pengikut. Tetapi sebaliknya apabila seseorang  pemimpin yang tidak mempunyai pengaruh maka tidak ada yang mengikutinya. Pemimpin yang tidak mempunyai pengikut hanyalah jalan-jalan saja. Dalam hal ini John C.Maxwell berkata: “Jika anda tidak dapat mempengaruhi orang lain, maka takkan ada menjadi pengikut anda. Dan jika mereka tidak menjadi pengikut anda, anda bukan seorang pemimpin.”[12] Contoh dari hukum pengaruh ini dalam Alkitab adalah Yosua,      (Yosua 1 – 24 ).

3)      Hukum  Pengorbanan.
Banyak  orang  sekarang ini ingin menaiki karier karena mereka percaya bahwa kebebasan dan kuasa adalah imbalan yang menanti di sana.  Namun mereka tidak sadar bahwa untuk menjadi sukses harus melalui pengorbanan.
Seorang pemimpin harus memiliki sikap rela berkorban.”Pengorbanan itu adalah proses yang berkelanjutan, bukan suatu pengorbanan sekali bayar.”[13] Biasanya semakin tinggi posisi pemimpin semakin besar pengorbanannya.  Pemimpin-pemimpin yang efektif mengorbankan banyak hal demi yang terbaik.  Tiada sukses tanpa pengorbanan. Contoh dari hukum pengorbanan ini dalam Alkitab adalah Musa, (Keluaran Pasal 2 – 40 ).

4)      Hukum Pemberdayaan.
Musuh pemberdayaan nomor satu adalah keinginan untuk mempertahankan posisi.  Seorang pemimpin yang lemah, kuatir bahwa jika ia membantu para bawahannya maka ia akan dapat digantikan.  Namun sesungguhnya satu-satunya cara untuk menjadikan diri pemimpin tidak tergantikan adalah dengan menjadikan dirinya dapat digantikan.  Dengan kata lain, jika pemimpin terus dapat memberdayakan orang lain dan membantu mereka berkembang agar mereka menjadi mampu mengambil alih tugas pemimpin, maka pemimpin akan menjadi sedemikian berharga bagi organisasi sehingga tak tergantikan. Dan dalam pemberdayaan pemimpin harus memberi kepercayaan kepada orang lain. Contoh dari hukum pemberdayaan ini dalam Alkitab adalah Barnabas, ( Kisah Para Rasul 14 : 23 )    

5)      Hukum Warisan.
Seorang pemimpin dalam kepemimpinannya dia harus mempersiapkan organisasinya dengan baik, dengan menjadikan organisasinya kuat dan mempersiapkan penggantinya. Ada banyak organisasi ataupun perusahaan yang menghadapi krisis ketika eksekutif topnya mengundurkan diri atau meninggal. Untuk itu para pemimpin harus berkeinginan untuk meneruskan kepemimpinannya kepada pengganti, mewariskan suksesi bagi organisasinya. Sukses datang jika pemimpin memberdayakan para pengikutnya untuk melakukan hal-hal besar bersamanya. “Nilai seorang pemimpin langgeng diukur menurut kemampuan untuk memberikan suksesi yang mulus kepada organisasinya.”[14]  Kemampuan sebagai pemimpin tidak akan dinilai menurut apa yang telah dicapai secara pribadi atau tim selama menjadi pemimpin , tetapi dinilai menurut seberapa baik prestasi tim serta organisasi setelah pemimpin tersebut meninggalkannya. Kepemimpinan seperti itu akan diukur menurut hukum warisan.  Hans Finzel mengatakan “Sukses tanpa pengganti sama saja dengan gagal”[15] Contoh dari hukum warisan ini dalam Alkitab adalah Yesus Kristus, ( Lukas 9 : 1 – 6 ).

SIFAT – SIFAT KEPEMIMPINAN
      Sifat-sifat umum dari seorang pemimpin yang mengembangkan pemimpin-pemimpin baru dapat diuraikan dibawah ini, antara lain :
1)         Disiplin.
Sifat ini adalah yang pertama, karena tanpa sifat ini maka karunia-karunia lainnya, betapapun besarnya tidak akan berkembang. Hanya orang yang mendisplinkan dirinya yang akan mencapai daya yang setinggi-tingginya. Seorang pemimpin dapat memimpin orang lain, karena ia telah mengalahkan dirinya sendiri.
“Seorang pemimpin adalah orang yang pertama-tama telah menyerah dengan sukarela dan belajar untuk mentaati disiplin yang berasal dari luar dirinya. Tetapi yang kemudian menaklukkan dirinya sendiri pada disiplin yang lebih keras dari dalam”[16] Mereka yang memberontak terhadap penguasa dan meremehkan disiplin pribadi, jarang yang menjadi cakap menjadi pemimpin pada tingkat atas.  Mereka mengelak dari kesulitan dan pengorbanan yang dituntut oleh kepemimpinan.   Seorang pemimpin yang memiliki disiplin yang kuat, maka orang-orang lain akan merasakannya dan mereka akan mau menunjukkan kerjasama dalam menjalankan disiplin yang dikehendaki.

2)         Hikmat
Hikmat adalah kemampuan untuk memanfaatkan pengetahuan sebaik-baiknya. Suatu kecakapan untuk membedakan, kecakapan  untuk menilai dan kebijaksanaan. Hikmat itu lebih daripada pengetahuan , yang merupakan kumpulan fakta. Hikmat mempunyai konotasi pribadi dan didalamnya tersirat pengertian kebijaksanaan.  Sifat ini memberikan keseimbangan yang diperlukan oleh seorang pemimpin. Kedudukan hikmat dalam kepemimpinan dinyatakan dalam pernyataan D.E Hoste, bahwa: “Jika seseorang kerena kedudukannya yang resmi , menghendaki ketaatan pihak lain tanpa mempertimbangkan akal sehat dan hati nurani orang itu, tindakan itu disebut tindakan sewenang-wenang.”[17]  

3)         Keberanian.
Sifat keberanian sangat dituntut dari seorang pemimpin. Keberanian adalah sifat pikiran yang memungkinkan orang untuk menghadapi bahaya atau kesukaran dengan keteguhan tanpa rasa takut atau kecil hati. Keberanian seorang pemimpin dinyatakan dalam hal rela menghadapi kenyataan tidak enak, bahkan kenyataan dan keadaan menghancurkan dengan ketenangan hati dan kemudian bertindak teguh meskipun itu berarti mendatangkan ketidak populeran bagi dirinya sendiri.

4)         Kerendahan Hati.
Menurut ukuran Allah, kerendahan hati mendapat tempat yang sangat tinggi. Tidak menonjolkan diri adalah definisi yang diberikan Kristus untuk kepemimpinan. Seorang pemimpin dalam melatih para pengikutnya janganlah bersikap seperti penguasa yang sewenang-wenang, melainkan hendaknya dengan kerendahan hati.Yesus adalah model kepemimpinan yang melayani dengan rendah hati. Pemimpin yang mengutamakan gengsi dan kedudukan sekali-kali tidak tergiur untuk rela melakukan yang begitu hina seperti apa yang Yesus lakukan. Dia membasuh kaki murid-muridNya menunjukkan kerendahan hati-Nya, (Yohanes 13:5).

5)         Humoris.
Humoris merupakan karunia yang harus dikendalikan dan dipupuk. Humor yang bersih dan sehat akan meredakan ketegangan dan mengobati keadaan sulit. Humor sangat besar nilainya bagi seorang pemimpin karena bermanfaat bagi dirinya maupun pekerjaannya.  DR. P.Octavianus mengatakan “Humor juga suatu pemberian Tuhan”[18] Yaitu humor yang dapat dikendalikan, sebab yang tidak dapat dikendalikan akan merusak nilai kepemimpinan.Samuel Johnson menasehatkan,”Agar setiap orang memakai sebagian waktunya untuk tertawa.”[19]  Uskup Aguswhately pernah menulis bahwa: ”Kita bukan saja harus memupuk pikiran semata-mata, melainkan juga hal-hal yang menyenangkan.”[20] Demikian juga Agres berkata bahwa: ”Selain kebajikan maka lelucon adalah sesuatu yang tidak boleh tidak ada pada kita di dunia ini.”[21] Dari beberapa pernyataan ini, jelaslah bahwa penting bagi seorang pemimpin untuk memiliki rasa humor yang sehat dan bersih.

6)         Pengendalian Diri Dan Kestabilan Emosi
Pengendalian diri dan kestabilan emosi sangat penting karena pemimpin berinteraksi dengan banyak orang dan akan menjadi tempat mencurahkan banyak hal termasuk permasalahan yang harus diselesaikan. Alkitab katakan “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.(Ams 25:28)”Artinya  bukan tidak bisa marah, kalau pun marah tetap terkontrol. Kemarahan yang benar tidak kurang luhurnya daripada kasih. Para pemimpin besar yang telah menyelamatkan bangsanya dari kemunduran nasional dan kemunduran rohani merupakan orang-orang yang bisa marah terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan yang tidak memuliakan Allah dan memperhamba manusia.
Rasul Paulus membuktikan marah yang benar dalam nasehatnya, “apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.”  Kemarahan yang berpusat pada diri sendiri selalu berdosa. Agar tidak berdosa, kemarahan itu harus merupakan kegairahan akan hukum-hukum kebenaran dan kesucian, dengan kemuliaan Allah sebagai tujuannya.

7)         Kesabaran.
Untuk menjadi pemimpin yang baik diperlukan sifat kesabaran, Chrysostom menyebutkan, “kesabaran adalah sebagai ratu segala kebajikan.”[22] Kesabaran adalah keteguhan yaitu seseorang yang dapat menerima dengan gagah berani segala sesuatu yang dapat menimpa dirinya dalam hidup ini, dan mengubah keadaan yang paling buruk sekalipun menjadi satu langkah ke arah yang lebih baik. Kesabaran adalah kesanggupan untuk bertahan dengan berani dan berkemenangan yang memungkinkan seseorang melampaui keadaan krisis dengan tabah dan gembira. Seorang pemimpin harus sabar terhadap kelemahan para pengikutnya. Pemimpin yang tidak sabar terhadap kelemahan akan mempunyai kekurangan dalam kepemimpinannya. Bukti kekuatan seorang pemimpin bukan hanya dalam hal meluncur dengan pesat, melainkan juga di dalam kesediaan untuk menyesuaikan langkahnya dengan langkah yang lebih lambat dari orang-orang yang lemah dengan tidak meninggalkan kepemimpinannya. Jika pemimpin lari terlalu cepat, maka dia akan kehilangan kekuatan untuk mempangaruhi.

GAYA HIDUP SEORANG PEMIMPIN

1)         Kehidupan Rohani
Orang-orang yang ingin menjadi pemimpin harus memiliki karakter yang baik dalam kehidupan rohaninya. Ini artinya mereka harus memiliki hubungan pribadi yang dalam dengan Allah. Salah satu kesalahan yang dilakukan para pemimpin ialah ketika mereka berada pada posisi puncak, tiba-tiba mereka mulai berpikir bahwa mereka adalah yang sangat penting sehingga tidak perlu lagi melakukan hal-hal yang sebelumnya mereka kerjakan sehingga akhirnya mereka jatuh. Seorang pemimpin harus berhati-hati apabila ia bekerja untuk Tuhan, tetapi tidak meluangkan waktu bersama-sama Dia. Firman Tuhan berkata ,”Allah yang meninggikan dan merendahkan juga.”[23] Jadi jika ingin menjadi pemimpin dalam kerajaanNya maka seorang pemimpin harus menjaga karakter dalam kehidupan rohaninya dan hidup dalam firmanNya.

2)         Kehidupan Pribadi
Menjadi pemimpin harus memiliki karakter yang baik dalam kehidupan pribadinya. Apa yang dilakukan seseorang pemimpin saat ia tidak berada diatas mimbar akan menentukan apa yang muncul di mimbar. Hal ini benar untuk bidang apapun dalam kepemimpinan. Apa yang terjadi dalam kehidupan pribadinya akan menentukan apa yang muncul dalam kehidupan profesinya.
Joyce Meyer berkata bahwa, “Kita bisa saja memiliki karisma dan bisa menghasilkan kepura-puraan, tetapi tanpa karakter, kita tidak akan bisa berjalan.”[24] Apa yang terjadi dalam kehidupan pribadi berpengaruh pada apa yang terjadi di depan umum. Menjadi pemimpin haruslah menjaga kehidupan pribadinya dengan baik.

3)         Kehidupan Sosial.
Untuk menjadi seorang pemimpin ia harus memiliki karakter yang baik dalam kehidupan sosialnya. Apa yang dipilih seorang pemimpin sebagai hiburan, apa yang  ia baca, apa yang dilakukan untuk bersenang-senang dan bersantai, apa yang ia percakapkan dengan teman dan keluarga, film, acara TV yang ia tonton. Semua ini menunjukkan karakternya. Seorang pemimpin hendaknya melakukan hal-hal yang dapat membangun karakter bukan merusaknya dengan hal-hal yang tidak baik.  Joyce Meyer juga berkata bahwa, “Kebutuhan akan hiburan yang terlalu berlebihan dapat merusak karakter.”[25] Jadi bagi seorang pemimpin bekerja harus lebih besar nilainya daripada hiburan.

4)         Kehidupan Pernikahan dan Keluarga.
Syarat menjadi pemimpin  harus memiliki karakter yang baik dalam pernikahan dan keluarganya. Ia harus memperlakukan keluarganya dengan benar, memenuhi tanggungjawab keluarga, meluangkan waktu dengan anak-anak, menentukan skala prioritas dengan benar, memastikan bahwa kehidupan seksnya sehat dan menjaga komunikasi dengan baik.  Juga memiliki disiplin dalam kehidupannnya agar dapat menjadi teladan bagi anggota keluarganya dan orang lain.

5)         Kehidupan Keuangan.
Orang yang ingin menjadi pemimpin harus memiliki karakter yang baik dalam kehidupan keuangannya. Mereka yang berada pada posisi kepemimpinan rohani harus mampu mengelola uang yang ada dengan baik. Mereka tidak boleh berhutang. Ini tidak berarti bahwa tidak boleh membeli apapun yang memerlukan pembayaran-pembayaran tetapi mereka tidak boleh hidup lebih besar pasak daripada tiang. Seorang pemimpin rohani harus menjadi pemimpin pemberi persepuluhan dan ia harus memberi jauh melampaui persepuluhan. Ia murah hati dan pemberi. Ia menggunakan hikmat dalam keuangannya dan tahu apa yang terjadi dengan keuangannya.

6)         Perkataan.
Orang yang ingin menjadi pemimpin harus memiliki karakter dalam perkataannya. Ia harus mengatakan kebenaran. Ini adalah suatu wilayah yang sangat penting. Pemimpin akan kehilangan karakter jika ia membumbu-bumbui sebuah kisah sehingga kisah itu tidak lagi mengandung kebenaran tetapi hanya enak didengar saja. Kadang-kadang seseorang mengatakan secara berlebihan hanya untuk memenuhi apa yang orang lain inginkan atau sebaliknya seseorang tidak mengatakan keseluruhan kebenaran karena ia tidak ingin kelihatan buruk. Merupakan suatu tantangan untuk menyatakan kebenaran mutlak dalam segala keadaan. Namun seorang pemimpin harus dapat melakukannya. Intinya seorang pemimpin harus sesuai antara perkataan dan perbuatan atau tindakannya.

7)         Integritas.
Fredsmith, S.R. mengatakan bahwa, “Penghargaan terhadap diri sendiri adalah indikator penting dari integritas kita sebagai seorang manusia.”[26] Tanpa integritas pribadi, tidak mungkin mempunyai integritas dalam memimpin orang lain. M.Karjadi mengatakan “Integritas, yakni kejujuran dan watak  susila yang berdiri diatas segala keraguan dan celaan.”[27] Pemimpin dengan karakter yang kuat akan memiliki kekuasaan, martabat dan integritas. Seorang pemimpin harus memelihara kehidupan rohaninya  sehingga ia mampu menunjukkan hidup yang benar, jujur di dalam kepemimpinannya. Hal ini menunjukkan seorang pemimpin yang memimpin dengan integritas.

8)         Ujian Kepemimpinan.
Ujian ini adalah suatu hal yang biasa bagi setiap orang. Ujian selalu diberikan di sekolah-sekolah. Banyak produk dan perabot diuji dulu secara intensip untuk meneliti mutunya  sebelum dilemparkan ke pasaran. Ketika Allah menguji para pemimpin, Dia membantu mereka melewati penyaringan yang ketat yang akan menyingkapkan keaslian bahan dasar mereka. Lulus ujian merupakan jalan menuju kemajuan dan peningkatan. John C.Maxwell mengatakan: “Ujian adalah suatu kesempatan yang menantang pemimpin untuk mendemonstrasikan potensi dan kedewasaannya.”[28]
Ujian menyingkapkan tiga kebenaran, yaitu :
a)     Kemiskinan batin, yaitu ujian yang menyingkap bahwa seseorang telah memberi tanggapan yang tidak memadai dan telah gagal untuk bertindak taat.
b)    Kemandekan batin, yaitu ujian yang menyingkapkan bahwa seseorang belum dewasa, namun telah berhenti bertumbuh.
c)     Kemajuan batin, yaitu ujian yang menyingkapkan bahwa seseorang telah bertumbuh dan telah menanggapi dengan lebih baik dari pada waktu-waktu sebelumnya.

9)         Ujian Kepercayaan.
Salah satu ujian yang bisa diantisipasi dalam perjalanan bersama Allah adalah ujian kepercayaan.  Pemimpin harus belajar untuk mempercayai Allah ketika tidak mengerti apa yang sedang terjadi dalam kehidupan. Kadang-kadang hal yang sedang terjadi dalam hidup seseorang rasanya berlawanan dengan apa yang ia rasa telah disingkapkan Allah baginya. Itulah cara Allah memimpin para pemimpin dan harus belajar untuk mengikuti pimpinanNya, kalau tidak  seseorang hanya akan mengikuti pikirannya dan akan kehilangan kehendak Allah bagi kehidupannya.

10)      Ujian Kegagalan.
Siapakah manusia yang dapat mengklaim bahwa dirinya tidak pernah gagal dalam banyak hal dan banyak situasi yang berbeda-beda? Pemimpin yang besar sekalipun, pasti pernah mengalami kegagalan dalam kepemimpinannya.Suatu penyelidikan terhadap tokoh-tokoh Alkitab menyatakan bahwa sebagian besar orang membuat sejarah adalah orang-orang yang gagal dalam berbagai bidang dan sebagian lagi gagal secara drastis, tetapi mereka tidak putus asa. Kegagalan dan pertobatan mereka menjamin adanya satu konsep kasih karunia Allah yang lebih luas.Seorang ahli sejarah bernama Froude menulis, “Nilai seorang manusia harus diukur oleh seluruh hidupnya, bukan oleh kegagalannya di bawah suatu tekanan tertentu yang luar biasa.”[29] Namun bagaimana cara seorang pemimpin menghadapi suatu kegagalan akan mempunyai akibat yang berarti untuk kepemimpinannya di masa yang akan datang.Pemimpin yang berhasil adalah orang yang telah belajar tidak ada kegagalan yang bersifat abadi dan bertindak atas keyakinan itu, apakah kegagalan itu merupakan kegagalan sendiri atau kegagalan orang lain.

11)      Ujian Waktu.
Allah tidak bekerja sesuai dengan waktu manusia. Ia tidak pernah terlambat dan terburu-buru, sering kali Allah berkarya pada jam-jam tengah malam. Kadang-kadang Ia menunggu sampai detik terakhir baru ia berikan apa yang dibutuhkan seseorang. Seolah-olah seorang pemimpin adalah orang yang sedang tenggelam dan Allah datang untuk menyelamatkannya pada saat terakhir. Pemimpin harus belajar mempercayai waktu Tuhan. Namun sebelumnya seorang pemimpin menyerahkan keinginan pribadinya kepada Allah agar Allah bebas berkarya sesuai dengan kehendaknya. Sebelum Allah bertindak, Ia harus memastikan bahwa seseorang tidak akan mengambil alih persoalan kedalam tangannya dan melakukan sesuatu hal diluar waktunya yang sempurna.

12)      Ujian Keputusasaan.
Menjadi seorang pemimpin haruslah mengerti bahwa serangan-serangan iblis terus mengintainya melalui permasalahan untuk membuat dirinya membuat dirinya putus asa. Ketika seorang pemimpin harus menunggu sesuatu dalam waktu yang lama atau ketika segala sesuatu atau semua orang menentangnya, sehingga akhirnya letih dan hilanglah keberanian yang diperlukan untuk berjalan maju dan timbullah keputusasaan. Charles R.Swindoll mengatakan “penyebab yang paling merusak dari keputusasaan adalah kehilangan sama sekali keyakinan”.[30]

13)      Ujian Pengampunan.
Seorang pemimpin, ia juga harus mengalami ujian pengampunan. Seseorang telah  berusaha melakukan apa yang benar tetapi akhirnya dia menerima hal-hal yang tidak wajar yang dapat menyakitkan hati. Ini adalah ujian pengampunan. Dalam hal ini pemimpin harus dapat mengampuni mereka yang telah mengecewakannya. Dalam Alkitab dapat dilihat para pemimpin yang harus rela mengampuni, yaitu : Musa, Rasul Paulus, Yusuf, Stefanus, Ayub dan Yesus. Sebagai contoh, Ayub yang berdoa untuk sahabat-sahabatnya yang meninggalkan dia dalam kesakitan dan penderitaan ketika ia kehilangan segala miliknya. Mereka justru telah menghakimi dan mengkritik dirinya.

14)      Ujian Padang Gurun.
Cara lain Allah menguji seseorang adalah dengan mengizinkannya mengalami saat-saat kekeringan, saat dimana tidak ada suatu hal apapun yang menolong atau menyegarkan jiwanya. Dia pergi ke gereja tetapi ketika keluar dari gereja tidak ada perubahan yang dialami. Dia membaca buku, bernyanyi, berdoa namun tidak ada perubahan. Segala sesuatunya kering bahkan sahabat dan teman pun tidak bisa memberi penghiburan. Sepertinya Allah tidak menyertai dan merasa terhilang dan merasa tidak terpanggil. Di saat gersang seorang pemimpin kelihatannya tidak mendapatkan apapun yang diinginkan, ia menjadi letih berkorban dan sangat merindukan agar sesuatu terjadi.

15)      Ujian Penghianatan.
Ujian yang lain akan dihadapi oleh seseorang pemimpin adalah ujian penghianatan. Penghianatan itu terkadang bukan dari orang lain tetapi justru dari orang yang paling dekat yang sudah dipercayai. Hal ini juga terjadi di dalam organisasi gereja. Joyce Meyer pernah berkata: “ Ada beberapa pendeta yang mempunyai pendeta pembantu yang berkhianat mengambil jemaat dan memisahkan diri untuk membentuk jemaat baru.”[31]


CIRI KEPEMIMPINAN KRISTEN

Kepemimpinan  dapat dipahami dan dimengerti secara komprehensif apabila istilah itu diberi definisi yang tepat.  Drs. Sugianto Wiryoputro, Akt. Mengetengahkan definisi Kepemimpinan itu dengan lebih holistic yang dikutip dari karya tulis H. Siagian  (2001: 4.):  “Kepemimpinan atau Leadership adalah cara atau teknik pimpinan atau manajer untuk mengarahkan dan menyuruh supaya orang lain mau mengerjakan apa yang ditugaskan” (H.Siagian, 1977:27). George Barnan yang telah banyak makan garam dalam kepemimpinan dalam bukunya yang tergolong best seller itu menulis tentang  syarat-syarat kepemimpinan. G. Barnan mengutip tulisan Rasul Paulus tentang kepribadian seorang pemimpin yakni; ”seorang pemimpin harus memiliki Moral tinggi, perilaku etis, sikap yang benar, motivasi yang murni, tujuan-tujuan yang baik, kebiasaan-kebiasaan positif, kwalitas persahabatan dan reputasi yang baik”. Kepemimpinan dapat berjalan dengan normal apabila memiliki syarat-syarat yang komprehensif yaitu pertama;  Adanya orang lain yang bersedia mengikuti perintah pemimpin. Kedua; Adanya pengaruh pemimpin kepada orang lain yang selanjutnya menjadi pengikut. Ketiga; Adanya kuasa atau wewenang pemimpin kepada bawahan.  Kepemimpinan Kristen merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan bersama. Tugas kepemimpinan atau Leadership Function meliputi dua bidang utama yaitu pertama; Pekerjaan yang harus diselesaikan dan yang kedua ialah ; Kekompakan orang-orang yang dipimpinnya. Tugas yang berhubungan dengan pekerjaan disebut task function, sementara tugas yang berhubungan dengan kekompakan kelompok  disebut relationship  function.

CIRI SEORANG PEMIMPIN VISIONER
Seorang pemimpin yang visioner selalu proaktif dan inovatif dalam memotivasi para bawahannya.  Dia selalu informative, instruktif, inisiatif  dalam mendelegasikan tugas-tugas  Tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan kerja kelompok antara lain:
Pertama; Memulai atau disebut initiating; usaha agar kelompok memulai kegiatan atau gerakan tertentu. 
Kedua; Mengatur (regulating) ; tindakan untuk mengatur arah dan langkah kegiatan kelompok.  
Ketiga; Memberitahu (informing) merupakan kegiatan memberi informasi data, fakta, pendapat kepada para anggota dan minta dari pada mereka informasi data, fakta dan pendapat yang diperlukan.
Keempat ialah :Mendukung (supporting) suatu usaha untuk menerima gagasan pendapat, usul dari bawah dan menyempurnakannya dengan menambah atau menguranginya untuk digunakan dalam rangka menyelasaikan tugas bersama.
Kelima adalah: Menilai (evaluating) suatu tindakan untuk menguji gagasan yang muncul atau cara kerja yang diambil dengan menunjukkan konsekwensinya serta untung ruginya.  
Keenam: Menyimpulkan ( summarizing) merupakan suatu kegiatan untuk mengumpulkan dan merumuskan gagasan , pendapat dan usul yang muncul disingkapkan kemudian menarik satu kesimpulannya sebagai landasan untuk pemikiran lebih lanjut.
            Dalam rangka menjalin kekompakan kerja sama kelompok seorang pemimpin harus inovatif dan proaktif  untuk menciptakan suasana yang kondusif.   Suasana Kondusif itu dapat terealisasi sebagaimana yang dipaparkan oleh Charles J. Keating mengatakan:
“Tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan kekompakan kelompok antara lain: Pertama; Mendorong (encouraging) bersikap hangat, bersahabat, menerima orang-orang. Kedua: Mengungkapkan perasaan,expressing feeling  yakni tindakan menyatakan perasaan terhadap kerja dan kekompakan kelompok , seperti rasa puas , rasa senang, rasa bangga dan ikut seperasaan dengan orang-orang yang dipimpinnya pada waktu mengalami kesulitan, kegagalan dan lain sebagainya. Ketiga: Mendamaikan (harmonizing) tindakan untuk mempertemukan dan mendamaikan pendapat-pendapat yang berbeda dan merukunkan orang-orang yang bersitegang satu sama lain. Keempat: Mengalah (compromising) kemauan untuk mengubah dan menyesuaikan pendapat dan perasaan sendiri dengan pendapat dan perasaan orang-orang yang dipimpinnya. Kelima: Memperlancar (gate keeping) kesediaan membantu mempermudah keikutsertaan para anggota dalam kelompok , sehingga semua rela menyumbangkan serta mengungkapkan gagasan-gagasannya.  Keenam: Memasang aturan permainan (setting standard) tindakan menyampaikan aturan dan tata tertib yang membantu kehidupan kelompok”.[32]

1).         Ciri Seorang Visioner.
Allah mencari seseorang yang dapat atau yang mau menjadi sumber kreatif dari visiNya. Seseorang yang telah Allah berikan suatu visi, sehingga dia akan mempunyai visi , orang itu disebut visioner. Seorang pemimpin harus memiliki visi. Allah berfirman dalam Amsal 29:18a, bahwa: “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.” Dalam suatu gereja/organisasi sangat dibutuhkan seorang visioner. Gottfried mengatakan bahwa: “Gereja masa kini amat memerlukan orang-orang yang mempunyai visi, supaya kita tahu apa tugas yang harus kita lakukan dan bagaimana cara melaksanakannya.”[33] Karena apabila sebuah gereja/organisasi tidak mempunyai visi maka organisasi tersebut akan gagal, memang berjalan untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya akan mandek, hanya sekedar ada tidak kreatif.

2).        Kejelasan.
Seorang visioner harus mempunyai kemampuan untuk menyampaikan visi tersebut dengan bijaksana dan berhasil. Misalnya tentang apa itu visi, apa strategi yang diperlukan dan lain-lain. Definisi visi itu harus lebih jelas dan terarah dimatanya dan dimata orang lain. Seorang visioner juga perlu bersekutu secara pribadi dengan Tuhan untuk mendapatkan kejelasan tentang visi yang diberikan Tuhan. Dan kemudian visi tersebut dikomunikasikan kepada mereka yang terpanggil menjadi bagian dari visi tersebut dengan jelas secara detail. Dr Bob Gordon mengatakan bahwa: ”Orang-orang dalam organisasi manapun tidak dapat bekerja seefektip mungkin kalau mereka tidak tahu tujuan pekerjaannya. Untuk memberi tujuan kepada orang-orang kita perlu menentukan sasaran bagi mereka, sasaran yang dapat dimengerti dan dapat dicapai mereka.”[34] 

3)         Tanggungjawab.
Visioner adalah orang yang bertanggungjawab atas terwujudnya visi Tuhan. Ini berarti dia harus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan penuh iman untuk melihat visi itu menjadi kenyataan. Bersedia mengambil langkah iman saat menghadapi tantangan dan tidak dapat melempar tanggungjawab. Visioner juga bertanggungjawab untuk mengarahkan orang-orang kepada Tuhan dan pada visiNya, bukan kepada diri mereka sendiri.

MANAGEMENT KEPEMIMPINAN
Seorang pemimpin pastilah memiliki suatu visi atau tujuan dan ia yakin dengan tujuan tersebut. John C.Maxwell berkata,”Sangat sukar untuk memisahkan
Pendekatan ini dikenal dengan nama POAC dan secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.Perencanaan ( Planning )
Perencanaan adalah suatu pemilihan yang berhubungan dengan kenyataan-kenyataan membuat dan menggunakan asumsi-asumsi yang berhubungan dengan waktu yang akan datang (Future) dalam menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diusulkan dengan penuh keyakinan untuk tercapainya hasil yang dikehendaki .

2.Pengorganisasian (Organizing )
Pengorganisasian adalah menentukan, mengelompokkan dan pengaturan berbagai kegiatan yang dianggap perlu untuk pencapaian tujuan, penugasan orang-orang dalam kegiatan-kegiatan ini, dengan menetapkan faktor-faktor lingkungan fisik yang sesuai, dan menunjukkan hubungan kewenangan yang dilimpahkan terhadap setiap individu yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

3. Penggerakan Pelaksanaan (Actuating )
Pergerakan pelaksanaan adalah usaha agar semua anggota kelompok suka melaksanakan tercapainya tujuan dengan kesadarannya dan berpedoman pada perencanaan ( planning ) dan usaha pengorganisasiannya.

4. Pengawasan (Controlling)
Pengawasan adalah proses penentuan apa yang harus diselesaikan yaitu : pelaksanaan, penilaian pelaksanaan, bila perlu melakukan tindakan korektif agar supaya pelaksanaannya tetap sesuai dengan rencana yang sesuai dengan standar.


KESIMPULAN

            Kepemimpinan adalah hidup yang memengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang telah disepakati, yang menjadi tujuan bersama dari semua anggota kelompok, seorang pemimpin harus mampu memimpin dengan hati dan sikap teladan yang baik, teruji dalam segala sesuatu, memahami hukum kepemimpinan dengan baik sehingga dalam bertindak tidak keluar dari ketentuan yang ada. Pemimpin dan Kepemimpinan adalah hal utama dalam menggerakkan perubahan dinamis menuju kesuksesan dan kemajuan yang signifikan dari sebuah lembaga.







DAFTAR PUSTAKA

Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 1987.
Abed Nego, Benyamin, M., Jabatan Gereja Dan Karisma, Jakarta, BPK. 1984.
Buyer, U, Tafsiran Surat I dan II Petrus, Jakarta,. BPK. 1979.
Brangle, Samuel, Hidup Dalam Jcristus, Solo, Araya, 1992.
Cerullo, Morris, Pemberi Bukti, Jakarta, YPI, 1979.
Duyverman, MM, E. Pembimbing Ke Daiam Perjanjian Baru, Jakarta, BPK. 1988.
Elims, Leroy, 12. Ciri Kepemimpinan Yang Efektif Bandung, Kalam Hidup, 1994.
Hunter, A, M. Theologia Perjanjian Baru, Jakarta, BPK. 1982.
Lord Montgomery, Pelayanan Sebagai Pemimpin, Malang, Gandum Mas, 1982.
Mahoney, Ralph, Pembentukan Seorang Pemimpin, USA, World Messionary Assitance, 1990.
Matulessy, J,J, Apakah Yang Anda Curi, Jakarta, BPK, 1989.
 Mott, Jhon, R, Pembinaan Kepemimpinan, Bandung, Kalam Hidup, 1980.
Munthe, I, Hasil Wawancara, Medan, 1996.
Newman Barclay, M, Kamus Bahasa Junani-Indonesia, Jakarta, BPK, 1991.
Notohamidjojo, Kepemimpinan Dan Pembinaan Pemimpin, Semarang, Bina Darma, 1991.
Octavianus, V, Kepemimpinan Kristen, Malang, YPI, 1996.
            Manajement Dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah, Malang, Gandum Mas, 1992.
Palau Luis, Bertumbuh Secara Rohani, Jakarta, BPK, 1990.
Rush Mron, Pemimpin Baru, Jakarta, YPI, 1991.
Siagian, P, Kepemimpinan Yang Efektif, Jakarta, BPK, 1985.
Sitompul, A, A, Di Pintu Gerbang Pembinaan Warga Gereja 3, Jakarta, BPK, 1980.
Storm-Bons, M, Apakah Pengembalaan Itu ?, Jakarta, BPK, 1988.
Tong Steven, Keseimbangan Dalam Pelayanan Kristen, Surabaya, Yakin, 1976.
Guthrie, Donald, (et.al) Tafsiran Alkitab Masa Kini, Jilid III, Jakarta, Yayasan Bina Kasih/OMF, 1992.
Verkuyl Peter, Etika Kristen, Jakarta, BPK, 1993.
Wagner Peter, C, Pertumbuhan Gereja, Malang, Gandum Mas, 1989.
Wiresbe, Werren, Paulus,  Karya dan Theologianya, Jakarta, BPK, 1983.




[1] John C. Maxell; Mengembangkan Kepemimpinan Di Dalam Diri Anda ,(Georgia: Equip,Injoy,inc, 1993),8
[2] George Barna; Leaders On Leadership, Pandangan Para Pemimpin Tentang Kepemimpinan; (Malang: Gandum Mas, 2002), 18.
[3]) John C.Maxwell, Mengembangkan Kepemimpinan di Sekeliling Anda, (Jakarta : Profesional Books, 1997), hal. 4.
4  Ibid, hal. 4
[5] Heryanto,Dr,DTh : Kepemimpinan Kristen (Medan, Diktat 2008) hal 3-6
[6] J.Oswald Sanders: Kepemimpinan Rohani, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993) hlm. 20
[7] Ibid., hlm.20
[8] DR.Kartini Kartono: Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1994) hlm.49.
[9] John C.Maxwell: Buku Equip 1, ( Jakatra : t.p., 2003) hlm.15
[10] Pdt.DR.Yacob Tomatala: Kepemimpinan Yang dinamis, (Jakarta : YT Leadership Foundation, 1997) hlm. 5.
[11] John C.Maxwell: 21 Hukum Kepemimpinan, (Batam : Interaksa, 2001)  hlm. 71
[12] Ibid, hlm. 60
[13] Ibib, hlm.323
[14] Ibid, hlm.373
[15] Hans Finzel: Sepuluh Besar Kesalahan yang Dibuat Para Pemimipin, (Batam: Interaksa, 2002), hlm.178
[16] J.Oswald Sanders: Op.cit. hlm. 149.
[17] Ibid., hlm. 58.

[18] DR.P.Octavianus: Manajemen dan Kepemimpinan menurut Wahyu Allah, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2002), hlm.183.
[19] Gottfriedo Sei-Mensah: Dicari Pemimpin Yang Menjadi Pelayan, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), hlm. 11.
[20] J.Oswald Sanders: Op.cit., hlm. 65.
[21] Ibid., hlm  65.
[22] J.Oswald Sanders, Op.cit., hlm. 69.
[23] J.Oswald Sanders, Op.cit.., hlm. 69.
[24] Joyce Meyer: Pemimpin Yang Sedang Dibentuk, ( Jakarta: Immanuel,2002), hlm. 260.
[25] Ibid., hlm., 269.
[26] Fredsmith, SR., Memimpin Dengan Integritas, ( Jakarta: Imanuel, 2002), hlm. 17.
[27] M.Karjadi, Kepemimpinan (Leadership), (Bandung: PT.Karya Nusantara, 1993),  hlm.48
[28] John C. Maxwell, Buku Equip 2, Jakarta, 2003.
[29] J.Oswald Sanders: Op.cit., hlm. 135
[30] Charles R.Swindoll, Kepemimpinan Kristen yang Berhasil,  (Surabaya: YAKIN), hlm.103.
[31] Joyce Meyer, Op.cit., hlm. 210.
[32] Charles J. Keating, Kepemimpinan Teori dan Pengembangannya, (Yogyakarta: Kanisius,1986) Hlm.10.
[33] Gottfriedo Sei-Mensah, Dicari Pemimpin Yang Menjadi Pelayan, (Jakatra: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1994), hlm. 75
[34] Dr.Bob Gordon, Op.cit., hlm.94

1 komentar:

  1. Coin Casino is Now Available in US and Canada
    Learn more about Coin Casino and claim your $500 bonus! ➤ Get Free 카지노사이트 Cash & Promo 인카지노 Codes!⭐ Popular Slots: Supernova, Joker's Treasure, AlaMobile: iPhone, septcasino iPad, Android

    BalasHapus