Abstraksi, Kepemimpinan
adalah hal yang penting bagi maju mundurnya sebuah organisasi, baik itu
organisasi sekuler maupun organisasi rohani, namun kepemimpinan yang buruk juga
akan membawa kehancuran bagi organisasi itu sendiri, Yesus merupakan pemimpin
yang inspiratif untuk kemajuan sebuah lembaga, Dia adalah teladan yang luar
biasa.
Pendahuluan
Keadaan akan kebutuhan pemimpin bukanlah
sesuatu yang bisa dielakkan lagi. Tidak menutup kemungkinan bila organisasi
apapun termasuk gereja tanpa memperhatikan kepentingan keberadaan pemimpin dan kepemimpinan
akan membahayakan
kehidupan organisasi
atau
persekutuan dalam gereja.
Kepemimpinan
merupakan tugas utama dalam pengelolaan alam semesta beserta segala
isinya. Tuhan mengaruniai seluruh
makhluk hidup naluri kepemimpinan.
Mereka butuh komunitas, kelompok ataupun barisan. Sebagai contoh; Belalang yang suka terbang
bergerombol, burung Pinguin yang hidup berkumpul, Singa yang hidup berkelompok,
semut yang tinggal satu sarang, Lebah yang punya struktur kepemimpinan yang
rapi. Manusia pada zaman purbakalapun telah mengenal sistem kepemimpinan dan
telah mempraktekkan kepemimpinan itu
Kepemimpinan muncul bersama-sama adanya peradaban manusia yaitu sejak zaman
nabi-nabi dan nenek moyang manusia yang berkumpul bersama, lalu bekerja
bersama-sama untuk mempertahankan eksistensi hidupnya menantang kebuasan
binatang dan alam sekitarnya. Sejak itulah terjadi kerjasama antar manusia dan ada
unsur kepemimpinan. Pada Masyarakat Modern sistem
kepemimpinan semakin sempurna dan memiliki variasi yang sangat kaya dengan gaya
kepemimpinan. Kemudian seni
kepemimpinan ini berkembang menjadi ilmu kepemimpinan. Gereja sebagai lembaga yang bergerak di bidang
kerohanianpun membutuhkan seorang pemimpin. Maju mundurnya sebuah lembaga
terletak pada baik buruknya sistem kepemimpinan. John C. Maxwel menuturkan:
“Segala sesuatu, jatuh bangunnya tergantung pada kepemimpinan”.[1] John C. Maxwell
menempatkan kepemimpinan itu sebagai motor penggerak dan kemudian kontrol dari
segala sesuatu yang dikelola. Dalam seri buku kepemimpinan George Barna menulis
suatu penekanan betapa pentingnya peranan kepemimpinan itu yang dituangkannya dalam
kalimat pendek demikian:”Tidak ada yang lebih penting dari pada kepemimpinan”.[2] Fakta
sejarah telah cukup memberi bukti, bahwa kepemimpinan itu sepanjang zaman
merupakan persoalan penting bagi umat manusia bahkan pada tiap-tiap Negara bisa
nama pemimpinnya lebih terkenal seperti
Jawaharlal Nehru dari India, Mao Tsetung dari RRC, dll. Kepemimpinan
itu senantiasa menjadi masalah kemasyarakatan, artinya penting bagi kehidupan
manusia. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang tidak mengganggap pemimpin
lainnya, baik yang direkrutnya maupun yang dikembangkan sendiri sebagai
saingan. John C. Maxwell mengatakan :
“Kebanyakan
pemimpin punya pengikut di sekeliling mereka. Mereka berkeyakinan bahwa kunci
menuju kepemimpinan adalah mendapatkan
banyak pengikut. Hanya sedikit pemimpin
yang mengelilingi dirinya dengan pemimpin lainnya. Orang yang berbuat begitu
mendatangkan nilai besar kepada organisasi mereka. Dan bukan hanya
beban mereka menjadi ringan, tetapi wawasan mereka juga semakin diperluas”.[3]
Untuk
meraih atau mencapai suatu tujuan tidak terjadi dengan
sendirinya, tidak tercapai dengan seorang diri, mau tidak mau harus
melibatkan para pemimpin lain. Kemampuan
seorang pemimpin sangatlah terbatas,
akibatnya visi yang hendak dicapai tidak pernah menjadi kenyataan. Tanpa pemimpin lainnya untuk memikul beban, dia akan
kelelahan dan berhenti untuk melakukan sesuatu. John C.Maxwell pernah
mengatakan : “Kunci untuk mengelilingi diri anda dengan pemimpin lainnya adalah
menemukan orang terbaik semampu anda”.[4] Para pemimpin harus mencari calon-calon
pemimpin dan melatih mereka menjadi
pemimpin-pemimpin baru yang dapat melaksanakan tugas dan wewenang kepemimpinan
dengan baik dan akhirnya menjadi pemimpin yang dapat melatih para calon
pemimpin.
Defenisi
Kepemimpinan
Tidak jarang orang mencampur adukkan pengertian antar
pemimpin dengan kepemimpinan. Tidak sedikit orang kurang memiliki pemahaman
akan pengertian/defenisi kepemimpinan ini sehingga hampir dalam setiap
kesempatan orang seringkali menyatakan antara keduanya. Sesungguhnya, diantara
keduanya ada perbedaan yang nyata walaupun saling terkait. Beberapa pendapat tentang apa itu
kepemimpinan juga menunjukkan beranekaragam penafsiran dan pemahaman setiap
orang tentang apa itu kepemimpinan walaupun pada akhirnya secara sederhana kita
dapat menyimpulkan dalam satu kalimat yang lebih jelas. Adapun beberapa
pendapat tentang apa itu kepemimpinan, yakni :
Kouzes
dan Posner dalam buku “A Leader’s
Legacy’s”
“Kepemimpinan adalah
suatu hubungan. Yaitu hubungan antara mereka yang beraspirasi memimpin dan
mereka yang memilih mengikutinya. Bagaimanapun hubungan ini, dengan satu atau
banyak orang.”
Buku “Kepemimpinan yang
Sukses dalam Sepekan” yang ditulis oleh Carol A O’Connor, mengatakan : Kepemimpinan
adalah kemampuan menyampaikan suatu visi sehingga orang lain tergerak untuk
ikut mencapainya. Hal ini memerlukan keterampilan membangun hubungan dengan
orang lain dan mengorganisir sumberdaya yang ada secara efektif. Dengan
demikian, kepiawaian untuk memimpin terbuka bagi semua orang.
Dalam buku “The Best of
Chinese Heroic Leader”, yang ditulis oleh Leman, mengatakan :“Secara umum Leadership (kepemimpinan)
didefenisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi dan membuat orang lain
bergerak mencapai suatu tujuan.”
Begitu pula, M.H. Matondang dalam bukunya
“Kepemimpinan” mengatakan :
Suatu proses dalam
mempengaruhi orang lain agar mau tidak mau melakukan sesuatu yang diinginkan.
Ada juga yang mengatakan bahwa kepemimpinan (leadership) adalah hubungan
interaksi antara pengikut (follower) dan pemimpin dalam mencapai tujuan bersama.
James Mc Gregor Burns :“Kepemimpinan adalah bila
seseorang dengan tujuan dan motivasi tertentu, mengerahkan, berlomba-lomba atau
berkonflik dengan orang lain, dengan kelembagaan, dengan sumber-sumber politik,
psikologi dan sumber-sumber lain, untuk mengarahkan, mengajak dan memuaskan
motif-motif pada pengikutnya.”
J. Oswald
Senders : “Kepemimpinan adalah pengaruh.”
Garry Wills
: “Kepemimpinan adalah mengarahkan orang lain menuju tujuan yang diperjuangkan
bersama oleh pemimpin dan pengikut-pengikutnya.”
Terakhir,
Ken Blancard – Phil Hodges dalam bukunya “Lead Like Jesus” mengatakan
Kepemimpinan adalah suatu
proses mempengaruhi. Setiap anda berusaha memengaruhi cara berpikir, prilaku
atau perkembangan orang untuk mencapai suatu tujuan dalam kehidupan pribadi
atau professional mereka, anda sedang menjalankan peran sebagai pemimpin.
Jadi, kesimpulan dari
pengertian kepemimpinan adalah proses yang dilakukan oleh seorang pemimpin
untuk membangun hubungan dengan pengikutnya dan menginspirasi orang lain mau
mengambil bagian dalam mencapai visi sebagai tujuan untuk melakukan perubahan
yang signifikan menuju kehidupan yang lebih baik.[5]
Prof. Dr. Mr.
Prajudi Atmosudirdjo dalam menulis bukunya yang berjudul : ” Beberapa Pandangan
Umum tentang Pengambilan Keputusan (Dedicions making)” telah mempelajari banyak buku yang membahas
kepemimpinan, dan dalam bukunya tersebut memberikan berbagai aspek yang dapat
memberikan pengertian tentang apa yang disebut kepemimpinan itu, antara lain
ada beberapa buah yang telah saya kutip seperti di bawah ini :
1.
Kepemimpinan dapat dipandang sebagai pangkal penyebab
daripada kegiatan-kegiatan, proses, atau kesediaan untuk merubah pandangan atau
sikap (mental/phisik) daripada kelompok orang-orang, baik di dalam hubungan
organisasi formal maupun informal
2.
Kepemimpinan adalah suatu seni (art), kesanggupan
(ability), atau teknik (tecnique) untuk membuat sekelompok orang-orang (bawahan
dalam organisasi formil atau para pengikut atau simpatisan dalam organisasi
yang informil) mengikuti atau mentaati segala apa yang dikehendakinya, membuat
mereka begitu antusias atau bersemangat untuk mengikutinya, bahkan ada yang
sanggup berkorban.
Kepemimpinan bisa
juga dipandang sebagai suatu sarana, suatu instrumen atau alat, untuk membuat
sekelompok orang-orang mau bekerja sama dan berdaya upaya, mentaati segala
sesuatunya, untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditentukan dalam rangka pandangan
ini, maka kepemimpinan dipandang sebagai dinamika daripada suatu organisasi,
yang membuat orang-orang bergerak, bergiat, berdaya upaya secara ” kesatuan
organisasi ” untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Gambaran tentang
manusia dalam Alkitab menyangkut kepemimpinan Allah merencanakan manusia untuk
memimpin, memiliki otoritas dan untuk berkuasa. Menurut Kejadian 1 : 28 manusia
diciptakan untuk menjadi pemimpin. J. Oswald mendefinisikan bahwa “Kepemimpinan
adalah pengaruh .Yaitu kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain. Orang
hanya dapat memimpin orang lain sejauh ia dapat mempengaruhi mereka.”[6]
Dan J.Oswald mengutip pendapat dari Lord Montogomery yang mengatakan bahwa :
“Kepemimpinan adalah kemampuan dan kehendak untuk menggerakkan orang laki-laki
dan perempuan untuk satu tujuan bersama
dan watak yang menimbulkan kepercayaan”.[7]
DR.Kartini Kartono mengatakan kepemimpinan adalah “Seni untuk mempengaruhi tingkah laku
manusia, kemampuan untuk membimbing orang.”[8] Jadi kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi
orang lain untuk satu tujuan.
Seorang pemimpin
pastilah memiliki suatu visi atau tujuan dan ia yakin dengan tujuan tersebut.
John C.Maxwell berkata,”Sangat sukar untuk memisahkan kepemimpinan dan visi,
semua pemimpin yang baik didorong oleh visi.”[9]
PENTINGNYA KEPEMIMPINAN.
Pdt.DR.Yacob
Tomatala mengatakan bahwa: “Kepemimpinan memegang peranan penting, kepemimpinan
menentukan maju mundurnya suatu organisasi.”[10]
Dari pernyataan ini terbukti bahwa kepemimpinan mempengaruhi kehidupan
organisasi manapun di dunia. Beberapa alasan yang fundamental sebagai bukti
pentingnya kepemimpinan dapat diuraikan sebagai berikut :
Pertama; Dimana ada kehidupan kelompok, disitu kepemimpinan
dibutuhkan untuk menata mekanisme kehidupan bersama di kelompok tersebut. Kenyataan ini didukung oleh fakta-fakta berikut :
1.
Proses
harmonisasi dalam kehidupan suatu kelompok orang dibutuhkan adanya
kepemimpinan.
2.
Gejala
serta kebutuhan ketergantungan sesama anggota kelompok satu kepada yang lain
dalam suatu kelompok membutuhkan adanya kepemimpinan.
3.
Struktur
sosial/hirarki sosial dalam kehidupan kelompok dengan sendirinya memberi tempat
kepada dan menuntut adanya kepemimpinan.
4.
Hasrat
atau keinginan untuk mempertahankan kesatuan kehidupan bersama dalam suatu
kelompok menuntut adanya kepemimpinan
5.
Adanya
upaya mengorganisir kehidupan kelompok secara formal membutuhkan kepemimpinan.
Kedua; Adanya pekerjaan bersama dalam
kehidupan kelompok menuntut perlunya kepemimpinan. Tuntutan akan kebutuhan kepemimpinan dapat
dibuktikan berdasarkan kenyataan dibawah
ini :
a)
Kebutuhan
individu untuk hidup dan bekerja secara bersama dalam suatu kelompok yang diwujudkan dalam usaha bersama
mengharuskan adanya kepemimpinan.
b)
Visi
dan Misi menuntut adanya kepemimpinan sebagai inisiator dan motivator yang
menggerakkan dan menuntut kehidupan dan kerjasama.
c)
Upaya
pencapaian tujuan kelompok dalam suatu organisasi yang diwujudkan dalam usaha
bersama menuntut perlunya kepemimpinan.
Ketiga; Pembentukan organisasi dan hakekat
organisasi formil di dalam masyarakat
membutuhkan kepemimpinan. Hal ini didasarkan atas kenyataan berikut:
a)
Adanya
aspirasi bersama dari anggota masyarakat untuk mengorganisir diri dalam suatu
kelompok untuk mengerjakan sesuatu bagi kepentingan bersama memerlukan
kepemimpinan.
b)
Adanya
cita-cita ideal bersama dari anggota masyarakat yang ingin dicapai yang
diwujudkan dalam usaha wadah/organisasi menuntut adanya kepemimpinan.
c)
Kepentingan
ini terlihat pada efek/pengaruh kepemimpinan dalam kehidupan bersama.
Kepemimpinan dalam kehidupan bersama ini terlihat dengan adanya keteraturan, keseimbangan dan dinamika
yang mengikat, menggerakkan serta mengarahkan usaha/kerja dalam upaya mencapai
tujuan bersama. Amsal 11:14 berkata, “Bangsa hancur jika tidak ada pemimpin;
semakin banyak penasehat, semakin terjamin keselamatan.”
HUKUM
KEPEMIMPINAN
1) Hukum
Proses.
Ada banyak orang tidak mau melakukan
investasi apapun tetapi memiliki harapan
untuk menuai hasil. Mereka berkata, jika saya melakukan apa saja pada saat
ini, maka saya ingin mendapatkan upah saat ini juga. Saya ingin menuai hasil
saat ini juga. Namun untuk menuai hasil haruslah melalui proses. Demikian juga kepemimpinan.Untuk menjadi
seorang pemimpin tidaklah terjadi dalam satu hari tetapi itu merupakan proses
seumur hidup. John C.Maxwell berkata: “Kepemimpinan itu berkembang setiap hari.
Itulah kenyataan menurut hukum proses.”[11]
Ia harus berani membayar harganya. Belajar dan mulai mengembangkan kepemimpinan setiap hari
(berlatih) dalam mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin.Contoh dari hukum
proses kepemimpinan dalam Alkitab adalah Yusuf, Kejadian (Psl. 35 – 37 ).
2)
Hukum Pengaruh.
Kepemimpinan
adalah pengaruh, tidak lebih tidak kurang yaitu suatu pengaruh untuk
menggerakkan orang lain pada satu tujuan. Pemimpin yang memiliki pengaruh
disebut pemimpin yang efektif. Dengan pengaruhnya maka dia akan mempunyai banyak pengikut.
Tetapi sebaliknya apabila seseorang
pemimpin yang tidak mempunyai pengaruh maka tidak ada yang mengikutinya.
Pemimpin yang tidak mempunyai pengikut hanyalah jalan-jalan saja. Dalam hal ini
John C.Maxwell berkata: “Jika anda tidak dapat mempengaruhi orang lain, maka
takkan ada menjadi pengikut anda. Dan jika mereka tidak menjadi pengikut anda, anda bukan
seorang pemimpin.”[12]
Contoh dari hukum pengaruh ini dalam Alkitab adalah Yosua, (Yosua 1 – 24 ).
3) Hukum Pengorbanan.
Banyak orang
sekarang ini ingin menaiki karier karena mereka percaya bahwa kebebasan
dan kuasa adalah imbalan yang menanti di sana.
Namun mereka tidak sadar bahwa untuk menjadi sukses harus melalui
pengorbanan.
Seorang pemimpin
harus memiliki sikap rela berkorban.”Pengorbanan itu adalah proses yang
berkelanjutan, bukan suatu pengorbanan sekali bayar.”[13]
Biasanya semakin tinggi posisi pemimpin semakin besar pengorbanannya. Pemimpin-pemimpin yang efektif mengorbankan
banyak hal demi yang terbaik. Tiada
sukses tanpa pengorbanan. Contoh dari hukum pengorbanan ini dalam Alkitab
adalah Musa, (Keluaran Pasal 2 – 40 ).
4) Hukum
Pemberdayaan.
Musuh
pemberdayaan nomor satu adalah keinginan untuk mempertahankan posisi. Seorang pemimpin yang lemah, kuatir bahwa
jika ia membantu para bawahannya maka ia akan dapat digantikan. Namun sesungguhnya satu-satunya cara untuk
menjadikan diri pemimpin tidak tergantikan adalah dengan menjadikan dirinya
dapat digantikan. Dengan kata lain, jika
pemimpin terus dapat memberdayakan orang lain dan membantu mereka berkembang
agar mereka menjadi mampu mengambil alih tugas pemimpin, maka pemimpin akan
menjadi sedemikian berharga bagi organisasi sehingga tak tergantikan. Dan dalam
pemberdayaan pemimpin harus memberi kepercayaan kepada orang lain. Contoh dari
hukum pemberdayaan ini dalam Alkitab adalah Barnabas, ( Kisah Para Rasul 14 :
23 )
5)
Hukum Warisan.
Seorang pemimpin
dalam kepemimpinannya dia harus mempersiapkan organisasinya dengan baik, dengan
menjadikan organisasinya kuat dan mempersiapkan penggantinya. Ada banyak
organisasi ataupun perusahaan yang menghadapi krisis ketika eksekutif topnya
mengundurkan diri atau meninggal. Untuk itu para pemimpin harus berkeinginan
untuk meneruskan kepemimpinannya kepada pengganti, mewariskan suksesi bagi
organisasinya. Sukses
datang jika pemimpin memberdayakan para pengikutnya untuk melakukan hal-hal
besar bersamanya. “Nilai seorang pemimpin langgeng diukur menurut kemampuan
untuk memberikan suksesi yang mulus kepada organisasinya.”[14] Kemampuan sebagai pemimpin tidak akan dinilai
menurut apa yang telah dicapai secara pribadi atau tim selama menjadi pemimpin
, tetapi dinilai menurut seberapa baik prestasi tim serta organisasi setelah
pemimpin tersebut meninggalkannya. Kepemimpinan seperti itu akan diukur menurut
hukum warisan. Hans Finzel mengatakan
“Sukses tanpa pengganti sama saja dengan gagal”[15]
Contoh dari hukum warisan ini dalam Alkitab adalah Yesus Kristus, ( Lukas 9 : 1
– 6 ).
SIFAT
– SIFAT KEPEMIMPINAN
Sifat-sifat
umum dari seorang pemimpin yang mengembangkan pemimpin-pemimpin baru dapat
diuraikan dibawah ini, antara lain :
1) Disiplin.
Sifat ini adalah yang pertama, karena
tanpa sifat ini maka karunia-karunia lainnya, betapapun besarnya tidak akan berkembang.
Hanya orang yang mendisplinkan dirinya yang akan mencapai daya yang
setinggi-tingginya. Seorang pemimpin dapat memimpin orang lain, karena ia telah
mengalahkan dirinya sendiri.
“Seorang pemimpin adalah orang yang
pertama-tama telah menyerah dengan sukarela dan belajar untuk mentaati disiplin
yang berasal dari luar dirinya. Tetapi yang kemudian menaklukkan dirinya
sendiri pada disiplin yang lebih keras dari dalam”[16]
Mereka yang memberontak terhadap penguasa dan meremehkan disiplin pribadi,
jarang yang menjadi cakap menjadi pemimpin pada tingkat atas. Mereka mengelak dari kesulitan dan
pengorbanan yang dituntut oleh kepemimpinan.
Seorang pemimpin yang memiliki disiplin yang kuat, maka orang-orang lain
akan merasakannya dan mereka akan mau menunjukkan kerjasama dalam menjalankan
disiplin yang dikehendaki.
2) Hikmat
Hikmat adalah kemampuan untuk
memanfaatkan pengetahuan sebaik-baiknya. Suatu kecakapan untuk membedakan,
kecakapan untuk menilai dan
kebijaksanaan. Hikmat itu lebih daripada pengetahuan , yang merupakan kumpulan
fakta. Hikmat mempunyai konotasi pribadi dan didalamnya tersirat pengertian
kebijaksanaan. Sifat ini memberikan
keseimbangan yang diperlukan oleh seorang pemimpin. Kedudukan hikmat dalam
kepemimpinan dinyatakan dalam pernyataan D.E Hoste, bahwa: “Jika seseorang
kerena kedudukannya yang resmi , menghendaki ketaatan pihak lain tanpa
mempertimbangkan akal sehat dan hati nurani orang itu, tindakan itu disebut
tindakan sewenang-wenang.”[17]
3) Keberanian.
Sifat keberanian sangat dituntut dari
seorang pemimpin. Keberanian adalah sifat pikiran yang memungkinkan orang untuk
menghadapi bahaya atau kesukaran dengan keteguhan tanpa rasa takut atau kecil
hati. Keberanian seorang pemimpin dinyatakan dalam hal rela menghadapi kenyataan
tidak enak, bahkan kenyataan dan keadaan menghancurkan dengan ketenangan hati
dan kemudian bertindak teguh meskipun itu berarti mendatangkan ketidak
populeran bagi dirinya sendiri.
4) Kerendahan Hati.
Menurut ukuran
Allah, kerendahan hati mendapat tempat yang sangat tinggi. Tidak menonjolkan
diri adalah definisi yang diberikan Kristus untuk kepemimpinan. Seorang
pemimpin dalam melatih para pengikutnya janganlah bersikap seperti penguasa
yang sewenang-wenang, melainkan hendaknya dengan kerendahan hati.Yesus adalah
model kepemimpinan yang melayani dengan rendah hati. Pemimpin yang mengutamakan
gengsi dan kedudukan sekali-kali tidak tergiur untuk rela melakukan yang
begitu hina seperti apa yang Yesus lakukan. Dia membasuh kaki murid-muridNya menunjukkan
kerendahan hati-Nya, (Yohanes 13:5).
5) Humoris.
Humoris
merupakan karunia yang harus dikendalikan dan dipupuk. Humor yang bersih dan
sehat akan meredakan ketegangan dan mengobati keadaan sulit. Humor sangat besar
nilainya bagi seorang pemimpin karena bermanfaat bagi dirinya maupun
pekerjaannya. DR. P.Octavianus
mengatakan “Humor juga suatu pemberian Tuhan”[18]
Yaitu humor yang dapat dikendalikan, sebab yang tidak dapat dikendalikan akan
merusak nilai kepemimpinan.Samuel Johnson menasehatkan,”Agar setiap orang
memakai sebagian waktunya untuk tertawa.”[19] Uskup Aguswhately pernah menulis bahwa: ”Kita
bukan saja harus memupuk pikiran semata-mata, melainkan juga hal-hal yang
menyenangkan.”[20]
Demikian juga Agres berkata bahwa: ”Selain kebajikan maka lelucon adalah
sesuatu yang tidak boleh tidak ada pada kita di dunia ini.”[21]
Dari beberapa pernyataan ini, jelaslah bahwa penting bagi seorang pemimpin
untuk memiliki rasa humor yang sehat dan bersih.
6) Pengendalian Diri Dan Kestabilan Emosi
Pengendalian diri
dan kestabilan emosi sangat penting karena pemimpin berinteraksi dengan banyak
orang dan akan menjadi tempat mencurahkan banyak hal termasuk permasalahan yang
harus diselesaikan. Alkitab katakan “Orang yang tak dapat mengendalikan diri
adalah seperti kota yang roboh temboknya.(Ams 25:28)”Artinya bukan tidak bisa marah, kalau pun marah tetap
terkontrol. Kemarahan yang benar tidak kurang luhurnya daripada kasih. Para
pemimpin besar yang telah menyelamatkan bangsanya dari kemunduran nasional dan
kemunduran rohani merupakan orang-orang yang bisa marah terhadap ketidakadilan
dan penyalahgunaan yang tidak memuliakan Allah dan memperhamba manusia.
Rasul Paulus
membuktikan marah yang benar dalam nasehatnya, “apabila kamu menjadi marah,
janganlah kamu berbuat dosa.” Kemarahan
yang berpusat pada diri sendiri selalu berdosa. Agar tidak berdosa, kemarahan
itu harus merupakan kegairahan akan hukum-hukum kebenaran dan kesucian, dengan
kemuliaan Allah sebagai tujuannya.
7) Kesabaran.
Untuk menjadi
pemimpin yang baik diperlukan sifat kesabaran, Chrysostom menyebutkan,
“kesabaran adalah sebagai ratu segala kebajikan.”[22]
Kesabaran adalah keteguhan yaitu seseorang yang dapat menerima dengan gagah
berani segala sesuatu yang dapat menimpa dirinya dalam hidup ini, dan mengubah
keadaan yang paling buruk sekalipun menjadi satu langkah ke arah yang lebih
baik. Kesabaran adalah kesanggupan untuk bertahan dengan berani dan
berkemenangan yang memungkinkan seseorang melampaui keadaan krisis dengan tabah
dan gembira. Seorang pemimpin harus sabar terhadap kelemahan para pengikutnya.
Pemimpin yang tidak sabar terhadap kelemahan akan mempunyai kekurangan dalam
kepemimpinannya. Bukti kekuatan seorang pemimpin bukan hanya dalam hal meluncur
dengan pesat, melainkan juga di dalam kesediaan untuk menyesuaikan langkahnya
dengan langkah yang lebih lambat dari orang-orang yang lemah dengan tidak
meninggalkan kepemimpinannya. Jika pemimpin lari terlalu cepat, maka dia akan
kehilangan kekuatan untuk mempangaruhi.
GAYA HIDUP SEORANG PEMIMPIN
1) Kehidupan
Rohani
Orang-orang yang
ingin menjadi pemimpin harus memiliki karakter yang baik dalam kehidupan
rohaninya. Ini artinya mereka harus memiliki hubungan pribadi yang
dalam dengan Allah. Salah satu kesalahan yang dilakukan para pemimpin ialah
ketika mereka berada pada posisi puncak, tiba-tiba mereka mulai berpikir bahwa
mereka adalah yang sangat penting sehingga tidak perlu lagi melakukan hal-hal
yang sebelumnya mereka kerjakan sehingga akhirnya mereka jatuh. Seorang
pemimpin harus berhati-hati apabila ia bekerja untuk Tuhan, tetapi tidak
meluangkan waktu bersama-sama Dia. Firman Tuhan berkata ,”Allah yang
meninggikan dan merendahkan juga.”[23]
Jadi jika ingin menjadi pemimpin dalam kerajaanNya maka seorang pemimpin harus
menjaga karakter dalam kehidupan rohaninya dan hidup dalam firmanNya.
2) Kehidupan
Pribadi
Menjadi pemimpin
harus memiliki karakter yang baik dalam kehidupan pribadinya. Apa yang
dilakukan seseorang pemimpin saat ia tidak berada diatas mimbar akan menentukan
apa yang muncul di mimbar. Hal ini benar untuk bidang apapun dalam
kepemimpinan. Apa yang terjadi dalam kehidupan pribadinya akan menentukan apa
yang muncul dalam kehidupan profesinya.
Joyce Meyer
berkata bahwa, “Kita bisa saja memiliki karisma dan bisa menghasilkan
kepura-puraan, tetapi tanpa karakter, kita tidak akan bisa berjalan.”[24]
Apa yang terjadi dalam kehidupan pribadi berpengaruh pada apa yang terjadi di
depan umum. Menjadi pemimpin haruslah menjaga kehidupan pribadinya dengan baik.
3) Kehidupan
Sosial.
Untuk menjadi
seorang pemimpin ia harus memiliki karakter yang baik dalam kehidupan
sosialnya. Apa yang dipilih seorang pemimpin sebagai hiburan, apa yang ia baca, apa yang dilakukan untuk
bersenang-senang dan bersantai, apa yang ia percakapkan dengan teman dan
keluarga, film, acara TV yang ia tonton. Semua ini menunjukkan karakternya. Seorang
pemimpin hendaknya melakukan hal-hal yang dapat membangun karakter bukan
merusaknya dengan hal-hal yang tidak baik.
Joyce Meyer juga berkata bahwa, “Kebutuhan akan hiburan yang terlalu
berlebihan dapat merusak karakter.”[25]
Jadi bagi seorang pemimpin bekerja harus lebih besar nilainya daripada hiburan.
4) Kehidupan
Pernikahan dan Keluarga.
Syarat menjadi
pemimpin harus memiliki karakter yang
baik dalam pernikahan dan keluarganya. Ia harus memperlakukan keluarganya
dengan benar, memenuhi tanggungjawab keluarga, meluangkan waktu dengan
anak-anak, menentukan skala prioritas dengan benar, memastikan bahwa kehidupan
seksnya sehat dan menjaga komunikasi dengan baik. Juga memiliki disiplin dalam kehidupannnya
agar dapat menjadi teladan bagi anggota keluarganya dan orang lain.
5) Kehidupan
Keuangan.
Orang yang ingin
menjadi pemimpin harus memiliki karakter yang baik dalam kehidupan keuangannya.
Mereka yang berada pada posisi kepemimpinan rohani harus mampu mengelola uang
yang ada dengan baik. Mereka tidak boleh berhutang. Ini tidak berarti bahwa
tidak boleh membeli apapun yang memerlukan pembayaran-pembayaran tetapi mereka
tidak boleh hidup lebih besar pasak daripada tiang. Seorang pemimpin rohani
harus menjadi pemimpin pemberi persepuluhan dan ia harus memberi jauh melampaui
persepuluhan. Ia murah hati dan pemberi. Ia menggunakan hikmat dalam
keuangannya dan tahu apa yang terjadi dengan keuangannya.
6) Perkataan.
Orang yang ingin
menjadi pemimpin harus memiliki karakter dalam perkataannya. Ia harus
mengatakan kebenaran. Ini adalah suatu wilayah yang sangat penting. Pemimpin
akan kehilangan karakter jika ia membumbu-bumbui sebuah kisah sehingga kisah
itu tidak lagi mengandung kebenaran tetapi hanya enak didengar saja.
Kadang-kadang seseorang mengatakan secara berlebihan hanya untuk memenuhi apa
yang orang lain inginkan atau sebaliknya seseorang tidak mengatakan keseluruhan
kebenaran karena ia tidak ingin kelihatan buruk. Merupakan suatu
tantangan untuk menyatakan kebenaran mutlak dalam segala keadaan. Namun
seorang pemimpin harus dapat melakukannya. Intinya seorang pemimpin harus
sesuai antara perkataan dan perbuatan atau tindakannya.
7) Integritas.
Fredsmith, S.R.
mengatakan bahwa, “Penghargaan terhadap diri sendiri adalah indikator penting
dari integritas kita sebagai seorang manusia.”[26]
Tanpa integritas pribadi, tidak mungkin mempunyai integritas dalam memimpin
orang lain. M.Karjadi mengatakan “Integritas, yakni kejujuran dan watak susila yang berdiri diatas segala keraguan
dan celaan.”[27]
Pemimpin dengan karakter yang kuat akan memiliki kekuasaan, martabat dan integritas.
Seorang pemimpin harus memelihara kehidupan rohaninya sehingga ia mampu menunjukkan hidup yang
benar, jujur di dalam kepemimpinannya. Hal ini menunjukkan seorang pemimpin
yang memimpin dengan integritas.
8) Ujian
Kepemimpinan.
Ujian ini adalah
suatu hal yang biasa bagi setiap orang. Ujian selalu diberikan di
sekolah-sekolah. Banyak produk dan perabot diuji dulu secara intensip untuk
meneliti mutunya sebelum dilemparkan ke
pasaran. Ketika Allah menguji para pemimpin, Dia membantu mereka melewati
penyaringan yang ketat yang akan menyingkapkan keaslian bahan dasar mereka.
Lulus ujian merupakan jalan menuju kemajuan dan peningkatan. John C.Maxwell
mengatakan: “Ujian adalah suatu kesempatan yang menantang pemimpin untuk
mendemonstrasikan potensi dan kedewasaannya.”[28]
Ujian
menyingkapkan tiga kebenaran, yaitu :
a)
Kemiskinan batin, yaitu ujian yang menyingkap bahwa
seseorang telah memberi tanggapan yang tidak memadai dan telah gagal untuk
bertindak taat.
b)
Kemandekan
batin, yaitu ujian yang menyingkapkan bahwa seseorang belum dewasa, namun telah
berhenti bertumbuh.
c)
Kemajuan
batin, yaitu ujian yang menyingkapkan bahwa seseorang telah bertumbuh dan telah
menanggapi dengan lebih baik dari pada waktu-waktu sebelumnya.
9) Ujian Kepercayaan.
Salah satu ujian
yang bisa diantisipasi dalam perjalanan bersama Allah adalah ujian
kepercayaan. Pemimpin harus belajar
untuk mempercayai Allah ketika tidak mengerti apa yang sedang terjadi dalam
kehidupan. Kadang-kadang hal yang sedang terjadi dalam hidup seseorang rasanya
berlawanan dengan apa yang ia rasa telah disingkapkan Allah baginya. Itulah
cara Allah memimpin para pemimpin dan harus belajar untuk mengikuti
pimpinanNya, kalau tidak seseorang hanya
akan mengikuti pikirannya dan akan kehilangan kehendak Allah bagi kehidupannya.
10) Ujian Kegagalan.
Siapakah manusia
yang dapat mengklaim bahwa dirinya tidak pernah gagal dalam banyak hal dan
banyak situasi yang berbeda-beda? Pemimpin yang besar sekalipun, pasti pernah
mengalami kegagalan dalam kepemimpinannya.Suatu penyelidikan terhadap
tokoh-tokoh Alkitab menyatakan bahwa sebagian besar orang membuat sejarah
adalah orang-orang yang gagal dalam berbagai bidang dan sebagian lagi gagal
secara drastis, tetapi mereka tidak putus asa. Kegagalan dan pertobatan mereka
menjamin adanya satu konsep kasih karunia Allah yang lebih luas.Seorang ahli
sejarah bernama Froude menulis, “Nilai seorang manusia harus diukur oleh
seluruh hidupnya, bukan oleh kegagalannya di bawah suatu tekanan tertentu yang
luar biasa.”[29]
Namun bagaimana cara seorang pemimpin menghadapi suatu kegagalan akan mempunyai
akibat yang berarti untuk kepemimpinannya di masa yang akan datang.Pemimpin
yang berhasil adalah orang yang telah belajar tidak ada kegagalan yang bersifat
abadi dan bertindak atas keyakinan itu, apakah kegagalan itu merupakan
kegagalan sendiri atau kegagalan orang lain.
11) Ujian Waktu.
Allah tidak
bekerja sesuai dengan waktu manusia. Ia tidak pernah terlambat dan
terburu-buru, sering kali Allah berkarya pada jam-jam tengah malam.
Kadang-kadang Ia menunggu sampai detik terakhir baru ia berikan apa yang
dibutuhkan seseorang. Seolah-olah seorang pemimpin adalah orang yang sedang
tenggelam dan Allah datang untuk menyelamatkannya pada saat terakhir. Pemimpin
harus belajar mempercayai waktu Tuhan. Namun sebelumnya seorang pemimpin
menyerahkan keinginan pribadinya kepada Allah agar Allah bebas berkarya sesuai
dengan kehendaknya. Sebelum Allah bertindak, Ia harus memastikan bahwa
seseorang tidak akan mengambil alih persoalan kedalam tangannya dan melakukan
sesuatu hal diluar waktunya yang sempurna.
12) Ujian Keputusasaan.
Menjadi seorang
pemimpin haruslah mengerti bahwa serangan-serangan iblis terus mengintainya
melalui permasalahan untuk membuat dirinya membuat dirinya putus asa. Ketika
seorang pemimpin harus menunggu sesuatu dalam waktu yang lama atau ketika
segala sesuatu atau semua orang menentangnya, sehingga akhirnya letih dan
hilanglah keberanian yang diperlukan untuk berjalan maju dan timbullah
keputusasaan. Charles R.Swindoll mengatakan “penyebab yang paling merusak dari
keputusasaan adalah kehilangan sama sekali keyakinan”.[30]
13) Ujian Pengampunan.
Seorang pemimpin,
ia juga harus mengalami ujian pengampunan. Seseorang telah berusaha melakukan apa yang benar tetapi
akhirnya dia menerima hal-hal yang tidak wajar yang dapat menyakitkan hati. Ini
adalah ujian pengampunan. Dalam hal ini pemimpin harus dapat mengampuni mereka
yang telah mengecewakannya. Dalam Alkitab dapat dilihat para pemimpin yang
harus rela mengampuni, yaitu : Musa, Rasul Paulus, Yusuf, Stefanus, Ayub dan
Yesus. Sebagai contoh, Ayub yang berdoa untuk sahabat-sahabatnya yang
meninggalkan dia dalam kesakitan dan penderitaan ketika ia kehilangan segala
miliknya. Mereka justru telah menghakimi dan mengkritik dirinya.
14) Ujian Padang Gurun.
Cara lain Allah
menguji seseorang adalah dengan mengizinkannya mengalami saat-saat kekeringan,
saat dimana tidak ada suatu hal apapun yang menolong atau menyegarkan jiwanya.
Dia pergi ke gereja tetapi ketika keluar dari gereja tidak ada perubahan yang
dialami. Dia membaca buku, bernyanyi, berdoa namun tidak ada perubahan. Segala
sesuatunya kering bahkan sahabat dan teman pun tidak bisa memberi penghiburan.
Sepertinya Allah tidak menyertai dan merasa terhilang dan merasa tidak
terpanggil. Di saat gersang seorang pemimpin kelihatannya tidak mendapatkan
apapun yang diinginkan, ia menjadi letih berkorban dan sangat merindukan agar
sesuatu terjadi.
15) Ujian Penghianatan.
Ujian yang lain
akan dihadapi oleh seseorang pemimpin adalah ujian penghianatan. Penghianatan
itu terkadang bukan dari orang lain tetapi justru dari orang yang paling dekat
yang sudah dipercayai. Hal ini juga terjadi di dalam organisasi gereja. Joyce
Meyer pernah berkata: “ Ada beberapa pendeta yang mempunyai pendeta pembantu yang
berkhianat mengambil jemaat dan memisahkan diri untuk membentuk jemaat baru.”[31]
CIRI KEPEMIMPINAN KRISTEN
Kepemimpinan dapat dipahami dan
dimengerti secara komprehensif apabila istilah itu diberi definisi yang
tepat. Drs. Sugianto Wiryoputro, Akt.
Mengetengahkan definisi Kepemimpinan itu dengan lebih holistic yang dikutip
dari karya tulis H. Siagian (2001: 4.): “Kepemimpinan atau Leadership adalah cara
atau teknik pimpinan atau manajer untuk mengarahkan dan menyuruh supaya orang
lain mau mengerjakan apa yang ditugaskan” (H.Siagian, 1977:27). George Barnan
yang telah banyak makan garam dalam kepemimpinan dalam bukunya yang tergolong
best seller itu menulis tentang
syarat-syarat kepemimpinan. G. Barnan mengutip tulisan Rasul Paulus
tentang kepribadian seorang pemimpin yakni; ”seorang pemimpin harus memiliki
Moral tinggi, perilaku etis, sikap yang benar, motivasi yang murni,
tujuan-tujuan yang baik, kebiasaan-kebiasaan positif, kwalitas persahabatan dan
reputasi yang baik”. Kepemimpinan dapat berjalan dengan normal apabila memiliki
syarat-syarat yang komprehensif yaitu pertama; Adanya orang lain yang bersedia mengikuti
perintah pemimpin. Kedua; Adanya
pengaruh pemimpin kepada orang lain yang selanjutnya menjadi pengikut. Ketiga; Adanya kuasa atau wewenang
pemimpin kepada bawahan. Kepemimpinan
Kristen merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau
sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan bersama. Tugas kepemimpinan atau
Leadership Function meliputi dua bidang utama yaitu pertama; Pekerjaan yang
harus diselesaikan dan yang kedua ialah ; Kekompakan orang-orang yang
dipimpinnya. Tugas yang berhubungan dengan pekerjaan disebut task function, sementara tugas yang
berhubungan dengan kekompakan kelompok
disebut relationship function.
CIRI SEORANG PEMIMPIN VISIONER
Seorang
pemimpin yang visioner selalu proaktif dan inovatif dalam memotivasi para
bawahannya. Dia selalu informative,
instruktif, inisiatif dalam
mendelegasikan tugas-tugas Tugas
kepemimpinan yang berhubungan dengan kerja kelompok antara lain:
Pertama; Memulai
atau disebut initiating; usaha agar kelompok memulai kegiatan atau gerakan
tertentu.
Kedua; Mengatur
(regulating) ; tindakan untuk mengatur arah dan langkah kegiatan kelompok.
Ketiga;
Memberitahu (informing) merupakan kegiatan memberi informasi data, fakta,
pendapat kepada para anggota dan minta dari pada mereka informasi data, fakta
dan pendapat yang diperlukan.
Keempat ialah
:Mendukung (supporting) suatu usaha untuk menerima gagasan pendapat, usul dari
bawah dan menyempurnakannya dengan menambah atau menguranginya untuk digunakan
dalam rangka menyelasaikan tugas bersama.
Kelima adalah:
Menilai (evaluating) suatu tindakan untuk menguji gagasan yang muncul atau cara
kerja yang diambil dengan menunjukkan konsekwensinya serta untung ruginya.
Keenam:
Menyimpulkan ( summarizing) merupakan suatu kegiatan untuk mengumpulkan dan
merumuskan gagasan , pendapat dan usul yang muncul disingkapkan kemudian
menarik satu kesimpulannya sebagai landasan untuk pemikiran lebih lanjut.
Dalam
rangka menjalin kekompakan kerja sama kelompok seorang pemimpin harus inovatif
dan proaktif untuk menciptakan suasana
yang kondusif. Suasana Kondusif itu
dapat terealisasi sebagaimana yang dipaparkan oleh Charles J. Keating
mengatakan:
“Tugas
kepemimpinan yang berhubungan dengan kekompakan kelompok antara lain: Pertama;
Mendorong (encouraging) bersikap hangat, bersahabat, menerima orang-orang.
Kedua: Mengungkapkan perasaan,expressing feeling yakni tindakan menyatakan perasaan terhadap
kerja dan kekompakan kelompok , seperti rasa puas , rasa senang, rasa bangga
dan ikut seperasaan dengan orang-orang yang dipimpinnya pada waktu mengalami
kesulitan, kegagalan dan lain sebagainya. Ketiga: Mendamaikan (harmonizing)
tindakan untuk mempertemukan dan mendamaikan pendapat-pendapat yang berbeda dan
merukunkan orang-orang yang bersitegang satu sama lain. Keempat: Mengalah
(compromising) kemauan untuk mengubah dan menyesuaikan pendapat dan perasaan
sendiri dengan pendapat dan perasaan orang-orang yang dipimpinnya. Kelima: Memperlancar
(gate keeping) kesediaan membantu mempermudah keikutsertaan para anggota dalam
kelompok , sehingga semua rela menyumbangkan serta mengungkapkan
gagasan-gagasannya. Keenam: Memasang
aturan permainan (setting standard) tindakan menyampaikan aturan dan tata
tertib yang membantu kehidupan kelompok”.[32]
1). Ciri Seorang Visioner.
Allah mencari
seseorang yang dapat atau yang mau menjadi sumber kreatif dari visiNya.
Seseorang yang telah Allah berikan suatu visi, sehingga dia akan mempunyai visi
, orang itu disebut visioner. Seorang pemimpin harus memiliki visi. Allah
berfirman dalam Amsal 29:18a, bahwa: “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah
rakyat.” Dalam suatu gereja/organisasi sangat dibutuhkan seorang visioner.
Gottfried mengatakan bahwa: “Gereja masa kini amat memerlukan orang-orang yang
mempunyai visi, supaya kita tahu apa tugas yang harus kita lakukan dan
bagaimana cara melaksanakannya.”[33]
Karena apabila sebuah gereja/organisasi tidak mempunyai visi maka organisasi
tersebut akan gagal, memang berjalan untuk sementara waktu, tetapi pada
akhirnya akan mandek, hanya sekedar ada tidak kreatif.
2). Kejelasan.
Seorang visioner
harus mempunyai kemampuan untuk menyampaikan visi tersebut dengan bijaksana dan
berhasil. Misalnya tentang apa itu visi, apa strategi yang diperlukan dan
lain-lain. Definisi visi itu harus lebih jelas dan terarah dimatanya dan dimata
orang lain. Seorang visioner juga perlu bersekutu secara pribadi dengan Tuhan
untuk mendapatkan kejelasan tentang visi yang diberikan Tuhan. Dan kemudian
visi tersebut dikomunikasikan kepada mereka yang terpanggil menjadi bagian dari
visi tersebut dengan jelas secara detail. Dr Bob Gordon mengatakan bahwa:
”Orang-orang dalam organisasi manapun tidak dapat bekerja seefektip mungkin
kalau mereka tidak tahu tujuan pekerjaannya. Untuk memberi tujuan kepada
orang-orang kita perlu menentukan sasaran bagi mereka, sasaran yang dapat
dimengerti dan dapat dicapai mereka.”[34]
3)
Tanggungjawab.
Visioner adalah
orang yang bertanggungjawab atas terwujudnya visi Tuhan. Ini berarti dia harus
bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan penuh iman untuk melihat visi itu
menjadi kenyataan. Bersedia mengambil langkah iman saat menghadapi tantangan
dan tidak dapat melempar tanggungjawab. Visioner juga bertanggungjawab untuk mengarahkan
orang-orang kepada Tuhan dan pada visiNya, bukan kepada diri mereka sendiri.
MANAGEMENT KEPEMIMPINAN
Seorang
pemimpin pastilah memiliki suatu visi atau tujuan dan ia yakin dengan tujuan
tersebut. John C.Maxwell berkata,”Sangat sukar untuk memisahkan
Pendekatan ini dikenal dengan nama
POAC dan secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.Perencanaan (
Planning )
Perencanaan
adalah suatu pemilihan yang berhubungan dengan kenyataan-kenyataan membuat dan
menggunakan asumsi-asumsi yang berhubungan dengan waktu yang akan datang
(Future) dalam menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diusulkan
dengan penuh keyakinan untuk tercapainya hasil yang dikehendaki .
2.Pengorganisasian (Organizing
)
Pengorganisasian
adalah menentukan, mengelompokkan dan pengaturan berbagai kegiatan yang
dianggap perlu untuk pencapaian tujuan, penugasan orang-orang dalam
kegiatan-kegiatan ini, dengan menetapkan faktor-faktor lingkungan fisik yang
sesuai, dan menunjukkan hubungan kewenangan yang dilimpahkan terhadap setiap
individu yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
3. Penggerakan Pelaksanaan (Actuating )
Pergerakan
pelaksanaan adalah usaha agar semua anggota kelompok suka melaksanakan
tercapainya tujuan dengan kesadarannya dan berpedoman pada perencanaan (
planning ) dan usaha pengorganisasiannya.
4. Pengawasan (Controlling)
Pengawasan adalah
proses penentuan apa yang harus diselesaikan yaitu : pelaksanaan, penilaian
pelaksanaan, bila perlu melakukan tindakan korektif agar supaya pelaksanaannya
tetap sesuai dengan rencana yang sesuai dengan standar.
KESIMPULAN
Kepemimpinan adalah hidup yang
memengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang telah disepakati, yang menjadi
tujuan bersama dari semua anggota kelompok, seorang pemimpin harus mampu
memimpin dengan hati dan sikap teladan yang baik, teruji dalam segala sesuatu,
memahami hukum kepemimpinan dengan baik sehingga dalam bertindak tidak keluar
dari ketentuan yang ada. Pemimpin dan Kepemimpinan adalah hal utama dalam
menggerakkan perubahan dinamis menuju kesuksesan dan kemajuan yang signifikan
dari sebuah lembaga.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia,
Jakarta, 1987.
Abed Nego, Benyamin, M., Jabatan Gereja Dan Karisma, Jakarta, BPK. 1984.
Buyer, U, Tafsiran Surat I dan II Petrus, Jakarta,. BPK. 1979.
Brangle, Samuel, Hidup
Dalam Jcristus, Solo, Araya, 1992.
Cerullo, Morris, Pemberi Bukti, Jakarta, YPI, 1979.
Duyverman, MM, E. Pembimbing Ke Daiam Perjanjian Baru, Jakarta, BPK. 1988.
Elims, Leroy, 12. Ciri Kepemimpinan Yang Efektif Bandung,
Kalam Hidup, 1994.
Hunter, A, M. Theologia Perjanjian Baru, Jakarta, BPK. 1982.
Lord Montgomery, Pelayanan Sebagai Pemimpin, Malang, Gandum Mas, 1982.
Mahoney, Ralph, Pembentukan
Seorang Pemimpin, USA, World Messionary Assitance, 1990.
Matulessy, J,J, Apakah Yang Anda Curi, Jakarta, BPK, 1989.
Mott, Jhon, R, Pembinaan
Kepemimpinan, Bandung, Kalam Hidup, 1980.
Munthe, I, Hasil Wawancara, Medan, 1996.
Newman Barclay, M, Kamus
Bahasa Junani-Indonesia, Jakarta, BPK, 1991.
Notohamidjojo,
Kepemimpinan Dan Pembinaan Pemimpin, Semarang, Bina Darma, 1991.
Octavianus, V, Kepemimpinan Kristen, Malang, YPI, 1996.
Manajement Dan
Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah, Malang, Gandum Mas, 1992.
Palau Luis, Bertumbuh Secara Rohani, Jakarta, BPK, 1990.
Rush Mron, Pemimpin Baru, Jakarta,
YPI, 1991.
Siagian, P, Kepemimpinan Yang Efektif, Jakarta, BPK, 1985.
Sitompul, A, A, Di Pintu Gerbang Pembinaan
Warga Gereja 3, Jakarta, BPK, 1980.
Storm-Bons, M, Apakah Pengembalaan
Itu ?, Jakarta, BPK, 1988.
Tong Steven, Keseimbangan Dalam
Pelayanan Kristen, Surabaya, Yakin, 1976.
Guthrie, Donald, (et.al) Tafsiran Alkitab Masa Kini, Jilid III, Jakarta,
Yayasan Bina Kasih/OMF, 1992.
Verkuyl Peter,
Etika Kristen, Jakarta, BPK, 1993.
Wagner Peter, C, Pertumbuhan Gereja, Malang, Gandum Mas, 1989.
Wiresbe, Werren, Paulus, Karya dan Theologianya, Jakarta, BPK, 1983.
[1] John
C. Maxell; Mengembangkan Kepemimpinan Di
Dalam Diri Anda ,(Georgia: Equip,Injoy,inc, 1993),8
[2]
George Barna; Leaders On Leadership,
Pandangan Para Pemimpin Tentang Kepemimpinan; (Malang: Gandum Mas, 2002), 18.
[3]) John C.Maxwell, Mengembangkan Kepemimpinan di Sekeliling Anda, (Jakarta :
Profesional Books, 1997), hal. 4.
[5]
Heryanto,Dr,DTh : Kepemimpinan Kristen (Medan, Diktat 2008) hal 3-6
[6] J.Oswald Sanders: Kepemimpinan Rohani, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993) hlm. 20
[8] DR.Kartini Kartono: Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: PT.Raja Grafindo
Persada, 1994) hlm.49.
[9] John
C.Maxwell: Buku Equip 1, ( Jakatra :
t.p., 2003) hlm.15
[10]
Pdt.DR.Yacob Tomatala: Kepemimpinan Yang
dinamis, (Jakarta : YT Leadership Foundation, 1997) hlm. 5.
[11] John
C.Maxwell: 21 Hukum Kepemimpinan,
(Batam : Interaksa, 2001) hlm. 71
[12]
Ibid, hlm. 60
[13]
Ibib, hlm.323
[14]
Ibid, hlm.373
[15] Hans
Finzel: Sepuluh Besar Kesalahan yang
Dibuat Para Pemimipin, (Batam: Interaksa, 2002), hlm.178
[16]
J.Oswald Sanders: Op.cit. hlm.
149.
[17] Ibid., hlm. 58.
[18] DR.P.Octavianus: Manajemen dan Kepemimpinan menurut Wahyu Allah, (Malang: Yayasan
Penerbit Gandum Mas, 2002), hlm.183.
[19] Gottfriedo Sei-Mensah: Dicari Pemimpin Yang Menjadi Pelayan,
(Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2001), hlm. 11.
[20]
J.Oswald Sanders: Op.cit.,
hlm. 65.
[21]
Ibid., hlm 65.
[22]
J.Oswald Sanders, Op.cit.,
hlm. 69.
[23]
J.Oswald Sanders, Op.cit.., hlm. 69.
[24]
Joyce Meyer: Pemimpin Yang Sedang
Dibentuk, ( Jakarta: Immanuel,2002), hlm. 260.
[27] M.Karjadi, Kepemimpinan (Leadership), (Bandung: PT.Karya Nusantara,
1993), hlm.48
[28] John
C. Maxwell, Buku Equip 2, Jakarta, 2003.
[29]
J.Oswald Sanders: Op.cit., hlm. 135
[30]
Charles R.Swindoll, Kepemimpinan Kristen
yang Berhasil, (Surabaya: YAKIN), hlm.103.
[31]
Joyce Meyer, Op.cit., hlm. 210.
[32] Charles J. Keating, Kepemimpinan Teori dan Pengembangannya, (Yogyakarta: Kanisius,1986)
Hlm.10.
[33] Gottfriedo Sei-Mensah, Dicari Pemimpin Yang Menjadi Pelayan,
(Jakatra: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1994), hlm. 75
[34]
Dr.Bob Gordon, Op.cit., hlm.94